Kumpulan E-Book ada di sini

E-Book berbagai disiplin ilmu ada di sini. Cari pada label sesuai dengan keinginan anda. Dapat di download secara gratis.

Berita Seputar Dunia Pendidikan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kumpulan Artikel, Makalah, Opini, Cerpen, Resensi, dll

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Yunahar Ilyas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yunahar Ilyas. Tampilkan semua postingan

Do’a Lelaki Buta



Namanya Abdullah, putra Qais ibn Zaid, paman Khadijah, istri Nabi SAW. Ibunya bernama Atiqah binti Abdullah. Karena Abdullah, putra yang buta sejak lahir, ibunya dijuluki Ummu Maktum. Abdullah lebih dikenal dengan nasab ibunya dibanding bapaknya. Jadi, namanya Abdullah ibn Ummi Maktum.

Siapa pun yang membaca asababun nuzul surah Abasa pasti kenal dengan Abdullah ibn Ummi Maktum. Empat belas ayat diturunkan kepada Rasulullah SAW dan dibaca terus sampai hari Kiamat datang.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.  Karena, telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya…

Nabi ditegur langsung oleh Allah SWT karena mengabaikan Abdullah ibn Ummi Maktum yang datang memotong pembicaraan Rasulullah SAW dengan Utbah ibn Rabiah, Syaibah ibn Rabiah, Amr ibn Hisyam, Umayyah ibn Khalaf, dan Walid ibn Mughirah.

Nabi sangat berharap para pemuka Quraisy itu masuk Islam. Tetapi, pembicaraannya terpotong oleh kedatangan Ibn Ummi Maktum, yang karena tidak dapat melihat tidak mengetahui situasi Nabi.

Setelah peristiwa itu, Nabi sangat menghormati Ibn Ummi Maktum. Tatkala sudah di Madinah, Nabi menunjuk Ibn Ummi Maktum menjadi muazin berdua dengan Bilal ibn Rabbah.

Pada Ramadhan, Bilal mengumandangkan azan pertama membangunkan kaum Muslimin untuk makan sahur dan Ibn Ummi Maktum pada azan kedua memberitahukan bahwa fajar sudah menyingsing, tanda puasa hari itu sudah dimulai.

Abdullah ibn Ummi Maktum sangat gembira dan bahagia menjalankan tugas sebagai muazin. Namun, yang membuat dia sedih adalah setelah datang seruan untuk jihad fisabilillah, dia tidak dapat berangkat karena buta. Apalagi setelah Perang Badar, turun ayat yang memuji orang-orang yang pergi berperang.

Suatu hari dia berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, seandainya saya tidak buta tentu saya pergi berperang.” Sejak itu, dia selalu memohon kepada Allah agar menurunkan ayat mengenai orang-orang yang uzur seperti dirinya.

Allah mengabulkan doanya dengan menurunkan surah an-Nisa ayat 95, “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.


Walaupun permohonannya sudah dikabulkan Allah dengan mengecualikan orang-orang yang uzur seperti dirinya, Abdullah ibn Ummi Maktum tetap tidak puas.

Dia tetap ingin pergi berperang. Keinginannya baru terkabul pada zaman Khalifah Umar ibn Khattab. Di bawah panglima Saad ibn Abi Waqqash, dia ikut dalam Perang Qadisiyah menaklukkan Persia.

Tugasnya hanya memegang bendera Islam dan berdiri di tengah-tengah pasukan. Dia pun gugur dalam perang tersebut. Itulah Abdullah ibn Ummi Maktum. Sekalipun buta tetapi mempunyai kemauan yang sangat keras.

Yunahar Ilyas

Biar Saya Yang Bayar



Setelah selesai shalat 'Isya dan sunnah ba'diyah, sebagian besar jamaah Masjidil Haram berbondong-bondong ke luar. Ada yang langsung pulang ke pondokan dan ada juga yang mampir dulu di pusat-pusat perbelanjaan di sekitar masjid.

Pengunjung  pusat-pusat perbelanjaan masih tetap ramai, walaupun sebagian jamaah haji sudah pergi meninggalkan Makkah, pulang ke Tanah Air masing-masing atau ziarah ke Madinah.
   
