Kumpulan E-Book ada di sini

E-Book berbagai disiplin ilmu ada di sini. Cari pada label sesuai dengan keinginan anda. Dapat di download secara gratis.

Berita Seputar Dunia Pendidikan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kumpulan Artikel, Makalah, Opini, Cerpen, Resensi, dll

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Artikel Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Umum. Tampilkan semua postingan

REGISTRASI SIM CARD ANDA SEBELUM DIBLOKIR

Mengapa anda lebih khawatir tidak melakukan Registrasi ulang Sim Card anda ?? jawabannya pasti karna tidak ingin Sim Card anda di blokir!!!
Sudahkah anda Registrasi akhirat???
Jika belum...segera lakukan agar tidak di blokir.
???
Segera lakukan Registrasi ulang Sim Card Akhirat anda....
Caranya ???
Pilih sim card yang akan digunakan untuk mencapai kehidupan Akhirat :
1. INDOSAT
     Intensifkan Doa dan Shalat.
2. TELKOMSEL
     Terus Lakukan Komunikasi ( dg 
    Alloh ) Selalu.
3. SIMPATI
      SImpanan Amal Sebelum Mati.
4. MENTARI
     Meningkatkan Taqwa Setiap Hari.
5. AS
     Amalkan Sedekah.
6. SMARTFREN
     Semangat Tadarus pasti Keren.
7. XL
     Xtra LilLaah (  Semua ibadah ekstra niat karna Alloh )
8. AXIS
     Amaliyah Xtra Istiqomah.
9. IM 3.
    Iman  Mantap, manfaat, Maslahat
Jika SIM CARD AKHIRAT anda tidak segera di Registrasi.....
Maka....
Jalan menuju SYURGA akan DIBLOKIR......!!!


DAFTAR JURNAL TERAKREDITASI NASIONAL

*UIN Jakarta*
1. Studia Islamika [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/studia-islamika]
2. Ahkam [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/signifikan]
3. Al-Iqtishad [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/iqtishad]
4. Arabiyat [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/arabiyat]
5. Edusains [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/edusains]
6. Etikonomi [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/etikonomi]
7. Ilmu Ushuluddin [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ilmu-ushuluddin]
8. Jurnal Kimia Valensi [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/valensi]
9. Signifikan [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/signifikan]
10. Tarbiya [http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/tarbiya]

*UIN Surabaya*
11. JIIs [http://jiis.uinsby.ac.id/index.php/JIIs]
12. Islamica [http://islamica.uinsby.ac.id/index.php/islamica]
13. Teosofi [http://teosofi.uinsby.ac.id/index.php/teosofi]
14. Mutawatir [http://mutawatir.uinsby.ac.id/index.php/Mutawatir]
15. Religio [http://religio.uinsby.ac.id/index.php/religio]
16. Review Politik [http://jurnalpolitik.uinsby.ac.id/index.php/jrp]
17. Ad-Daulah [http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/aldaulah]
18. JKI [http://jki.uinsby.ac.id/index.php/jki]

*UIN Yogyakarta*
19. Al-Jamiah [http://aljamiah.or.id/index.php/AJIS]
20. JPI [http://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/JPI]
21. Adabiyyat [http://ejournal.uin-suka.ac.id/adab/Adabiyyat]
22. Musawa [http://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA]
23. Esensia [http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/esensia]
24. Asy-Syir`ah [http://asy-syirah.uin-suka.com/index.php/AS]

*UIN Semarang*
25. Walisongo [http://journal.walisongo.ac.id/index.php/walisongo]
26. Teologia [http://journal.walisongo.ac.id/index.php/walisongo]
27. Al-Ahkam [http://journal.walisongo.ac.id/index.php/ahkam/index]
28. Nadwa [http://journal.walisongo.ac.id/index.php/Nadwa]
29. Sawwa [http://journal.walisongo.ac.id/index.php/sawwa]

*STAIN Kudus*
30. Addin [http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/Addin]
31. Edukasia [http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/Edukasia]
32. Iqtishadia [http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/IQTISHADIA]
33. Konseling Religi [http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/konseling]
34. Palastren [http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/Palastren]

*UIN Malang*
35. JIA [http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/JIA/index]
36. El-Harakah [http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub]
37. Ulul Albab [http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/ululalbab]

*IAIN Salatiga*
38. IJIMS [http://ijims.iainsalatiga.ac.id/index.php/ijims/]
39. Inferensi [http://inferensi.iainsalatiga.ac.id/index.php/inferensi/]
40. Ijtihad? [http://ijtihad.iainsalatiga.ac.id/index.php/ijtihad/]

*UIN Jambi*
41. Kontekstualita [http://e-journal.iainjambi.ac.id/index.php/kontekstualita]
42. Al-Risalah [http://e-journal.iainjambi.ac.id/index.php/arrisalah]

*UIN Mataram*
43. Ulumuna [http://ejurnal.iainmataram.ac.id/index.php/ulumuna/index]
44. Istinbath [http://ejurnal.iainmataram.ac.id/index.php/istinbath]

*UIN Lampung*
45. Al-Adalah [http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/adalah]
46. Kalam [http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/KALAM]

*IAIN Samarinda*
47. Dinamika Ilmu [https://journal.iain-samarinda.ac.id/index.php/dinamika_ilmu]
48. Mazahib [https://journal.iain-samarinda.ac.id/index.php/mazahib]

*IAIN Purwokerto*
49. Ibda’ [http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/ibda]
50. Al-Manahij [http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/almanahij/]

*STAIN Pamekasan*
51. Karsa [http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/karsa]
52. Al-Ihkam [http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/index]

*IAIN Padang*
53. Al-Ta'lim [https://journal.tarbiyahiainib.ac.id/index.php/attalim]
54. Kafa`ah [http://www.kafaah.org/index.php/kafaah]

*UIN Riau*
55. Jurnal Ushuluddin [http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/ushuludin]

*UIN Bandung*
56. JPI [http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jpi]

*UIN Medan*
57. Miqot [http://jurnalmiqotojs.uinsu.ac.id/index.php/jurnalmiqot]

*UIN Aceh*
58. Jurnal Ilmiah Islam Futura [https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/islamfutura]

*IAIN Ponorogo*
59. Al-Tahrir [http://jurnal.stainponorogo.ac.id/index.php/tahrir]

*IAIN Gorontalo*
60. Al-Ulum [http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/au]

*IAIN Metro*
61. Akademika [http://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/akademika]

*IAIN Tulungagung*
62. Episteme [http://ejournal.iain-tulungagung.ac.id/index.php/epis/]

*IAIN Bengkulu*
63. Madania [http://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/madania/]

*UMY*
64. Afkaruna [http://journal.umy.ac.id/index.php/afkaruna]

*Unida*
65. Tsaqafah [https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tsaqafah]

