Kumpulan E-Book ada di sini

E-Book berbagai disiplin ilmu ada di sini. Cari pada label sesuai dengan keinginan anda. Dapat di download secara gratis.

Berita Seputar Dunia Pendidikan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kumpulan Artikel, Makalah, Opini, Cerpen, Resensi, dll

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Ida S Widayanti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ida S Widayanti. Tampilkan semua postingan

Ungkapan Positif



“Kemanapun ayah pergi, wangi bayi tercium terus,” ujar seorang ayah sambil menimang bayi yang mungil.
“Terima kasih sudah hadir di keluarga ini. Kami sangat berbahagia. Semoga kami bisa selalu membuatmu nyaman setiap hari. Ade adalah bayi yang sangat cocok untuk ibu,” ujar sang ibu sambil mendekap sang bayi.
“Kalau aku sakit, terus lihat bayi, sakitku jadi tak terasa,” ujar kakak laki-laki bayi yang berusia tujuh tahun tak mau ketinggalan.
“Kita beruntung dapat bayi yang ini, tak ada yang tidak sayang. Bayi ini sangat berharga, lebih dari apapun juga. Jadi bayi ini sangat mahaaal,” kata kakak perempuannya yang berusia lima tahun.
“Warna bayi kok merah, seperti warna kesukaanku,” sang kakak laki-laki menimpali lagi sambil mengusap pipi tembam sang bayi. Ia lalu menambahkan, ”Kok Allah tahu apa yang kuinginkan. Terima kasih ya Allah aku diberi adik yang lucu ini.”
Ungkapan-ungkapan di atas dinyatakan oleh keluarga yang sangat berbahagia karena kehadiran bayi yang sudah lama dinantikan. Kebahagiaan itu kerap mereka nyatakan dalam berbagai ekspresi atau ungkapan positif. Mereka seolah berlomba menyatakan perasaannya masing-masing pada sang bayi.
Bagi orang yang jarang mengungkapkan perasaannya, mungkin ucapan-ucapan di atas kedengarannya berlebihan. Namun sesungguhnya banyak manfaat dari sikap seperti itu. Jika sebuah keluarga senantiasa menyatakan perasaan positif seperti rasa bahagia, kasih sayang, dan ungkapan syukur, maka hal ini akan mempererat ikatan emosional dan keakraban di antara anggota keluarga tersebut.
Ungkapan ini bisa berupa verbal yang disertai pelukan atau ciuman yang semuanya menyatakan limpahan kasih sayang dan perhatian. Ungkapan ini membuat anak merasa dicintai dan dihargai sekaligus bisa mengatasi perasaan takut dan kekhawatiran dalam diri anak.
Anak yang dibesarkan di lingkungan seperti ini akan cenderung mampu mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Hal ini akan membuat orang yang berkomunikasi dengan dia akan bisa memahami apa keinginan maupun kebutuhannya sehingga dapat memberikan respon sesuai keinginannya itu. Sebaliknya anak yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya, maka akan sulit bersosialisasi dan cenderung tidak memiliki kepercayaan diri serta pasif dalam menanggapi sesuatu.
Pada dasarnya setiap anak balita cenderung mampu menyatakan isi hatinya, baik rasa gembira, kecewa, sedih, ataupun takut. Kecenderungan ini perlu mendapat dukungan secara positif. Rasa marah, kecewa, atau rasa takut yang biasanya dinyatakan dalam tangisan, rengekan, omelan, atau pukulan itu, bisa dialihkan dengan bentuk ungkapan positif.
Anak bisa dilatih dengan mengungkapkan rasa tidak senangnya dengan bahasa yang jelas sehingga lingkungan bisa memahaminya dengan lebih mudah dan konflik bisa dihindari. Jika kemampuan ini terus dibangun, maka anak akan terampil mengatasi persoalan dirinya yang berpotensi menimbulkan rasa kesedihan maupun kemarahan.
Untuk mampu bersikap ekspresif secara positif, maka orang tua perlu menstimulasinya sejak bayi. Sebagaimana keluarga di atas yang senantiasa mengisi hari dengan ungkapan positif pada bayinya. Insya Allah anak yang mampu mengekspresikan perasaannya secara positif akan menjadi anak yang bahagia sekaligus menyenangkan. 

Ida S Widayanti

Tantangan Pengasuhan Anak



Puspita begitu kaget saat membaca status di jejaring sosial dunia maya yang ditulis salah seorang siswanya di sebuah sekolah dasar terpadu. Siswa tersebut memang sering mengumpat dengan kasar pada temannya bahkan ke orang tuanya. Namun, yang paling membuatnya kaget, status terakhir siswa tersebut berisi kalimat yang bermuatan pornografi yang ditujukan pada salah seorang guru perempuannya.
Tak hanya Puspita, Anna seorang guru mengaji juga kaget memperhatikan ungkapan-ungkapan murid-muridnya dalam media pertemanan dunia maya itu. Anak-anak yang dengan santun mencium tangannya saat bertemu dan berbicara cukup sopan itu, ungkapannya di situs tersebut sangat kasar dan tidak layak untuk diucapkan oleh anak-anak.
Ketika Anna membicarakannya dengan para orang tua, rata-rata mereka mengaku tidak tahu-menahu apa yang dilakukan anak-anaknya di dunia maya tersebut. Beberapa ibu mengaku jarang online sehingga tak sempat mengikuti perkembangan interaksi anaknya. Sedangkan sebagian besar ibu lainnya mengaku bahkan tak bisa mengakses internet.
Fenomena di atas mencerminkan bahwa perkembangan dan kecepatan teknologi informasi mempengaruhi pola pikir dan interaksi anak. Namun, kecepatan anak-anak mengakses teknologi informasi tersebut tidak sebanding dengan orang tuanya.
Seorang Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak di sebuah kota mengaku senang kalau anaknya pergi ke warnet dan senantiasa membekalinya dengan sejumlah uang. Baginya, jika anaknya pergi ke warnet dan dapat mengoperasikan komputer berarti anaknya tidak gagap teknologi (gaptek) seperti dirinya. Ibu tersebut sama sekali tidak menyadari bahwa banyak hal yang negatif dari dunia maya jika tanpa pendampingan.
Permasalahan di dunia pendidikan dan pengasuhan senantiasa meningkat dari waktu ke waktu. Sebuah penelitian di Amerika mencatat bahwa pada 1940, masalah yang dirasakan guru di sekolah umum adalah seperti berbicara sebelum gilirannya, mengunyah permen karet, membuat keributan, berlarian di lorong, memotong antrian, melanggar aturan berpakaian, dan membuang sampah sembarangan.
Pada 1990, persoalan sudah berubah drastis menjadi menyalahgunakan obat bius dan alkohol, mengalami kehamilan, memperkosa, merampok, dan menyerang. Hasil penelitian tersebut terdapat dalam The 7 Habits of Highly Effective Families (1999) karya Stephen R Covey.
Kini, telah satu dekade sejak penelitian tersebut, permasalahan tentu makin kompleks, tak hanya di Amerika, juga di gang-gang kecil di pelosok negeri ini. Namun, banyak orang tua yang belum sadar tentang pentingnya ilmu-ilmu pengasuhan anak. Ironisnya, di kalangan para aktivis dakwah Islam pun masih banyak yang menganggap ilmu parenting bukan hal yang penting dan prioritas. Sebuah yayasan yang mengawali pelatihan parenting di Indonesia, selama belasan tahun bergerak baru melatih sekitar 100 ribu orang.
Sudah saatnya parenting menjadi tema besar dakwah di masyarakat Indonesia saat ini.

Ida S Widayanti

Tanggungjawab Seorang Anak



Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan ‘perbuatan luar biasa’. Di antara sembilan orang yang meraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya kanak-kanak yang terpilih dari 1,4 miliar penduduk China.
Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.
Sejak ia berusia sepuluh tahun (tahun 2001) anak itu ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Sejak itu Zhang Da, demikian nama anak itu, hidup dengan sang ayah yang tidak
bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.
Ia masih terlalu kecil untuk memikul tanggung jawab yang berat itu, namun ia tetap berjuang. Ia bersekolah dengan berjalan kaki melewati hutan kecil. Karena tidak sarapan, di perjalanan itu ia makan daun, biji-bijian, dan buah-buahan yang ia temui. Kadang ia mencoba memakan sejenis jamur atau rumput, sehingga ia tahu mana yang masih bisa diterima lidahnya dan mana yang tidak. Pulang sekolah, ia bekerja membelah batu-batu besar. Upah sebagai tukang batu digunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk ayahnya.
Setiap hari ia menggendong ayahnya ke kamar mandi, menyeka juga memandikan ayahnya. Ia membeli beras dan membuatkan bubur untuk makan ayahnya. Segala urusan ayahnya lainnya pun ia yang mengerjakannya sendirian.
Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengobati sang ayah. Ia pun belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Ia mempelajari bagaimana seorang suster memberikan suntikan. Setelah merasa mampu, ia sendiri yang menyuntik ayahnya.
Ketika acara penganugerahan penghargaan tersebut berlangsung, pembawa acara bertanya apa yang diinginkan Zhang Da, ”Apakah uang atau yang lainnya. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, juga ada ratusan juta penonton televisi, mereka bisa membantumu!” Namun apa yang dikatakan Zhang Da sungguh mengejutkan siapapun, ia hanya berkata, “Aku ingin mama kembali!”
Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia sepuluh tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama lima tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok yang tangguh dan pantang menyerah.
Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya. Ada anak yang sudah sekolah di SD masih disuapi, dan memakai baju pun masih dibantu.
Potensi anak seringkali muncul justru ketika ditempa kesulitan. Jika langkah anak selalu dimudahkan maka kreativitas dan daya juangnya pun tidak akan tumbuh. Oleh karena itu, ada pepatah mengatakan, ”Jangan mudahkan hidup anak hari ini, untuk menyulitkannya di kemudian hari. 