Di antara kerumuman para pembeli di salah satu pusat perbelanjaan itu terdapat Pak Muhsin dari Indonesia. Dia sudah beberapa kali membolak balik sebuah sajadah buatan Suriah.

Dia sangat menyenanginya, tetapi sayang uangnya tidak cukup. Ini malam terakhir dia di Makkah, karena besok siang kloternya akan ke Jeddah untuk selanjutnya terbang kembali ke Tanah Air.

Sajadah buatan Suriah itu sangat bagus, tetapi sayang sekali uangnya tidak cukup. Dengan berat hati dia pergi meninggalkan toko sajadah itu.

Walaupun Pak Muhsin sudah menjauh dari toko tersebut, tetapi pikirannya kembali melayang ke sana.  Setelah memutari lantai dasar pusat perbelanjaan itu satu putaran, langkah kakinya kembali menuju toko sajadah itu.

Tangannya kembali memegangi sajadah itu sambil memegang uangnya yang tidak cukup itu. Tanpa disadarinya seorang Arab yang juga sedang memilih-milih sajadah di toko itu memperhatikannya.

Begitu sajadah itu dia letakkan, tiba-tiba saja orang Arab itu mengambil sajadah pilihan Pak Muhsin, lalu membayarnya dan  menyerahkannya kepada Pak Muhsin sambil berkata: "Hadiah, hadiah…tafadhdhal!". Pak Muhsin sangat senang sekaligus terharu.
   
Sampai di Tanah Air, peristiwa itu selalu dia kenang, apalagi setiap dia melihat sajadah hadiah dari orang Arab yang tidak dia kenal itu. Dia ingin melakukan hal yang sama.

Dia ingin membahagiakan orang-orang yang sangat menginginkan suatu barang, tetapi tidak sanggup membayarnya. Tentu saja bukan barang-barang yang mahal harganya.
    
Demikianlah, pada suatu hari,  setelah melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah di sebuah masjid, dia mampir ke toko buku kecil di samping masjid langganannya.

Pada saat dia sedang melihat-lihat buku tentang Islam terbitan terbaru, tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang paroh baya yang sedang memegang-megang sebuah buku tanya jawab agama. Buku itu semua enam jilid.
"Pak, apakah nanti ba'da Maghrib masih buka?" tanyanya kepada penjual buku. Penjual buku menjelaskan pukul 16.00 tokonya akan tutup.

"Bapak kembali besok pagi saja." Kata penjual buku itu. "Wah sayang sekali besok pagi saya sudah kembali ke daerah", kata calon pembeli buku itu sambil beranjak pergi pelan-pelan.
   
Pak Muhsin kembali ingat peristiwa di Mekkah tempo hari. Segera saja dia bilang sama penjual buku: "Panggil Bapak itu kembali, dan serahkan buku itu sebagai hadiah. Biar saya yang bayar".

Bapak dari daerah itu kaget dan senang, tidak dia duga ada yang berbaik hati mau membayarkan  enam jilid buku yang diinginkannya. Buku tanya jawab agama ini sangat dia perlukan dalam berdakwah di daerah.
   
Pak Muhsin dapat merasakan kebahagiaan bapak yang tidak dia kenal itu, seperti kebahagiaanya waktu di Makkah dulu.


Yunahar Ilyas

Akibat Tidak Peduli Seruan Azan



Sudah setahun Anwar sekolah di kota, di sebuah madrasah tingkat Aliyah. Dia bangga sekali, karena tidak semua anak lulusan Tsanawiyah di desanya dapat melanjutkan pendidikan menengah atas di ibu kota propinsi.

Sebagian besar hanya melanjutkan sekolah di ibu kota kabupaten atau malah berhenti sekolah dan mulai bekerja di sawah atau ladang membantu orang tua yang umumnya petani.
   
Liburan setelah ujian smester dua kali ini dia manfaatkan untuk pulang ke desa berkumpul dengan teman-teman sebaya.

Berbagai macam agenda sudah tersusun di kepalanya, salah satunya yang paling menarik adalah makan bersama dengan teman-teman sebaya.