Sejarah pendidikan islam islam abad 19 sampai 20


Dalam penulisan sejarah islam di Indonesia, ada dua periode yang mendapatkan perhatian khusus, yakni periode masuknya islam di indonesia dan zaman reformis pada abad ke 20. Abad ke 20 merupakan abad dimana islam di indonesia mengalami pembaharuan. Tentunya pembaharuan yang dilakukan pada islam di indonesia mempunyai sebab tersendiri. Terkait dengan islam di Indonesia abad ke 19 belum ada suatu studi yang menyeluruh dan penelitian tentang aliran modernis pada abad ke 19 hanya sebagai titik tolak saja. Pemikiran para tokoh aliran reformis bahwa islam sedang tenggelam dalam suasana yang suram, beku, kolot dan tidak setia lagi pada ajaran islam yang murni. Pintu ijtihad sudah ditutup dan sikap taqlid pun telah menguasai pendapat umum. Kenyataan ini mengambarkan terjadinya kemunduran islam.
Berbicara terkait kemunduran islam, sebenarnya merupakan isltilah yang kurang cocok bagi islam di indonesia. Sebab pada abad ke 13 islam sudah masuk di indonesia secara besar-besaran. Namum pada kenyataanya islam pada waktu sedang menglami kemunduran khususnya dibidang politik dan intelektual. Walapun pada waktu itu islam dalam masa kemunduran masih banyak ditemukan karya-karya para ilmuan islam dalam bidang tasawuf dan sastra yang bisa menjadi tolak ukur bahwasannya islam tidak seutuhnya mundur.
Gambaran tentang zaman kemunduran islam lebih kompleks dari pada gambaran yang sering diberikan oleh ilmu sejarah yang di dominasi oleh nasionalisme arab. namun islam masuk ke indonesia tidak begitu kreatif lagi dalam bidang politik dan ilmu.
Gambaran diatas berlanjut sampai abad ke 19 yang menyebabkan islam di indonesia dalam dalm perkembangan ilmu mengalami kelemahan. Kelemahan ini diakibatkan oleh kemunduran islam secara internasional. Disamping itu sistem kolonial juga merupakan unsur yang mengakibatkan kemunduran, pihak kolonial menganggap bahwa islam sabagai unsur yang membahayakan.
Perkembangan islam di indonesia melalui berbagai jalan. Mulai dari pendidikan, perdagangan, perkawinan dsb. Dalam bidang pendidikan sendiri, islam disebarkan melalui guru. Secara garis besar guru pada saat itu terbagi menjadi lima golongan yaitu : Guru ngaji qur’an, Guru kitab, Guru tarekat, guru untuk ilmu ghaib, guru yang tidak menetap dalam satu tempat.
Di indonesia guru yang disebutkan diatas beberapa masuk dalam naungan suatu lembaga, yakni pesantren. Pesantren merupakan suatu lembaga yang menjadi basis pengajaran islam baik dalam hal syari’ah maupun ibadah. Dalam pesantren ini terdapat satu pemimpin yang dinamakan kyai. Kyailah yang menjadi panutan bagi seluruh warga pesantren karena dianggap memiliki ilmu keagamaan yang tinggi dan karisma yang kuat.
pada permulaan abad ke 19 muncul perbedaan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan sesudah pengajian alqur’an yang ada hampir diseluruh wilayah indonesia. Pada masa itu pemerintah kolonial mulai membukan lembaga pendidikan sendiri, yang sama sekali tidak berhubungan dengan sistem pendidikan islam.
Perbedaan antara pendidikan umum dan agama berawal dari surat keputusan tanggal 8 maret 1819, bahwasannya gubernur jendral van der capellen mengadakan suatu penelitian tentang pendidikan masyarakat jawa dengan tujuan meningkatkan kemampuan membaca dan menulis dikalangan mereka. Dari hasil penelitian tersebut diharapkanpelaksanaan undang-undang dan peraturan pendidikan dapat diperbaiki.secara khusus diteliti juga apakah sebaiknya guru yang ada dimanfaatkan dan diberi motivasi dan peraturan yang sesuai atau perlu menciptakan peraturan yang berbeda sama sekali.
Setelah keluarnya surat tersebut semua residen mendapatkan daftar pertanyaan, namun hanya 12 orang saja yang memberikan jawaban. Sepintas studi ini hanya melaporkan adanya pendidikan islam dengan memakai bahasa arab, yang merupakan lembaga pendidikan paling  penting diantara orang-orang jawa.
Sekitar seabad kemudian, Brugmans membicarakan penelitian tersebut dan menduga bahwa gubernur jendral Van Der Capellen hendak melaksanakan satu jenis pendidikan yang berdasarkan pribumi murni dan disesuaikan dengan masyarakat desa. Dengan gaya optimis Brugmans menghubungkan pendapatnya tersebut dengan seluruh kebijaksanaan politik pendidikan belanda, wlaupun kadang-kadang lemah dan seringkali terputus, kebijaksanaan pemerintah belanda hampir selalu sama yaitu harus menghormati unsur pribumi dalam masyarakan dan keengganan dalam menolak kebudayaan asli dalam hubungannya dengan kebudayaan asing yang bercorak barat.
Dalam usaha pengembangan pendidikan islam yang sudah ada, memang pada akhir abad lalu, beberapa kali diusulkan agar lembaga pendidikan islam yang ada agar dimanfaatkan pada kebijaksanaan untuk mengembangkan sistem pendidikan umum. Akan tetapi pada reorganisasi dan pengembangan sistem kolonial, pada kenyataanya pemerintah selalu memilih jalan lain dari pada menyesuaikan diri dengan pendidikan islam.
Tokoh pertama dikalangan pegawai pemerintahan yang bekerja dalam pendidikan orang bukan eropa adalah inspektur pendidikan pribumi yang pertama yang bernama J.A Van Der Chijs. Setahun setelah menjabat sebagai inspektur pendidikan, va der chijs sudah menolak menyesuaikan pendidikan islam yang ada. Penolakan ini berdasarkan pada alasan alasan teknis pendidikan. “walaupun saya setuju sekolah pribumu diselingi dengan kebiasaan pribumi, namun saya tidak menerima karena kebiasaan tersebut terlalu jelek, sehingga tidak dapat dipakai dalam sekolah pribumi. Yang dimaksud kebiasaan jelek itu terutama pada metode membaca teks arab yang hanya dihafal tanpa pengertian. Demikian pula para sarjan lain sependapat bahwa tradisi didaktis pendidikan pribumi begitu jeleknya, sehingga tidak dapat dimanfaatkan sebagai titik tolak untuk mengembangkan suatu sistem pendidikan umum.
Keinginan untuk mengembangkan sistem pendidikan umum bagi semua orang  pada pergantian abad ke 20, beberapa tokok berpikir untuk mencari kemungkinan melibatkan pendidikan islam dalam pengembangan tersebut. Hal itu disebabkan kerena pendidikan islam dibiayai oleh rakyat sendiri, dengan demikian pendidikan umum dapat direalisasikan dengan biaya yang relatif lebih murah. Akan tetapi karena alasan politis, penggabungan sistem tersebut tidak terlaksana, sebagai akibat kosekuensi logis akibat kebijaksanaan pemerintah belanda yang tidak mau campur tangan dengan dalam persoalan islam dan menolak untuk memberikan subsidi terhadap sekolah-sekolah islam karena tidak mau mengorabankan keuangan negara.
Pada akhirnya didirikanlah apa yang disebut sekolah desa, sebuah lembaga pendidikan sederhana yang membuka jalan terbentuknya pendidikan umum. Kemudian sekolah islam mengambil jalan sendiri lepas dari gubermen, tetap berpegang pada tradisi yang sudah dilakukan. Oleh karena itu sebenarnya sistem pendidikan umum bukan lahir dari penyesuaian sistem pendidikan tradisional. Sebaliknya sistem pendidikan islam seperti yang terlihat sekarang ini, lama kelamaan akan menyesuaikan diri dan masuk ke dalam sistem pendidikan umum.
Kemudian pada waktu itu di indonesia terdapat dua sistem pendidikan yang berdiri sendiri-sendiri dengan pola pendidikan yang berbeda pula. Pendidikan islam yang tergabung dalam lembaga pendidikan pesantren dengan menggunakan pola pendidikan tradisional dan pendidikan umum yang didirikan oleh pemerintah belanda dengan pola pendidikan yang baru tanpa campur tangan pendidikan islam.
Dengan berdirinya pendidikan umum kemudian mulailah pendidikan liberal dikenalkan kepada rakyat pribumi. Orang-orang yang bisa mengenyam pendidikan umum pada saat itu Cuma kalangan berada. Dalam rangka mengakomodir seluruh rakyat maka didirikan sekolah rakyat untuk semua kalangan sampai kepelosok desa. Perluasan pendidikan pedesaan bagi seluruh lapisan masyarakat baru telaksana permulaan abad ke 20 yang disebut etiche politiek.

