Kumpulan E-Book ada di sini

E-Book berbagai disiplin ilmu ada di sini. Cari pada label sesuai dengan keinginan anda. Dapat di download secara gratis.

Berita Seputar Dunia Pendidikan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kumpulan Artikel, Makalah, Opini, Cerpen, Resensi, dll

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Imam Suprayogo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Suprayogo. Tampilkan semua postingan

The Magic of Gratitude



Sikap positif untuk selalu bersyukur atau terima kasih itu memiliki keajaiban di luar yang kita perhitungkan. Sungguh tepat, hampir semua kitab suci dan agama yang saya pelajari selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur atas anugerah hidup.
Apa pun kondisinya, selalu saja ada yang pantas sekali kita syukuri. Barangsiapa bersyukur, Allah pasti akan menambah nikmat yang sudah diterimanya. Tetapi, barangsiapa yang selalu mengingkari nikmat-Nya, pasti hidupnya akan menderita (Alquran, 14:7). Sikap bersyukur dan senang mengucapkan terima kasih hanya akan muncul dari orang yang mencintai kehidupan. Nasihat suci itu mudah sekali kita amati dan buktikan dalam pengalaman hidup sehari hari.
Dalam ungkapan klasik dan populer, di alam semesta ini berlaku law of attraction. Hukum tarik-menarik antara sesama energi. Kalau seseorang selalu berpikir positif, gembira, dan mensyukuri hidup, energi dan nasib positiflah yang akan datang bergabung pada orang itu. Sebaliknya, orang yang selalu berpikir negatif dan serba mengeluh, dunia akan selalu terlihat gelap dan menyiksa. Mereka yang mempelajari teori kekuatan bawah sadar sangat percaya dengan formula ini.
Apa pun yang dibayangkan, pikirkan, dan bisikkan di hati, sesungguhnya seseorang tengah berjalan menuju apa yang dia dambakan. Lebih kuat lagi daya tarik sukses itu kalau disertai doa memohon kepada Allah untuk ikut campur tangan memudahkan jalannya. Coba amati perilaku diri kita masing-masing.Ketika hati dan pikiran jernih lalu mengalir darinya rasa syukur, menatap terbit matahari pagi pun akan terlihat indah. Pepohonan juga turut bicara.
Kehadiran mereka memberikan kesejukan mata dan berbagi oksigen yang diperlukan manusia. Belum lagi guyuran air di pagi hari yang membuat badan sehat dan segar.Semua itu menjadi hidup dan terasa melimpah hanya ketika seseorang memiliki hati dan pikiran positif untuk selalu mensyukuri anugerah kehidupan. Demikianlah selama 24 jam begitu melimpah anugerah Tuhan yang pantas kita syukuri, tanpa kehilangan sikap kritis dan peduli terhadap keadaan yang kurang nyaman.
Situasi sosialpolitik yang pengap bahkan merupakan salah satu panggilan dan peluang untuk berbuat kebajikan menolong sesama sebagai ungkapan rasa syukur utamanya bagi mereka yang memiliki ilmu, kekayaan, jabatan,serta kesehatan untuk mengisi hidup agar lebih bermakna. Pikiran itu ibarat kacamata. Jika warna kacanya hitam, pemandangan akan menjadi hitam.Tentu saja pikiran lebih dari kacamata karena pikiran akan memengaruhi kinerja organ-organ lain dalam tubuh kita, dari yang kasar sampai yang halus.
Pikiran yang sehat, kreatif, dan konstruktif akan membangun dunia imajinasi yang sehat.Pikiran negatif akan selalu mengutuk lingkungan yang dijumpai, di mana saja, kapan saja,dan siapa saja. Selalu berpikir negatif tak ubahnya mengoleksi memori negatif dalam album atau disket pikiran kita sehingga ketika muncul ke permukaan yang keluar adalah cerita dan narasi negatif.
Para nabi dan avatar telah memberikan contoh. Ibarat pohon teratai yang tumbuh di kolam yang kotor dan berlumpur, selalu saja pohon teratai memberikan bunga yang indah dan bersih. Mereka menghadapi dunia yang semrawut, amburadul, namun pikiran tetap kritis, konstruktif, dan hati jernih untuk membangun dunia baru yang beradab yang menjadi warisan dan kekayaan sejarah. Yang selalu merusak pribadi yang penuh syukur adalah sikap rakus dan sombong.
Orang yang rakus sulit mensyukuri anugerah yang sudah di tangan. Sebaliknya, dia akan selalu merasa kurang terus sehingga hatinya selalu merasa miskin dan gelisah. Inilah yang mungkin menjangkiti para politisi dan pejabat negara kita sehingga tidak mampu menahan dorongan korupsi. Berapa pun jumlah gaji dan kekayaan yang didapat akan selalu dirasakan kurang. Suasana batin ini diperparah lagi ketika bertemu dengan sikap sombong.Tidak rela, bahkan sakit hatinya, ketika melihat orang lain berlebih dari dirinya.
Karena itu, rakus, sombong, dan dengki selalu hadir dan bekerja bersamaan. Jika tiga penyakit itu bercokol pada orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan, kekayaan negara dan hak rakyat akan dilibas dan dikeruknya. Berbahagialah mereka yang mampu memelihara hati dan pikiran untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan sesama mengingat nilai kekayaan dan kepintaran itu pada akhirnya bukan pada jumlahnya, melainkan pada fungsi dan manfaatnya untuk membuat kehidupan lebih bermakna.
Hidup lebih nyaman, terbebas dari perasaan salah dan dikejar dosa. Seorang koruptor bisa saja merasa menang dalam proses pengadilan.Tetapi, pengadilan nurani tak bisa dibohongi.Bagi orang yang beriman, kita semua akan menghadap pengadilan Tuhan yang tak mungkin disuap.Yang membela dan meringankan adalah amal kebajikan kita.

Imam Suprayogo

Ketika Traffic Light Mati


Para pengemudi mobil di Jakarta umumnya memiliki pengalaman pahit ketika traffic light mati, terlebih berbarengan dengan hujan. Fungsi traffic light yang berwarna merah-kuning-hijau bekerja bergantian untuk mengatur pembagian jalan bagi pengendara mobil atau motor.
Di situ terkandung prinsip pemerataan keadilan bagi setiap pengemudi. Bahwa setiap orang bebas menggunakan jalan raya, tetapi kebebasan seseorang mesti dibatasi oleh kebebasan orang lain. Setiap orang menuntut hak, yaitu jalan yang bebas hambatan, dan ketika tuntutan itu muncul bareng, sementara fasilitas yang dituntut terbatas, masing-masing mesti menghargai hak orang lain. Di situlah perlu ada wasit yang mengatur, yaitu negara, yang kemudian diwakili oleh polisi.
Namun karena jumlah polisi terbatas, sedangkan persimpangan jalan di kota sangat banyak, seiring dengan semakin berkembangnya kendaraan, maka timbullah ide dipasang traffic light yang bekerja secara terprogram dan otomatis. Meski begitu, akan selalu timbul persoalan kalau pengguna jalan tidak menaati traffic light.
Kecelakaan dan kemacetan bisa terjadi karena orang berebut, masing-masing ingin cepat yang ujungnya justru ramai-ramai membuat kemacetan dan kekesalan.Lebih parah lagi kalau traffic light mati, hujan turun lebat, polisi yang bertugas mengatur tidak ada. Terbayang, yang terjadi justru saling mengunci. Saling kesal, energi, waktu, tenaga, dan bahan bakar terbuang.

Political Traffic Light
Meski tidak persis, saya melihat kesemrawutan juga sering terjadi pada lalu lintas pembangunan dan komunikasi politik sehingga sasaran dan tujuan reformasi sulit diraih. Tugas negara yang dikomandoi presiden adalah untuk mengatur dinamika politik dan pembangunan yang didelegasikan pada berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Ibarat mobil, masing-masing membawa misi dan program untuk memajukan rakyat dan bangsa dan masing-masing memerlukan bahan bakar berupa dana.
Tapi menjadi macet ketika traffic light berupa peraturan dan kebijakan pemerintah tidak tegas dan jelas atau bahkan mati.Terjadi hiruk-pikuk dan kesemrawutan ruang publik serta ranah pembangunan. Tiap kekuatan politik berebut dana, jabatan, dan program. Repotnya mereka saling mengunci dan menjegal pesaingnya karena masing-masing memegang bukti-bukti korupsinya.
Coba saja perhatikan, tiap partai politik yang duduk dalam kabinet atau lembaga legislatif ada yang para anggotanya terlibat korupsi, tetapi ketika KPK hendak masuk membereskan kemacetan, masing-masing lalu membuat barikade untuk menutupi diri. Mereka saling mengancam dan saling melindungi sehingga lalu lintas politik dan pembangunan terkunci. Muncul pemandangan dan suasana hiruk-pikuk, tetapi berjalan di tempat.
Situasi demikian mesti diakhiri. Idealnya adalah tugas presiden dan lembaga penegak hukum yang hadir untuk mengurai keadaan agar semuanya berjalan lancar.Siapa pun yang terlibat kejahatan korupsi yang membuat kemacetan pembangunan mesti dikenai sanksi hukum. Kita tertibkan dan jaga secara konsisten agar agenda nasional berjalan, jangan terganjal oleh manuver oknum dan parpol sehingga panggung nasional semrawut. Yang muncul keluh kesah dan saling kesal terhadap yang lain sebagaimana sering kita amati kemacetan di perempatan jalan ketika traffic light mati, sementara polisi tidak hadir.
Kalau saja tiap pihak mau bersabar dan menaati aturan yang ada serta menghargai hak-hak orang lain, pasti perjalanan akan lancar. Suasana akan menyenangkan. Begitu pun dalam ranah politik dan pemerintah. Kalau tiap pihak sama-sama menjaga ketertiban, keamanan, dan kelancaran tugas, panggung politik dan pemerintah akan enak dilihat dan didengar karena tujuannya adalah mulia: untuk mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat.
Namun, sekali lagi, yang terlihat dari jauh kadang kala tak ubahnya anak puber yang tengah memiliki motor atau mobil baru. Ego dan penampilan dirinya yang lebih menonjol, lupa bahwa mereka semua itu menempati posisi semata sebagai instrumen negara untuk membela dan melayani rakyat. Yang namanya partai politik, lembaga legislatif, dan terlebih lagi birokrasi pemerintah, semuanya didesain dan diresmikan sebagai instrumen untuk melayani rakyat, bukan diri dan kelompoknya.
Jangan seperti perilaku anak puber yang tidak tahu aturan jalan raya, traffic light tidak ditaati, terlebih lagi di saat mati, maka yang muncul adalah kemacetan dan keluh kesah. Salah satu solusi yang mendesak adalah kehadiran polisi dan penegak hukum untuk menegakkan aturan demi mengakhiri kemacetan lalu lintas komunikasi politik dan pembangunan yang sangat tidak produktif. Mari kita hargai dan lindungi hak rakyat.