Mereka iyuran membeli bahan-bahan masakan yang diperlukan, bisa berupa uang atau bahan mentahnya langsung. Mereka akan masak sendiri, dengan kemampuan sekadarnya, yang penting tidak asin.

Bekal ilmu memasaknya paling-paling dari sekali-sekali memperhatikan ibu atau kakak perempuannya memasak di dapur.

Membayangkan acara makan bersama itu, Anwar tidak sabar segera sampai di desa. Perjalanan 60 km dengan mobil dirasakannya terlalu lama.
   
Pada hari H, sepuluh anak remaja sudah berkumpul di bawah sebuah pohon, tidak jauh dari pinggir sungai. Itulah tempat favorit mereka.

Pada saat azan Zhuhur berkumandang, mereka tengah sibuk-sibuknya memasak sambil bercanda penuh tawa. Sebenarnya Anwar ingin segera ke masjid melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah seperti yang sudah biasa dilakukannya sejak kecil.

Ayahnya selalu membimbingnya shalat berjamaah ke masjid. Sejak sekolah dasar sampai tamat Tsanawiyah dia sudah terbiasa shalat di masjid. Sebenarnya motif utamanya shalat berjamaah di masjid adalah karena takut ayahnya.
 
Kalau ketahuan tidak shalat di masjid, ayahnya pasti marah besar. Ingat ayahnya, Anwar ingin segera shalat ke masjid meninggalkan teman-temannya. Tetapi dia merasa tidak enak, apalagi masakan hampir matang.
   
Sedang bimbang begitu, ayahnya lewat menuju masjid dan mengingatkan Anwar untuk segera ke masjid. Dia mengangguk, tetapi tidak melaksanakannya.

Begitu ayahnya kembali dari masjid dan melihat Anwar masih  bersama teman-temannya di bawah pohon, beliau marah dan segera memanggil puteranya dengan suara keras: "War, apabila acaramu selesai, segera ke rumah!"

Untunglah ayahnya masih memberinya kesempatan menikmati hidangan yang sudah mereka siapkan susah payah. Tetapi hati Anwar sudah tidak tenang, ayahnya pasti marah besar. Dia siap menerima hukuman yang akan diberikan.
   
Setelah benar-benar menerima hukuman, Anwar kaget bukan kepalang. Hukumannya benar-benar di luar dugaannya. Dengan tenang ayahnya memutuskan: "Anwar, kamu tidak boleh kembali ke kota. Kamu harus berhenti sekolah. Tinggal saja di desa bertani, lalu menikah!''

''Tidak ada gunanya kamu sekolah tinggi di kota, kalau hasilnya kamu mengabaikan panggilan azan. Ayah tidak ingin kamu sekolah tinggi tetapi tidak peduli dengan panggilan shalat. Baru setahun kamu di kota, kamu sudah berani meninggalkan shalat berjamaah di masjid."
   
Anwar tahu watak bapaknya. Jika sudah memutuskan sesuatu, sukar untuk mengubahnya. Dia minta maaf sambil menangis, tetapi keputusan tetap tidak berubah.

Liburan sekolah sudah habis seminggu yang lalu, tetapi dia belum juga diberi izin kembali ke kota. Anwar betul-betul sangat menyesal telah mengabaikan panggilan shalat Zhuhur di masjid. Walaupun sebenarnya, baru sekali itu dia lakukan. Tapi penyesalan tidak ada gunanya.
   
Untunglah kemudian, pamannya membantu membujuk ayahnya dan menjamin pelanggaran itu tidak akan terulang kembali. Akhirnya ayahnya membolehkannya kembali sekolah ke kota atas jaminan pamannya itu.


Yunahar llyas

Didikan Ayah



Malam itu, sambil bersilaturahim Lebaran, teman saya dengan bersemangat bercerita tentang masa kecil dan remaja di kampung halamannya. Yang paling dia kenang adalah betapa kerasnya sang ayah mendidiknya membaca Alquran.

Pada mulanya dia belajar membaca Alquran di mushala, tetapi setelah beberapa bulan tidak ada kemajuan yang berarti ayahnya memutuskan untuk mengajarnya sendiri.