MODERNISASI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA


            Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam. Terhitung islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-13, Islam berkembang pesat di dalam masyarakat Indonesia. Bahkan tanah Indonesia yang dahulu bermayoritas beragama Hindu berubah menjadi agama Islam. Islam berkembang sekaligus menyatu dengan kebudayaan pribumi. Sehingga ada sebuah sinkronisasi antara budaya dan agama yang mengakibatkan islam diterima baik di kalangan masyarakat.
            Belanda masuk ke Indonesia tidak hanya menjajah menguasai tanah pertiwi secara materi, namun juga menyebarkan budaya barat untuk dapat diterima di tanah nusantara. Budaya barat yang membawa liberalism tentulah berbenturan dengan islam waktu itu. Sehingga ada upaya keengganan masyarakat untuk menerima budaya barat. Di sisi lain kolonial berasumsi bahwa islam yang ada dalam masyarakat adalah islam yang tradisional dan konservatif. Suatu yang sangat kolot dengan apa yang mereka (masyarakat) pegang, juga pemikiran yang sulit untuk ke arah kemajuan, karena masyarakat hanya selalu menyibukkan diri untuk belajar agama tanpa memikirkan duniawi apalagi untuk memajukan peradaban.
            Hal ini menjadi salah satu sebab orang kolonial belanda tidak mau mengasosiasi pendidikan islam dalam lembaga pendidikannya. Karena pendidikan islam yang diajarkan pada masyarakat tidak dapat memberikan keuntungan untuk belanda. Mereka menganggap bahwa pendidikan yang diberikan seperti mengajarkan mantra kepada anak didiknya. Hal ini terlihat ketika pengajaran yang dilakukan di dalam lembaga pendidikan yang waktu itu masih berupa surau, maunasah, dan masjid memberikan materinya berupa pengajaran bahasa arab tanpa memberikan arti perkata.
            Fenomena yang terjadi adalah masyarakat islam Indonesia dalam baca tulis arab, pertama diajarkan huruf hijaiyah kemudian menulis merangkai kata dalam tulisan arab, dan diajarkan membaca suratan pendek dalam juz ‘amma sampai pada selesai membaca al-Qur’an sebanyak 30 juz yang di akhiri dengan acara khataman sebagai tanda telah selesainya membaca seluruh isi al-Qur’an. namun yang terpenting dalam mempelajari al-Qur’an adalah artinya. Dan arti dalam setiap bacaan dalam al-Qur’an inilah yang dilupakan dalam proses pendidikan islam.
            Itu fenomena yang terjadi dalam pendidikan islam waktu itu bahkan sampai sekarang banyak yang masih menerapkan model pendidikan seperti itu. Seharusnya ada pembaharuan dalam pendidikan islam supaya makna penting dalam al-Qur’an adalah mempelajari isi kandungan al-Qur’an yakni mengetahui arti per-kata dapat tersalurkan. Ini mungkin yang menjadi kebiasaan masyarakat ketika tadarus al-Qur’an setelah tarawih yaitu membaca sebanyak-banyaknya ayat suci al-Qur’an sampai khatam berkali-kali namun mereka tidak mendapat pelajaran apa-apa dari setelah membaca ayat tersebut kecuali mendapat pahala dan mencari ridho Allah. Namun secara pengetahuan dan pendidikan, mereka tidak mendapat apa-apa dari hasil membaca tersebut.
            Dalam upaya pembaharu yang menjadi kebiasaan masyarakat memang ada. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan mengubah suatu kebiasaan ceramah jumat dilakukan dengan menggunakan bahasa arab diganti dengan bahasa sehari-hari tidak terpaku pada bahasa arab. Karena ceramah yang merupakan khutbah pertama adalah isi tausiyah ataupun kerohanian berupa nasehat dan bimbingan kepada jamaah. Sehingga menggunakan bahasa sehari-hari supaya jamaah mengerti apa yang disampaikan. Selain itu juga Ahmad Dahlan melakukan suatu perubahan dimana beliau mengubah tatanan shof sholat di masjid dengan arah barat laut sesuai arah kiblat ka’bah di Makkah.