Ida S Widayanti

Secukupnya



“Mbak, kalau membawa barang secukupnya saja. Kalau membawa sesuatu melebihi kemampuan tangan kita, benda itu pasti akan jatuh. Aku juga diberi tahu seperti itu oleh Bu Guru kalau aku sedang bermain di sentra balok,” ujar Hani, siswa TK B kepada khadimatnya (pembantu) yang secara tidak sengaja menjatuhkan piring-piring yang dibawanya.
Hani yang baru berusia enam tahun, telah memahami prinsip dari kata “secukupnya” dan apa konsekuensinya. Ia pun sudah mencoba menerapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Namun di masyarakat saat ini, aplikasi sikap tersebut jarang terlihat. Bahkan di sebuah seminar tentang pendidikan anak usia dini bagi guru dan orangtua yang diselenggarakan di sebuah hotel berbintang, terjadi fenomena sebaliknya.
Acara yang mendatangkan pembicara dari luar negeri tersebut dihadiri ratusan guru dari berbagai daerah, termasuk dari luar Jawa. Sebagian besar pesertanya Muslimah, terlihat dari pakaian peserta yang mayoritas berjilbab. Pada hari pertama, setiap makanan –khususnya makanan ringan (snack)- yang disediakan selalu tidak cukup, banyak peserta yang tidak kebagian makanan. Padahal, jumlah makanan yang disediakan dilebihkan dari jumlah peserta dan panitia.
Setelah petugas hotel mengamati perilaku peserta, ternyata banyak orang yang mengambil makanan melebihi jatah yang disediakan. Jika ada tiga jenis makanan, maka beberapa orang mengambil dua atau tiga makanan untuk satu jenis, sehingga satu orang bisa mengambil lebih dari enam potong makanan. Padahal, makanan tersebut ternyata banyak tersisa di piring peserta dan kemudian terbuang.
Akhirnya, petugas hotel mengubah cara menyajikan makanan, tidak lagi berupa prasmanan dimana peserta memilih dan mengambil sendiri, namun sudah dimasukkan ke dalam piring kecil. Masing-masing piring terdiri dari satu buah makanan untuk satu jenis. Walhasil, makanan untuk peserta ternyata mencukupi bahkan masih berlebih.
Fenomena itu merupakan hal yang biasa di masyarakat kita. Jika ada acara hajatan atau perhelatan akan terlihat fenomena yang sama. Orang mengambil sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan apakah makanan itu akan habis atau tidak.
Kata “secukupnya” tampaknya sangat sederhana dan sepele, namun sesungguhnya memiliki arti dan dampak yang sangat besar dalam kehidupan. Dalam realitas keseharian, banyak tragedi dan bencana disebabkan banyak orang yang tidak memiliki prinsip ‘mengambil sesuatu hanya secukupnya’ atau ‘sesuai kebutuhan’, tidak berlebihan dan tidak kekurangan.
Kita melihat berita di televisi, banyak terjadi bencana longsor dan banjir karena pohon ditebangi secara besar-besaran. Banyak pejabat yang sesungguhnya sudah kaya raya, lalu ingin lebih kaya lagi dengan cara korupsi. Masih banyak contoh perilaku yang melanggar sikap “secukupnya” yang bisa berakibat fatal. Padahal, puluhan ayat di dalam al-Qur`an yang melarang gaya hidup berlebihan dan melampaui batas.
Secukupnya adalah sikap yang tidak serta merta ada, namun perlu dibangun sejak dini melalui penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
“…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raaf [7]: 31) 


Ida S Widayanti 

Perlu Orang Sekampung



Seorang ibu begitu menyesali tindakannya membiarkan handphone yang memiliki koneksi internet miliknya tergeletak begitu saja. Tanpa sepengetahuannya, alat komunikasi pintar itu dibawa oleh anaknya ke luar rumah. Di luar, anak tersebut bertemu dengan teman-temannya yang lebih besar. Lalu terjadilah peristiwa yang tidak diinginkan sang ibu, temannya itu membuka situs porno. Mereka secara bergantian menyaksikan tayangan yang tidak layak dilihat siapapun.
“Bagaimana ya, cara menghapus memori di pikiran anak saya, supaya yang dilihatnya itu hilang dari pikirannya?” tanya si ibu kesedihan. “Sengaja saya jauh-jauh memasukannya ke pesantren, ternyata sekalinya pulang teracuni juga,” si ibu mulai terisak. Ia lupa bahwa anak-anak di lingkungan rumahnya kebanyakan anak-anak kelas bawah, yang orangtuanya sibuk mencari makan. Mereka tidak sempat memperhatikan akidah dan akhlak anak-anaknya.
Si ibu menyadari ternyata tidak cukup hanya memasukkan anaknya ke pesantren, jika lingkungan rumah memberikan pengaruh negatif. Saat liburan, mereka tetap berinteraksi. Karena itulah pantas Hilary Rodham Clinton mengatakan dalam bukunya bahwa It Takes a Village to Raise a Child, perlu sekampung untuk membesarkan seorang anak. Terlepas dari kontroversi dari mana ide tersebut muncul atau siapa yang membantu menuliskan buku Hillary tersebut, namun banyak orang mengakui bahwa untuk mendidik seorang anak dibutuhkan lingkungan yang mendukung.
Di tempat lain, seorang ibu yang memiliki beberapa orang anak merasa prihatin dengan lingkungan rumahnya yang tak ada tempat mengaji. Meski ada di ibu kota, lingkungan rumahnya berada di sebuah kampung yang agak sepi. Di kampung tersebut masih banyak lahan kosong, sedangkan akses jalan kurang bagus.
Kampung tersebut adalah satu Rukun Warga yang terdiri dari 140 kepala keluarga. Di situ terdapat mushalla kecil yang tidak ’hidup’. Konon pernah ada pengajian untuk anak-anak, namun entah mengapa akhirnya pengajian itu bubar. Sehingga anak-anak mulai dari yang kecil hingga remaja tidak ada tempat untuk mengaji dan belajar agama.
Ibu yang gelisah melihat keadaan tersebut akhirnya membuka tempat mengaji di rumahnya dengan mendatangkan guru ngaji. Ia juga membuka taman bacaan gratis untuk anak-anak di sekitar rumahnya, agar mereka mencintai dan menyukai kegiatan membaca.
Apa yang terjadi sungguh diluar dugaannya. Anak-anak ibu tersebut begitu semangat dan antusias. Bila jam mengaji sudah dekat, mereka yang menyiapkan segala keperluan mengaji di mushalla di rumahnya. Mereka menggelar karpet, menyiapkan spidol dan alat lainnya. Mereka siapkan juga minuman dan makanan untuk gurunya itu. Mereka juga biasa menjemput teman-temannya untuk datang mengaji. Jika ada sesuatu milik temannya yang ketinggalan, mereka mengantarkan barang itu ke rumah temannya. Sikap tanggung jawab dan kepeduliannya muncul.
Ibu tersebut baru menyadari banyak manfaat positif ketika ia peduli pada lingkungan sekitarnya. Selain anak-anak di sekitar rumah mendapat tambahan pendidikan aqidah dan akhlak yang menjadi benteng pergaulan, namun juga memunculkan sifat-sifat positif anak sendiri. Peduli pada anak berarti peduli pada lingkungan.*


 Ida S Widayanti

Perjuangan untuk Ketidakbaikan

Selama ini perjuangan senantiasa identik dengan kebaikan. Adakah perjuangan untuk suatu ‘ke-tidak-baikan’?


Pertanyaan di atas melintas begitu saja di kepala saya saat masih kuliah. Ketika itu saya merasa bahwa untuk melakukan sebuah kebaikan begitu susahnya, sehingga dibutuhkan perjuangan-perjuangan berat.

Untuk berhasil meraih cita-cita –dengan kuliah di dua perguruan tinggi negeri sekaligus- saya harus belajar mati-matian dan mengerjakan segudang tugas. Menjadi aktivis dakwah kampus juga tidak mudah, selain kegiatan sosial banyak, dana organisasi minim sehingga harus membantu mencarikannya, juga waktu yang terbatas sehingga harus pontang-panting membagi waktu. Untuk itu seringkali hari Minggu pun saya tak pernah bisa berkumpul dengan keluarga atau sekadar jalan-jalan dan bersenang-senang.