Komaruddin Hidayat

The Art of Listening



Kita selalu beranggapan, berbicara di depan umum itu sungguh sulit dan menakutkan sehingga perlu banyak pelatihan dan persiapan. Namun sesungguhnya untuk menjadi pendengar yang baik pun tidak mudah.
Dalam bahasa Inggris dibedakan antara listening dan hearing. Mendengar (hearing) itu berkaitan dengan getaran suara yang bersifat fisik. Suara apa pun yang terjadi di sekitar kita akan terdengar, kecuali bagi mereka yang gendang telinganya ada kelainan (tuli). Mendengar (to hear) mirip dengan melihat (to see). Apa pun objek yang tertangkap mata akan terlihat, tetapi jika tidak disertai perhatian khusus benda-benda sekitar yang terlihat akan terus berlalu tanpa makna. Ini mirip kerja telinga, suara apa pun yang terdengar tidak meninggalkan pesan dan makna jika tidak disertai kesiapan hati dan pikiran untuk menerima dan menghargainya secara aktif.
Adapun mendengarkan (to listen) berkaitan dengan makna dan pesan yang tersimpan di balik suara atau di antara kata-kata. Ini diperlukan pelatihan dan kesiapan mental serta ketulusan untuk menerima dan menghargai orang lain. Krishnamurti lebih jauh mengingatkan, apakah kita sudah menjadi a good listener ataukah belum? Dia bertanya, apakah Anda terbiasa mendengarkan gemericik air, embusan angin, suara dedaunan, dan apakah Anda suka mengadakan dialog dengan semua itu?
Mereka yang tidak biasa melakukan meditasi akan sulit mendengarkan yang tak terkatakan karena to listen is to develop an inner silence, katanya. Hanya dalam keheningan hati seseorang bisa mendengarkan dengan baik. Oleh karena itu sangat mungkin sekelompok orang yang kelihatannya asyik saling berbicara, tetapi sesungguhnya masing-masing tidak mendengarkan dengan baik karena yang lebih menonjol adalah ego masing-masing untuk berbicara dan ingin didengarkan.
Untuk menjadi pendengar yang baik kita tidak mesti berlatih meditasi ke tempat yang sunyi, tetapi yang penting membiasakan diri membuka ruang hati untuk menerima dan menghargai pembicaraan orang lain, apa pun isinya. Rasanya jarang sekali anak-anak kita selama sekolah memperoleh pelatihan khusus bagaimana mendengarkan. Padahal ini sangat penting, baik dalam pergaulan maupun proses pembelajaran. Karena tidak terbiasa sejak kecil, hal itu akan terbawa setelah seseorang menjadi dewasa.Coba saja perhatikan dalam satu majelis atau forum pertemuan, akan terlihat siapa-siapa saja yang tidak bisa jadi pendengar yang baik.
Bahkan ada yang ngobrol sendiri di saat orang lain berbicara di podium. Sungguh ini tindakan yang tidak etis. Saya pernah menemukan sebuah sekolah yang memiliki program khusus mendidik para siswanya untuk berlatih mendengarkan. Gurunya berbicara pelan tanpa pengeras suara, murid-murid diam mendengarkan tanpa pegang catatan. Perhatiannya tertuju pada mulut guru. Ibu gurunya berbicara pelan dengan gramatika yang benar dan aksentuasi yang indah. Setelah berbicara sekitar 20 menit, para murid diminta menulis apa yang didengarkan dan hasilnya semakin meningkat dari pelatihan ke pelatihan.
Kebiasaan menjadi pendengar yang baik ini sangat membantu para siswa untuk menangkap pelajaran lebih efektif ketika mendengarkan penjelasan dari guru. Dalam Islam sesungguhnya salat merupakan pelatihan menjadi pendengar yang baik. Salat merupakan aktivitas meditatif. Ketika salat, seseorang mendengarkan suara dirinya sendiri, terutama ketika bacaannya pelan. Bahkan dalam salat atau berdoa seseorang diajak menghayati dan meyakini bahwa dia tengah berdialog dengan Tuhan yang Maha Mendengar dan Maha Berbicara.
Dengan demikian, mereka yang setiap harinya melakukan salat atau doa mestinya terlatih menjadi pendengar yang baik.Tapi ternyata tidak selalu demikian. Saya sendiri lebih senang mendengarkan ceramah atau doa dengan bahasa yang pelan, lembut, singkat sehingga hati yang lebih aktif mendengarkan (to listen), bukan sekadar telinga (to hear). Tentu saja ceramah yang lantang sekali-sekali diperlukan dan memang ada orang yang lebih senang berpidato yang penuh semangat, berapi-api.
Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi mendengarkan itu paling lama 45 menit, itu pun kalau menarik dan suasananya nyaman. Kalau tidak,mungkin 15 menit orang bertahan mendengarkan, sisanya hanya mendengar. Untuk menjadi pendengar terhadap orang lain, kita belajar dengan mendengarkan terhadap diri sendiri. Ada kalimat sindiran: You know, I have always prepared myself to speak, but I have never prepared myself to listen. Saya sendiri kurang tahu asal-usulnya, di DPR itu ada tradisi hearing, tapi bukan listening

Komaruddin Hidayat

Upaya Meraih Kemuliaan Hidup



Siapapun  menghendaki agar hidupnya mendapatkan kemuliaan. Namun ternyata pemahaman tentang kemuliaan itu beraneka ragam. Sementara orang mengira bahwa kemuliaan terletak  pada kekayaan yang melimpah. Oleh karena itu, mereka mengejar harta. Apapun dilakukan untuk mendapatkannya.

Sementara orang lainnya menganggap bahwa kemuliaan itu ada pada jabatan atau pangkat. Oleh karena itu mereka berusaha, apapun dilakukan  untuk  mendapatkan jabatan atau pangkat itu.  Mereka mengira bahwa dengan pangkat dan jabatan yang tinggi, maka orang akan datang dan menghormatinya. Selain itu dengan jabatan atau pangkat  yang ada padanya,  maka harta kekayaan juga akan diperoleh.

Lain lagi, orang mengira bahwa kemuliaan akan diperoleh ketika seseorang berpendidikan setinggi-tingginya. Setelah ijazah dimiliki menurut perhitungannya, akan segera mendapatkan pekerjaan, jabatan, dan bahkan juga uang. Oleh karena itu, mereka mengejar-ngejar agar segera memiliki  ijazah setinggi-tingginya. Padahal sebenarnya, menuntut ilmu seharusnya bukan semata-mata mendapatkan ijazah, melainkan yang terpenting untuk mendapatkan ilmu dan ridha dari Allah swt.

Kegagalan tidak saja dalam hal memaknai kemuliaan,  melainkan juga dari siapa kemuliaan itu diperoleh. Sekedar kemuliaan yang datang dari  sesama manusia, kiranya harta, pangkat atau ijazah akan mencukupi. Akan tetapi, hal yang perlu dipertanyakan adalah fungsi kemuliaan yang diperoleh dari sesama manusia itu sendiri.  Kemuliaan seperti itu tidak akan memberi apa-apa bagi kehidupannya. Sebaliknya, justru akan membebani dirinya dan bahkan, bisa-bisa akan mencelakakan. Betapa banyaknya, kekayaan dan pangkat, akhir-akhir ini justru mengantarkan pemiliknya masuk penjara.   

Kemuliaan yang  seharusnya diraih  adalah  yang datang dari Allah swt. Kemuliaan itu adalah benar-benar sesuatu yang akan menyematkan dan membahagiaan secara abadi, dan bisa diraih oleh siapapun asalkan mau mengejarnya. Cara meraihnya adalah melalui ketaatan pada Tuhan dan Rasul-Nya. Puasa adalah bagian dari jalan upaya menuju untuk mendapatkan kemuliaan itu.

Selain itu, kemuliaan dalam perspektif ilahiyah hanya bisa diraih  melalui upaya memahami hakekat dirinya sendiri  sebagai pintu untuk memahami Tuhannya, menjaga trust, kemauan untuk melakukan tazkiyatun nafs, dan selalu berusaha untuk berpikir dan berbuat hingga di luar batas-batas kepentingan dirinya sendiri. Manakala hal itu dilakukan, maka kemuliaan itu, insya Allah akan diraih. Wallahu a’lam.     

Imam Suprayogo

Umrah dan Pendidikan



Tatkala seseorang menjalankan umrah bisa saja yang terbayang adalah pahala yang akan diterimanya kelak. Hal itu belum ditambah lagi dengan shalat berjamaah, baik itu di Masjid al Haram dan Masjid Nabawi. Shalat di tempat suci itu pahalanya berlipat-libat. Itulah sebabnya, orang bersemangat menjalankan umrah. Apalagi ketika haji, antrinya semakin lama semakin panjang.