Pendidikan Islam dan Pendidikan Umum
            Pendidikan menjadi sebuah cita-cita bangsa untuk menjadi pribadi yang tidak hanya cakap mengenai urusan duniawi namun juga taat kepada Sang Pencipta. Dengan ini, seseorang tidak hanya mampu menguasai pendidikan umum saja namun juga mempelajari pendidikan agama untuk bekal kehidupan di dunia dan akhirat.
            Dalam prakteknya pendidikan akhir abad ke 19-an, ada sebuah diskriminasi terhadap pendidikan islam. Pendidikan islam tidak semata-mata diakui oleh pemerintah yang dipegang oleh kolonial Belanda. Belanda cenderung menolak menerima pendidikan islam dalam kurikulumnya bahkan lembaga islam seperti pesantren tidak dinaungi oleh pemerintah. Sehingga yang terjadi adalah usaha diri dari pesantern tanpa dukungan dari pemerintah. Bahkan pesantern cukup lama bernaung sendiri dengan kurikulum yang diterapkan secara mandiri yang sangat berbeda dengan apa yang diterapkan oleh pemerintah dengan sekolah umumnya.
            Pemerintah Belanda dengan bentukan lembaganya seperti HIS, Sekolah Rakyat, dll mengadopsi gaya pembelajaran modern yang mencoba diterapkan di dalam masyarakat Indonesia. Hasilnya HIS merupakan sekolah umum namun dengan peserta didik yang mayoritas adalah anak dari orang terpandang. Sedangkan orang miskin dan pedesaan bisanya berada di sekolah rakyat. Sedangkan pesantren dengan pendidikan secara mandiri dapat berkembang secara baik terlebih ketika penjajah Jepang, banyak donator dan bantuan yang di sumbangkan di dalam pesantren walaupun hal tersebut tidak dibawah lindungan pemerintah.
            HIS memberikan jaminan lulusan peserta didik yaitu dapat meneruskan pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri. Hal ini yang menjadikan putra bangsawan tak jauh nasibnya dengan orang tua yaitu tetap melestarikan kebangsawannya. Berbeda dengan sekolah keagamaan yang didirikan seperti pesantren, akan menjadikan generasi seorang ulama. Tanpa ada sertifikat kelulusan yang diterima namun kemampuan agama yang dimiliki dapat dituangkan dalam kehidupan masyarakat menjadi kyai aau pembesar agama.
            Kedua lembaga yang berdiri mencetuskan generasi yang berbeda. Apalagi lembaga pendidikan islam mayoritas adalah kaum marjinal,atau kaum miskin. Terlebih antara kedua lembaga tersebut yaitu umum dan islam tidak bisa berkolaborasi dengan baik. Kedua lembaga tersebut berjalan dengan arah yang berbeda. Dan keduanya memang sulit untuk disatukan. Pendidikan agama tidak mau menerima pendidikan yang dibawakan oleh kolonial dengan mengusung modernisasi dan westernisasi.
            Mungkin ulama mengkhawatirkan adanya kolaborasi islam dengan kolonial malah menjadikan umat islam akan terjerumus dengan budaya barat yang memang pada abad ke-19 an dunia islam sedang mengalami kemerosotan, karena banyak umat islam yang menyibukkan diri dengan kesenangan duniawi seperti yang dilakukan oleh orang barat yang diungkapkan oleh Rasyid Ridha ketika beliau berada di Amerika Serikat. Sedangkan Muhammad Abduh membuat sebuah pembaharuan terhadap lembaga pendidikan islam di Mesir untuk lebih modern yaitu dengan mengadopsi budaya barat. Beliau merujuk pada peristiwa Napoleon yang pergi ke Mesir untuk mengenalkan kepada orang islam bahwa orang Barat membawa peradaban maju dan memamerkan kemajuan yang dimiliki terhadap orang islam. Ada sebuah kekaguman yang dirasakan orang islam sehingga menyadarkan diri orang islam mesir bahwa mereka tertinggal jauh dari orang barat. Melihat hal tersebut membuat adanya sebuah pembaharuan salah satunya adalah pendidikan yang dibawaan oleh Muhammad Abduh. Upaya yang dilakukan adalah dengan mengirim orang islam untuk belajar di Eropa. Dan upaya untuk memperbaharui sistem pendidikan islam yang ada saat itu. Pendidikan diperbaharui dengan mengadopsi sistem pendidikan yang ada di Barat. Walaupun ada pertentangan terhadap ulama-ulama namun hal itu berjalan dan hasil yang positif untuk kemajuan bangsa islam.
            Upaya pembaharuan pendidikan islam di Indonesia juga dilakukan oleh Ahmad Dahlan. Beliau bukan lagi memasuki wilayah kaum pedesaan yang memang sudah membudaya dengan islam, namun dengan mendirikan lembaga sekolah umum yang juga mengajarkan pendidikan islam. Pengajaran tidak hanya pendidikan umum saja namun juga ada pengajaran pendidikan islam. Hal ini merupakan suatu pembeda dimana ulama islam mendirikan sekolah umum bukan madrasah maupun pesantren. Sehingga upaya inilah yang mungkin menjadi motivasi sebagai pembaharu pendidikan islam di masa kemerdekaan.
            Sekolah yang dinaungi Ahmad Dahlan adalah sekolah yang berada di perkotaan yang mana mereka dekat dengan kaum bangsawan, dan dekat dengan kolonial. Hal ini menyebabkan lembaga yang dibawakan oleh Ahmad Dahlan di akui oleh pemerintah kolonial.  Apalagi dalam ajaran yang diserukan untuk kembali kepada al-Qur’an dan As-sunnah. Sehingga tidak mudah begitu saja untuk percaya terhadap suatu hal yang mistik. Dan sangat melarang adanya bid’ah yang menjangkit di dalam masyarakat. Ajaran inilah yang menyebabkan orang kota dengan mudah memeluk aqidah yang disampaikan oleh Ahmad Dahlan. Berbeda dengan orang desa yang mereka lebih memilih ajaran dari ormas Nahdhotul ‘Ulama yang dibawakan oleh Hasyim As’ari. Ajaran ini masih mengenal bid’ah hasannah, bahwa tidak semua bid’ah itu buruk dan memperbolehkan menjalankan bid’ah asalkan tidak menyimpang dari ajaran islam. Sehingga islam ini sangat membaur dengan budaya setempat, bahkan budaya hindu yang telah ada dapat berkolaborasi dengan islam, seperti acara 7 hari setelah kematian yang mengadopsi dari budaya hindu, dll.
            Hal inilah yang mungkin mendasari pembentukan madrasah yang tidak hanya mengajarkan pendidikan islam saja namun juga pendidikan umum. Sebenarnya telah terjadi di daerah padang terdapat madrasah yang pertama di bangun sekitar awal abad ke-20 an, namun dengan adanya upaya belanda untuk menguasai lembaga tersebut, maka lembaga pendidikan islam yaitu madrasah tersebut berubah nama menjadi HIS. Kelihatannya sulit untuk mengembangkan lembaga pendidikan islam waktu itu kecuali pesantren yang hanya mengajarkan pendidikan islam dengan menerapkan kurikulum yang mandiri.
            Jika melihat lembaga yang ada di era modern sekarang ini, bahwa pendidikan agama dan pendidikan umum menjadi suatu kolaborasi dalam suatu lembaga baik yang di bawah naungan kemendikbud maupun depag. Karena hal ini sesuai dengan tujuan dari pendidikan yang mulai diserukan pada era orde baru bahwa pendidikan islam menjadi mata pelajaran wajib di setiap lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, danhal ini bertahan sampai sekarang. Sedangkan pendidikan agama yang dinaungi depag seperti madrasah boleh membuka jurusan umum yang menandakan bahwa lembaga pendidikan islam tidak hanya menerapkan pendidikan islam saja namun juga pendidikan umum diterapkan dalam urikulumnya.
            Terlebih ketika ditetapkannya SKB3M di pertengahan orde baru bahwa lembaga pendidikan non-formal yang meliputi pesantren menjadi salah satu naungan depag, yang menguatkan kedudukan lembaga islam dan hal ini juga mulai membuka pendidikan umum dalam pesantren. Sedangkan kedudukan lembaga pendidikan islam mendapat kedudukan yang sejajar dengan pendidikan umum dengan menyesuaikan jenjang pendidikannya. Dan output yang dihasilkan dari lembaga pendidikan islam boleh melanjutkan ke pendidikan umum, begitupun sebaliknya.
           
REVIEW BUKU
Dr. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19, Jakarta: Bulan Binang, 1984, tebal: xiv + 281 hlm
Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasaqh Sekolah, Jakarta: LP3ES, 1986, tebal: xix + 261 hlm

DAFTAR PUSTAKA
Mustafa. (1998). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung: Pustaka Setia
Zuhairini, dkk (2008). Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta; Bumi Aksara