"Kelas tiga sekolah dasar saya sudah khatam Alquran tiga kali," kata teman saya mengenang. Terlihat dari wajahnya ada sedikit kebanggaan menyampaikan itu. "Dan setiap kali membaca Alquran selalu menangis," sambungnya.

Masya Allah, gumam saya dalam hati. Saya kagum, kecil-kecil sudah menitikkan air mata tatkala membaca ayat-ayat suci yang memang sangat indah itu.
 
Kita saja orang dewasa tidak mudah untuk menitikkan air mata ketika membaca firman Allah tersebut. Saya tidak tanya mengapa dia bisa menangis, apakah dia sudah bisa menghayati apa yang dibaca.

Seperti mengerti apa yang saya pikirkan, teman saya melanjutkan, "Setiap membaca Alquran, hampir dipastikan empu jari dan telunjuk ayah pasti mendarat di paha. Salah sedikit saja makhraj, apalagi tajwidnya, empu dan telunjuk jari ayah langsung beraksi. Paha saya dipilin tanpa ampun."

Walaupun sudah berlalu hampir setengah abad yang lalu, sepertinya teman saya itu masih merasakan sakitnya dipilin pahanya oleh sang ayah. Tetapi, dia mengenang rasa sakit itu bukan dengan dendam atau paling kurang sesal, tetapi justru dengan rasa syukur yang tinggi.

Setelah meneguk sedikit air mineral yang disuguhkan, teman saya melanjutkan kenangannya. "Saya sungguh beruntung dididik membaca Alquran dengan keras oleh ayah. Mulai dari mengeja alif- ba- ta sampai seni membaca Alquran."

Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan kembali ungkapan syukurnya. "Saya tidak pernah membayangkan, kemampuan membaca Alquran itulah yang menolong saya bertahan hidup di Yogya dan dapat menyelesaikan kuliah dengan biaya sendiri."

Ayahnya hanya seorang petani desa yang harus membanting tulang untuk menghidup istri dan anak-anaknya. Ditinjau dari segi ekonomi, sebenarnya sang ayah tidak sanggup membiayai anaknya kuliah sampai ke Pulau Jawa.

Tetapi, karena anaknya punya tekad yang sangat kuat, akhirnya dia izinkan. Teman saya hanya perlu restu dan ongkos untuk sampai Yogya.

Teman saya bertekad akan mencoba hidup mandiri di kota pelajar itu. Bagaimana caranya? Dia juga tidak tahu. Yang penting bismillah, tawakkal 'alallah.
Belum sampai seminggu di Yogya, dia menghadiri sebuah pengajian. Seperti biasa, sebelum pengajian inti dimulai, dibacakan dulu ayat-ayat suci Alquran.

Sayangnya qari' yang direncanakan belum juga datang.  Seorang bapak memintanya menggantikan membaca Alquran. Dengan segala senang hati dia penuhi permintaan mulia itu.

Setelah selesai pengajian, bapak tadi menghampirinya dan memperkenalkan diri. Ternyata dia seorang kepala sekolah dasar. Di luar dugaan, bapak itu memintanya mengajar membaca Alquran kepada murid-murid kelas lima dan enam.

Dari honor mengajar Alquran itu kemudian dia dapat menghidupi dirinya sehari-hari. Dari mengajar di sekolah itu juga, dia diminta oleh orang tua murid untuk mengajar anaknya privat di rumah.

Melalui wali murid itu, dia diminta lagi mengajar anak yang lain. Dia dapat lagi pendapatan yang lumayan. Begitulah enam bulan setelah berada di Yogya dia mendaftar kuliah dan membiayai kuliahnya dengan honor mengajar Alquran.
Itulah yang sangat dia syukuri. Kemampuan membaca Alquran telah memberikan berkah kepadanya. Dia yakin, waktu itu tentu ayahnya sama sekali tidak mengharapkan anaknya mampu menghidupi diri sendiri dengan membaca  Alquran.
Yang ada dalam pikiran ayahnya cuma satu, sebagai orang tua, dia wajib mendidik anaknya agar bisa membaca kitab suci yang diimani dan dimuliakannya dengan sepenuh hati.


Yunahar Ilyas