Umrah sebenarnya juga bermakna pendidikan bagi yang menjalankannya. Orang yang tidak terbiasa shalat berjamaah di masjid, maka selama di Makkah dan di Madinah, bersama-sama jamaah lain melakukannya. Selama sepuluh sampai lima belas hari, jamaah umrah menjalani pendidikan spiritual. Pendidikan lainnya berupa membaca al Qur’an di kedua masjid yang dikunjungi itu.

Sebagai sebuah pendidikan, ada yang lulus dan sebaliknya, gagal. Beberapa hari yang lalu, di perjalanan sepulang dari Saudi, saya kebetulan bersamaan dengan jamaah umrah. Saya melihat ada jamaah yang saya nilai lulus. Kelulusan itu bukan dari perspektif diterima atau tidaknya ibadah itu, melainkan dari perasaan yang terungkap sepulang menjalankan ibadah umrah itu. Tentang diterima atau ditolak ibadah seseorang kiranya tidak ada yang tahu. Hal itu adalah bagian dari rahasia Tuhan sendiri.

Saya melihat seseorang itu lulus dari menjalankan umrah dari apa yang diungkapkan sepanjang di perjalanan pulang itu. Apa yang dikatakan menggambarkan kesyukurannya. Dia menceritakan bahwa sekalipun agen yang diikuti tergolong murah tetapi pelayanannya sedemikian memuaskan.  Ia ditempatkan di penginapan yang bagus dan dekat dengan masjid, baik ketika di Makkah maupun di Madinah. Jarak yang dekat dengan masjid, menjadikannya bisa menjalankan shalat berjamaah pada setiap waktu dengan mudah.

Selain itu, makanan yang didapatkan juga memuaskan. Makanan Arab baginya belum terbiasa, tetapi dirasakannya enak. Apa yang dinikmatinya itu diceritakan di sepanjang perjalanan. Dari ceritanya itu dia bersyukur bisa menunaikan umrah yang sudah lama ditunggu-tunggu. Perjalanan umrah digambarkan oleh orang yang saya temui itu sebagai sesuatu yang amat menyenangkan.  

Cerita pendek dan sederhana itu seperti tidak penting, tetapi bagi saya adalah sesuatu yang amat menarik. Tidak semua orang yang menjalankan umrah dan apalagi haji memiliki cerita seperti itu. Ada saja orang sepulang umrah atau haji mengatakan bahwa pelayanannya buruk, lokasi hotelnya jauh dari masjid, makanannya tidak mengundang selera, di sekitar masjid terdapat debu sebagai akibat renovasi bangunan, dan lain-lain.

Ibadah umrah maupun haji sebenarnya adalah mendidik bagi yang menjalankannya agar semakin menyadari atas eksistensi dirinya di hadapan Tuhan. Orang yang bersyukur dari menjalankan ibadah itu, --------sekalipun berat, bisa menikmati dan hatinya menjadi puas. Itulah orang yang sukses dan lulus dalam umrah dan atau haji.  Namun  pada kenyataannya, tidak semua orang bisa mendapatkan kenikmatan itu. Sepulang dari menjalankan umrah atau haji, mereka menggerutu, hatinya sakit, menyesal, oleh karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Itu pertanda, mereka tidak lulus dalam berumrah. Dalam banyak kesempatan, saya menemui orang sepulang umrah atau haji, baik yang lulus dan sebaliknya, yang rupanya tidak lulus itu. Wallahu a’lam

Imam Suprayogo

Uang dan Martabat Seseorang



Cinta terhadap harta, kekayaan, atau uang adalah manusiawi. Artinya,   manusia di manapun dan kapanpun selalu mencintai harta  atau uang. Bahkan persoalan sosial, politik, hukum dan lain-lain selalu terkait dengan persoalan uang atau kekayaan ini. Beberapa orang bersatu hanya oleh karena didorong untuk mendapatkan uang bersama-sama.  Begitu  pula sebaliknya,  konflik dan bahkan perang   disebabkan,  di antaranya  oleh perebutan uang.

Dengan uang, maka  kebutuhan seseorang  akan tercukupi, merasa derajat atau harkat dan martabatnya dihargai orang lain.  Selain itu, dengan banyak uang, -------lebih-lebih sekarang ini, siapapun bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi, pendidikan, kemewahan, dan bahkan keadilan tatkala sedang membutuhkannya. Oleh karena itulah maka, uang dipandang segala-galanya dan dikejar-kejar untuk diperebutkan.

Sedemikian cintanya terhadap harta,  sehingga   untuk mendapatkannya,   tidak sedikit orang  menempuh cara tidak benar, misalnya lewat berbohong dan atau korupsi bagi mereka yang berkesempatan.  Resiko  atas tindakannya itu,  -------oleh karena kecintaannya terhadap uang,  tidak pernah diperhitungkan. Mereka mengira, bahwa  kekuasaan  atau posisi strategis di yang diduduki  tidak akan ada orang yang berani menyentuhnya.

Anggapan tersebut ternyata keliru. Oleh karena terlalu banyak uang yang dikorupsi dan diketahui oleh publik, maka  yang bersangkutan ditangkap, diusut,  dan akhirnya dipenjara. Tatkala sudah sampai pada tahap ini, maka martabat seseorang sudah tidak ada harganya lagi. Sehari-hari yang dihadapi adalah penyelidik yang berusaha menggali berbagai kemungkinan penyimpangan yang telah dilakukannya.

Harkat dan martabat seseorang, oleh karena menjadi terdakwa, seakan-akan lenyap. Orang akan menjadikannya sebagai bahan gunjingan, cemoohan dan bahkan hujatan yang tidak putus-putusnya. Media massa seperti koran, majalah, televisi dan lain-lain menyebarluaskan berita tentang kejahatan itu. Jika sudah pada taraf itu, maka kesedihan tidak saja dirasakan oleh yang bersangkutan,  tetapi juga oleh keluarga, sahabat dan bahkan  orang-orang  yang kebetulan sekelompok atau seorganisasi.   

Nama-nama orang yang sekarang ini sehari-hari  menjadi buah bibir masyarakat  adalah  oleh karena yang bersangkutan korupsi milyaran rupiah.   Hal itu merupakan contoh nyata,  betapa sebenarnya uang  dengan mudah merusak  harkat dan martabat  pemiliknya, manakala cara memperolehnya tidak benar. Mungkin saja, andaikan mereka tahu dan sadar,  bahwa tindakannya akan membawa nasib  seperti itu, yang bersangkutan  berpikir panjang  melakukan kejahatan itu.

Uang ternyata tidak selalu membawa kebahagiaan sebagaimana yang diduga oleh banyak orang. Manakala cara mendapatkannya tidak benar,  -------lewat  korupsi misalnya, maka harta justru akan menjadikan pemiliknya sengsara,  dan bahkan harkat dan martabatnya lenyap. Harta atau uang, jika cara mendapatkannya tidak benar, justru menjadi kendaraan menuju  kesengsaraan.

Ajaran Islam mengingatkan kepada umatnya tentang darimana harta itu diperoleh, untuk apa, dan apakah sudah dibersihkan dari hak-hak orang lain. Uang memang bisa digunakan bekal meraih kebahagiaan, tetapi sebaliknya jika salah menggunakannya maka  akan mengantarkan  pemiliknya menemui kesengsaraan dan kenistaan. Harkat dan martabat seseorang  menjadi jatuh dan rusak  oleh karena  cara mendapatkan uang  tidak benar. Wallahu a’lam.


Imam Suprayogo

Uang dan Kebahagiaan



Umumnya orang mempercayai bahwa dengan uang siapapun  akan mendapatkan kebahagiaan. Dengan uang maka apa saja bisa dibeli. Tidak saja kebutuhan pokok, seperti beras, pakaian, perumahan, biaya kesehatan bisa dipenuhi dengan uang, tetapi juga kesenangan lainnya. Artinya tanpa uang,  maka orang tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Atas dasar pandangan itu, maka sehari-hari orang sibuk mendapatkan uang. Bahkan tidak jarang uang dipandang sebagai simbol harga diri, sehingga untuk mendapatkannya harus diperjuangkan lewat berbagai cara.

Betapa pentingnya uang kiranya tidak ada yang membantahnya. Karena tanpa uang maka kebutuhan apapun tidak akan  terpenuhi. Akan tetapi  memposisikan uang sebagai sesuatu yang berlebihan juga justru akan mengorbankan harga diri yang bersangkutan. Uang tetap memiliki arti penting, tetapi cara mendapatkannya harus benar. Kesalahan mendapatkan uang akan  mengakibatkan  harkat dan martabat seseorang menjadi runtuh.

Bukti  bahwa uang bisa mencelakakan pemiliknya  sudah sedemikian banyak  yang bisa dilihat.  Orang yang mendapatkan amanah mengatur uang dan kemudian tidak bisa menjalankannya dengan  semestinya, --------uang itu dikorup, ternyata menemui  kesengsaraan yang luar biasa. Mereka diadili dan akhirnya dipenjarakan. Keadaan  yang demikian  tidak saja membuat dirinya malu dan sengsara, melainkan penderitaan itu juga akan dirasakan oleh  keluarganya. Isteri atau suami, anak-anaknya akan ikut  menanggung beban sebagai keluarga korup. Lagi pula, beban psikologis itu  tidak mudah dihilangkan.

Islam mengajarkan bahwa harta termasuk uang harus didapatkan secara benar. Harta yang demikian itu disebut halal. Umat Islam tidak boleh mendekati harta  haram,  baik haram dilihat dari jenis dan atau  cara mendapatkannya.  Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, harta atau uang  harus didapatkan dari  cara yang benar. Melanggar ketentuan dari ajaran Islam itu, maka pelakunya  akan mendapatkan  resiko, baik di dunia ini, -------dipenjarakan, dan bahkan juga di akherat nanti.