MICHAEL FOULCAULT; TEORI WACANA DAN MODERNITAS YANG BERPUSAT PADA TUBUH


Michael Foucault adalah filosof dan pakar sosiolog dari perancis yang lahir pada 1926-1984. Spesifiknya Michael Foucault adalah ahli sosiologi tubuh dan ahli teori post structural. Versi post-struktural Falcault biasanya disebut teori wacana. Karya-karyanya yang berkaitan erat dengan teori post-struktural untuk menjelaskan bahwa sosial dan budaya berpengaruh dalam mendefinisikan tubuh dengan karakter alamiah, universal, yang tergantung pada waktu dan tempat. (hal 172)
Sosiologi Foucault tentang tubuh memusatkan perhatian pada cara dimana definisi kebudayaan mengenai perilaku normal dan tidak normal mengatur gagasan manusia mengenai mengenai tubuh mereka dan apa yang menurut mereka harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan. Selanjutnya ia yakin bahwa kita dapat menjadikan masuk akal kehadiran berbagai aturan sosial pada waktu dan tempat yang berbeda-beda dengan mamahami konteks-konteksi sosial dan historis di mana berbagai macam masyarakat berada. Ia secara khusus tertarik pada bagaimana dan mengapa dalam masyarakat modern, tubuh perlu dikelola dan diatur, yang pada masa pra-modernitas tidak perlu. (hal 172)
Menurut  Faucault, aspek masyarakat yang paling signifikan untuk menjadi modern adalah dengan cara di mana bentuk-bentuk pengetahuan baru. –bukan bentuk ekonomi kapitais (marx), bukan bentuk baru solidaritas (Durkheim), atau hasil pengejewantahan tindakan tindakan rasional (Weber)-. Baginya inilah wacana baru yang mendefinisikan kehidupan modern. ((hal 173)
Teori wacana menyatakan bahwa kita memperoleh pengetahuan melalui cara yang sama dengan kita memperoleh bahasa. Ini adalah penggunaan kekuasaan untuk membangun kemampuan kita sebagai manusia, dan memiliki pengetahuan yang kita butuhkan untuk melekatkan makna pada pengalaman kita. (hal 174).
Bagi Faucault, melalui wacanalah yang mendominasi suatu waktu dalam sejarah dan suatu tempat di dunia sehingga manusia memiliki kerangka-fikir, atau pandangan dunia tertentu. Cara memandang seperti itu disebut episteme. Jika anda ingin memahami perilaku manusia pada tempat dan waktu tertentu, temukanlah wacana-wacana yang mendominasi di situ. Kemudian jika anda ingin mengetahui mengapa wacana tertentu begitu berkuasa, jadilah seperti arkeolog sosial.
Menurut Faucault, wacana yang paling penting dalam modernitas adalah wacana yang mengatur tubuh sosial dan tubuh individual. Kedokteran barat memberikan kepada kita contoh terbaik suatu bentuk modern pengetahuan yang menerapkan baik kekuasaan bio maupun kekuasaan anatami cukup besar. (hal 175)
Kata Foucalut, anda hanya perlu menyadari seberapa jauh kita sebagai manusia modern tunduk kepada kekuasaan definisi medis mengenai normal dan menyimpang- yakni seberapa jauh kita memperhatikan kesehatan tubuh kita. Menurut Faucalut kekuasaan sehat dan sakit dalam kehidupan kita analog dengan kekuasaan konsep baik dan buruk dalam kehidupan masyrakat manusia pra-modern. Maka ia menguraikan pergeseran dari dominasi agama pada masa pra-modernitas sebagai munculnya kekuasaan Medis atau kekuasaan klinik. (hal 176).
Menurut Faocalt, kebijakan kekuasaan dalam ranah medis dalm konteks modernitas juga dapat dilihat dalam medikalisasi kehidupan modern di mana-mana. Istilah ini merujuk kepada cara di mana ciri dan fungsi universal keberadaan manusia disesuaikan dan dikendalikan oleh medis. Medikalisasi anak, pewrkawinan, gangguan jiwa, dan kematian.
Faucault menghubungkan munculnya kekuasaan bio-medis dalam modernitas dengan kebutuhan akan bentuk karakteristik dari produksi-kapitalisme. Agar produksi industry dan komoditas efektif, tubuh harus secara terpercaya ditempatkan dalam proses produksi. Tidak heran jika masyarakat kapitalis modernis gencar mempromosikan tubuh yang sehat dengan melakukan diet, berolahraga, menghindari kebiasaan buruk seperti merokok dan minuman keras muncul mengatur dan medisiplinkan penduduk. Dalam modernitas sebaliknya aturan-aturan medis berpusat pada kini dan di sini, yang menekankan pentingnya “merawat” seseorang secara fisik agar memperoleh keuntungan / manfaat maksimal fari kehidupan di muka bumi ini.
Kehidupan yang baik/ bahagia bukan lagi kaitannya keyakinan spiritual namun lebih pada pemilikan fisik / medis, menghindari sakit seraya mengiklankan fakta sehat itu sendiri. Bagaimana tubuh ditampilkan dihadapan orang lain menimbulkan implikasi baru yang besar dan penting bagi konsumsi dan produksi. Produk yang berpusat pada tubuh membanjiri pasar, iklan dimana-mana, dan orang berbondong-bondong ingin memilikinya. Hingga merembet ke narsisme, dengan fashion jenis pakain yang semakin glamour. Selain itu merembet ke kosmetik, parfum, bedak, kondisioner, dan tata rias lain menghiasi meja dan lemari. Semakin modrrn dengan adanya operasi plastic, bayi tabung, dll.

Pendekatan Faucault meski mengakui sebagian relevansi dari analisis-analisis tersebut, lebih suka memandangnya sebagai akibat penetrasi regulasi wacana yang berpusat pada tubuh yang secara fundamental tidak dapat dihindari ke dalam keterbatasan kehidupan  manusia masa kini. Hal ini dapat ditelusurike belakang yakni munculnya medisin yang berpusat pada tubuh yang landasan kemunculannya adalah kebutuhan modernitas.

MINUMAN KERAS


Minuman keras merupakan minuman yang mengandung alkohol. Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung zat etanol, yang bila dikonsumsi dapat menghilangkan dalam diri seseorang.  Alkohol tiap minuman keras berbeda-beda, tergantung bahan dan lamanya fermentasi. Bila dikonsumsi secara berlebihan minuman keras akan memberi dampak bagi kesehatan tubuh. Minuman ini termasuk kedalam zat narkotika yang mengandung alkohol. Walaupun hanya satu tetes, minuman ini diharamkan oleh MUI. Contoh dari minuman keras adalah Anggur, Whisky, Vodka, Tuak.
Berdasarkan Kepres No. 3 Tahun 1997 tentang pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol,  minuman keras dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1.      Golongan A
Minuman ini memiliki kadar alkohol 1% - 5 %. Contohnya adalah Bir
2.      Golongan B
Minuman ini memiliki kadar alkohol 5 %-20 %. Contohnya adalah Wine
3.      Golongan C
Minuman ini memiliki kadar alkohol 20% - 55%. Contohnya adalah Whisky
Bila dikonsumsi secara berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan Gangguan Mental organic (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan dan berperilaku. Hal ini disebabkan reaksi alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol, lama kelamaan orang yang sering minum-minuman keras akan tanpa sadar menambah takaran minum, sampai dengan kadar mabuk. Mereka yang terkena GMO biasanya mengalami perubahan perilaku, misalnya ingin berkelahi, tidak memiliki rasa malu, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi  sosialnya. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah. Sedangkan perubahan psikologisnya adalah mudah tersinggung, bicara ngawur, dan kehilangan konsentrasi. Seseorang yang sudah ketagihan alkohol akan mengalami suatu gejala atau gangguan yaitu rasa takut diberhentikan oleh minuman beralkohol. Efek dari mengkonsumsi minuman keras yaitu :


1.      Gangguan Fisik
Meminum minuman alkohol yang banyak akan mengakibatkan kerusakan hati, jantung, pangkreas dan peradangan lambung, otot syaraf, mengganggu metabolisme tubuh, impoten, serta gangguan seks lainnya.
2.      Gangguan Jiwa
Akibat dari minuman ini dapat merusak secara permanen jaringan otak sehingga menimbulkan gangguan daya ingatan, kemampuan penilaian, kemampuan belajar.
3.      Gangguan terhadap masyarakat
Para pengkonsumsi minuman keras akan memudahkan perasaan seseorang tersebut mudah tersinggung dan perhatian terhadap lingkungannya ikut terganggu, menekan pusat pengendalian diri sehingga yang bersangkutan menjadi berani dan agresif. Bila tidak terkontrol akan menimbulkan tindakan-tindakan yang melanggar norma-norma yang ada didalam masyarakat. Dan yang lebih parah lagi adalah menimbulkan tindak pidana atau kriminal. 

            Minuman keras juga memberi dampak bagi tubuh. Minuman ini merusak fungsi hati, pangkreas, pencernaan, otot, darah dan tekanan darah serta jantung. Dampak bagi pelaku minuman keras adalah :
1.       Menimbulkan gangguan kesehatan jasmani dan rohani, merusak fungsi organ vital tubuh (otak, jantung, ginjal, hati paru-paru).
2.      Menimbulkan gangguan terhadap ketertiban, ketentraman, dan keamanan di masyarakat.
3.      Menimbulkan perbuatan yang melanggar hukum dan dapat menyeret pelakunya kedalam penjara.
4.      Dapat memicu tindakan yang tidak bermoral, seperti kekerasan, dan kejahatan.
5.      Merusak keimanan seseorang.
6.      Merusak masa depan

Dampak bagi orang tua, keluarga adalah sebagai berikut
1.      Menimbulkan beban mental dan sosial yang berat
2.      Menambah beban biaya yang tinggi
3.      Menimbulkan beban penderitaan yang berkepanjangan