Sedangkan saya melihat fenomena teman-teman ‘yang lain’. Mereka kuliah asal-asalan, sering membolos, kerjaannya main, ngobrol di kantin. Hidupnya tanpa beban berat, hanya memperturutkan kesenangan. Dari situlah titik tolak asumsi saya bahwa untuk jalan kebaikan perlu kerja keras dan perjuangan berat.

Pada saat saya sudah mulai bekerja, pandangan itu mulai sedikit bergeser. Saya lihat teman-teman yang dulu rajin kuliah dan juga ikut organisasi, umumnya sukses di dunia kerja. Sedangkan teman-teman yang sering bolos, nyantai, dan cenderung seenaknya sendiri, banyak yang gagal di dunia kerja. Dari situ saya mulai berpikir bahwa meskipun kita bersusah payah dulu, toh akhirnya perjuangan itu berbuah kesuksesan.

Namun, ada peristiwa yang membuat pandangan saya benar-benar berubah. Pada suatu siang saya berbincang-bincang dengan sopir sebuah kendaraan umum. Ia adalah mantan preman yang sudah malang-melintang di dunia kejahatan. Ia mengaku pernah melakukan apa saja yang disebut kejahatan: mabuk, berjudi, berkelahi dan membunuh, bahkan berzina dengan banyak wanita.

Ia pernah menjadi buronan, hingga merantau ke luar Jawa. Dalam setiap pengembaraan ia senantiasa mencari tempat yang aman, tahukah apa tempat yang paling dirasakan aman? Masjid. Ya, masjidlah tempat yang menurutnya membawa ketentraman.

“Saya lihat orang-orang yang berjalan mendekati pintu masjid wajahnya senantiasa tentram dan damai. Saking santainya, bahkan mereka bisa berjalan sambil bersiul. Sedangkan orang-orang yang berbuat kejahatan hatinya selalu diliputi ketakutan dan ancaman. Ketika mencuri seekor ayam saja, mana ada yang berani bersiul. Mendengar daun bergesek saja bisa membuat jantung seolah mau copot,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa untuk sukses ‘mencuri’ itu tak mudah, dibutuhkan kesungguhan dan kerja keras.

Dialog itu menimbulkan kesadaran baru bahwa untuk kejahatan pun ternyata perlu perjuangan, bahkan lebih berat. Tapi mengapa banyak orang beranggapan sebaliknya?

Sebuah kejadian lain makin memperlebar cakrawala pandangan saya tentang arti perjuangan. Saat itu hari Minggu di musim liburan, saya bersama dua anak berada di arena permainan Dunia Fantasi Ancol. Terbayang bagaimana berjubelnya orang di setiap wahana permainan.

Antrian selalu mengular, meliuk-liuk, jauh dari pintu masuk hingga ke tempat yang tak terlindungi dari sinar matahari. Berdiri lama di bawah sengatan sang surya, sedangkan pergerakan antrian terasa amat lambat, tentu bukan hal yang mudah dan menyenangkan. Saya lihat banyak orang membuka payung, atau mengguyur handuknya yang menempel di kepalanya. Apakah mudah untuk bersenang-senang? Ternyata TIDAK juga. Butuh perjuangan untuk hanya sekadar bermain dan bersenang-senang.

Sahabat, jika untuk bersenang-senang pun seseorang perlu berjuang, apalagi untuk kebaikan. Jika untuk ‘neraka’ (baca: kejahatan) saja seseorang perlu bekerja keras, apalagi untuk surga yang balasannya tak terhingga. Karena itu, jika Anda sedang berjuang untuk sebuah kebaikan, maka nikmatilah dan bersemangatlah, karena orang-orang yang sedang melakukan kejahatan atau ketidakbaikan pun, mereka harus berjuang dan jauh  dari kemudahan. Karenanya tak perlu mengeluh.

Sahabat, kita sedang berada di penghujung Ramadhan. Di tengah deraan lapar, dahaga, dan tubuh lunglai senantiasa ada godaan untuk bersantai-santai dan bermalas-malasan. Bangunlah diri, sibaklah selimut kemalasan, bergegaslah untuk menambah ketakwaan, meningkatkan ibadah-ibadah, dan amal sholeh serta kebaikan pada sesama. “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS Ar-Rahman: 60).

Selamat berjuang untuk kebaikan!

Ida S Widayanti

Penularan Emosi



Seorang ibu baru saja pulang dari tempat kerjanya dalam keadaan lelah. Urusan dan pekerjaan kantor yang menumpuk masih menggelayuti pikirannya. Perjalanan dari tempat kerja yang cukup jauh dan macet membuat tubuhnya kian terasa letih.
Dengan lunglai ia membuka pintu rumahnya. Terpampanglah ruang tamunya yang berantakan. Baru selangkah kakinya masuk ke ruangan, kedua anaknya berhamburan menyambut dan seakan berlomba berbicara, minta ini dan itu.
Si ibu makin merasa pening, akhirnya ia masuk kamar dan mengunci pintunya. Ia benar-benar lelah, lalu ia pun merebahkan tubuhnya. Didengarnya anaknya yang paling kecil berteriak sambil memukul-mukul pintu kamar. Pembantunya membujuk dan menghiburnya. Si ibu sebenarnya merasa iba hatinya mendengar tangisan anaknya, dan hatinya berkata, ”Maafkan ibu, Nak! Ibu perlu istirahat sebentar saja agar bisa bermain lagi dengan kalian.”
Mungkin banyak ibu pekerja yang mengalami pengalaman serupa. Karena lelah, si ibu kurang peduli pada anak-anaknya yang seharian ditinggalkannya. Ia berharap anak-anaknya bisa mengerti kondisinya.
Namun, ibu tersebut lupa bahwa sikapnya itu akan meninggalkan jejak di otak anaknya hingga dewasa nanti. Jika ibu dalam keadaan capek, bermuka masam, sibuk dengan diri sendiri, dan tak peduli pada sekitar, maka tanpa disadari otak anak akan mencatatnya, ”O, kalau sedang capek boleh tidak peduli pada orang lain.” Apalagi jika ibu sampai terpancing sehingga ia berkata, ”Sudah! Bisa diam tidak, ibu lagi capek!”
Jika hal itu sering diucapkan ibu, suatu saat ketika anak sudah dewasa, kemudian sedang capek dan banyak pekerjaan, lalu ibu bertanya maka sang anak bisa berkata, ”Ibu bisa diam tidak, saya lagi capek!” Mungkin si ibu sakit hati pada anaknya, padahal dulu ibulah yang menanam sikap tersebut pada anaknya.
Akan tetapi, jika ibu dalam keadaan capek berkata, ”Ibu memang capek, tapi masih ada sisa tenaga untuk berjalan dan berbicara dengan kalian. Capek bisa hilang kalau kita istirahat, makan, dan minum.” Atau perkataan lain yang bisa membuat anak-anak memahaminya. Maka anak pun akan meniru sikap seperti itu.
Saat lelah, penting bagi ibu untuk mengelola diri agar jangan sampai terpancing emosi. Sebab, emosi bisa menular. Daniel Goleman dalam bukunya Social Intelligence menyatakan bahwa di dalam otak terdapat banyak syaraf cermin (mirror neuron) yang dapat memantulkan aktivitas sel otak orang lain. Sehingga, tanpa disadari manusia akan saling menyalin ekspresi wajah, pola nafas, dan gerakan tubuh orang lain.
Jika ibu dalam keadaan lelah dan marah berhadapan dengan anak, maka perasaan tersebut akan menjalar pada anak, sehingga ia bisa balik mengekspresikan kemarahannya pada sang ibu. Akibatnya, ibu tentu akan merasa tidak senang atau tidak nyaman.
Karena itu, jika ibu dalam keadaan lelah masih bisa tersenyum dan bersikap ramah, maka anak pun akan tetap merasa nyaman. Pancaran kebahagiaan di wajah ibu juga akan menular pada sang anak. Sehingga anak akan memiliki konsep di pikirannya bahwa ibu adalah sosok yang menyenangkan dalam situasi apa pun. Hubungan ibu dan anak pun akan terjalin dengan indah. 