Dengan pandangan seperti tersebut, maka menjadi sangat jelas, bahwa uang tidak selalu mendatangkan kebahagiaan. Uang  justru akan mencelakaan bagi pemiliknya manakala cara mendapatkannya tidak benar.  Bahkan pada uang atau harta kekayaan seseorang  terdapat hak bagi orang lain.  Hak orang lain itu harus dibayarkan, baik lewat zakat, shadaqoh, infaq dan  lainnya.

Tatanan kehidupan Islam menjadi sedemikian jelas,  tampak  begitu  indah dan menyelamatkan,  baik terhadap  kehidupan dunia maupun akherat.  Pada akhir-akhir ini, banyak pihak yang melakukan penyimpangan dalam mendapatkan harta kekayaan, seperti misalnya lewat korupsi.   Pelakunya kemudian ditangkap, diadili,  dan dipenjarakan. Hal itu  merupakan pelajaran penting, agar semua pihak menjadi lebih hati-hati.  Bahwa uang atau harta tidak selalu menjadikan pemiliknya meraih kebahagiaan. Apalagi, cara mendapatkannya tidak lewat jalan yang benar.


Imam Suprayogo

Tugas Seorang Pemimpin



Pemimpin apa saja harus mengerti akan tugas-tugasnya. Biasanya untuk menjalankan birokrasi sudah ada protap, juklak, dan juga juknis. Semua hal itu penting, akan tetapi seorang pemimpin  tidak boleh hanya berpedoman pada hal-hal semacam itu. Tugas dan atau tanggung jawab pemimpin tidak hanya dibatasi oleh protap, juklak, dan juknis. Mungkin yang memerlukan itu bukanlah pemimpin, melainkan mereka yang berada pada wilayah pelaksana.  

Tugas pemimpin di antaranya adalah menjadikan anak buahnya bersemangat, jiwa mereka hidup,  bangga dengan lembaganya sehingga terdorong untuk membela dan berjuang atas keberlangsungan dan kemajuan yang akan diraih. Selain itu pemimpin harus menjadikan anak buah merasa aman, mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, mampu menunjukkan rintangan dan cara mengatasinya.

Pemimpin juga harus bisa memberdayakan atau menjadikan semua anak buah yang dipimpin bertambah kuat, baik secara fisik, intelektual, maupun moralnya. Sudah barang tentu,-------sekalipun hal itu tidak mudah dilakukan, pemimpin harus menjadikan anak buah merasa diperjuangkan kesejahteraannya, dan pemimpin harus berlaku jujur dan adil. Tugas-tugas terakhir ini bukan perkara mudah, tetapi setidaknya harus diketahui oleh semua bahwa keinginan itu sudah diupayakan.

Para pemimpin bukan saja menghadapi orang atau anak buah yang selalu statis dan stagnan, sehingga mudah diatur, tetapi justru sebaliknya. Mereka adalah manusia yang selalu mengalami perkembangan, tuntutan dari waktu ke waktu yang berubah-ubah, dan juga sifat-sifat sebagaimana manusia pada umumnya. Misalnya, mereka memiliki sifat lupa, ingin menangnya sendiri, tidak pernah puas dengan keadaan dan apa saja yang diterimanya.

Keadaan seperti itu menjadikan tugas pemimpin tidak ringan. Seorang pemimpin harus berhasil mendinamisasikan, mengakomodasi, mengarahkan, dan mengelola semua potensi hingga tetap produktif. Perubahan tuntutan selalu terjadi. Pemimpin harus selalu menempatkan diri di depan isu perubahan. Bahkan pemimpin harus kaya isu yang akan menjadi motor penggerak perubahan. Pemimpin tidak boleh miskin isu. Isu harus dijadikan pemicu sebuah gerakan yang dipimpinnya.

Posisi pemimpin bukan sebatas sebagai pegawai atau karyawan, yaitu menyelesaikan tugas-tugas teknis. Pemimpin yang sebenarnya harus memiliki cita-cita, imajinasi tentang lembaga yang dipimpinnya hingga jauh ke depan, pandai berkomunikasi dan bahkan juga bernegosiasi dengan siapapun. Tidak boleh pemimpin hanya memiliki aku kecil atau hanya mementingkan dirinya sendiri, aman sendiri, dan apalagi untung sendiri. Aku bagi seorang pemimpin harus besar, setidaknya sebesar misi dan visi  lembaga yang dipimpinnya.

Betapa besar dan berat tugas dan tanggung jawab yang diembannya, maka seorang pemimpin  harus memiliki kecerdasan, kepekaan terhadap aspirasi mereka yang dipimpin, cita-cita besar, jaringan yang luas, dan kesediaan untuk menerima masukan, kritik, dan bahkan jika perlu, protes yang datang dari manapun asalnya. Pemimpin harus menyandang kelebihan dibanding siapapun yang dipimpinnya. Jika terpaksa memiliki kelemahan, maka kelemahan itu seharusnya diketahui oleh mereka yang dipimpin. Pemimpin tidak boleh berpura-pura bisa. Kekurangan atau kelemahan itu manakala diakui secara jujur dan ikhlas, maka justru berbalik menjadi kekuatan. Pemimpin dituntut jujur, termasuk mengakui kekurangan dan kelemahannya.

Pemimpin yang dengan perilaku dan sikapnya mampu menarik simpatik, kepercayaan, dan dianggap tulus oleh semua yang dipimpin, maka tugas dan kewajiban seorang pemimpin akan berbalik, yaitu dari amat berat menjadi sangat ringan. Manakala mereka yang dipimpin sudah merasa dipercaya, diakui akunya, dihargai, dilibatkan, dan dibela, maka akan menunaikan tugas-tugasnya melebihi dari yang sekedar diinginkan oleh pemimpin yang bersangkutan.

Sebaliknya dari kenyataan tersebut, jika mereka dikecewakan, tidak dihargai, merasa tidak diikutkan, dan sejenisnya, maka yang pasti, mereka akan bekerja secara seolah-olah, dan bahkan akan mengganggu dengan caranya masing-masing. Tugas pemimpin akhirnya menjadi berat, rumit, dan melelahkan, hingga kepemimpinannya dianggap tidak sukses. Padahal pemimpin harus sukses. Sedangkan ukuran sukses bagi seorang pemimpin, sama sekali bukan dilihat dari prestise atau gengsi yang diperoleh, dan apalagi sekedar bertambah kekayaannya, melainkan adalah seberapa jauh yang bersangkutan berhasil menjadikan institusi yang dipimpin semakin berkembang, diakui, dan menjadi kebanggaan bagi banyak orang.


Imam Suprayogo

Tugas, Mengakui ‘Aku’-nya Orang



Disadari atau tidak,  setiap orang pasti  memiliki aku atau eksistensi diri. Dalam batin seseorang, aku itu menuntut orang lain mengakuinya. Tatkala harapan itu gagal diperoleh, maka seseorang akan tersinggung, kecewa, dan bahkan marah. Seseorang tidak mau dianggap tidak ada. Keberadaannya selalu menuntut orang lain mengakuinya.

Banyak orang merasa sedih, kecewa, dan bahkan marah hanya oleh karena merasa dirinya dianggap tidak penting, tidak diorangkan, dan apalagi dianggap tidak ada. Pengakuan dari orang lain itu, oleh setiap orang, dianggap penting. Agar  pengakuan itu semakin mantap, maka orang berjuang untuk memperoleh sesuatu yang dihargai oleh banyak orang. 

Oleh karena mengetahui bahwa pengakuan itu didasarkan atas harta, jabatan, asal muasal keturunan, pakaian, kendaraan, gelar akademik yang dimiliki, prestasi seseorang, maka banyak orang mengejar semua itu. Simbol-simbol yang bernilai tinggi  yang menjadikan seseorang diakui dan dihormati, maka dengan cara apapun dicari dan diusahakan, agar keberadaan dirinya diakui dan bahkan diperhitungkan.

Orang mencari harta bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mencari gelar bukan sekedar mendapatkan ilmu yang terkait dengan gelarnya itu. Demikian pula, seseorang sedemikian rajin menunjukkan silsilah atau asal muasal keturunannya. Semua itu dilakukan  dengan maksud  agar orang lain mengakui, menghargai, dan menghormatinya. Dengan cara itu, agar eksistensi dirinya diakui.  

Pada intinya bahwa setiap orang memerlukan pengakuan, penghormatan, dan penghargaan. Kebutuhan itu ternyata  tidak  mudah  dipenuhi. Kita lihat misalnya, banyak orang  yang  berusaha  menjadi kepala desa, bupati, wali kota, gubernur,  dan bahkan presiden,  itu semua  bukan   semata-mata untuk mengabdi kepada masyarakat, melainkan ada maksud  agar dirinya dianggap penting oleh banyak orang. Padahal untuk meraih posisi itu pasti  memerlukan tenaga, dana,  dan pikiran yang tidak sedikit dan mudah.

Motivasi yang menggerakkan diri seseorang untuk menduduki posisi penting tersebut tidak akan dikemukakan secara terang dan jelas. Biasanya,  motoivasi yang sebenarnya itu justru  disembunyikan oleh yang bersangkutan. Seseorang berkeinginan menjadi pejabat selalu berdalih untuk mengabdi, mensejahterakan rakyat, memenuhi aspirasi masyarakat, dan seterusnya. Padahal motivasi yang sebenarnya bukan sekedar yang disebutkan itu, tetapi adalah agar dirinya diakui, dihargai, dan bahkan juga mendapatkan penghormatan dari banyak orang.