C.      Upaya-upaya untuk menghindari bahaya minuman keras
Minuman keras memberikan dampak yang begitu besar bagi perkembangan remaja kedepannya. Untuk itulah sebaiknya seorang remaja menghindari minuman tersebut. Sikap yang bisa dilakukan adalah misalnya dengan menolak tawaran dari teman untuk minum minuman keras. Sikap menolak yang lain adalah untuk tidak mau ikut-ikutan menikmati barang itu, meskipun sehari-hari bergaul dengan mereka, hanya saja seharusnya janganlah sungkan untuk bisa menolak tawaran. Jika merasa tidak mampu mengatasi bujukan orang lain, maka segeralah meminta nasehat dan bantuan dari orang yang kita percayai.
Pada prinsipnya, seorang remaja harus melaksanakan kehidupan secara seimbang, yaitu memenuhi berbagai kebutuhan baik fisik, sosial, mental maupun spiritual. Untuk itu, dapat dilakukan dengan kegiatan sehari-hari seperti :
1.      Aktif memegang teguh norma-norma agama dan sosial kemasyarakatan.
2.      Aktif melakukan olahraga.
3.      Aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial dan masyarakat.
4.      Aktif melakukan kegiatan yang berhubungann dengan hobi, atau berekreasi.
5.      Istirahat yang cukup.
6.      Makan yang cukup dengan gizi seimbang dan jam maka yang teratur.
7.      Hadapi persoalan hidup jangan dengan panik.
8.      Jangan menyimpan permasalahan, tetapi ceritakan dengan teman-teman.
9.      Percaya bahwa hidup sudah ada yang mengatur.

Penyebab Timbulnya Perilaku Minum Minuman Keras
            Hampir di semua tempat, baik secara agama maupun hukum, penyalahgunaan alkohol (alkoholsm) sangat dilarang. Hal tersebut karana dampak negatif yang ditimbulkan oleh alkohol itu sendiri baik dari sagi kesehatan, sosial, keamanan. Walaupun telah dilarang, namun tindak penyalahgunaan alkohol tetap saja terjadi. Sebenarnya, hampir setiap orang dapat menjadi orang yang hidupnya bergantung (dependent) kepada obat-obatan yang bersifat aditif, khususnya alkohol. Kecanduan biasanya terjadi jikalau orang yang bersangkutan terus-menerus membiasakan minum-minuman keras dalam takaran yang tinggi. Namun dari hasil survey diketahui bahwa hanya 10% dari orang yang pernah minum minuman keras menjadi pecandu alkohol (alcoholic). Jadi dapat disimpulkan bahwa ada faktor-faktor tertentu yang dapat menyebabkan seseorang menjadi alcoholic. Faktor tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang bersumber pada diri seseorang, baik itu gen, keadaan psikologis yang tertekan, penyimpangan kepribadian, ataupun keadaan rendahnya tingkat rohani seseorang. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan individu itu sendiri, baik itu kerena keadaan ekonomi, pendidikan, budaya, latar belakang kehidupan, maupun kerana kurangnya pengaruh kontor sosial masyarakat.
            Dari hasil studi yang dilakukan di Amerika, lebih dari 85 persen penduduk di AS pernah menkomsumsi alkohol sekurang-kurangnya satu kali dalam seumur hidupnya dan sekitar 51 persen dari semua orang dewasa di AS merupakan pengguna alkohol yang cukup rutin hingga sekarang ini. Penyalahgunaan alkohol lebih umum terjadi di masyarakat yang berpendapatan rendah dan kurangnya pendidikan.  
      1.   Akibat rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi mayarakat
                  Akibat rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi mayarakat maka banyak dari para remaja dan orang dewasa menganggur, mau bekerja sebagai PNS tidak mungkin  kerena hanya tamat SMA, mau membuka usaha tapi modal tidak ada, pilihan mereka hanya bekerja sebagai petani, namun banyak remaja yang merasa gengsi dan malu menekuni pekerjaan tersebut, terutama terhadap teman-teman mereka yang dari luar daerah Sidemen.
                  tidak ada kegiatan, mereka lebih memilih untuk berkumpul dengan sesamanya, berjudi, sambil ditemani minum minuman keras tentunya. Di seluruh belahan dunia perilaku berjudi dan minum minuman keras merupakan sebab utama terjadinya kemiskinan di suatu daerah, sehingga daerah tersebut menjadi menjadi sulit untuk berkembang dan bersaing dengan daerah lain.
      2.   Kebudayaan dan Latar Belakang Kehidupan 
                  Salah satu faktor yang mendorong berkembangnya perilaku minum minuman beralkohol adalah kebudayaan serta latar belakang kehidupan seseorang (Garry R. Collins, 2000).
                  Karena kebiasaan yang sudah membudaya ini maka muncul kecenderungan untuk merasionalkan norma-norma dan nilai-nilai menurut persepsi dan kepentingan mereka sendiri. Penyimpangan perilaku berupa minum minuman keras ini dilakukan dengan cara mengikuti arus pelaku lainnya melalui sebuah proses pembenanan, hal ini sesuai dengan teori netralisasi  yang dikemukakan oleh  Matza dan Sykes.
                  Jadi secara tidak langsung kebudayaan masyarakat ikut membantu perkembangan perilaku menyimpang di masyarakat berupa minum minuman keras.  Latar belakang kehidupan seseorang juga berpengaruh menentukan perilaku seseorang di masyarakat termasuk berbagai bentuk penyimpangan seperti minum minuman keras.
                  Orang yang pada masa kecilnya bergaul bersama dengan pemabuk tentu akan cinderung untuk menjadi pemabuk juga. Hal tersebut karena dalam lingkungan sosial, seseorang cinderung untuk berusaha diterima olah kelompok sosialnya dengan cara mengikuti perilaku dan gaya hidup mereka.
      3.   Tidak Adanya Peran Orang Tua dan Tokoh Masyarakat Sebagai kontrol Sosial
                  Masa kanak-kanak dan remaja adalah masa dimana seseorang belajar untuk meniru berbagai perilaku orang yang berada di lingkungannya untuk kemudian dipahami dan sebagai suatu bentuk nilai yang sering disebut sebagai proses imitasi.
                  Dalam proses imitasi orang tua adalah berperan sangat penting dalam membentuk kepribadian seseorang, anak-anak akan cenderung untuk meniru perbuatan orang tua yang dianggap sebagai orang terdekat.
                  Masalah yang terjadi adalah banyaknya orang tua yang bukannya memberikan contoh baik, mereka malah minum minuman keras di depan anak-anak tanpa memikirkan dampak yang akan timbul. Anak-anak yang menyaksikan orang tua mereka minum mendapatkan nilai bahwa seakan-akan minum minuman keras itu adalah sesuatu yang wajar sehingga mereka cenderung berprilaku yang sama dengan orang tua mereka. Selain karena contoh buruk yang diberikan, masalah lain adalah tidak adanya peran orang tua sebagai kontrol sosial sehingga norma serta nilai luhur yang seharusnya dijaga terkesan terabaikan.
                  Akibat dari tidak adanya kontrol sosial tersebut menyebabkan timbulnya berbagai bentuk penyimpangan sosial. Penyimpangan sosial dapat diartikan sebagai perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan dengan norma-norma di masyarakat, artinya penyimpangan tersebut terjadi jika seseorang tidak mematuhi patokan norma yang sudah ada. Disfungsi dari perilaku menyimpang dapat menyebabkan terancamnya kehidupan sosial, karena tatanan sistem yang sudah ada dapat tidak berjalan sebagaimana mestinya karena ada individu yang tidak dapat menjalankan tugasnya dalam sistem masyarakat (Wawan Hermawan, 2008).