Ida S Widayanti

Pentingnya Mendengarkan



Ini kisah seorang ibu yang dimasa kecilnya tinggal jauh di sebuah perkebunan di Jawa Timur. Untuk pergi dan pulang sekolah, ia bersama ketiga saudaranya harus menempuh perjalanan sekitar 60 km dengan menumpang mobil truk perkebunan. Tentu saja kegiatan menuntut ilmu menjadi terbilang berat dan sangat melelahkan untuk seorang anak di usia sekolah dasar.
Namun ada hal yang paling membahagiakannya, yang ia kenang sampai dewasa bahkan saat memiliki 3 orang putra putri. Setiap pulang sekolah, ia disambut hangat sang ibu di halaman rumah, seakan mereka tamu agung yang dinantikan. Lalu mereka menuju meja makan yang sudah siap dengan menu kesukaan anak-anaknya.
Saat yang paling ia sukai adalah saat sang ibu duduk menemani mereka makan. Semua anak ramai bercerita tentang berbagai peristiwa yang mereka alami selama mereka berangkat, sampai mereka pulang kembali dari sekolahnya. Sang ibu selalu antusias mendengarkan semua cerita anak-anaknya, seakan semua itu kabar penting sekaligus paling menggembirakan hatinya.
Menurut ibu tersebut, itulah pengalaman terindah yang paling ia kenang sepanjang hidupnya. Sebuah peristiwa yang tampak sederhana, namun sesungguhnya tidak sederhana. Pengalaman yang kemudian membuatnya bercita-cita menjadi seorang ibu berkualitas yang melakukan hal terbaik untuk anak-anaknya.
Dari kisah ibu tersebut kita dapat belajar satu hal yang sangat penting, namun kerap terabaikan oleh para orang tua yaitu ‘mendengarkan’ isi hati dan keluhan anak-anaknya. Orangtua pasti menginginkan kebaikan bagi anak-anaknya, namun seringkali malah lebih banyak menasihati dan menceramahi, bahkan memarahinya.
Ada seorang anak remaja yang kalau ditelepon ibunya menjauhkan alat komunikasinya dari telinganya. Lalu sesekali ia akan mendekatkan ke mulutnya untuk berkata, “Ya Ma, ya Ma!” lalu menjauhkannya lagi dari telinganya. Ia sudah tahu bahwa ibunya hanya berbicara, namun tak mendengarkannya.
Ada anak lain yang kalau ditelepon ibunya, lalu temannya bertanya, ia menjawab, “Biasa…Nyokap nyanyi!” Bahkan ada yang menamai orang tuanya “Radio Butut” siarannya itu-itu saja katanya.
Fenomena di atas tentu saja memprihatinkan. Orangtua yang seharusnya menjadi orang yang paling dekat dengan anak, dan tempat yang paling aman dan nyaman untuk mencurahkan isi hatinya (curhat), menjadi sebaliknya.
“Didengarkan” adalah kebutuhan semua orang anak maupun orang dewasa. Karena itu, ketika di rumah tidak ada tempat curhat, maka anak-anak mencarinya di luar rumah. Ia curhat pada teman-temannya, bisa sesama jenis atau lawan jenis. Padahal, hasil riset menunjukkan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara dengan orangtua mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.
Tentu saja anak tak bisa curhat begitu saja pada orangtuanya. Kalau orangtua tak biasa mendengarkan dan menyimak pembicaraan anak-anaknya sejak kecil, ia akan sungkan untuk berbicara. Jika anak merasa dekat dengan orangtuanya, dengan sendirinya ia akan berbicara karena merasa yakin didengarkan dan dimengerti, bukan disalahkan dan diceramahi.
Seorang motivator ternama mengatakan, “Semakin besar seseorang, ia cenderung semakin mendorong orang lain untuk berbicara. Semakin kecil seseorang, ia cenderung semakin mengkhotbahi lawan bicaranya. Bagaimana dengan Anda? 

Ida S Widayanti

Pentingnya Konsistensi



Seorang anak menangis keras menolak untuk sikat gigi sebelum tidur. Berbagai cara sudah dilakukan oleh ibunya, membujuk, memberi pengertian, dan memberi contoh. Tapi anak itu tetap menolak. Kini, ia mulai menggunakan amukan untuk menolak ‘ritual’ malam hari tersebut.
Malam itu udara sangat panas, si ibu sudah sangat lelah. Secara mental, ia tidak siap menghadapi tantrum (ngamuk) anaknya itu. Makin dibujuk anak itu makin keras menangis dan tetap bersikukuh, “Mau tidur saja, tidak mau sikat gigi!”
Lalu ibu itu menatap wajah anaknya, betapa mengenaskan. Wajah buah hatinya itu sudah terlihat lelah. Suaranya serak. Ia merasa amat kasihan, dan ingin memeluknya. Ia ingin membiarkan anak tidak sikat gigi, lalu cepat beristirahat.
Dalam keadaan hampir frustasi dan nyaris ingin mengalah, ibu itu ingat tentang pentingnya konsistensi dalam mendidik anak. Ia pun teringat, sebagai orang tua jangan takut saat menerapkan konsistensi, mungkin anak akan tantrum untuk adu kekuatan.
Ibu itu menarik nafas panjang dan hatinya menjadi sedikit ringan dan bertekad untuk tetap konsisten, namun dengan sikap tenang dan lembut, tanpa ancaman dan kemarahan. Ibu itu pun berkata, “Sayang, Ummi di sini ya menunggu Ade. Kita hanya akan tidur kalau sudah sikat gigi. Ummi sudah siapkan buku untuk kita baca sebelum tidur!” kata ibu tersebut yang sangat tahu kegemaran anaknya, yaitu dibacakan buku.
Selama anak itu menangis, ia dan suaminya berdiskusi tentang arti penting konsistensi. Tujuannya mereka saling menguatkan, agar tak cepat menyerah.
Ayah si anak itu membuka sebuah buku cerita dan membacakannya pada istrinya. Buku itu bercerita tentang buaya yang sakit gigi karena suka makan permen namun malas sikat gigi.
Anak itu masih menangis tapi suaranya sudah lebih pelan. Lalu ia bilang, “Ummi aku ingin dipeluk Ummi!”
“Ya ummi juga ingin peluk Ade. Ummi akan peluk kalau Ade akan tidur, tapi setelah sikat gigi ya!” jawab si ibu lembut.
Tangisannya mereda lalu mendekat, “Ummi, aku mau sikat gigi!” katanya. Si ibu pun bernafas lega.
Setelah acara bersih-bersih selesai dan ke tempat tidur, lalu ibu itu membacakan buku cerita tentang buaya yang sakit gigi karena suka makan permen namun malas sikat gigi, belum selesai buku dibaca anak itu sudah tertidur.
Keesokan paginya, anak itu bicara sama ayahnya, “Abi, masa buaya tidak mau sikat gigi kalau mau tidur!” katanya. Tentu saja si ibu ingin tertawa mendengar ucapannya. Ia bersyukur malam itu ia bisa melewati malam itu dengan kesabaran terjaga untuk menjalankan konsistensi dalam menegakkan aturan serta membiasakan kegiatan positif.
Kisah di atas tentu kerap dialami para ibu. Godaan untuk melanggar aturan karena tidak tahan dengan amukan anak. Jika hal itu terjadi, maka selanjutnya anak akan menjadikan ‘amukan’ sebagai senjata untuk memenuhi keinginannya, menolak yang tak disukainya, dan untuk mengendalikan orang tua.
Namun jika orang tua konsiten, anak akan belajar bahwa tidak ada gunanya nangis dan ngamuk, karena hanya akan membuatnya tak nyaman dan lelah.
Saat anak ngamuk, orang tua bisa tetap menunjukkan rasa kasih sayang dan rasa respek pada anak. Orang tua hanya menunjukkan ketidaksetujuan pada sikap anak saja, dan selalu siap menolong anak untuk tetap konsisten pada aturan yang sudah ditetapkan. 

Ida S Widayanti

Penggenggam Kebenaran



Suatu hari dalam kemacetan lalu lintas seorang teman menceritakan pengalaman seorang penyelam saat menyusuri alam bawah laut yang sangat menakjubkan dan penuh misteri. Hal yang menurutnya sangat mencengangkan adalah fakta bahwa pulau-pulau kecil dengan luas puluhan atau ratusan meter persegi, penopang di bawahnya rata-rata hanya sebesar drum.

Cerita itu membuat saya merenung dan menyadari betapa banyak hal yang tak terjamah dan tak tersentuh oleh kehidupan kita. Jangankan di bawah laut, bahkan dipermukaan bumi pun betapa terbatasnya apa yang kita ketahui. Apalagi yang di luar angkasa... amat sedikit orang yang pernah menjelajahinya.

Saya jadi teringat kata-kata kakak saya, dalam satu kesempatan ia mempertanyakan selama tinggal di Jakarta, berapa tempat yang sudah dikunjungi? Berapa banyak jalanan yang sudah ditapaki? Ok, mungkin Jakarta terlalu luas, kita persempit lagi. Misalnya di sebagian Jakarta saja, berapa banyak jalan yang sudah dilalui? Atau di lingkungan rumah, berapa banyak gang yang sudah dilalui? Kebanyakan dari kita paling hanya melalui jalan yang merupakan jalur perjalanan rumah dan kantor. Betapa kecilnya area yang kita lalui.

Saya tiba-tiba makin merasa kecil dan tak tahu apa-apa di bumi ini. Kita semua yang tinggal dunia, berapa banyak pengetahuan tentang dunia yang kita miliki? Tentu amatlah sedikit. Pantaskah kita sebagai makhluk kecil dan hina ini mengklaim sebagai pemegang kebenaran?
Kenyataan ini mengingatkan saya pada fenomena saat ini ketika banyak orang tiba-tiba latah mengatakan ESQ dan Ary Ginanjar sesat dan menyimpang. Banyak tulisan yang saya temui bertaburkan analisis dan dugaan yang, mohon maaf, jauh dari kenyataannya. Mereka tidak membaca buku secara utuh atau ikut trainingnya secara penuh, namun berteriak lantang tentang ini dan itu yang dianggapnya sesat.

Mereka seolah telah mempelajari semua ilmu, telah membaca semua buku, dan telah belajar pada semua alim ulama, telah mendalami kehidupan penulisnya dan paham latar belakang mengapa buku itu lahir. Saya juga yakin, yang menulis macam-macam dan menuduh hal-hal yang tak pantas tentang ESQ, hanya membaca bukunya sepintas lalu, bahkan mungkin itupun merujuk buku lama yang sudah banyak direvisi.

Bahkan seorang yang mengaku ustadz dalam semua seminar menuduh Ary Ginanjar membawa ajaran dan agama baru baru karena membaca tulisan di halaman persembahan yang berisi:

“Saya persembahkan secara khusus yang amat saya cintai dan kasihi anak-anakku... Semoga tulisan ini bisa menjadi buku pegangan hidupmu, sehingga pemikiran ini bisa terwariskan padamu. Saya yakin, inilah warisan yang paling berharga buatmu, hati, pemikiran, dan langkah yaitu sebuah pemikiran dan langkah berdasarkan Rukun Iman dan Rukun Islam, dan Ihsan.”

Menurut  orang tersebut, jelas bahwa Ary Ginanjar membawa ajaran dan agama baru yang bernama ESQ 165, dan pada anak-anaknya ia tidak mewariskan Quran dan Hadis, melainkan ajaran ESQ 165. Saya sungguh kaget mendengar logika Ustadz tersebut! Bukankah sangat jelas tertulis sebagai “sebuah pemikiran dan langkah berdasarkan Rukun Iman dan Rukun Islam, dan Ihsan” tidak ada yang salah dan tidak ada tersirat makna apapun bahwa Ary adalah Rukun Iman, Rukun Islam, dan Ihsan.
ESQ 165 hanya sebuah judul buku dan nama training yang ingin mengembalikan Rukun Islam, Rukun Iman, dan Ihsan ke dalam setiap jengkal kehidupan manusia dalam bidang SDM, manajemen, dan pembangunan karakter. Selama ini Al Quran hanya dihapal tapi jauh dari kehidupan pebisnis, perkantoran, industri, dan perusahaan-perusahaan. Lalu apakah ini layak dipandang sesat? Sedangkan banyak orang Islam mengikuti training SDM semacam Seven Habits yang jelas-jelas bersumberkan pada ajaran Kristen Mormon tidak dianggap sesat.

Membaca buku hanya setengah atau bahkan sepenggal, sangat berpeluang menimbulkan salah persepsi. Jangankan membaca buku -ciptaan manusia yang sangat memungkinkan mengandung kesalahan- membaca Al Quran pun yang sudah jelas dijamin kesucian dan kebenarannya pun, jika hanya sepotong-sepotong bisa berpeluang menyimpang. Bacalah Surat Al Maun hanya ayat 4, “Maka Celakalah orang yang shalat.” Tentu akan menimbulkan kesalahan.

Saya kira semua orang punya keterbatasan, tak ada yang menulis buku sedemikian sempurna sampai tak ada cacat sedikitpun di dalamnya. Tak perlu menghujat yang membingungkan umat, beri masukan saja dan kritik membangun, dan yang paling penting janganlah merasa paling benar. KEBENARAN yang mutlak hanyalah milikNya. Manusia hanya mendekati kebenaran. Betapa sombongnya orang yang merasa dirinya paling benar, dan menuduh orang lain 100% salah.

Allah menggambarkan betapa kecil kita di hadapan ilmu Allah:

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS. Al Kahfi 18:109) “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habis-nya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS.Luqman 31:27)

Masih pantaskah diri kita mengklaim sebagai pemegang kebenaran, dan menyalahkan yang lain?



Ida S Widayanti

Pagi Hari



Ketika matahari baru menampakkan bias sinarnya, adalah saat-saat yang berharga untuk dilewatkan. Sibaklah gorden, lalu bukalah jendela kamar lebar-lebar, maka Anda akan mendapatkan berkas cahaya dan kesejukan.
Lalu dengar kicauan burungnya, tatap kilau embun di ujung daun, reguk aroma udaranya, resapi setiap detiknya, penuhi dada dan pikirannya dengan segala suasananya, maka akan kita temukan semanat, antusias, dan inspirasi. Ya pagi hari senantiasa menawarkan limpahan kesagaran dan berjuta harapan...
Lucinda Basset dalam bukunya Life Without Limits mengatakan bahwa pagi hari adalah saat yang tepat untuk menikmati waktu pribadi. Menurutnya kehidupan yang dipenuhi kesibukan ini memerlukan keseimbangan. Salah satu cara terbaik adalah menikmati pagi hari.
Adrian Arief, seorang pelukis senantiasa mengabadikan keindahan pagi dalam karya-karyanya. Kebanyakan lukisannya bertemakan pagi hari misalnya: "Dermaga Pagi", "Suatu Pagi di Amsterdam", "Setelah Hujan Pagi di Kota Yogya", "Pagi di Kebayoran Lama", dll. Ada peristiwa yang membuatnya menyukai pagi hari. Ia pernah mengalami goncangan jiwa, hingga ia merasa stress dan frustrasi. "Ada suatu periode dimana lukisan saya selalu menggambarkan kesedihan. Namun dengan berjalannya waktu, kesedihan masa lalu itu telah berkembang menjadi kenangan indah. Dan keindahan kenangan itu kini saya gambarkan dalam keriangan warna dan keindahan pagi. Pagi hari adalah waktu terindah dan mencerminkan semangat hidup.”
Pagi hari merupakan waktu yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam kumandang azan subuh disebutkan bahwa shalat lebih baik daripada tidur. Kalimat ini menyiratkan bahwa banyak keutamaan ketika bangun pagi. Kondisi lingkungan pada pagi hari yang menyegarkan karena suplai oksigen di udara masih banyak. Bahkan belakangan para ahli membuktikan bahwa bangun pagi mencegah kerusakan jantung. 
Pagi hari adalah saat Anda memulai segala aktivitas. Sebagian orang memulainya dengan mencari informasi. Televisi, radio, surat kabar, buku, internet bisa menjadi pilihan.
Mulailah pagi hari dengan kedamaian, kesegaran, dan keceriaan. Selamat bangun pagi. Semoga kami bisa menyertai pagi Anda dengan jendela informasi yang memberi inspirasi, semangat, dan keindahan.

Ida S Widayanti

Nyaman dengan Aturan



Keyvan belum genap berusia tiga tahun. Suatu hari diajak ibunya berbelanja ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka melewati sebuah restoran cepat saji yang memasang poster di dindingnya secara mencolok. Melihat poster tersebut, Keyvan berkata pada ibunya.
“Ummi, masa orang itu makan daging ayamnya banyak sekali, seember, tidak pakai nasi, makannya sambil jalan lagi. Terus, dia juga tertawa-tawa. Padahal tidak baik. Tidak lucu,” katanya.
Di halte busway sebuah keluarga sedang menunggu bus Transjakarta. Pintu kaca otomatisnya menempel di dinding dan tak berfungsi lagi. Pintu kaca tersebut retak dengan ukuran kecil-kecil dan tersebar merata, sehingga tampak seperti mozaik. Si ibu begitu penasaran karena kaca tersebut tetap berdiri tegak. Ia pun kemudian menyentuh pelan-pelan permukaan kaca tersebut.
Tiba-tiba, anak perempuannya berteriak, ”Bunda, kok melanggar aturan! Lihat, di situ kan tertulis, ‘dilarang memegang kaca’. Bunda malah memegangnya,” kata si anak yang berusia delapan tahun itu.
Si ibu tentu saja kaget, ia merasa malu. Sekilas ia melihat pengumuman tersebut, namun tidak memperhatikan isinya. Meskipun yang dilakukannya hanya menyentuh secara pelan-pelan, namun ia merasa telah memberi contoh tidak baik tentang pentingnya mentaati aturan.
Dua kisah di atas, menunjukkan tentang anak-anak yang sudah paham tentang apa itu aturan. Keyvan secara spontan dapat melihat sesuatu yang menurutnya tidak sesuai dengan aturan makan. Aisyah, anak perempuan itu, sudah menyadari bahwa segala sesuatu ada aturannya. Ia pun paham bahwa aturan dibuat agar kita aman berinteraksi dengan yang lain setiap hari. Karena itu, mereka sudah merasa nyaman dengan aturan.
Dalam keseharian, kita kerap melihat bahwa orang dewasa tidak memberi contoh tentang komitmen menjalankan aturan, bahkan dari hal-hal kecil. Karena itu, di Indonesia seringkali aturan seolah dibuat untuk dilanggar. Lihatlah, jika ada papan yang bertuliskan ‘dilarang membuang sampah’ di situ bisa dipastikan akan ada timbunan sampah.
Fenomena ini sangat ironis. Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, namun kesadaran menjalankan aturan sangat rendah.
Apa yang dikatakan Keyvan tentang aturan makan sangat berbeda dengan aturan yang banyak terjadi di masyarakat. Lihatlah, begitu banyak orang tua yang menggendong anak ke luar rumah untuk makan, bahkan membiarkan anak makan sambil berlari-lari. Anak-anak jarang diajarkan tentang aturan, bahkan dalam urusan makan-minum yang menjadi kegiatan sehari-hari.
Manusia berbeda dengan hewan, jika lapar hewan akan makan apa saja apa yang ada di hadapannya tanpa memikirkan siapa pemiliknya. Sedangkan manusia, selapar apa pun dia seharusnya hanya makan makanan yang menjadi haknya. Saat makan, manusia seharusnya juga memikirkan: tata cara makan, halal-haramnya, dan jenis makanan yang baik (thayyib) untuk kesehatannya.
Ajaran Islam telah menetapkan serangkaian aturan. Jika kita biasa menjalankan aturan mulai dari hal yang kecil, maka niscaya akan siap menjalankan aturan besar lainnya. Anak-anak yang terbiasa dan nyaman dengan aturan, maka kemanapun ia pergi ‘aturan’ itu akan senantiasa mereka laksanakan, dan mereka hidup selamanya bersama aturan. 

Ida S Widayanti

Menyogok Anak



Seorang ibu merasa bersalah ketika ia harus meninggalkan anak-anaknya ke luar kota. Beberapa hari sebelum berangkat si Ibu sudah menyiapkan mental anak-anaknya dengan mengajak mereka berdiskusi. ”Maaf ya, ibu harus pergi ke luar kota untuk acara bedah buku. Mudah-mudahan buku ibu laku, jadi kita punya uang. Mas kan ingin beli sepeda, mbak ingin membeli rumah boneka, adik juga ingin beli mainan pesawat,” kata si Ibu. Namun, jawaban anak sulungnya yang masih kelas 5 SD itu mengagetkan hati si ibu.
”Bu, kalau uang kan sebenarnya bukan hal yang terlalu penting. Tapi kalau ibu pergi memberikan ilmu, lalu ilmu ibu itu memberi manfaat dan dikerjakan oleh banyak orang, maka pahala ibu akan terus mengalir sampai ibu meninggal nanti,” kata si Anak.
”Iya Bu, walaupun kami sedih ditinggal ibu, sebenarnya kami senang karena ibu ditunggu dan diperlukan banyak orang di sana. Kami harus berbagi,” ujar anak yang tengah yang masih kelas 2 SD.
Mendengar kata-kata anaknya, si Ibu merasa terharu. Ia mengira bahwa anak-anaknya akan senang dengan iming-iming yang ia sebutkan. Namun diluar dugaannya, anak-anaknya memahami sesuatu yang jauh bernilai dari sekadar materi.
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa pengertian dan kesadaran anak dapat dibangun melalui sesuatu yang lebih bermakna. Tidak selalu pemberian hadiah berupa benda-benda kongkrit menjadi sesuatu yang menarik bagi anak. Namun, banyak orangtua dan guru yang masih menjadikan reward atau hadiah sebagai alat utama untuk mendidik atau mendisiplinkan anak. Bukan hal yang aneh kalau terdengar teriakan, “Doni, cepat mandi! Nanti mama kasih coklat kesukaanmu!”
Iming-iming hadiah biasanya dilakukan orangtua yang merasa capek terus membujuk anak. Menurut ahli pendidikan bahwa semua hadiah yang dijadikan barter dengan perilaku anak adalah sogokan.
Sebenarnya konsep reward penghargaan dapat dilakukan agar anak bersemangat melakukan hal yang baik atau positif. Namun, kita perlu berhati-hati agar jangan masuk kategori bujukan atau sogokan. Misalnya, membujuk anak supaya berhenti menangis. Bahkan, pemberian sogokan tidak menumbuhkan motivasi dari dalam dirinya (intrinsic motivation) dan akan bergantung pada motivasi dari luar (extrinsic motivation), yaitu hadiah. Hal itu akan membuat daya juang anak rendah.
Sogok juga akan membuat anak pamrih, sehingga orangtua akan kerepotan karena harus terus-menerus menyiapkan hadiah. Dalam jangka panjang nilai hadiah juga harus bertambah. Ketika anak makin besar, tentu permen tidak akan cocok lagi.
Mandi, makan, minum susu, dan membaca buku adalah untuk kebaikan anak. Hadiahnya ada pada manfaat kegiatan tersebut. Tidak tepat jika orangtua memberikan hadiah yang tidak ada hubungannya. Dengan terus memberi pengertian tentang manfaatnya maka akan tumbuh motivasi dari dalam dirinya sendiri.
Yang paling membahayakan jika kebiasaan menyogok terus dilakukan maka akan terbawa sampai dewasa. Di tempat bekerja, ia akan selalu bertanya, ”Apa yang akan saya dapat jika saya melakukan hal ini?” Inilah salah satu yang menyebabkan Indonesia menjadi bangsa terkorupsi.
Islam mengajarkan keikhlasan. Dan bisa kita mulai dengan tidak mengobral hadiah, namun dengan memberi pengetahuan dan pengertian yang menggugah kesadarannya.

Ida S Widayanti


Menyelesaikan Masalah dengan Bahasa



Seorang anak perempuan berusia lima tahun ditanya oleh ibunya, apakah di sekolah barunya ia masih suka menangis. “Kalau ingin sesuatu, kan kita bisa bicara, Ummi! Kata Bu guru, menangis itu bahasanya adik bayi!” ujar sang anak yang bernama Aisha itu.
Aisha sudah memahami bahasa sebagai alat komunikasi dan cara untuk menyelesaikan masalah. Kemampuan tersebut terus dibangun baik oleh ibu maupun gurunya sehingga pada usia enam setengah tahun kemampuannya sudah makin meningkat.
Suatu hari, kakak laki-laki Aisha yang berusia sembilan tahun mogok mengaji. Alasannya, teman mengajinya suka kasar dan main fisik. Terakhir, temannya itu menggunakan sarung menarik leher kakak Aisha sehingga hampir tercekik.
Setelah ayah dan ibunya berdiskusi, kakak Aisha sementara diijinkan untuk berhenti mengaji, karena khawatir terjadi bullying sehingga dapat berpengaruh buruk. Ayah dan ibu Aisha ingin menyelesaikan masalah itu, dengan berbicara pada orangtua anak tersebut, tapi mereka khawatir terjadi salah paham.
Keesokan harinya, sebuah SMS muncul di layar HP ibu Aisha, “Assalamualaikum….Aku dapat info dari Aisha tentang apa yang dilakukan Anandaku. Maaf ya Bu….Alhamdulillah, aku dapat infonya, jadi bisa segera diurus”. Wassalam.
Sore hari, teman kakak Aisha datang meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Selanjutnya mereka pergi mengaji bersama.
Orang tua Aisha merasa terharu. Di saat mereka masih kebingungan memikirkan cara agar anak lelakinya tetap bisa mengaji, tanpa sepengetahuan mereka, Aisha telah bertindak. Menurut Aisha, tadi siang ia mencari ibu tersebut dan berbicara mengenai masalah kakaknya. Aisha kini bukan hanya mampu menyelesaikan masalah dirinya, namun juga orang lain.
***
Ketika menghadapi masalah, pada umumnya anak-anak menangis, merengek, atau mengamuk. Bahkan ada anak yang menggunakan fisik seperti memukul, mencubit, atau menendang. Sebagian lagi justru diam. Padahal cara tersebut justru tidak menyelesaikan masalah. Masalah anak akan teratasi jika ia dapat mengomunikasikan dengan baik apa yang diinginkan dan apa yang tidak diinginkannya.
Pada saat lahir, anak hanya dibekali tangisan untuk berkomunikasi. Karena itulah, sang ibu harus membaca arti tangisan sehingga bisa membantu menyelesaikan masalah bayinya ketika ia haus, lapar, basah, atau ingin dipeluk.
Anak mulai berbicara dengan bahasa bibir (babbling). Jika orangtua sering mengajak bicara bayinya, maka ia akan dapat mengucapkan kata-kata. Pada usia empat bulan sampai dua tahun, ia terus belajar berbicara dibantu dengan dukungan gerak fisik. Secara bertahap ia mulai merangkai kata menjadi kalimat, sehingga ia dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas. Jika demikian, maka hidup anak akan nyaman, karena orangtua atau lingkungan dapat merespon komunikasinya secara akurat. Tangisan tidak akan digunakan lagi sebagai sarana komunikasi, tapi hanya untuk melepaskan emosi baik dikala sedih atau bahagia.
Dari cerita di atas, kita bisa melihat bahwa kemampuan berkomunikasi anak harus terus dibangun. Sebagaimana Aisha yang di sekolahnya sudah transisi masuk SD karena sudah mampu menyelesaikan masalah dengan menggunakan bahasa. Jika kemampuan berbahasa tidak dibangun, bisa jadi hingga dewasa seseorang menyelesaikan masalah masih dengan tangisan atau pukulan. 


Ida S Widayanti


Menyelesaikan Konflik



Apakah Anda stres saat anak-anak bertengkar? Seorang ibu bahkan merasa gagal menjadi seorang orangtua ketika melihat anak-anaknya berkelahi. Pernah terlintas di benaknya untuk memisahkan anak-anaknya itu agar pertengkaran di antara mereka tidak terjadi.
Seorang ayah yang mengaku anaknya sering bertengkar mengeluh, “Bagaimana tidak stres, tidak ada makanan berantem, sudah saya bawakan makanan juga, mereka berebutan. Tidak ada mainan mereka berantem, dibelikan mainan juga justru malah jadi sebab pertengkaran.”
Bagaimana sebenarnya mengatasi pertengkaran?
Banyak orangtua yang tidak tahan tatkala anak-anaknya berselisih. Namun, dengarlah penuturan seorang ahli, “Every conflict offers an opportunity to teach.” Demikian disampaikan Becky A. Bailey Ph.D dalam bukunya “Easy to Love, Difficult to Discipline.” Sehingga ketika konflik terjadi, kita bisa berkata pada diri kita sendiri, “Inilah kesempatan untuk mendidik dan membuat mereka belajar.”
Bailey mengatakan bahwa pada saat konflik terjadi, kita sebagai orangtua bisa memilih: menganggapnya sebagai peluang untuk mendidik anak atau kesempatan untuk menyalahkan dan menghukum mereka. Jika orangtua mencap anaknya sebagai ‘anak nakal’, hal itu akan menghancurkan kepercayaan diri mereka.
Bila kita dapat memanfaatkan momen bertengkar anak-anak sebagai peluang untuk mendidik mereka, maka kita dapat meningkatkan kemampuan anak dalam banyak hal, di antaranya: memahami hak dan kewajiban, membedakan salah dan benar, memupuk rasa empati, menghargai orang lain, memelihara harga dirinya, dan membangun kemampuan dalam memecahkan persoalan. Dengan demikian, ketika suatu saat mereka menghadapi konflik lagi, mereka akan dapat menyelesaikannya tanpa campur tangan orangtua.
Pada mulanya anak-anak tidak mengerti arti bertengkar, justru orangtualah yang memberi label bertengkar. Misalnya, ketika anak berebut mainan, seringkali orangtua berkata, “Sudah…sudah, jangan bertengkar!”
Dalam situasi seperti itu, orangtua bisa dengan tenang mengatakan, “Ada dua orang menginginkan mainan yang sama, bagaimana caranya ya?” Dengan pernyataan seperti itu, anak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya.
Pada dasarnya anak-anak tidak menyukai terjadinya konflik. Namun, ketidakmampuannya untuk mengelola emosi menyebabkan pertengkaran tidak bisa dihindari.
Banyak orangtua ingin masalah anak-anaknya cepat selesai, sehingga memaksa salah satu anak untuk mengalah atau meminta maaf. Hal tersebut sebenarnya kurang mendidik, karena mereka tidak diajak untuk mengurai permasalahan. Permintaan maaf sebaiknya dilakukan oleh orang yang melakukan kesalahan dan dilakukan atas kesadaran dari dalam diri anak. Oleh karena itu, sangat penting kesabaran orangtua untuk berada dalam situasi konflik, dan memberi pengertian agar mereka belajar menyelesaikan masalahnya hingga tuntas.
Hidup di dunia tidak akan pernah terhindar dari masalah dan perselisihan. Keterampilan menyelesaikan konflik akan menjadi bekal hidup yang berharga bagi masa depan anak-anak. 

Ida S Widayanti

Menyalahkan atau Menginspirasi



Seorang anak perempuan kecil kehilangan bandul kalung bermata safir biru. Ia tidak paham semahal apa permata itu, namun ia tahu batu mulia tersebut sangat berharga. Disingkapnya selimut dan seprei tempat tidurnya. Ia mencari di setiap sudut kamarnya, tetapi perhiasan itu tidak juga tampak. Dengan rasa khawatir anak tersebut bercerita pada ibunya. Ia kaget dengan kata-kata yang diucapkan ibunya.
“Sudah, tidak apa-apa. Kalau sebuah benda hilang, artinya itu bukan milikmu lagi. Tidak perlu risau,” ujar sang Bunda. Alih-alih marah atau ceramah panjang-lebar tentang betapa mahalnya permata tersebut atau menyalahkan kecerobohannya, kata-kata si ibu malah begitu menenangkan hati si anak.
“Kalau Allah berkehendak, nanti akan balik lagi. Tapi jika tidak, ya sudah bukan milikmu lagi, Sayang!” ujar ibunya. Si anak yang tadinya nyaris tenggelam dalam perasaan bersalah, kini malah tumbuh sebuah keyakinan bahwa semua milik Allah dan suatu saat akan diambil-Nya kembali.
Beberapa hari kemudian bandul kalung bermata batu safir itu ditemukan menggantung di sapu. Si anak perempuan begitu kaget, ia tidak menyangka benda berharga itu akan kembali padanya. “Berarti safir biru ini masih milikku,” ujarnya gembira.
Bertahun-tahun kemudian, gadis kecil itu sudah dewasa. Ketika seorang lelaki yang berjanji akan menikahinya pergi entah ke mana, ia berkata pada dirinya, “Dia berarti bukan milikku.” Begitu pula saat ia sudah berumah tangga, saat hartanya hilang, pembantu rumah tangganya pergi, atau guru di sekolah miliknya keluar, ia tak risau. Kata-kata dan sikap ikhlas yang ditunjukkan ibunya saat batu mulianya hilang begitu membekas di hatinya dan memuliakan cara berpikir dan bersikapnya.
Kisah lain terjadi. Seorang anak kehilangan sepeda barunya. Ayahnya memarahinya bahkan menghukumnya. Si anak kemudian sering melawan ayahnya sehingga dianggap bermasalah. Kepada psikolog yang menanganinya, anak tesebut bercerita bahwa kenakalannya berawal dari tragedi sepeda. “Sesungguhnya akulah yang paling marah, sedih, dan merasa kehilangan karena sepeda yang sudah lama kuinginkan akhirnya hilang. Namun ayah sama sekali tak memahami perasaanku, yang ada di pikiran ayah bahwa aku anak ceroboh, tidak kasihan pada ayah yang sudah banting-tulang,” ujarnya. Perasaan kehilangan saja sudah menjadi hukuman, ditambah lagi hukuman fisik dan kata-kata menyakitkan membuat si anak berontak.
Dikisahkan Anas Ibn Malik bahwa suatu kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya untuk suatu keperluan. Di tengah jalan ada anak-anak sedang bermain, lalu ia pun bergabung. Saat asyik bermain, tiba-tiba Rasulullah memegang pundaknya. Lalu, sambil tersenyum berkata, “Hei Unais, kerjakan perintahku!” Alih-alih marah, Nabi Muhammad malah memanggil dengan nama kesayangannya ‘Unais’. Sejarah kemudian mencatat, Anas sebagai Sahabat yang meriwayatkan 2.286 Hadits. Anas berkata, “Lima belas tahun melayani Nabi, belum pernah sekali pun beliau membentak, baik di dalam maupun di luar rumah.”
Saat anak menghilangkan barang , merusak, atau melakukan kesalahan lainnya, Anda dapat memilih sikap antara menyalahkannya atau menginspirasinya. Bagaimana kemudian perilaku anak, bergantung pada respon Anda sebagai orangtua.

Ida S Widayanti


Meyakinkan Tekad pada Anak



Mungkin banyak yang tak mengenal Muhammad Al Fatih atau dikenal juga dengan Sultan Mehmet II. Tokoh Perang Salib dari Ottoman Turki ini seolah terbenam dalam nama besar Shalahuddin Al Ayubi. Padahal perjuangannya untuk menaklukan Konstantinopel yang merupakan benteng Kristen di Eropa dan Asia, sangatlah hebat. Sejak kakek buyutnya telah ratusan ribu pasukan dikerahkan, namun pasukan Salib dari kekaisaran Byzantium selalu berhasil mempertahankan wilayahnya.
Kekuatan benteng yang tebal berlapis dan pasukan Byzantium yang kuat dan terlatih memang tak dapat diragukan. Selama berabad-abad kekuatan Byzantium -merupakan kelanjutan dari Kekaisaran Romawi pada abad pertengahan- menguasai imperium yang sangat luas.
Beragam strategi disiapkan Al Fatih untuk menaklukan Byzantium. Namun yang paling fenomenal adalah ketika menaklukan pertahanan laut musuhnya itu. Serangan armada laut Turki melalui perairan untuk merobohkan benteng Konstantinopel di lembah Lycos mendapat hambatan rantai bergerigi besar dan kuat yang dipasang Byzantium. Akibatnya banyak kapal pasukan Al Fatih yang tenggelam.
Melihat situasi seperti itu, Al Fatih tak putus semangat. Tercetuslah gagasan spektakuler yaitu memindakan armada lautnya melalui daratan. Ide ’gila’ itu awalnya kurang ditanggapi oleh para prajuritnya. Namun setelah Al Fatih menjelaskan teknisnya yaitu dengan mengumpulkan kayu gelondongan dan minyak goreng sehingga kapal bisa ditarik dengan licin, maka ide itu dapat terlaksana dengan baik. Pada malam hari, sekitar 70 kapal perang Turki berhasil ’berlayar’ di daratan. Rakyat Byzantium banyak yang tidak percaya menyaksikan kapal-kapal perang Turki telah berlayar di puncak bukit bukan di ombak lautan, sebagian rakyat menganggap Al Fatih menggunakan pasukan jin.
Apa yang membuat Al Fatih mampu mengalahkan Byzantium dengan ide yang semula dianggap mustahil itu? Jawabanya hanya satu kata: Yakin. Al Fatih memiliki keyakinan yang tinggi bahwa ia dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan.
Dikisahkan bahwa sejak dalam kandungan Al Fatih sudah diramalkan bakal menjadi seorang pembuat sejarah. Karena itu ketika ditimang ibu dan pengasuh, selalu ditanamkan keyakinan yang kuat bahwa Al Fatih akan mampu menaklukan imperium Kekaisaran Byzantium.
Tak hanya itu, guru masa kecilnya As Syeikh As Semsettin yang mengjari al- Quran, bahasa, matematika, sejarah, dan strategi perang pun selalu memberikan keyakinan akan kemampuan Al Fatih untuk menguasai Konstantinopel.
Meskipun pertahanan Byzantium begitu kuat, Al Fatih yang diangkat menjadi sultan di usia sangat belia itu, tak pernah gentar dan mundur. Keyakinan yang tinggi selalu memunculkan ide kreatif dan upaya keras untuk memenangkan pertempuran.
Oleh karena itu, jangan remehkan masa kanak-kanak, karena pengalaman di masa kecilah yang akan membentuk masa depannya. Cita-cita tak bisa hanya ditumbuhkan dalam waktu sesaat, namun butuh waktu yang panjang untuk menyemai dan merawatnya. Kerena itu, para orangtua yang menginginkan anaknya memiliki cita-cita dan keyakinan tinggi, tanamlah sejak anak-anak di usia dini. 

Ida S Widayanti


Menstimulasi Anak dengan Kebaikan



Seorang laki-laki memiliki kebiasaan unik. Setiap kali istrinya mengandung pada masa tiga bulan terakhir, ia senantiasa berkata pada sang istri, “Sekarang waktunya untuk melakukan jalan-jalan megah.” Maka si istri dibawa ke tempat-tempat yang indah di pedesaan dan berjalan bersamanya setiap hari, hingga istrinya tersebut dapat mereguk keindahan alam sekitarnya.
“Ayahku berteori, jika mata wanita hamil terus-menerus melihat keindahan alam, keindahan itu entah bagaimana akan terkirim ke pikiran si jabang bayi di dalam kandungan, dan si bayi akan tumbuh menjadi anak yang mencintai keindahan,” tulis salah seorang anak dari suami-istri tersebut di bukunya yang kemudian menjadi sangat terkenal. Anak dari suami istri tersebut, kemudian menjadi seorang penulis cerita anak dunia.
Kehidupan suami-istri itu terjadi pada era 1800-an, ketika penemuan ilmu dan teknologi masih sangat sederhana. Si suami hanya mereka-reka teori berdasarkan pikiran dan logikanya.
Saat ini, begitu banyak penelitian dan penemuan tentang dampak emosi dan aktivitas ibu hamil terhadap janinnya. Dengan kemajuan teknologi, bahkan aktivitas otak ibu dan janin bisa direkam dan dilihat korelasinya. Ibu yang mengalami trauma dan kecemasan berlebih, berakibat secara langsung terhadap perkembangan syaraf janinnya. Demikian pula ibu yang bahagia dengan pikiran positif akan menimbulkan rasa nyaman pada bayi dan membuat pertumbuhan fisik dan mentalnya berkembang sangat baik dan positif pula.
Karena itu, setiap bayi yang lahir sudah membawa pola dan karakter yang dibawa sejak masa kehamilan ibunya. Sebagaimana kisah di awal, anak-anak dari suami-istri itu kemudian tumbuh menjadi anak-anak yang mencintai keindahan dan mengekspresikannya dalam karya seni.
Dengan demikian penting agar terus menstimulasi anak-anak dengan keindahan dan seni. Namun, masih ada orangtua dan sekolah yang menganggap seni bukan aspek yang penting. Padahal, hal tersebut sangat berpengaruh terhadap karakter. Sikap yang kasar adalah lantaran jiwa yang kasar, yang tidak mengenal keindahan.
Dr Yusuf al-Qaradhawi mengatakan bahwa seorang Muslim itu sering dipandang sebagai sosok yang taat, serius, disibukkan oleh amal dan ibadah, hingga tidak ada kesempatan untuk mengekspresikan seni dan keindahan. Menurutnya hal itu merupakan sebuah kesalahpahaman. Al-Qur`an mengingatkan kita soal pentingnya unsur keindahan dan kecantikan, selain unsur manfaat dan faedah apa yang telah Allah Ta’ala ciptakan.
Oleh karenanya, seni menjadi pendidikan yang penting dan mendasar. Seni adalah salah satu unsur yang dapat memperkuat kepribadian anak usia dini. Dengan seni anak dapat melampiaskan pikiran dan emosinya yang sehat, menumbuhkan kemandirian, dan mengembangkan kemampuan membuat pilihan. Juga berani mencoba cara baru dalam melakukan sesuatu. Dengan seni pula anak dapat menghargai unsur-unsur estetika dalam lingkungan mereka yang Allah ciptakan serta mengakui kebesaran-Nya.
Sesungguhnya Allah itu indah, dan suka akan keindahan. Yaitu Dia, “Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan.” (As-Sajadah [32]: 7).

Ida S Widayanti

Menolong Diri Sendiri, Menolong Dunia



Seorang ibu sedang menyuapi anaknya yang sudah sekolah kelas 1 SD. Sambil memasukkan sendok ke dalam mulut sang anak, si ibu berkata, “Sudah besar makan masih disuapi, pakai baju, sepatu, masih dibantu, mandi masih harus dimandikan. Kapan mau melakukan semuanya sendiri?” tanya sang ibu, sambil terus menyuapi.
Fenomena di atas, merupakan hal yang umum terjadi pada orangtua di kota besar. Mereka kewalahan dan merasa betapa repotnya mengurus anak-anak yang usianya sudah lebih dari tujuh tahun namun masih serba dibantu.
Kebanyakan orangtua, meski sering mengeluh bahkan marah pada anak-anaknya, kenyataannya banyak di antara mereka yang masih terus melayani semua kebutuhan anaknya. Akibatnya, ketidakmandirian ini terus terbawa hingga anak bertambah besar.
Secara fitrah, setiap bayi -tanpa perlu disuruh dan dilatih- memiliki naluri berkembang untuk mandiri. Contoh nyata, bayi secara otomatis akan belajar untuk tengkurap, merayap, merangkak sendiri. Akan tetapi, yang terjadi, sering orangtua dan lingkungan kurang memberi dukungan dan kesempatan terhadap proses kemandirian anak.
Ada seorang anak yang berusia dua tahun namun sudah terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Ia mampu melepas sepatu dan kaos kaki, menggulung kaos kaki dengan rapi dan memasukkannya ke dalam sepatu, lalu merekatkan perekat sepatu sehingga kembali rapi, lalu menyimpan sepatunya ke dalam rak dengan posisi yang rapi. Banyak hal yang ingin ia lakukan sendiri seperti makan, membuka dan menutup pintu, menyalakan dan mematikan lampu, dan lain-lain. Ia mampu melakukan hal itu karena memang diberi kesempatan oleh orangtua dan lingkungannya.
Di Filipina ada sekolah yang dinamakan TK Pagsasarili yang artinya ‘membantu diri menjadi mandiri’. Di sekolah ini, anak-anak diberikan hak dan kesempatan untuk dapat belajar, berpikir, dan bekerja secara mandiri. Hasilnya cukup mengejutkan, rasa percaya diri para lulusan murid TK ini sama dengan mereka yang telah mendapat kemampuan akademik kelas tiga. Yang lebih penting lagi adalah kemampuan mereka dalam menunjukkan kecintaan dalam bekerja, berdisiplin, berkosentrasi, dan bergembira.
Bagi masyarakat perkotaan dan lapisan menengah ke atas, tidak memanjakan anak merupakan hal yang berat. Ketersediaan berbagai fasilitas, pembantu atau pengasuh yang selalu melayani semua kebutuhan, akan dapat mengkerdilkan kemampuan anak. Padahal, sejak bangun tidur hingga tidur lagi begitu banyak kesempatan untuk melatih anak mandiri, seperti mengambil atau menyimpan handuk, memakai pakaian, menyiapkan bekal dan pelengkapan sekolah.
Memberi pertolongan yang berlebihan dengan alasan sayang, akan membatasi anak untuk mengembangkan dirinya, dan memasung kreativitas anak hingga ia tumbuh menjadi anak yang senantiasa bergantung. Karena itu, dibutuhkan kesabaran orangtua memberi kesempatan anak belajar dan menerima risiko yang ditimbulkannya.
Akan sangat menakjubkan melihat anak-anak usia dini menolak untuk dibantu, dan dengan sigap melakukan segala kebutuhannya sendiri. Bahkan yang lebih menarik lagi, mereka juga senang dengan keterlibatannya dengan pekerjaan rumah tangga.
Ada kalimat menarik yang disampaikan oleh seorang guru, “Orangtua seringkali lebih bangga akan kemampuan anak-anaknya menyelesaikan soal-soal rumit matematika ketimbang kemampuan dasar seperti mengikat tali sepatu, dan membereskan tempat tidur. Bagaimana mungkin ia akan mampu menolong dunia, jika menolong diri sendiri saja tidak mampu.

Ida S Widayanti