Pemahaman seperti digambarkan tersebut  sangat penting dimiliki oleh siapapun yang sedang menjadi pemimpin. Orang lain di sekitar pemimpin selalu memerlukan akunya diakui. Mereka itu memerlukan  keberadaannya diakui, dianggap penting, dan bahkan terhormat. Oleh karena itu, kepada siapapun, termasuk kepada para bawahan sekalipun, pemimpin harus memperlakukannya secara tepat. Para bawahan akan menghormati atasan, dan sanggup bekerja keras  manakala atasanya  juga mengakui  atau mengorangkannya.

Pengakuan terhadap diri  seseorang itu ternyata sedemikian penting. Orang akan bekerja secara sungguh-sungguh, ikhlas,  dan tulus,  manakala keberadaannya atau akunya diakui. Tatkala pengakuan terhadap diri seseorang diberikan, maka yang bersangkutan akan menjadi senang  dan bangga. Kesenangan dan kebanggaan itulah yang menyebabkan  mereka bersedia dan sanggup bekerja semaksimal mungkin. Uang sebagai imbalan atas prestasi  adalah penting.  Akan tetapi,  mengakui aku mereka justru jauh lebih penting dari segalanya. Tentu, yang lebih sempurna, para pemimpin seharusnya  memberi pengakuan dan sekaligus kesejahteraan.

Saya pernah menyaksikan sendiri kasus sederhana terkait dengan semangat yang dilahirkan dari pengakuan yang diberikan oleh pemimpin kepada anak buahnya. Pemimpin yang saya maksudkan itu sebenarnya hanyalah berskala kecil, yaitu sebagai kontraktor pembangunan gedung di kampus. Penanggung jawab proyek dimaksud  mengakui terhadap kehebatan pekerjanya dalam mengangkut batu merah dari lantai bawah ke lantai lebih atas. Pemimpin ini mengatakan bahwa, ada salah serang kulinya yang mampu mengangkut batu merah satu truk ke lantai atas hanya dalam beberapa jam saja.

Ternyata pengakuan itu benar-benar melahirkan semangat luar biasa. Tatkala truk pengakut batu merah datang, maka petugas pengangkut batu merah dimaksud  mulai kerja. Dan betul, dalam waktu beberapa jam saja, ternyata batu merah sudah berpindah dari lantai bawah ke lantai atas.  Pekerja itu rupanya berusaha menyesuaikan pengakuan yang diberikan kepadanya dengan apa yang benar-benar bisa diperbuatnya. Kiranya akan sebaliknya, manakala pekerja itu tidak diapresiasi, dihargai, dan diakui akunya, maka akan bekerja seeneknya.

Oleh karena itu, agar menjadi dinamis dan berhasil, para pemimpin bukan saja berbekal uang, otoritas, dan daya dukung lainnya belaka, tetapi juga ada kesediaan mengakui orang lain. Uang, otoritas, kewibawaan, memang penting. Akan tetapi, satu aspek lagi yang tidak boleh dilupakan adalah kemauan untuk mengakui semua orang, tidak terkecuali kepada  para bawahannya.

Tanpa kesediaan atau kemauan mengakui akunya orang, maka kepemimpinan tidak akan berjalan efektif, dan akibatnya program-program tidak akan berjalan lancar. Maka, saran yang tepat kepada  orang yang sedang menduduki posisi sebagai pemimpin adalah sederhana, yaitu gembirakan dan akuilah semua orang, maka dia akan segera mendapatkan kegembiraan dari banyak orang itu.


Imam Suprayogo

Tugas Guru di Tengah Melemahnya Semangat Mencari Ilmu Pengetahuan



Mengajar di tengah orang yang sedang berminat pada ilmu pengetahuan adalah mudah dan menggembirakan. Akan tetapi sebaliknya, tugas itu akan menjadi sangat sulit dan berat manakala mereka yang diajar tidak menyukai ilmu dan hanya datang sekedar memenuhi persyaratan mendapatkan nilai atau ijazah. Orang yang menyukai ilmu pengetahuan akan mengejar-ngejar guru di manapun mereka berada. Tetapi sebaliknya,  mereka yang bersekolah atau kuliah tetapi tidak terlalu berharap mendapatkan ilmu pengetahuan akan menjadi senang tatkala guru atau dosen yang seharusnya mengajar  tidak hadir.

Dalam suasana para siswa tidak menyenangi ilmu pengetahuan, maka diajar seperti apapun tidak akan membawa hasil maksimal. Sekalipun buku yang tersedia cukup lengkap, suasana belajar yang bagus, peralatan terpenuhi,  dan bahkan guru yang mengajar cukup pintar akan tidak  membawa hasil maksimal manakala muridnya tidak bersemangat dalam mencari ilmu pengetahuan. Kunci keberhasilan pendidikan itu lebih banyak terletak pada diri murid, sedangkan yang lain adalah sebatas pelengkap.

Oleh karena itu tatkala menilai pendidikan hanya sebatas melihat standar-standar yang ditentukan sebenarnya tidak mencukupi. Sebab hasil pendidikan lebih banyak ditentukan oleh kekuatan internal pada diri siswa yang bersangkutan.  Pada kenyataannya  ada saja   lembaga pendidikan yang dalam berbagai hal,  keadaannya di bawah standar,  tetapi  karena para siswa  di sekolah itu memiliki minat ilmu yang tinggi,  maka  mampu  menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Iklim belajar atau semangat  terhadap ilmu pengetahuan adalah merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan pendidikan.  Siswa yang tidak berminat pada ilmu pengetahuan  adalah bagaikan  orang sakit  tatkala melihat   makanan. Selezat apapun makanan itu,  ketika  seseorang  tidak bernafsu makan, maka makanan itu tidak akan menarik dan tidak akan  dinikmati. Orang seperti ini perlu disembuhkan terlebih dahulu, baru kemudian diberi makanan.     

Di tengah melemahnya semangat mencari ilmu pengetahuan tidak berarti bahwa tidak banyak  orang tertarik pada lembaga pendidikan.  Jumlah lembaga pendidikan cukup banyak dan ada di mana-mana. Orang juga masih memasuki lembaga pendidikan, dan bahkan lembaga pendidikan tertentu yang diangap bermutu diperebutkan. Akan tetapi, tidak semua mereka yang masuk sekolah atau kuliah di perguruan tinggi benar-benar bermaksud mendapatkan ilmu pengetahuan, melainkan untuk mengejar lulus dan mendapatkan ijazah.

Rasanya memang aneh melihat kenyataan seperti itu. Akan tetapi hal itu adalah nyata.  Rendahnya minat terhadap ilmu bisa dilihat dari kenyataan misalnya, tatkala guru yang sedianya memberi pelajaran atau kuliah tidak masuk malah direspon dengan suasana gembira, asalkan tatkala ujian nanti dinyatakan lulus.  Bagi mereka itu yang terpenting adalah lulus.  Dalih yang digunakan bahwa ilmu bisa dicari sendiri di luar sekolah atau kampus, sedangkan yang penting  bahwa kewajibannya telah dinyatakan selesai.

Rendahnya minat terhadap ilmu di lembaga pendidikan lebih tampak lagi pada penyelenggaraan pendidikan yang  kurang memperhatikan aspek mutu,  yang pada umumnya diselenggarakan oleh pihak swasta.  Mereka membuka kuliah hanya beberapa kali dalam seminggu dan bahkan juga hanya beberapa semester. Jumlah jam belajar mengajar dihitung sedemikian rupa agar dianggap patut atau  telah memenuhi syarat. Mereka memainkan jumlah jam pelajaran yang diperlukan dalam hitungan sks. Hitungannya serba formalitas dan semu. Sebaliknya,  bukan secara riil, yaitu   seberapa jauh para siswa atau mahasiswa menguasai bidang studi yang dipelajari.

Dalam suasana seperti itu tugas guru yang menyandang idealisme menjadi sangat sulit. Para siswa hanya membutuhkan ijazah tidak terlalu berminat pada ilmu pengetahuan yang seharusnya dikuasai. Para guru atau dosen dalam melakukan tugasnya bagaikan menyuapi orang sakit. Pasien yang dilayani tidak memiliki nafsu makan sekalipun seharusnya mem butuhkannya agar  segera sembuh. Pada akhir-akhir ini, jumlah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan aktivitas seperti dikemukakan itu  cukup banyak. Itu pertanda bahwa masyarakat sudah semakin prakmatis dan pragmatis, serba formalistik, termasuk dalam menyikapi ilmu pengetahuan. Tentu keadaan seperti ini sangat membahayakan bagi kemajuan bangsa ke depan. Wallahu a’lam. 


Imam Suprayogo

Tradisi Halal bi Halal



Kegiatan ramadhan dirasa belum sempurna manakala belum diakhiri  dengan kegiatan halal bi halal. Oleh karena itu di kantor-kantor,  baik negeri maupun swasta diselenggarakan kegiatan halal bi halal itu. Bentuk kegiatannya serupa, yaitu ceramah hikmah halal bi halal,  saling berjabat tangan,  dan kadangkala ditambah makan bersama. Tentu selain itu, ada sambutan dari pimpinan dan lain-lain yang dianggap perlu. Selesai halal bi halal biasanya,  kegiatan ramadhan dianggap telah selesai.

Halal bi halal sebenarnya merupakan tradisi yang muncul di Indonesia. Di negara-negara Islam,  dan bahkan di Saudi Arabia sendiri tidak dikenal acara halal bi halal sebagaimana dilakukan di Indonesia.  Di banyak negara Islam, setelah shalat idul fitri,  maka rangkaian kegiatan ramadhan dianggap selesai. Tidak ada upacara lainnya. Oleh karena itu, kegiatan halal bi halal adalah merupakan khas Indonesia,  dan rupanya semakin lama menjadi trasdisi yang dirasa harus dilakukan.   

Orang tidak mempedulikan tradisi halal bi halal  itu berasal dari mana dan siapa yang memulainya.  Tetapi pada umumnya,  kegiatan itu dianggap penting dan harus dilakukan. Di kantor-kantor sebelum halal bi halal,  sementara orang  menganggap bahwa  disiplin masih longgar. Artinya, tidak masuk kerja masih dianggap boleh, oleh karena halal bi halal belum diselenggarakan. Walaupun sebenarnya,  anggapan itu tidak benar.

Untuk menghindari anggapan yang tidak tepat itu,  maka  biasanya kantor-kantor pemerintah atau pun juga swasta segera menyelenggarakan kegiatan halal bi halal, sekalipun dalam bentuk sederhana. Misalnya, pimpinan mengajak semua staf berkumpul di ruang yang cukup memadai,  lalu mengundang penceramah, dan diteruskan dengan saling berjabat tangan. Dengan acara itu, mereka menganggap halal bi halal telah diselenggarakan dan kegiatan rutin harus ditunaikan sebagaimana mestinya.

Orang menganggap bahwa halal bi halal sedemikian penting, oleh karena itu harus dilakukan.  Kegiatan itu dirasakan memiliki banyak makna yang diperoleh. Bahwa  lewat  halal bi halal akan  melahirkan suasana kekualuargaan, saling merasa berada pada posisi yang sama, berhasil melepaskan perasaan yang sebelumnya dianggap membebani, dan lain-lain. 

Oleh karena itu, pertemuan setelah  idul fitri yang dikemas dengan maksud untuk saling memaafkan itu merupakan kebutuhan bagi semua orang. Selepas halal bi halal, orang merasa telah saling mengampuni atas dosa atau kesalahan yang telah diperbuat. Selain itu, umpama perasaan salah  menjadi beban, maka beban itu selepas halal bi halal menjadi dianggap hilang. Antara atasan dan bawahan,   sesama pejabat,  atau sesama pegawai,  lewat kegiatan itu,  mereka saling memaafkan dan sama-sama bertekad akan dibangun kembali hubungan kekeluargaan yang lebih baik.

Perasaan tersebut itulah kiranya yang menjadikan halal bi halal menjadi dirasakan sangat penting. Oleh karena itu orang tidak peduli,  apakah  kegiatan itu didasarkan atas  ajaran yang jelas, misalnya  bersumber dari kitab suci maupun  hadits nabi,  atau tidak. Bahwa yang penting, tradisi itu memberikan suasana yang menggembirakan, menghilangkan beban batin yang selama ini dirasakan, dan bisa  menyambung tali sillaturrahmi kembali.

Keuntungan-keuntungan seperti tersebut itulah kiranya yang menjadikan alasan, acara halal bi halal, lama kelamaan menjadi kebutuhan bagi  banyak orang. Bahkan, lebih indah lagi,  acara semacam itu tidak saja diikuti oleh mereka sesama muslim, melainkan juga tidak jarang dihadiri oleh meraka yang beragama lain.  Kekeluargaan yang terbangun tanpa sekat menjadi semakin indah lewat kegiatan halal bi halal. Wallahu a’lam.   

Imam Suprayogo

Tradisi Berbuka Puasa Bersama



Rupa-rupanya berbuka puasa bersama di bulan Ramadhan sudah menjadi tradisi bagi kaum muslimin di mana-mana. Mengambil tempat di kantor atau di rumah salah seorang, para tetangga, sesama jamaah, organisasi, atau kolega sekantor diundang untuk berbuka bersama. Mereka berbuka bersama di kantor diikuti oleh para pimpinan dan pegawai di kantor itu. Begitu juga berbuka puasa bersama di masjid, di kantor organisasi, kantor perusahaan, diikuti oleh masing-masing komunitasnya.

Berbuka bersama biasanya juga diselengarakan oleh keluarga besar seseorang. Sanak famili yang masih memiliki hubungan dekat diundang untuk berbuka puasa bersama. Kegiatan itu dirasa penting untuk mempererat hubungan tali silaturahim. Mereka makan bersama dan biasanya diawali dengan kegiatan tausiah atau ceramah dimaksudkan sebagai bagian dari upaya mempererat dan membangun kebersamaan.

Terkait dengan tradisi berbuka puasa bersama ini, saya menemukan sesuatu yang agak berbeda. Berbuka puasa bersama dimaksud dilakukan oleh seorang kyai dengan tidak mengambil tempat di rumahnya sendiri atau di pesantrennya melainkan di lembaga pemasyarakatan atau penjara. Kyai yang dikenal peduli terhadap orang-orang miskin dan atau orang-orang yang sedang mengalami kekurangan dimaksud, setiap tahun selalu berusaha berbuka puasa bersama dengan orang-orang yang sedang dipenjara.

Di setiap bulan Ramadhan, kyai ini sebelum datang ke penjara menanyakan berapa jumlah orang yang sedang dipenjara di lembaga pemasyarakatan. Setelah diketahui dengan jelas jumlahnya, -------misalnya seribu orang, maka kyai datang sendiri dengan membawa nasi bungkus sejumlah yang diperlukan, termasuk untuk para penjaganya. Kyai dimaksud kemudian mengajak semua penghuni penjara berbuka puasa bersama di tempat itu.

Kyai itu lebih memilih berbuka puasa bersama di penjara, dengan pertimbangan bahwa orang-orang di tempat itu sedang memerlukan untuk disapa dan digembirakan. Sehari-hari orang yang sedang dipenjara secara psikis tersiksa dan justru memerlukan sapaan dari orang lain. Menurut pandangan kyai dimaksud, makan bersama dengan orang-orang yang sedang menderita seperti itu lebih bermakna dibanding makan bersama dengan para sesama jamaah, kolega atau juga saudaranya sendiri yang berkecukupan.

Berbuka puasa bersama di antara keluarga, teman sekantor, dan juga di antara sesama teman seorganisasi memang penting, untuk membangun tali sillaturahmi, tetapi berbuka bersama dengan anak-anak yatim, orang-orang miskin yang tidak terurus, termasuk orang yang sedang dipenjara adalah jauh lebih penting dan lebih memerlukannya. Oleh karena itu, kyai dimaksud lebih memilih tempat berbuka puasa bersama penghuni penjara. Namun sayangnya, kyai dimaksud sudah beberapa tahun wafat, sehingga menurut informasi dari pegawai penjara, belum ada yang lain yang peduli seperti kyai dimaksud.

Pada umumnya orang lebih menyukai berkumpul dan makan bersama dengan orang-orang yang memiliki status atau kelompok yang sama. Mereka mengira dari tempat itu akan mendapat kebahagiaan. Padahal berbuka puasa bersama dengan orang-orang yang sedang mengalami penderitaan atau kekurangan, justru dari sana akan memperoleh kebahagiaan yang lebih, oleh karena kehadirannya memang dibutuhkan. Wallahu
a’lam.

Imam Suprayogo

Tidak Mengeluh dan Selalu Percaya Diri



Beberapa waktu yang lalu, saya  kedatangan tamu dari Papua. Orang kelahiran Jawa Tengah tetapi sudah lama menetap di Sorong itu, memiliki jiwa pejuang, optimisme, dan tampak pandai sekali memanfaatkan peluang untuk memajukan  usahanya dalam berdakwah. Setiap saya ketemu dengan dia, banyak saya dengarkan pikiran-pikiran cerdas yang dimiliki ternyata  berhasil diimplementasikan di Papua.

Dalam satu kesempatan bertamu di rumah itu, saya menanyakan apakah tidak berat  memperkenalkan ajaran Islam di Papua. Selain itu, saya juga menanyakan, apa yang menjadikannya sudah  sedemikian lama tetapi masih betah  bertempat tinggal di Papua. Padahal saya seringkali mendengar, tantangan berdakwah di sana sedemikian berat.

Pertanyaan saya tersebut dijawab dengan ringan, bahwa siapapun yang suka mengeluh dan selalu tidak percaya diri, maka Papua adalah tempat yang subur bagi mereka itu. Mengeluh dan mengekspresikan rasa tidak percaya diri sedemikian mudah. Bagi siapapun yang suka mengeluh dan memiliki rasa tidak percaya diri, maka hendaklah datang ke Papua. Di sana setiap orang tidak perlu berpikir berat,  pada  setiap waktu bisa mengeluh  dan menunjukkan rasa tidak percaya diri itu.

Orang yang suka mengeluh akan mengatakan bahwa di Papua medannya sulit dijangkau,  banyak penduduk asli yang sulit diajak berkompromi,  pendidikan  tidak mudah dikembangkan, pejabat daerahnya  suka menyimpang, fasilitas hidup seperti listrik, air bersih dan lain-lain belum sebaik di Jawa. Maka, siapapun yang ingin  mengeluh  sedemikian  mudah bertempat tinggal di Papua. Oleh karena itu, jika suka mengeluh dan akan tetap mengeluh dan tidak percaya diri,  maka dianjurkan datang saja ke Papua. 

Atas jawaban yang agak aneh tersebut, saya menanyakan kepadanya,  apakah dia  mampu  bertahan selama ini di Papua oleh karena hobinya juga mengeluh dan memiliki sifat tidak percaya diri. Segera menjawab,  bahwa ia tidak memiliki kedua sifat yang tidak menguntungkan itu.  Tamu saya tersebut malah sebaliknya, sangat  menyukai tantangan dan mengaku dirinya merasa puas tatkala berhasil menyelesaikan tantangan. Kalau ingin hidup enak, maka sudah lama ia pulang dan bertempat tinggal bersama keluarga besarnya di Jawa Tengah.

Hingga sekarang ini,  dia tidak ingin berencana pulang. Bersama isteri dan anak-anaknya akan tetap bertempat tinggal di Papua. Baginya hidup dengan penuh tantangan dan berusaha menjawabnya  akan lebih membahagiakan dirinya daripada bertempat tinggal di tempat  yang tidak ada tantangan. Anaknya yang sudah tamat dari pendidikan menengah, dikuliahkan ke Jawa dan dipesan agar jangan sampai  keenakan, setelah lulus diharuskan kembali ke Papua untuk membangun masyarakat yang masih memerlukan uluran tangannya. Pesan kepada anaknya, hidup ini jangan hanya sekedar menikmati sesuatu tanpa bejuang. Dia mengatakan bahwa  nikmat yang sebenarnya akan diperoleh di tengah-tengah  perjuangan.

Dia juga mengaku tantangan harus diubah menjadi peluang. Salah satu contoh yang pernah dilakukan adalah tatkala menghadapi kepala daerah yang bukan seagama.  Bupati yang beragama nasrani diundang untuk meresmikan sekolah yang telah dirintisnya. Bupati selama itu belum pernah memberi apa-apa kepada lembaga pendidikan Islam yang telah dirintis. Namun begitu, kepala daerah ini diminta untuk meresmikan. Bupati datang dan berkenan memenuhi permintaannya. Ternyata, setelah itu, jutru Bupati sendiri yang menawarkan, akan memenuhi  kekurangan fasilitas yang masih diperlukan.  Ternyata,  janjinya itu sekarang telah dipenuhi.

Pejuang Islam yang amat gigih, migran  yang berasal dari Jawa Tengah itu mengatakan  bahwa umpama ia hanya mengeluh dan tidak percaya diri, tidak menghadap Bupati hanya alasan berbeda agama,  maka lembaga pendidikannya tidak akan bergerak maju. Ia akan  dengan mudah merasionalkan atas ketidak majuannya,  oleh karena lembaga pendidikan itu berada di Papua dan apalagi pemerintah daerahnya beragama nasarani. Atas alasan itu orang akan percaya dan menganggap bahwa kegagalannya itu menjadi hal wajar. 

Mendengarkan cerita tamu dari Papua itu, saya teringat   keluhan dan ketidak percayaan diri orang-orang yang sehari-hari saya temui.  Tidak sedikit  orang yang sudah bergelar akademik tinggi, tetapi masih mengeluh dan tidak percaya diri. Mereka merasa tenaganya tidak dimanfaatkan orang.  Mereka menganggap bahwa,  setelah  gelar akademik tertinggi  diraih, segera orang-orang datang  untuk menawari jabatan.  Mereka itu  lupa bahwa, pada zaman sekarang ini bukan zamannya  orang menunggu. Zaman ini adalah zaman,   orang  harus berkompetisi. Tidak ada rumus lagi, orang didatangi, kecuali orang yang memang  betul-betul dibutuhkan.  Lagi pula sekarang ini,   sekalipun gelar akademik itu penting, tetapi  masih akan dilihat lagi kualitas  di balik gelar yang disandangnya.

Mestinya seorang yang telah bergelar akademik tinggi  tidak boleh menunggu tawaran,  apalagi mengeluh dan tidak percaya diri. Seorang bergelar akademik harus  pandai menunjukkan kualitas dirinya,  dengan cara selalu  menjalin sillaturrahmi kepada  siapapun. Kualitas dirinya  sebagai penyandang gelar Doktor misalnya,  harus ditunjuk  sendiri  lewat  komitmennya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, karya-karya akademiknya, kemampuannya berkomunikasi, dan semangatnya terhadap pengembangan institusi di mana mereka bekerja. Penyandang gelar akademik  tidak  semestinya  selalu  mengeluh dan tidak percaya diri. Gelar akademik itu memang berat dipertanggung jawabkan dan tidak cukup diperkenalkan hanya lewat kartu nama. Kisah sukses transmigram dari Papua yang tidak mau mengeluh dan selalu percaya diri,  sebagaimana diungkap di muka,  adalah contoh yang amat baik bagi siapapun. Wallahu a’lam.


Imam Suprayogo

Ternyata Tuhan Bisa Dinegosiasi



Setiap kali mengingat kisah peristiwa isra’ dan mi’raj, saya selalu  membayangkan bahwa ternyata Tuhan bisa dinegosiasi.  Setelah Nabi Muhammad kembali  dari menghadap Tuhan di Sidratul Muntaha, ketemu Nabi Musa. Dalam pertemuan itu  Nabi Muhammad   memberitahukan bahwa, ia  telah diperintah untuk menjalankan shalat  pada setiap hari semalam  sebanyak 50 kali.

Mendengar isi perintah itu,   maka Nabi Musa mengusulkan kepada Nabi Muhammad agar meminta  pengurangan. Jumlah 50 kali shalat sehari semalam itu bagi umat terlalu berat. Maka usul Nabi Musa  tersebut dipenuhi. Nabi Muhammad kembali menghadap Tuhan. Sekembalinya, ia ketemu lagi dengan Nabi Musa, dan  menceritakannya, bahwa tugas itu telah dikurangi menjadi 45 kali saja.

Nabi Musa masih  mengusulkan agar jumlah itu dikurangi lagi.  Tugas itu bagi umat masih terlalu  berat. Nabi Muhammad mengikuti saran itu  hingga  berkali-kali, dan akhirnya kewajiban shalat tinggal tersisa lima waktu bagi kaum muslimin  dalam sehari semalam, seperti yang dilaksanakan sekarang ini.

Kisah tentang dialog  antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad  tersebut  selalu diuraikan oleh para penceramah tatkala memperingati peristiwa isro’ dan mi’raj di mana-mana.  Setiap mendengarkan kisah itu, saya mendapatkan pengertian,  bahwa ternyata Tuhan pun bisa dinegosiasi. Tuhan tidak otoriter. Atas sifat-sifat-Nya yang mulia, Tuhan  masih memungkinkan untuk diajak berdialog dan ternyata berkenan mendengarkan suara hati hamba-Nya. 

Lewat kisah dalam dialog itu, saya juga mendapatkan pengertian bahwa demi ummat, atau asalkan bukan untuk kepentingan diri sendiri,  Nabi  berkenan  untuk berkali-kali menghadap dan memohon keringanan atas tugas yang diberikan kepadanya. Selain itu, saya juga mendapatkan pengertian bahwa  para  nabi tidak saja memperhatikan umatnya sendiri, tetapi ternyata  juga terhadap  umat nabi lainnya.  

Menghadap Tuhan berkali-kali untuk meminta sesuatu yang serupa dan bahkan sama,  secara manusiawi adalah berat. Akan tetapi, sekali lagi  demi kepentingan ummat, atau orang lain,  maka  tugas berat  itu dilaksanakan. Saya membayangkan bahwa umpama  hal itu hanya untuk kepentingan diri sendiri, maka oleh nabi  tidak akan dilakukan.

Melalui kisah tersebut,  nabi sebagai pendidik , ternyata  sedemikian peduli kepada para umatnya dan umat para nabi lainnya. Umat tidak diperebutkan, tetapi justru dipikirkan secara bersama-sama. Nabi Musa pun juga memikirkan terhadap umat Nabi Muhammad. Nabi Musa  khawatir  akan  beban  umat Nabi Muhammad terlalu berat, sehingga mengakibatkan  tidak bisa ditunaikan dengan baik.  

Umpama suasana seperti  itu  bisa dilakukan oleh para pemimpin pada saat ini, yaitu selalu memperjuangkan rakyatnya,------dari golongan apa saja,  dan bersedia melakukan tugas seberat  apapun demi untuk orang lain yang dipimpinnnya, maka itulah sebenarnya pemimpin yang diharapkan sekarang ini  dan ditunggu-tunggu  oleh rakyat. Dan sebaliknya, bukan  pemimpin yang  selalu terlibat konflik sendiri-sendiri. Wallahu a’lam.    


Imam Suprayogo

Teguran Kyai Berjiwa Entrepreneur Terkait Beasiswa



Selama ini kyai dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren dan sehari-hari mengajarkan kitab kuning kepada para santrinya. Mereka itu seringkali dianggap hanya memikirkan kehidupan akherat dan tidak peduli pada kehidupan dunia. Memang ada sementara kyai yang demikian. Tetapi ada pula kyai yang berjiwa entrepeneurship dan bahkan langkah-langkahnmya tidak kalah dibanding  sarjana ekonomi sekalipun.

Saya mengenal beberapa kyai yang memiliki jiwa entrepreneur seperti itu. Selain mengasuh pesantren, mereka juga mengembangkan usaha-usaha di bidang ekonomi. Ada salah seorang kyai yang saya kenal, selama ini  telah berhasil  mengembangkan usaha perkebunan sawit hingga puluhan ribu hektar. Selain itu, ia juga  memiliki usaha-usaha lainnya seperti proyek pembangunan perumahan, pertokoan dan lain-lain.

Melihat kehidupan  para kyai tersebut, menjadi tampak bahwa menjalani kehidupan akan bahkan menyelesaikan problem-problem kehidupan ini terlihat dirasakan ringan. Selain menjadi tempat belajar dan bertanya tentang keagamaan, kyai juga  bisa menjelaskan tentang berbagai alternatif jenis usaha yang bisa dipilih  untuk mengatasi keterbatasan lapangan pekerjaan. Sekalipun  tidak mendapatkan bantuan anggaran dari pemerintah, tidak sedikit kyai yang saya kenal membebaskan biaya hidup para santri yang belajar di pesantrennya, khususnya mereka yang berasal dari keluarga miskin dan yatim.   

Suatu ketika di kampus, saya kedatangan seorang kyai yang memiliki jiwa entrepereneurship dimaksud.  Dalam perbincangan itu, kyai menanyakan tentang pemberian beasiswa kepada para mahasiswa. Saya memberikan penjelasan,  bahwa ada  di antara mereka  yang mendapatkan beasiswa, sekalipun tidak terlalu besar,  hingga cukup untuk  biaya hidup setiap bulannya. Atas jawaban saya itu, kyai menyambung pertanyaannya, apakah uang yang diberikan sebagai biaya hidup itu diserahkan  langsung kepada yang bersangkutan. Saya jawab,  ya dan tidak dipotong sedikitpun.   

Mendengar jawaban saya itu, kyai mulai menyalahkan saya. Kyai menegur saya,  bahwa kebijakan  itu adalah salah, atau setidaknya kurang tepat.  Para mahasiswa mestinya tidak boleh menerima sesuatu tanpa prestasi kerja, atau mengeluarkan keringat. Dengan cara itu,  kata kyai,  akan mengajari mahasiswa dimaksud bermalas-malas. Mereka tidak perlu bekerja tetapi mendapatkan  uang. Mahasiswa kata kyai,  tidak boleh diajari mendapatkan tanpa sesuatu prestasi kerja. Kebijakan seperti itu, menurut kyai dimaksud,  akan membunuh bibit-bibit jiwa entrepreneurship yang seharusnya justru ditumbuh-kembangkan.

Kyai kemudian menyampaikan ide cerdasnya. Mestinya, kata kyai,  pihak kampus membimbing agar uang beasiswa yang diterima oleh para mahasiswa tersebut dikumpulkan kembali untuk selanjutnya dijadikan modal usaha. Di kota,  kata kyai, banyak sekali peluang usaha dengan modal terbatas. Umpama saja uang beasiswa itu dikumpulkan di antara beberapa mahasiswa, kelompok demi kelompok, yang selanjutnya digunakan  untuk membuka usaha, maka mahasiswa akan berlatih berwirausaha. Awalnya usaha itu berskala kecil tetapi lama kelamaan akan menjadi besar. Menurut pendapat kyai, bahwa yang terpenting dengan cara itu agar mahasiswa  memiliki jiwa dan pengalaman berwirausaha.     

Kyai dimaksud juga menjelaskan bahwa, sekalipun santri di pesantrennya ratusan jumlahnya, tetapi tidak ada yang dipungut biaya. Mereka dipekerjakan di berbagai usaha yang dimilikinya. Waktu bekerja juga tidaki perlu lama, misalnya selesai shalat subuh hingga jam tujuh pagi. Setelah itu, para santri dipersilahkan untuk belajar sebagaimana santri pada umumnya. Jam kerja lainnya  bagi santri,   pada sore hari tatkala mereka  tidak mendapatkan pelajaran.  Pesantren seperti ini, kata kyai,  benar-benar mengajari hidup. Di pesantren, mereka mendapatan ilmu sekaligus ketrampilan hidup. Keluar dari pesantren, mereka tidak akan mengalami kesulitan mencari kerja, karena memang, sehari-hari  sudah terbiasa bekerja.

Dari cerita pendek ini, saya ingin menunjukkan bahwa,  ternyata pengasuh pesantren telah memiliki wawasan pendidikan yang sedemikian tepat untuk menjawab persoalan kehidupan selama ini. Selain itu  juga ingin menunjukkan bahwa,  banyak kyai yang memiliki pengetahuan dan pengalaman entrepreneur yang handal. Mereka memiliki usaha-usaha ekonomi yang tidak kalah dari para dosen di perguruan tinggi. Kalau selama ini, ada  sementara orang kampus yang ingin memberdayakan pesantren, tetapi juga sebaliknya,  ada kyai yang berkeinginan memberdayakan perguruan tinggi.  Keadaan itu terasa terbalik, tetapi itu nyata.  Wallahu a’lam.   

Imam Suprayogo

Tawuran



Akhir-akhir ini,  sering terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan, yaitu tawuran antar kelompok yang berbeda. Peristiwa itu,  anehnya terjadi di mana-mana, tidak saja di kota tetapi juga di desa. Kadang kala sebabnya sangat sepele, misalnya bersenggolan antar pemuda yang sedang mengendarai sepeda motor.  Di antara mereka sama-sama tidak bisa menerima perlakuan itu, akhirnya mengundang kelompoknya untuk saling menyerang.

Oleh karena begitu sering peristiwa itu terjadi, maka tawuran dianggap hal biasa. Padahal  dari tawuran itu, tidak saja melukai pihak-pihak yang terlibat, bahkan juga hingga ada yang meninggal dunia. Akhirnya nyawa, harganya sedemikian murah. Perikemanusiaan sepertinya sudah  sirna dan nilai luhur itu seolah-olah bukan menjadi kepribadian bangsa lagi.

Bangsa yang beradap adalah bangsa yang menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan  tidak akan mengganggu orang lain. Manusia dalam masyarakat yang beradab sangat dihargai. Lihat saja misalnya, agar tidak saling mengganggu, masyarakat yang berbudaya tinggi selalu antri dalam menggunakan fasilitas umum. Tanpa ada polisi, ketertiban selalu dijaga bersama.     

Setiap kelompok masyarakat selalu memiliki norma, nilai-nilai, sopan santun, adat istiadat yang dianggap pantas dan yang tidak pantas dilakukan. Semua itu dipegangi agar terbangun kehidupan yang harmoni, hidup bersama secara damai, tidak ada yang saling mengganggu. Siapapun  yang melanggar norma, nilai-nilai dan adab kesopanan, maka  dianggap  menyimpang,  dan akan mendapatkan sangsi  sosial.

Bangsa Indonesia sebagai bangsa timur,  sejak lama dikenal memiliki tradisi yang kuat dalam menjaga nilai-nilai, norma, etika, dan adat kesopanan itu. Orang timur selalu mendahulukan  kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Lihat saja, kalau mereka sedang menerima tamu. Penghormatan yang diberikan luar biasa. Mereka berusaha agar tamunya merasa dihormati dan diterima sebaik-baiknya.

Tawuran sebenarnya bukan watak, tradisi, dan apalagi karakter atau akhlak  bangsa ini. Sikap ngalah, umumnya lebih dikedepankan daripada mencari menang. Pilihan  itu dimaksudkan untuk menghindari konflik. Ronggo Warsito, seorang filosof Jawa, mengemukakan karakter adiluhung yang dimiliki oleh seseorang, dengan beberapa kalimat yang indah sebagai berikut. Yaitu, menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, nglurug tanpo bolo, sekti tanpo aji-aji, kayungyun dening pepoyaning kautaman.

Orang Jawa, dan bangsa Indonesia pada umumnya,  sekalipun menang, justru merasa akan lebih terhormat manakala sanggup tidak merendahkan pihak yang kalah. Merasa kaya sekalipun  tidak menguasai harta yang berlebihan. Demikian pula  tatkala harus melawan,  mereka berusaha tidak menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya. Mereka berusaha menang dengan cara yang halus. Semua itu dilakukan untuk meraih  keutamaan hidup. Filsafat hidup seperti itu dipelihara, dijaga dan dijadikan pegangan bagi bangsa ini.

Oleh karena itu, tatkala akhir-akhir ini sering terjadi tawuran, konflik antar kampung, perebutan lahan pertanian, pertambangan, tempat  berjualan,  dan seterusnya, maka wajar sementara orang kemudian bertanya-tanya, ada apa sebenarnya di dalam kehidupan bangsa ini. Tawuran bukan tradisi bangsa Indonesia. Konflik biasanya diselesaikan secara adat, tanpa harus lewat proses yang saling melukai, dan apalagi membunuh. Memang ada  tradisi tawuran di beberapa tempat, tetapi hanya dilakukan secara terbatas, dan biasanya dilakukan secara terpaksa untuk menjaga harkat dan martabat seseorang, keluarga, atau suku,  dan biasanya  berhasil  diselesaikan secara adat.

Gejala tawuran akhir-akhir ini, sudah tampak di luar batas,  dan atau bahkan juga melampaui ukuran–ukuran normal.  Tawuran terjadi hanya karena persoalan sepele, yaitu berebut sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan. Rasanya berbeda konflik itu tatkala  dipicu oleh hal-hal yang bernilai tinggi, misalnya terkait dengan pandangan hidup, kepercayaan, nilai-nilai yang seharusnya ditegakkan,  dan bahkan juga membela harkat dan martabat seseorang, kelompok,  atau lainnya yang lebih besar.

Konflik atau tawuran yang terjadi hanya sekedar dipicu oleh  uang, harta kekayaan,  sumber-sumber ekonomi,  dan kekuasaan, menggambarkan bahwa pelakunya masih berada pada tahapan masyarakat rendah dan bahkan primitif. Akan tetapi,  persoalannya adalah, mengapa tawuran juga dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan, bertempat tinggal di perkotaan, dan juga mereka yang tergolong  kelas menengah ke atas. Oleh karena itu, persoalan tersebut rasanya  tidak mudah dijawab.

Namun jika ditelusuri secara mendalam, munculnya tawuran itu lebih banyak terkait dengan  persoalan ekonomi.  Banyak orang berlomba-lomba  mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Orientasi  tersebut, dalam prakteknya,  selalu  menganggu kepentingan orang lain. Dalam perebutan itu ada yang menang dan sebaliknya ada yang kalah. Maka dari sana muncullah perasaan iri, dengki, dan sakit hati. Persaan seperti itu melahirkan penyakit berikutnya, yaitu dendam, permusuhan, dan akhirnya tawuran itu.

Oleh karena itu,  agar  bangsa  ini berhasil menjaga keadabannya, maka nilai-nilai luhur, seperti  kemanusiaan, kejujuran, keadilan, musyawarah, saling mencintai antar sesama harus dikedepankan. Sebaliknya, harus disadari oleh siapapun, apalagi para pemimpin bangsa ini, bahwa menjadikan sekedar harta dan kekuasaan sebagai ukuran keberhasilan hidup sebenarnya justru akan mengantarkan bangsa ini jatuh  dan terperosok pada kebiadaban. Selalu bertawur untuk memperebutkan kekayaan dan kekuasaan adalah  contoh bentuk masyarakat yang tidak beradab.  Wallahu a’lam   
      

Imam Suprayogo