2.6       Upaya Penanggulangan
                  Minum minuman keras sudah selayaknya diberantas karena dampak negatif yang dapat ditimbulkan selain kerena dalam ajaran agama tertentu minum minuman keras adalah perbuatan yang dilarang. Cara yang paling tepat dalam memberantas suatu masalah adalah dengan cara mencari sumber permasalahan tersebut. Sehingga apabila sumber permasalahan tersebut terselesaikan maka masalah-masalah lain tidak akan timbul atau muncul kemBali. Begitu pula dengan pemberantasan minum minuman keras di Sidemen. Motif seseorang menjadi alcoholic tentu berbeda-beda, sehingga untuk mencari tahu sumber permasalahnnya diperlukan suatu konseling. Namun perkembangan konseling sebenarnya sangat lambat sampai peminum itu sendiri benar-benar menganbil keputusan untuk berhenti minum.
                  Salah satu faktor yang menghambat adalah kerena alkohol bersifat aditif sehingga peminum yang berusaha untuk berhenti akan mengalami sindrom putus obat yaitu keadaan yang sangat tidak menyanangkan dari tubuh akubat kekurangan zat aditif. Biasanya cairan infus, magnesium dan glukosa sering diberikan untuk mencegah beberapa gejala putus obat dan untuk menghindari dehidrasi atau bisa juga dengan pembarian benzodiazepin selama beberapa hari untuk menenangkan dan membantu mencegah gejala putus obat. Obat-obatan anti-psikosa umumnya diberikan untuk sejumlah kecil pecandu dengan halusinasi alkoholik.  Setelah masalah medis darurat berhasil diatasi, program detoksikasi dan rehabilitasi harus dimulai. Pada tahap pertama pengobatan, alkohol sama sekali tidak digunakan. Kemudian seorang pecandu harus mengubah perilakunya. Tanpa bantuan, sebagian besar pecandu akan kambuh dalam beberapa hari atau beberapa minggu.  Seorang alcoholic dapat dikatakan sembuh dari pengaruh minuman keras tidak hanya dilihat dari berhentinya ia minum minuman keras, namun juga dari kesembuhan tubuhnya yang telah rusak akibat minum minuman keras, caranya mengatasi tekanan hidup, serta cara mengatasi rasa percaya diri dan rasa bersalah. 

PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA GLOBALISASI


Pembicaraan mengenai pendidikan karakter, bukan lagi pembicaraan yang biasa dan kuno. Tetapi, pembicaraan ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan diberbagai kalangan. Mulai dari masyarakat biasa, para guru ,mahasiswa, sampai kepada pejabat tinggi negara yang lain pun ikut dalam pembicaraan ini. Karena memang seiring dengan perkembangan zaman, apalagi era globalisasi yang ditandai dengan banyaknya hal-hal yang serba canggih, serba baru, dan serba instan dan tidak biasa, mulai dari pakaian,teknologi dan bangunan memberikan pengaruh yang jelas dalam kehidupan. Semua orang akan merasakan betapa hebatnya teknologi zaman sekarang. Para pekerja akan terasa lebih mudah dalam mengerjakan apapun dengan adanya alat-alat yang serba canggih tersebut. Begitupun dengan para pelajar. Mereka akan dengan mudah mendapatkan informasi dan pelajaran dari berbagai media yang ada pada zaman sekarang. Apapun yang mereka inginkan dengan mudah bisa terpenuhi, mulai dari yang positif hingga hal yang negatif.
Dengan adanya kecanggihan tersebut, semua orang akan semakin tergiur. Inilah salah satu dampak globalisasi yang menyerang semua kalangan.Orang akan melakukan apa saja agar dapat ikut menikmati kecanggihan tersebut. Bahkan hal-hal yang berbau kriminal sekalipun. Tidak peduli apakah itu akan membahayakan diri mereka sendiri ataupun orang lain. Sepertinya globalisasi lebih banyak memberikan pengaruh negatif  ketimbang pengaruh positif. Selain akan menimbulkan tindakan kriminalitas, orang juga akan semakin terbiasa dengan hal-hal yang instan, cepat dan mudah di dapat.Seperti para pelajar yang ketika mencari tugas hanya mengandalkan internet. Mereka tidak mau menggunakan akal pikirannya. Mereka justru lebih bangga dengan hasil karya orang lain dibandingkan dengan hasil dari otak mereka sendiri. Jika hal tersebut terus dilakukan, maka tidak heran jika negara ini akan semakin bergantung pada negara lain. Mereka yang memproduksi alat-alat tersebut, tetapi kita yang justru menjadi konsumen yang paling dominan.
Di era globalisasi ini, banyak orang yang menyepelekan, mengabaikan dan tidak mempedulikan tentang pendidikan karakter. Karena mereka terlalu sibuk dengan kemewahan dan kecanggihan yang ada di era globalisasi ini. Padahal seharusnya, seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, maka seharusnya pendidikan karakter juga menjadi lebih diperhatikan. Mengingat banyaknya godaan-godaan yang ada. Godaan-godaan bagi semua kalangan masyarakat yang akan menghilangkan rasa kemanusiaan dan menimbulkan sikap rakus dan tamak. Pendidikan karakter hendaknya juga lebih ditingkatkan lagi. Karena pendidikan karakter sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang di masa sekarang dan yang akan datang yang tercermin dalam ucapan dan perbuatannya.
Akhi-akhir ini, sering sekali media massa baik cetak, seperti koran dan media elektronik seperti televisi, internet dan radio yang menampilkan dan mengabarkan tentang berbagai tindakan kriminalitas. Tindakan tersebut tidak hanya dilakukan oleh para pelajar, bahkan juga dilakukan oleh orang yang berpendidikan dan pejabat negara, seperti polisi. Tawuran antarpelajar yang sepertinya sudah menjadi tradisi sejak zaman dahulu. Perkelahian antarpolisi yang akhirnya berujung pada tindakan pembunuhan. Hal-hal tersebut sering dikaitkan dengan pendidikan karakter. Apakah memang orang-orang yang melakukan hal tersebut adalah orang yang tidak mendapat pendidikan karakter yang baik sejak kecil?. Hal ini mungkin saja terjadi. Karena jika karakter yang baik telah ditanamkan dan dipupuk sejak kecil, maka kelak akan menghasilkan pribadi yang baik pula. Meskipun ke depannya banyak hal yang akan memberikan pengaruh buruk. Namun sebaliknya, apabila karakter yang tidak baik telah ditanamkan dan dipupuk sejak kecil kepada seorang anak atau memang tidak mendapatkan pendidikan yang baik, maka tidak heran jika ke depannya akan menjadi pribadi yang tidak baik pula. Terlebih lagi jika lingkungannya lebih banyak memberikan dorongan ke arah negatif.
Lalu siapa yang bertanggung jawab dalam hal pendidikan karakter pada seorang anak ?. Siapa yang patut disalahkan jika ke depannya seorang anak lebih cenderung pada hal-hal yang berbau negatif?. Mengenai siapa yang bertanggung jawab  dan yang patut disalahkan, maka banyak pihak yang terlibat dalam pendidikan karakter bagi seorang anak. Pihak-pihak tersebutlah yang akan menentukan karakter seorang anak. Baik atau buruknya tergantung pada mereka. Jika memang mereka mengajarkan sesuatu yang baik, maka tentu hasilnya akan baik pula. Jika buruk, maka hasilnyapun akan buruk.
Pihak yang pertama sekali adalah keluarga. Karakter seorang anak sangat dipengaruhi oleh keluarga. Karena memang keluaga adalah orang pertama yang menjadi kiblat seorang anak dalam bertindak. Baik atau buruknya tergantung pada mereka. Terutama kepada kedua orang tua. Orang tua yang sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seorang anak. Dalam pendidikan, terutama pendidikan karakter orang tua tidak hanya di tuntut untuk mengajarkan anak-anaknya pada hal-hal yang baik melalui ucapan-ucapan ataupun nasihat. Orang tua juga harus mengajari anak-anaknya melalui perbuatan dengan cara memulai hal-hal tersebut dari diri mereka sendiri kemudian menjadikannya sebagai suatu kebiasaan. Karena memang, seorang anak seharusnya dididik melalui dua hal tersebut, ucapan dan perbuatan. Apabila hanya dilakukan melalui ucapan saja, mungkin memang tetap akan di dengar oleh anak. Tetapi kecil sekali kemungkinannya akan dilakukan. Sebaliknya apabila ucapan yang baik juga diiringi dengan perbuatan melalui contoh dari orang tua terlebih dahulu, maka besar kemungkinan akan lebih mampu berpengaruh pada karakter anak.
Pada dasarnya, seorang anak lebih cenderung bersifat meniru. Tidak dibedakan antara anak yang masih dalam tahap sekolah dasar, menengah, atas, bahkan mahasiswa sekalipun. Jadi, tidak heran apabila sikap seorang guru juga akan berpengaruh pada pembentukan karakter siswanya. Apabila seorang guru berpakaian tidak rapi saja dihadapan siswanya, maka jangan menyalahkan siswa jika hari-hari berikutnya mereka juga akan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, hendaknya guru juga memberikan pelajaran yang baik kepada para siswanya. Tidak hanya melalui ucapan-ucapan atau nasihat, tetapi juga hendaknya melalui perbuatan dengan mengawali hal yang baik itu dari diri guru itu sendiri. Ucapan atau nasihat walaupun setiap hari di katakan kepada siswa, hal tersebut tidak akan menjamin untuk merubah mereka ka arah yang lebih baik. Bahkan hal tersebut hanya akan menjadi sia-sia saja dan tidak memberikan pengaruh apa-apa dalam diri mereka. Inilah yang menjadi alasan mengapa guru juga bertanggung jawab dan berpengaruh pada karakter seorang anak.
Selain orang tua dan guru, pihak lain yang juga bertanggung jawab dan berpengaruh pada karakter seorang anak adalah lingkungan, terutama teman. Jika seorang anak berteman dengan anak yang memiliki karakter yang baik, maka besar kemungkinan anak tersebut juga akan ikut memiliki karakter yang baik pula. Jika tidak, maka maka besar kemungkinan juga akan berpengaruh pada diri mereka. Dengan demikian, hendaknya seorang anak dibiasakan berteman dengan anak yang baik. Teman termasuk faktor yang dominan dalam pembentukan karakter seorang anak. Karena dimanapun anak lebih cenderung menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman mereka.
Di era globalisasi ini, banyak sekali oarang tua yang mengabaikan masalah pendidikan karakter. Orang tua lebih sering memperhatikan dan disibukkan dengan urusan pekerjaan mereka dibandingkan dengan anak. Orang tua, terlebih lagi ibu harusnya lebih memperhatikan ank-anaknya. Tetapi kebanyakan seorang ibu yang berprofesi sebagai wanita karier lebih sibuk dengan pekerjaan mereka. Pergi bekerja pada pagi hari dan baru pulang pada sore hari bahkan ada yang sampai pada malam hari. Jika keadaannya demikian, kapankah tersedia waktu untuk mengajari seorang anak?. Kapankah waktu bagi seorang anak untuk bisa mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya sendiri?. Orang tua lebih memilih menyerahkan anaknya pada pembantu yang mereka miliki. Pembantu sepertinya dianggap sebagai orang yang berkewajiban untuk mengasuh anak-anak mereka, dari mereka kecil hingga dewasa. Padahal pembantu hanya bertugas untuk membantu, bukan sepenuhnya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk mengasuh anak-anak mereka. Orang tua sepertinya berlepas tangan terhadap urusan rumah dan anak.
Selain itu, fenomena yang tak kalah lazim dilihat pada zaman sekarang adalah fenomena yang terjadi dikalangan guru. Guru pada saat sekarang ini sepertinya hanya bertugas sesuai apa yang memang telah di amanahkan kepada mereka melalui silabus. Mereka sepertinya hanya lebih menenkankan pada materi-materi pelajaran. Jika siswanya telah paham mengenai materi- materi tersebut, berarti tugas mereka telah selesai. Mereka mengabaikan bahkan tidak peduli sama sekali pada pendidikan karakter siswa-siswanya. Padahal guru juga ikut berperan dalam pendidikan karakter seorang anak. Melalui guru juga karakter seorang anak akan terbentuk. Sebaiknya, seorang guru tidak hanya fokus pada materi-materi palajaran, tetapi hendaknya juga mengimbangi materi pelajaran tersebut dengan pendidikan mengenai sikap.
Anak yang awalnya mempunyai karakter yang baik apabila berteman dengan anak yang tidak baik, maka ia bisa ikut menjadi tidak baik. Walaupun ada anak yang tetap baik jika berteman dengan anak yang tidak baik. Tetapi mungkin sangat jarang sekali ditemukan. Anak lebih cenderung suka diperhatikan, terutama anak remaja. Maka tidak heran jika banyak ditemui anak yang sering bertingkah aneh di dalam kelas. Itu semua mereka lakukan agar lebih mendapat perhatian dari teman-teman dan gurunya. Seandainya seorang anak tidak mendapat perhatian dari orang tua, guru atau pihak lainnya, biasanya anak lebih cenderung mencari perhatian dari pihak lain, seperti teman. Dan biasanya teman yang mereka inginkan bukanlah teman yang akan membawa mereka ke arah yang positif, tetapi justru sebaliknya ke arah yang negatif. Karena mereka menganggap di sanalah mereka akan lebih mendapat perhatian. Dengan demikian, orang tua dan guru sebaiknya memberikan perhatian yang lebih pada anak terutama anak remaja.
Banyak sekali pada zaman sekarang ini orang yang berpendidikan tinggi dan telah memperoleh gelar yang tinggi pula. Tetapi jarang sekali ditemukan orang yang berpendidikan tinggi diiringi dengan karakter yang baik. Inilah salah satu akibat yang ditimbulkan apabila seorang guru hanya lebih fokus pada pelajaran dan mengabaikan masalah pendidikan karakter. Orang yang berilmu tinggi tetapi tidak memiliki karakter yang baik, maka orang tersebut akan menggunakan ilmu yang dimilikinya untuk hal-hal yang tidak baik. Seperti para petinggi negara yang sering menggunakan kekuasaan mereka sebagai sarana untuk memperkaya diri sendiri, tanpa memikirkan akibat yang bisa ditimbulkan dari perbuatan mereka tersebut. Apabila orang yang memiliki ilmu yang tinggi diiringi dengan karakter baik yang telah tertanam di dalam diri mereka, maka ilmu itu mereka gunakan tidak untuk memperkaya diri sendiri. Justru digunakan untuk menyejahterakan semua pihak. Hal inilah yang pada era globalisasi ini sulit untuk ditemukan. Orang yang memang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki kehidupan.
Pendidikan karakter memang sangat diperlukan dari zaman dahulu hingga zaman sekarang. Dengan adanya globalisasi yang semakin merubah ke arah yang negatif, hendaknya pendidikan terutama pendidikan karakter tidak dilupakan begitu saja. Justru hendaknya sebaliknya. Semakin berkembangnya zaman, semakin kuat pula usaha dalam menanamkan dan mendidik seorang anak kepada hal-hal yang baik. Agar kedepannya jika dihadapkan pada hal-hal yang lebih cenderung bersifat negatif lagi, mereka akan lebih siap lagi untuk menghadapinya dan tidak akan terpengaruh dengan hal-hal yang negatif  tersebut. Untuk itu, hendaknya semua pihak yang berpengaruh pada karakter seorang anak lebih memperhatikan pendidikannya. Jangan hanya menyiapkan bekal berupa materi dan ilmu, tetapi juga menyiapkan bekal yang sangat penting dalam kehiduan mereka yaitu karakter yang baik. Karena karakter yang baiklah yang akan membawa seseorang pada kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat.