Kumpulan E-Book ada di sini

E-Book berbagai disiplin ilmu ada di sini. Cari pada label sesuai dengan keinginan anda. Dapat di download secara gratis.

Berita Seputar Dunia Pendidikan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kumpulan Artikel, Makalah, Opini, Cerpen, Resensi, dll

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Hamim Thahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hamim Thahari. Tampilkan semua postingan

Al-Hayyu, Yang Maha Hidup



Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rizki yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (Al-Ghafir: 64 -65)
Dalam al-Qur’an, kata Al-Hayy bisa didapati sebanyak sembilan belas kali. Empat belas ayat berkait langsung dengan sifat dan asma Allah, sedangkan lima ayat yang lain berbicara mengenai manusia.
Hidup adalah antitesis mati. Bagi Allah, hidup adalah sifat wajib yang dimiliki, sebaliknya mustahil bagi-Nya sifat ”mati”.
Ketika kita membahas sifat dan asma Allah ”Al-Hayy”, terdapat dua pemahaman yang saling melengkapi. Pertama, bahwa Dia Yang Maha Mencukupi Dirinya sendiri sejak masa pra-azali dan akan berlangsung selamanya. Sebaliknya, setiap makhluq hidup hanya bisa hidup atas anugerah dan karunia Allah. Mereka tidak bisa memberi rizki kehidupan kepada diri mereka sendiri, apalagi kepada yang lain. Manusia diberi hidup dalam batas yang telah ditentukan, jika telah habis masanya maka kematian akan segera menemuinya.
”Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula)”. (Az-Zumar: 30)
Pemahaman kedua, Allah hidup tiada berawal dan tiada berakhir. Dia hidup dan tidak pernah mati. Dia yang menciptakan waktu, dan karenanya Dia tidak dibatasi dimensi waktu. Bagi-Nya tiada waktu lalu, sekarang, juga yang akan datang. Dia di luar semua itu.
”Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya, dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya”. (Al-Furqan: 58)
Manusia tidak bisa hidup langgeng dan abadi seperti Allah. Akan tetapi manusia bisa melanggengkan hidupnya dengan ”keharuman nama” setelah kematiannya, dengan meninggalkan karya-karya monumental yang bisa dinikmati manusia selama-lamanya. Nabi Muhammad telah lama meninggal dunia, tapi beliau telah meninggalkan karya kemanusian yang luar biasa sehingga namanya tetap langgeng dan abadi hingga akhir zaman nanti.
Demikian juga para syuhada, orang-orang yang mati syahid. Orang-orang yang mati karena memperjuangkan agama Allah ini dalam realitasnya telah mati, akan tetapi pada hakekatnya mereka tetap hidup. Sekalipun mereka telah mati, tapi betapa banyaknya manusia hidup yang terinspirasi olehnya? Itulah sebabnya Allah menegaskan:
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (Al-Baqarah: 154)
Jika para syuhada’ yang telah lama mati disebut ”tetap hidup” , maka sebaliknya ada orang yang dapat menarik dan menghembuskan nafas, otak dan jantungnya juga berjalan normal, akan tetapi karena tidak mendengar dan memperkenankan panggilan Allah maka orang tersebut dinilai telah mati. Yang demikian itu telah ditegaskan Allah dalam al-Qur’an:
”Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”. (An-Naml: 80)
Sifat Allah Al-Hayy sebanyak tiga kali dirangkai dengan sifat Al-Qayyum yang berarti Maha Berdiri sendiri lagi Maha Mengurus makhluk-makhluk-Nya. Menurut sebagian Ulama’ hal tersebut  memberi teladan kepada manusia bahwa hidup yang sebenarnya itu bukan sekadar hidup untuk memenuhi dirinya sendiri, tapi hidup itu pada hakekatnya adalah memberi hidup dan sarana kehidupan kepada pihak lain.
”Dan barangsiapa yang menghidupkan  (memelihara kehidupan) seorang manusia, maka seolah-olah dia telah menghidupkan manusia semuanya”. (Al-Maidah: 32)
Dengan demikian, alangkah mulianya orang yang bersedekah kepada yang sedang lapar dan haus. Alangkah mulianya para pengusaha yang menyiapkan lapangan kerja dan membayar para buruh dengan layak dan tepat pada waktunya. Alangkah mulianya para dokter, apoteker, dan para penyembuh lainnya yang telah bekerja sungguh-sungguh dan tulus ikhlas untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit. Demikian juga para polisi dan aparat keamanan lain yang menjaga keamanan dan perdamaian hidup.
Akhirnya, kita harus menyadari bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanya sementara dan berlangsung sebentar saja. Kehidupan yang sesungguhnya bagi kita adalah hidup di akherat. Untuk itu mari kita jadikan hidup di dunia ini sebagai bekal untuk hidup yang sesungguhnya di akherat kelak.
”Sesungguhnya tempat tinggal di akherat itulah sebenar-benar kehidupan, sekiranya mereka mengetahui”. (Al-Ankabut: 64)
Hamim Thohari

Al-Mumit: Yang Maha Mematikan



Kapan manusia disebut mati? Sebagian kita menjawab, ketika nyawa telah berpisah dengan jasad manusia. Lalu apakah nyawa itu? Jika ada, bertempat dimana? Wujudnya apa? Kapan berpisahnya? 
Dan sesungguhnya Dia yang menjadikan (manusia) tertawa dan menjadikan (mereka) menangis. Dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan. (An-Najm: 43-44)
Seorang anak dengan mudah bisa membedakan antara sebatang kayu dengan sebatang pohon. Dia juga mengerti bahwa sebatang pohon itu hidup dan sebatang kayu itu mati. Ketika diminta untuk menjelaskan apa hakekat “kehidupan” dan hakekat “kematian”, mereka hanya bisa bungkam, bahkan seorang profesor botani sekalipun tak bisa menjelaskan. Maksimal mereka hanya bisa menunjukkan tanda-tanda kehidupan, yaitu tumbuh, bergerak, dan berkembang. Jika sesuatu itu tidak tumbuh, tidak bergerak, dan tidak berkembang, maka sesuatu itu berarti telah mati.
Kapan manusia disebut mati? Sebagian kita menjawab, ketika nyawa telah berpisah dengan jasad manusia. Lalu apakah nyawa itu? Jika ada, bertempat dimana? Wujudnya apa? Kapan berpisahnya? Pertenyaan-pertanyaan di atas tidak bisa kita jawab, kecuali bahwa kita yakin bahwa dalam diri manusia yang hidup terdapat nyawa, dan nyawa itu suatu saat akan dicabut oleh Allah yang Maha Kuasa mencabutnya. Dia-lah Al-Mumit, Yang Maha Mematikan.
Dalam realitasnya, seribu satu cara manusia menuju pada kematiannya. Ada yang disebabkan sakit dan ada pula yang karena kecelakaan. Berjuta-juta jenis penyakit, dan beribu-ribu jenis kecelakaan, di laut, di udara, dan di daratan. Berjuta-juta sebab orang mati, tapi hanya satu yang namanya mati, yaitu ketika ajal telah tiba dan ketetapan Allah telah dijatuhkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu”. (An-Nisaa: 78)
Tak ada tempat bersembunyi dari mati. Sekalipun kita membuat benteng yang kokoh, sekalipun kita bersembunyi di dasar laut, jika ajal telah tiba, maka kematian akan menjemput kita.
“Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu”. (Al-Jumu’ah: 8)
Tidak ada orang yang sanggup memberi hidup, juga sebaliknya tidak ada seorang pun yang bisa mematikan. Betapa banyak orang yang berusaha bunuh diri, tapi justru ia selamat. Sebaliknya, berapa banyak orang yang berusaha selamat, ternyata justru mengalami kematian.
Bagi orang yang beriman, kematian itu bukan sesuatu yang harus ditakuti, sebagaimana kehidupan juga tak perlu dikhawatiri. Hidup dan mati adalah ketetapan Allah yang harus diterima sebagai taqdir-Nya. Ketika diberi kesempatan hidup, kita manfaatkan kehidupan itu untuk beribadah dan beramal shalih serta menghimpun sebanyak-banyakanya pahala di sisi Allah swt. Ketika kematian datang, kita sambut dengan suka cita.
Bagi kita, kematian adalah pintu gerbang kehidupan yang sebenarnya. Hanya melalui gerbang itu kita bisa menjumpai kekasih kita, Yang Maha Kasih, yaitu Allah saw. Hanya dengan kematian itu kita bisa menjumpai surga, suatu tempat yang telah dijanjikan berulang-ulang oleh Allah dalam al-Qur’an. Hanya dengan memasuki pintu gerbang yang berupa kematian itu kita bisa menjumpai manusia terbaik, rasul yang paling mulia, Muhammad saw. Betapa indahnya gerbang kehidupan yang sebenarnya itu?
Meskipun demikian kita tidak mengharapkan kematian, sebab kita juga belum merasa cukup mengumpulkan bekal menyusuri kehidupan yang begitu panjang. Tabungan amal shalih kita belum mencukupi untuk bekal hidup di akherat nanti. Kita masih perlu mengumpulkan pundi-pundi pahala. Kita masih terlalu sibuk mempersiapkan bekal hidup di dunia yang tidak terlalu lama. Kita masih lalai mengingat mati.
Ketahuilah bahwa kita semua adalah calon-calon mayat. Saat ini kita hanya menunggu giliran, kapan waktunya Allah mencabut nyawa kita, memisahkan nyawa dari jasad kita, dan mengembalikan jasad pada asalnya, yaitu tanah dan mengirim “ruh” kita kembali ke alam kehidupan yang sebenarnya. Sayangnya, disana hanya tersedia dua pilihan untuk tempat tinggal manusia, surga atau neraka. Bekal kita selama hidup di dunia akan menentukan di mana kita akan tinggal selama-lamanya.
Hamim Thohari

Al-Muhyi, Yang Maha Menghidupkan



"Dan sebagian dari tanda-tanda (Kekuasaan)Nya kamu melihat bumi itu kering tandus, maka jika Kami turunkan air di atasnya niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang Menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Fushshilat (43) : 39)
Al-Muhyiy berasal dari akar kata yang terdiri dari dua huruf, yaitu “ha” dan “ya.” Arti dasarnya adalah “hidup,” sedang arti keduanya adalah “malu.” Dalam Al-Qur’an, kata Al-Muhyiy hanya ditemukan dalam dua ayat yang terdapat pada surat Ar-Ruum (30) : 50 dan surat Fushshilat (41): 39, seperti yang ternukil di atas. Meskipun demikian, ayat-ayat yang memuat tentang af’al Allah sebagai penganugerah kehidupan dapat dijumpai di sekitar 50 ayat.
Sebagian besar dari ayat-ayat di atas yang menjadi obyeknya adalah tanah gersang yang dijadikan-Nya hidup dan subur, sebagian lagi tentang tanaman, dan yang tidak kalah pentingnya adalah manusia. Khusus untuk manusia, makna menghidupkannya bisa ganda, yaitu menghidupkan secara fisik berupa nyawa. Manusia yang telah mati bertahun-tahun akan dihidupkan lagi pada hari kebangkitan, setelah semuanya dibinasakan.
Makna kedua dari menghidupkan adalah menanamkan keyakinan dan iman, semangat baru, serta menganugerahkan kualitas hidup yang lebih baik. Justru makna kedua tersebut jauh lebih luas jangkauannya.
Kalau diperhatikan, betapa banyak manusia hidup yang sesungguhnya telah kehilangan semangat dan vitalitas? Mereka tidak memiliki tujuan hidup, juga masa depan. Mereka telah kehilangan harapan, cita-cita, dan kehendak. Mereka ikut ke mana arah angin bertiup, terombang-ambing di tengah pantai seperti gundukan busa, kadang di tepi kadang di tengah.
Orang-orang yang tak lagi memiliki harapan, pada dasarnya tak lebih dari mayat yang berjalan. Nyawanya memang masih ada, yang karenanya mereka masih bisa berjalan, akan tetapi jiwanya sudah mati atau setidak-tidaknya sedang sakit.
Itulah sebabnya Allah berfirman: “Apakah orang-orang yang sudah mati kemudian ia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang-orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar daripadanya?” (QS. Al-An’am (6): 122)
Selain memberi cahaya berupa keyakinan yang kuat, iman yang teguh, dan semangat yang membara, Allah juga menghidupkan manusia dengan menganugerahkan kualitas hidup yang lebih baik. Allah mengangkat derajatnya, meninggikan kapabilitasnya, dan memberikan kecakapan hidup yang memadai sehingga orang tersebut mampu bekerja secara profesional. Kepada mereka, Allah menjanjikan kehidupan yang lebih baik.
“Barang siapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan menganugerahkan kepada mereka kehidupan yang lebih baik. (QS. An-Nahl: (16): 97).
Sebagai khalifah di muka bumi, sesungguhnya kita juga dapat meniru sifat dan af’al Allah yang satu ini (Muhyiy) dalam batas-batas tertentu. Ketika kita menjaga seseorang dari ancaman pembunuhan, maka sesungguhnya kita telah berperan dalam batas-batas tertentu sebagai al-muhyi.
Allah berfirman: “Barangsiapa menghidupkan (memelihara kehiduan seorang manusia), maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya. (QS. Al-Ma-idah (5) : 32).
Kita juga bisa menjalankan peran “menghidupkan” ketika kita memberi dorongan semangat, motivasi, dan keyakinan kepada saudara-saudara kita yang loyo, kehilangan vitalitas hidup, murung, dan kehilangan masa depan. Kita bisa menjadi motivator yang menyuntikkan semangat baru, keyakinan baru, dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Ketika hal itu kita lakukan, pada dasarnya kita telah meniru “Al-Muhyiy” dalam batas-batas kemanusiaan kita.
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfal (8): 24).
Hamim Thohari



Al-Mubdi-u: Yang Maha Memulai
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? (QS. Ath-Thur: 35)
Pertanyaan di atas ditujukan kepada mereka yang masih ragu tentang penciptaan alam, termasuk manusia. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa alam itu ada dengan sendirinya dan tidak ada yang menghancurkan serta membinasakannya kecuali waktu.
Anggapan seperti itu telah direkam al-Qur’an:
“Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga.” (QS. Al-Jatsiyah: 24).
Teori evolusi yang digagas oleh Darwin dan ilmuwan lainnya hanyalah bersifat hipotesa yang sama-sekali belum atau tidak akan terbukti kebenarannya, selama-lamanya. Teori yang menduga bahwa terwujudnya sesuatu karena adanya unsur-unsur sebelumnya yang mengalami proses evolusi sehingga menghasilkan sesuatu yang baru, hanyalah isapan jempol yang tak pernah terbukti secara ilmiah.
Memang, kaum atheis selalu mempertanyakan, jika segala sesuatu itu ada yang menyiptakan, lalu siapakah yang menyiptakan Tuhan? Pertanyaan seperti itu sudah ada sejak zaman Nabi saw, oleh karenanya beliau telah mengajarkan kepada kita: “Sesungguhnya setan dating kepada salah seorang di antara kamu dan bertanya, siapakah yang menyiptakan langit? Dijawab, Allah. Ditanya lagi, siapakah yang menyiptakan bumi? Dijawab, Allah. Lalu, ia akan bertanya lagi, siapakah yang menyiptakan Allah? Maka apabila muncul pertanyaan seperti itu, segeralah berkata: “Aku beriman kepada Allah dan Rasulullah saw.”
Pandanglah alam raya yang terbentang luas di depan kita, perhatikan satu persatu ciptaan Allah yang nyaris tak terhingga itu, betapa indah dan harmonis. Lalu, tanyalah dalam hati yang terdalam, Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10).
Dalam al-Qur’an, kata Al-Mubdi-u dalam bentuk isim (kata benda) tidak ditemukan, baik yang disifatkan kepada Allah atau pun kepada selain-Nya. Meskipun demikian, bentukan kata dari Al-Mubdi-u dalam bentuk fi’il mudhari’ (kata kerja masa kini dan masa depan), maupun dalam bentuk fi’il maadhi (kata kerja masa lampau yang mengandung makna kepastian) dapat dijumpai dalam beberapa ayat. Salah satu contohnya adalah:
“Hanya kepada-Nyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya Dia-lah yang memulai (menyiptakan) makhluq”. (QS. Yunus: 4)
Dalam ayat yang lain juga dapat dijumpai, misalnya: “Atau siapakah yang memulai (menyiptakan) makhluq dan siapa pula yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Katakanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. An-Naml: 64)
Ya, Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada kita sebagai Al-Mubdi-u, Yang Maha Memulai. Menurut Al-Qusyairi, Al-Mubdi-u berarti Dialah yang menyiptakan makhluq dari tiada menjadi ada tanpa contoh sebelumnya, dan mengembalikan mereka dengan kebangkitan serta menghidupkan kembali makhluk-makhluk-Nya yang telah mati pada hari kiamat nanti.
Contoh sederhana adalah penyiptaan manusia. Walaupun penyiptaan manusia itu berulang-ulang dan dalam jumlah yang amat besar, penyiptaannya bukan pabrikan atau bersifat massal. Dua anak kembar yang lahir dari rahim yang sama, tidak persis sama, baik bentuk fisik, apalagi struktur kejiwaannya. Kreasi Allah sungguh tak terbatas, selalu terbarukan.
Hamim Thohari

Al-Wadud, Yang Maha Mencintai



"Sesungguhnya Dialah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan Dia (pula) yang menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai." (QS. Al-Buruj: 12–13)

Dalam Al-Qur’an, kata Al-Wadud digunakan dua kali, kedua-duanya merujuk pada sifat Allah, yaitu Yang Maha Menyintai. Bedanya, pada ayat yang disebutkan di atas merupakan sifat Allah, yang Dia sendiri yang menyifatiNya, sedangkan pada ayat yang berikut ini merupakan penyifatan Allah oleh Nabi Syu’aib ketika beliau mengajak umatnya untuk bertaubat.

Allah berfirman: “Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Menyintai.” (QS. Huud: 90).

Menurut kaidah bahasa, Al-Wadud berasal dari rangkaian huruf “waw” dan “dal” berganda, sedang arti dasarnya adalah “cinta” dan “harapan.” Para mufassirin mengatakan bahwa kata itu dapat dipahami dari sisi “subyek,” yang menyintai dan mengasihi, juga dapat dipahami dari sisi “obyek,” yang dicintai dan dikasihi. Dengan demikian, maka Allah adalah Dzat Yang menyintai makhluqNya sekaligus dicintai oleh mereka.

Fahrudin Ar-Razi menambahkan arti yang ketiga, yaitu “menanamkan cinta.” Dia-lah Allah yang menanamkan cinta pada hati manusia sehingga mereka dapat menyintai sesamanya dan menyintai makhluk lainnya. Perndapat ini diperkuat dengan firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati mereka)”. (Maryam: 96).

Sebenarnya, kecintaan Allah kepada manusia tak diragukan lagi. Bagi orang-orang yang mau berpikir, mereka akan segera memahami betapa Allah menyintai mereka melalui penyiptaan langit, bumi, dan segala isinya. Tak sekadar itu, Allah juga telah menundukkan keduanya untuk memenuhi hajat hidup manusia. Bahkan kalau mau merenungkan sejenak, sesungguhnya penyiptaan manusia itu sendiri sudah merupakan bukti cinta-Nya kepada manusia. Dialah yang menghidupkan, menyiapkan sarana dan prasarana kehidupan, memberi kesehatan, kenikmatan, sukses, dan kebahagiaan. Lalu Dia juga menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan.

Jika Allah telah membuktikan cinta-Nya kepada kita, lalu apa bukti cinta kita kepada-Nya? Ketika Al-Junaid ditanya tentang siapa yang disebut orang-orang yang menyintai Allah, ia menjawab: “Ia adalah yang tidak menoleh kepada dirinya lagi, selalu dalam hubungan intim dengan Tuhan melalui dzikir, senantiasa menunaikan hak-hakNya, memandang kepada-Nya dengan mata hati, bahkan terbakar hatinya oleh sinar hakekat Ilahi.

Sang pecinta meneguk minum dari gelas cinta kasihNya, tabir pun terbuka baginya sehingga sang Maha Kuasa muncul dari tirai-tirai ghaibNya. Maka tatkala sang pecinta berbisik dengan Allah, tatkala berbicara demi Allah, tatkala bergerak atas perintah Allah, tatkala diam bersama Allah. Ia, sungguh selalu “dengan”, “demi”, dan “bersama” Allah.

Sesungguhnya Allah swt telah menyiapkan sarana bagi manusia yang telah menyintaiNya untuk melampiaskan rasa rindunya untuk bertemu denganNya. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menemuiNya minimal lima kali dalam solat-solat fardhu, bahkan telah disediakan pula solat-solat sunah. Masih ada waktu istimewa yang disediakan khusus bagi para pecinta, yaitu pertemuan malam hari melalui solat lail atau solat tahajud. “Dan pada sebagian malam hari bersolat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al-Israa: 79).

Ya, bila kita ingin dicintai Allah, tiada jalan bagi kita kecuali aktif menemuiNya, berusaha mendekatiNya, bermesraan denganNya, dan menjalin hubungan intim denganNya. Bila kita sudah berusaha sungguh-sungguh bertaqarrub dan berupaya menyintaiNya, maka Allah akan mengulurkan cintaNya.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menyintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun membenci pertemuan dengannya”. (HR. Bukhari)

Saatnya kita buktikan cinta kepada Yang Menyintai kita.

Hamim Thohari

Al-Hakim, Yang Maha Bijaksana



"Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. 5: 118)

Dalam al-Qur’an, kata Al-Hakim diulang sebanyak 97 kali. Pada umumnya kata tersebut dipakai untuk menyifati Allah swt, sebagian lagi menyifati Al-Qur’an, dan ketetapan Allah.

Sebagian besar Al-Hakim digandengkan dengan Asma Allah yang lain, sekitar 45 kali digandengkan dengan “Al-Aziz, sebanyak 35 kali dengan “Al-Alim”, 4 kali dengan “Al-Khabir”, dan masing-masing sekali dengan “At-Tawwab”, “Al-Hamid”, “Al-‘Aliy”, dan “Al-Wasyi’”.

Al-Hakim merupakan bentuk superlative, yaitu suatu bentuk pengagungan atas Dzat yang memiliki semua kearifan, karenanya Dia Mahabesar dalam segala kebijaksanaan-Nya. Dia Mahabijaksana dalam menciptakan segala sesuatu, dan segala sesuatu dilakukan-Nya secara bijaksana dan sangat sempurna. Tidak ada yang cacat, semua berjalan “by design”. Dia sendiri berfirman:

“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu dengan sia-sia dan kamu tidak dikembalikan (kepada Kami)?” (QS. 23: 115)

Bagi Allah, Wujud Sucinya tidak memungkinkan-Nya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya yang Mulia lagi Mahabijaksana. Musthil bagi-Nya menciptakan sesuatu yang sia-sia, bahkan ketika menciptakan seekor nyamuk, sekalipun. “Rabbanaa maa khalaqta haadza baatila”, Ya Tuhan Kami, tidak ada satupun yang Engkau citakan itu sia-sia.

Kearifan, kebijaksanaan, atau wisdom adalah cara terbaik untuk mengetahui sesuatu dengan menggunakan sarana yang terbaik pula. Dia-lah Allah yang Kebijaksanaan-Nya melampai segala sesuatu, Dia mengetahui sumber segala sesuatu melalui pengetahuan-Nya yang abadi dan lestari yang tak seorangpun bisa membayangkan-Nya sebagai wujud yang fana.

Al-Hakim, menurut sebagian Ulama berarti adil dalam penilaian-Nya, pemurah dalam pengaturan urusan-urusan-Nya, Dzat yang menetapkan ukuran segala sesuatu sesuai dengan ilmu-Nya, Dzat yang kearifan-Nya memiliki tujuan yang ultimate, Dzat yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Dialah Allah, yang tak seorangpun bisa mengapresiasi Kemahabijaksanaan-Nya kecuali diri-Nya.
Sebagian Ulama juga mengartikan Al-Hakiim dengan pengertian bahwa Allah mengetahui kebenaran secara mutlak dan bertindak berdasarkan pengetahuan itu secara mutlak pula. Tindakan atau amalan tanpa ilmu berarti kesesatan, sedangkan ilmu tanpa amalan adalah kesia-siaan.

Bagaimanapun sedikitnya kadar hikmah yang dikaruniakan kepada seseorang, itu sangat berarti bagi mereka. Hikmah adalah karunia yang amat besar setelah ilmu. Allah berfirman:
“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah itu, maka benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS. 2: 269)

Begitu bernilainya hikmah bagi kehidupan manusia di dunia ini, maka Nabi Ibrahim as senantiasa berdo’a: Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah. (QS. 26: 83). Jika Nabi Ibrahim yang dikenal bijaksana itu masih berdo’a agar dikaruniai hikmah, bagaimana dengan kita?

Hikmah adalah mutiara kepe­mimpinan. Nabi Daud ditunjuk sebagai pemimpin kaumnya karena memiliki hikmah. Allah berfirman: “Kami karuniakan kepadanya kebijaksanaan dan (kekuatan) dalam menghakimi persoalan.” (QS. 38: 20). Sebagai gambaran konkrit orang yang menyandang himah adalah Nabi Muhammad saw sebagaimana terangkum dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah melimpahkan karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutus di antara mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri, untuk mebacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan untuk menyucikan mereka, dan untuk mengajarkan kepada mereka al-Kitab(Al-Qur’an) dan al-Hikmah. Sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. 3: 164)

Saat ini banyak pemimpin yang pandai, yang memiliki ilmu dan pengetahuannya sangat banyak dan luas, tapi orang yang bijaksana, yang memiliki wisdom dan kearifan sangatlah langka. Padahal untuk memimpin, apalagi pada masyarakat yang majemuk diperlukan kearifan, kebijaksanaan, dan wisdom.

“Dia (Allah) menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. 2: 269)
Hamim Thahari

Al-Wasi’, Yang Maha Luas



Al-Wasi’ merupakan turunan dari kata wa-si-’a, yang berarti luas, lapang, daya tampung, berkelimpahan, meliputi, kaya, dan arti lain yang serupa. Orang yang menguasai berbagai ilmu disebut luas ilmunya. Orang yang mudah memaafkan disebut lapang dada. Orang yang memiliki kekayaan yang banyak disebut berkelimpahan, dan seterusnya.

"Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu." (QS. Al-Mukminuun: 7)

Kata Al-Wasi’ digunakan Al-Qur’an sebanyak 9 kali, dan semuanya dipakai untuk menyifati Allah swt. Hal ini memberi gambaran bahwa hanya Allah yang berhak menyandang sifat ini. Tak ada seorang pun yang memiliki keluasan, sebagaimana keluasan Allah. Hanya Dia Yang Maha Luas dalam segala hal.

Selain dalam bentuk ism (kata benda), wa-si-a dalam bentuk fi’il (kata kerja) juga banyak dijumpai dalam Al-Qur’an, bahkan jumlahnya lebih banyak lagi. Salah satu di antaranya menggambarkan tentang keluasan ilmu Allah, sebagaimana berikut: “Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (Al-An’am: 80).

Senada dengan ayat di atas, Al-Qur’an juga menyebutkan: “Mereka yang memilkul ’Arsy dan mereka yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan mereka beriman kepada-Nya dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman (dengan berkata): ’Ya Tuhan kami! Karunia dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan dari-Mu orang-orang yang kembali (kepada-Mu) dan mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari siksa api neraka.” (Al-Mu’min: 7).

Jika kedua ayat di atas menggambarkan keluasan ilmu-Nya, ayat berikut ini justru menggambarkan tentang keluasan rahmat-Nya.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 156).

Dalam buku An-Nihayah, Ibnu Atsir memaparkan tentang sifat Allah Al-Wasi’ ini dengan menyebut beberapa arti: (1) bisa memperkaya setiap orang miskin, (2) rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, (3) otoritasnya tidak pernah berakhir, (4) rahmat-Nya tidak terbatas, (5) kerajaan-Nya abadi, (6) tidak pernah menghentikan pemberian, (7) tidak pernah kebingungan karena mengetahui sesuatu dari mengetahui yang lain, (8) pengetahuannya meliputi segala sesuatu, (9) kekuasaan-Nya mencakup segala sesuatu, (10) rahmat-Nya amat luas, (11) Dia mandiri, (12) pengetahuan, kekuasaan, dan rahmat-Nya adalah paling besar, (13) Dzat yang sifat-sifat-Nya tidak terbatas, (14) pengetahuan, rahmat, dan ampunan-Nya luas, dan (15) wilayah-Nya begitu besar tak terbatas.

Itulah sebabnya, Al-Wasi’ yang sejati dan mutlak hanya Allah. Hanya Dia yang ilmu-Nya tak bertepi, rahmat-Nya tak pernah habis terbagi, dan kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi.

Dialah Allah yang keluasan-Nya meliputi Barat dan Timur, Utara dan Selatan. Dia ada di segala penjuru langit dan bumi. Karenanya, Dia menginformasikan kepada kita bahwa untuk menghadap kepada-Nya kita bisa mengarahkan wajah kita kemana pun, terutama pada saat kita berada dalam perjalanan (safar), maupun saat kita tidak tahu arah (kiblat).

Allah berfirman: “Maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 115).

Ayat di atas memberi gambaran kepada kita bahwa Allah swt selain Maha Luas Dzat-Nya juga berlapang dada dalam memberikan rukhsah (keringanan) kepada hamba-Nya ketika beribadah. Dia memaklumi hamba-Nya yang kesulitan menghadap kiblat ketika safar, karenanya Dia memberi keringanan.

Apalagi kepada orang yang telah berlapang dada, menolong sesamanya dengan mengeluarkan sebagian dari hartanya, baik dalam bentuk sodakoh, infaq, maupun zakat. Dia melipatgandakan pemberian orang tersebut dengan quantum pahala. Al-Qur’an menyebutkan:

“Perumpamaan (nafkah yang dilekuarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Lalu, bagaimana cara meneladani sifat ini? Bantulah setiap orang yang meminta bantuan, perlakukan semua orang dengan sebaik-baik perlakuan, dan bermurah hatilah kepada setiap orang. Tak lupa, maafkan orang sebelum atau sesudah mereka meminta maaf. Bukalah dada secara lapang untuk menerima keterbatasan manusia.
Hamim Thahari

Al-Mujib, Yang Maha Mengabulkan




"Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku menjawab do’amu.' Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdo’a), akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mukmin: 60).

Dalam Al-Qur’an, kata al-Mujib dalam bentuk mufrad hanya terdapat dalam surat Huud ayat 61, sedang dalam bentuk jama’ terdapat dalam surat Ash-Shaffat ayat 75. Akan tetapi ayat yang menggunakan akar kata “a-ja-ba” dapat dijumpai beberapa kali dalam ayat yang berbeda-beda, terutama yang menggunakan kata kerja.

Menurut Al-Ghazali, Al-Mujib adalah yang menyambut permintaan para peminta dengan memberinya bantuan, do’a yang berdo’a dengan mengabulkannya, permohonan yang terpaksa dengan memberi kecukupan, bahkan memberi sebelum diminta, dan melimpahkan anugerah sebelum dimohonkan. Siapa lagi yang dapat melakukan semua hal di atas, selain Allah? Hanya Dia yang sangup melakukannya.

“Atau siapakah yang menjawab (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah Allah di muka bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu yang mengingat-Nya.” (QS. An-Naml: 62)

Dalam Islam, do’a adalah mukh-khul ibadah, saripati ibadah. Dalam solat, misalnya, setiap mushalli (orang yang solat) mulai berdiri, rukuk, sujud, duduk, lalu salam, hampir semua bacaan yang dibacanya berisi do’a. Demikian pula dalam ibadah puasa, zakat, maupun haji sarat dengan do’a. Allah berfirman: “Katakanlah, Tuhanku tidak menghiraukan kamu seandainya tidak ada do’amu.” (QS. Al-Furqan: 77)

Allah senang kepada orang yang memperbanyak do’a dan meminta kepada-Nya. Sebaliknya, Dia sangat murka kepada mereka yang enggan berdo’a dan meminta bantuan-Nya, disebabkan karena kesombongannya atau karena merasa cukup dengan kekayaan yang dimilikinya. Allah berfirman:

"Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman." (QS. Ar-Ra’d: 18)

Allah memperkenankan setiap do’a, menjawab setiap keluh kesah, memenuhi setiap permintaan, dan memberi setiap hajat kebutuhan, asal disampaikan dengan segenap keyakinan, kepercayaan, dan keimanan. Do’a yang tidak disertai keyakinan adalah omong kosong, hayalan, atau sekadar lamunan. Rasululah bersabda:

“Berdo’alah kepada Allah, percayalah akan jawaban-Nya atas do’amu, dan hati-hatilah bahwa Allah tidak menjawab permohonan orang-orang yang lalai dan acuh.” (HR. Tirmidzi)

Dalam berdo’a, ada abad dan etika yang harus dipenuhi. Satu di antaranya adalah bersikap merendah dan bersuara lembut. “Inna Rabby qariibun Mujiib” (Sesungguhnya Tuhanku (Allah) amat dekat dan memerkenankan do’a hamba-hamba-Nya), karenanya tidak perlu berteriak-teriak dan mengeraskan suara ketika berdo’a.

“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raaf: 55)

Pada ayat yang lain, Allah mengingatkan: “Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan hati (tadarru’) dan rasa takut (khauf), dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf: 205)
Hamim Thahari

Al-Hasib, Yang Maha Membuat Perhitungan




"Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan Dia Mahacepat perhitungan-Nya." (QS Ar-Ra’d: 41)

Apabila kita rajin mengamati benda-benda kosmos di angkasa, kita akan mendapati benda-benda itu bergerak stabil tanpa dipengaruhi faktor-faktor eksternal sejak jutaan tahun yang lampau. Tak bisa tidak, kita akan menyimpulkan bahwa ada sistem perhitungan yang amat komplek atasnya yang begitu alamiah. Perhitungan yang diperlukan untuk menjalankan kosmos besar itu tidak pernah bisa dijangkau oleh “rasio” manusia, siapa pun.

Lalu, siapakah yang menciptakan sistem yang begitu kompleks, rumit, dan perhitungan yang demikian akurat? Dia-lah Allah, yang menjadikan kriteria kosmis tetap untuk melindungi kelangsungan hidup manusia di muka bumi dengan cara yang sempurna, yang dengan itu manusia dapat melaksanakan tugasnya di muka bumi sebagai hamba sekaligus khalifah.

Coba renungkan betapa Allah (Al-Hasib) membuat keseimbangan kimiawi, fisiologis, dan astronomis yang ada di alam semesta secara mengagumkan sehingga tidak kita temukan kesalahan sekecil apa pun di dalamnya. Kesalahan perhitungan sekecil apa pun, bahkan sebesar rambut dibelah lima puluh (bukan sekadar dibelah tujuh), sekalipun pasti akan berakibat fatal. Di sini, tidak ada toleransi terhadap kesalahan sekecil apa pun.

“Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan dengan kadar (kalkulasi dan akurasi) yang ditentukan. Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan bagaikan kejapan mata.” (QS Al-Qamar: 49 dan 50).

Luar biasa! Betapa akuratnya perhitungan Allah dalam penciptaan benda-benda angkasa sehingga keberadaannya dapat dihisab sekaligus dirukyat.

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang berilmu.” (QS Yunus: 5).

“Dialah yang menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.” (QS Al-An’am: 96).

Sungguh, secerdas apa pun pikiran manusia, mereka tak bakal mampu menjangkau angka perhitungan di seluruh jagad raya dari atom terkecil hingga planet terbesar dalam berbagai jenis, orbit, dan lingkungannya. Manusia, bahkan tak bakal mampu menyebut angka perhitungan yang terjadi dalam tubuh mereka sendiri.

Al-Qur’an tidak saja menjelaskan tentang akurasi perhitungan Allah terhadap penciptaan langit dan bumi. Tapi Dia sangat cermat dalam memperhitungkan segala amal perbuatan hamba-Nya dan membalas mereka sesuai dengan keadilan-Nya.

“Sesungguhnya Allah Maha memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An-Nisaa: 86).

"Agar Allah membalas setiap jiwa (seperti) apa yang telah mereka usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat dalam menghisab.” (QS Ibrahim: 51).

Setiap perbuatan manusia, yang baik maupun yang buruk, semua diperhitungkan, tanpa ada yang kelewat. Sekecil apa pun perbuatan manusia, bahkan yang masih disembunyikan dalam hati, diketahui oleh Allah dan diperhitungkan-Nya. Kelak di hari kiamat, manusia akan melihat data, rekaman, dan dokumentasi amalnya.

“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS Al-Zalzalah: 7 dan 8).

Lalu, hikmah apa yang bisa kita ambil dari sifat dan nama Allah Al-Hasib? Hisablah dirimu sendiri sebelum dirimu dihisab. Wallahu a’lam.

Al-Muqit, Yang Maha Memberi Kekuatan




"Barangsiapa yang memberikan syafa’at dengan syafa’at yang baik, niscaya ia akan mendapatkan bagian (pahala) daripadanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at dengan syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. An-Nisaa: 85)

Al-Muqiit didapati dalam al-Qur’an hanya dalam satu ayat, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Sebagian Ahli tafsir menyebutkan bahwa kata tersebut sebagai turunan dari akar kata benda “qut” yang berarti makanan. Menurut pemahaman ini, Al-Muqiit hampir sama dengan Ar-Razzaq. Bedanya, Ar-Razzaq lebih menunjuk pada berulangnya pemberian rizki yang dikaruniakan pada makhluk-Nya, sedangkan Al-Muqiit lebih pada penjaminannya.

Allah, Al-Muqiit tidak saja menciptakan kehidupan, tapi juga menciptakan berbagai sarana kehidupan untuk semua makhluk-Nya. Dia menciptakan kemudahan-kemudahan bagi semua makhluk untuk mendapatkan akses ke sarana-sarana rizki yang telah disediakan.

"Dia (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjuru." (QS. Al-Mulk: 15)

Jaminan Allah berupa rizki tak hanya diberikan kepada mereka yang dewasa dan normal saja, bahkan kepada yang cacat sekalipun rizkinya telah dijamin. Dia berfirman: “Dan tiada makhluk melatapun di muka bumi kecuali Allah telah menjamin rizkinya." (QS. Huud: 6)

Apalagi untuk makhluk-Nya yang unggul dan pilihan, yang bernama manusia. Mereka bahkan dijadikan sebagai penguasa-penguasa di muka bumi.

“Dia telah menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”. (QS. Huud: 165)

Al-Muqiit tak hanya mencipta dan memberi kehidupan, tapi Dia sekaligus memberi jaminan (guarantee) akan kelangsungan hidup itu sendiri. Diberinya setiap makhluk segenap potensi, jalan, dan kemudahan untuk mengakses semua rizki yang telah menjadi jatahnya.

Rizki yang diberikan kepada manusia tak hanya berupa makanan, tapi juga ilmu. Jika makanan merupakan konsumsi jasad, maka ilmu merupakan konsumsi akal dan hati. Dengan rizki ilmu manusia dapat melipatgandakan potensinya sehingga tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi dapat diembannya dengan baik. Seperti diketahui bahwa kehadiran manusia di muka bumi adalah sebagai pemakmur.

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”. (QS. Huud: 61)

Seorang Mukmin yang menghayati nama Allah “Al-Muqiit” akan bangkit semangatnya, tumbuh motivasinya, dan lahir jiwa optimisnya. Mereka tak pernah ragu menjalani kehidupan yang tampak berat dan penuh rintangan, sebab di balik semua ujian itu terdapat garansi dari Allah. Mereka tak gentar menghadapi berbagai cobaan, sebab di balik semua kesulitan pasti ada kemudahan. Di balik penderitaan pasti ada kebahagiaan. Di balik tangis pasti ada senyuman.

Asma Allah Al-Muqiit ini mengharamkan kita untuk berkeluh kesah, meratapi nasib, dan berputus asa. Kita tidak boleh tunduk di bawah kaki kehidupan, tapi kita justru harus menaklukkan kerasnya kehidupan. Kita harus menjadi pemenang, bukan pecundang. Semua sudah disiapkan Allah, jalannya sudah dibentangkan, caranya sudah ditunjukkan. Tinggal kita, mau melangkah atau berhenti di tengah jalan.

Di akhir tulisan ini, ada baiknya kita renungkan puisi Muhammad Iqbal:
Engkau menciptakan malam, dan aku yang membuat pelita
Engkau menciptakan tanah liat, dan aku yang membuat piala
Engkau menciptakan sahara, gunung-gunung dan hutan belantara,
Dan aku yang membuat kebun anggur, taman-taman
akulah yang mengubah batu menjadi cermin
akulah yang mengubah racun menjadi obat penawar
Hamim Thahari

Al-Kabir, Yang Maha Besar



”Dan Tuhanmu, maka besarkanlah.” (Al-Mudatstsir: 3)

Ibadah yang paling sering dilakukan kaum muslimin adalah shalat. Dalam shalat itu terdapat beberapa kalimat yang harus diucapkan dan gerakan yang harus dilakukan. Di setiap perubahan gerakan selalu diantarai dengan takbir (bacaan Allahu Akbar sambil mengangkat kedua tangan).

Ketika seorang Muslim sudah takbir (membesarkan nama Allah), maka pikiran, perasaan, dan gerakan fisiknya hanya tertuju kepada Allah. Ia berdiri dengan posisi menghormat, rukuk dengan posisi merunduk, dan sujud, berserah diri secara total kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu, panggilan siapapun tak boleh dihiraukan. Termasuk panggilan boss atau atasan, panggilan orangtua, panggilan HP atau telepon. Ia hanya peduli pada panggilan Allah SWT hingga salam.

Membesarkan nama Allah seharusnya tidak hanya dalam shalat. Kapan dan di manapun setiap manusia harus senantiasa membesarkan-Nya. Panggilan-Nya-lah yang harus diutamakan untuk didengar dibanding dengan panggilan siapapun. Aturan (syari’ah)-Nya-lah yang seharusnya lebih ditaati daripada semua aturan yang ada. Hanya Dia yang Maha Besar.

”(Kuasa Allah) yang demikian itu, karena sesunguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil (sia-sia), dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar”. Al-Hajj: 62)

Kaum Muslim yang menjalankan ibadah haji terlebih dahulu harus menanggalkan seluruh pakaian kebesarannya dan menggantinya dengan dua helai kain putih tak berjahit (ihram), lalu berseru kepada Allah dengan kalimat talbiyah, labbaikallahumma labbaik. Kami penuhi panggilan-Mu ya Allah, dan hanya panggilan-Mu yang kami penuhi. Tiada yang bersekutu dengan-Mu.

Kebesaran Allah tak bertambah sedikitpun dengan takbir kita, demikian juga sebaliknya, kebesaran-Nya tak berkurang sekalipun semua makhluq-Nya tiada yang membesarkan-Nya. Kita takbir (membesarkan-Nya), karena kita butuh kepada-Nya. Kita bertakbir, karena kita ingin membesarkan jiwa kita dengan membebaskan diri dari semua oknum yang mengaku ”besar” atau justru kita ”besar-besarkan”. Hanya dengan takbir kita terbebas dari segala belenggu kejiwaan yang selama ini mengungkung kita.

Allah tak membutuhkan takbir kita, sebab Dia memang Mahabesar. Sang Penyandangnya (Al-Kabir) tidak membutuhkan pihak lain dalam segala hal, mulai dari yang kecil hingga yang paling besar. Justru semua pihak tak terkecuali membutuhkan-Nya, karena semua diciptakan hanya untuk bergantung kepada-Nya.

Allah Mahabesar karena Dia abadi, tiada awal dan tiada akhir. Adapun semua makhluk-Nya diciptakan dalam batasan waktu. Ada awal dan ada akhirnya. Ada proses awal keberadaannnya dan akan berakhir dengan kepunahannya. Ada kelahiran dan ada kematiannya.

Dia Mahabesar, karena keberadaannya merupakan sumber terpancarnya semua makhluk. Dialah yang merupakan sumber keberadaan semua makhluk. Dia wajibul wujud (keberadaaa-Nya wajib), sedang manusia dan semua makhluk yang ada lebih pantas disebut mumkinul wujud (keberaannya hanya sebatas mungkin). Semua manusia boleh ada dan boleh juga tidak ada. Ketiadaannya tidak menjadikan yang lain menjadi tidak ada.

Dalam al-Qur’an ada beberapa figur yang mengaku ”Besar”, di antaranya adalah Qarun yang karena kepemilikannya terhadap harta, menjadikannya sombong. Dengan arogan ia mengkalim bahwa harta miliknya merupakan hasil usaha dan ilmu yang dimilikinya.

Figur lain yang tak kalah sombongnya adalah Namrud dan Fir’aun. Keduanya dihinakan oleh Allah dengan kematian yang mengenaskan.

Allah membenci setiap manusia yang merasa besar dan menyombongkan diri. Allah berfirman:

”Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih”. (An-Nisaa: 173)

”Negeri akherat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi”. (Al-Qashash: 83)

Hamim Thohari


Al-Aliy, Yang Maha Tinggi



Kata Al-Aliy dalam Al-Qur’an terdapat sebelas kali, sembilan di antaranya merupakan Asma Allah yang dirangkai dengan Asma-Nya yang lain. Dirangkai dengan kata Al-Kabir sebanyak lima kali, dirangkai dengan Al-Adzim dua kali, dan disambungkan dengan kata Al-Hakim sebanyak dua kali.
Dalam Al-Qur’an juga ditemukan penggunaan bentuk superlatif dari kata Al-Aliy, yaitu Al-A’la (Yang Lebih Tinggi) sebagaimana yang tercetak di awal tulisan ini. Bahkan Al-Qur’an juga mengabadikan klaim Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan Yang Lebih Tinggi, dengan kata-kata yang populer: Ana Robbukumul a’la. Hingga Allah merendahkan dan menghancurleburkannya.
Allah adalah Tuhan Yang Maha Tinggi (Al-Aliy). Dia mengalahkan dan menaklukkan seluruh yang ada, dan tak satu pun di antaranya yang mampu menolak titah dan ketentuan-Nya. Termasuk manusia yang kafir, boleh jadi mereka menentang Allah, tapi fisiknya pada akhirnya menyerah terhadap ketentuan-Nya. Mereka menjadi tua, lemah, sakit-sakitan, dan kemudian mati. Tak seorang manusia kafir pun yang dapat menepis ketentuan ini.
Apalagi makhluk yang lain, semua tunduk patuh, bahkan senantiasa bersujud kepada Allah, bertasbih. Al-Qur’an menyebutkan: “Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang. Gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang (tidak menjalani sujud) telah ditetapkan azabnya.” (QS. Al-Hajj: 18).
Sujud adalah simbolisasi dari “merendah” serendah-rendahnya. Pada posisi sujud, kepala atau kening kita yang menjadi simbol kehormatan dan kemuliaan kita justru langsung menyentuh bumi yang sehari-hari kita injak dan rendahkan. Itulah posisi terbaik kita sebagai hamba ketika berhadapan dengan Allah SWT. Itulah sebabnya, dalam posisi seperti itu, ketika solat, dianjurkan kepada kita untuk membaca: “Subhana rabbiyal a’la,” Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi.
Sujud hanya boleh kita lakukan kepada Allah SWT. Kita tidak boleh sujud kepada siapa pun, dan kepada apa pun, karena Allah telah memuliakan kedudukan kita sebagai manusia. Kita adalah makhluk yang terhormat, mulia, lagi sempurna. Sangat naif jika kita bersembah diri kepada sesama manusia, apalagi kepada jin atau setan yang justru pernah diperintah Allah secara langsung bersujud kepada kita. Sungguh aneh jika ada orang yang takut, apalagi taat kepada jin dan setan.
“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam, maka bersujudlah mereka semua, kecuali Iblis. Dia enggan dan sombong karenanya dia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Kita adalah hamba Allah yang paling sempurna, karenanya kita harus meneladani sifat Allah, Al-Aliy dengan jalan menghiasi diri kita dengan himmah (ambisi positif) untuk meraih kemuliaan dan derajat yang tinggi. Caranya sederhana, lakukan hal-hal yang mulia dan bernilai tinggi, dan jauhi hal-hal yang rendah, remeh-temeh. Hidup kita hanya sekali, untuk itu yang sekali itu harus bernilai tinggi.
Untuk mencapai maqam yang tinggi, kita harus melewati aqabah (jalan mendaki), suatu jalan yang mengharuskan para pendakinya senantiasa tegar menghadapi goda dan teguh dalam cita-cita. Di setiap kelokan tak jarang dijumpai sorak-sorai yang merayu dan juga yang menakut-nakuti. Hanya pendaki istiqamah yang tetap sabar meniti pendakian hingga mencapai kemuliaan, ketinggian, sekaligus kebahagiaan dunia dan akherat.
Hamim Thohari


As-Syakur, Yang Maha Bersyukur



Syukur selalu terkait dengan penerimaan nikmat. Seseorang yang menerima nikmat pantas dan seharusnya bersyukur. Lalu Bagaimana Dia Yang Maha Memberi Nikmat ternyata juga Maha Berterimakasih? Sungguh keteladanan yang luar biasa telah ditampakkan oleh Allah SWT dalam suatu peragaan yang nyata, bahkan telah diabadikan menjadi nama-Nya, Asy-Syakuur.
Allah SWT selalu berterimakasih kepada hamba-Nya yang berbuat kebaikan, sekecil apapun. Meski kebaikan manusia adalah untuk diri mereka sendiri dan Allah sama sekali tidak mendapatkan imbalan apapun dari kebaikan tersebut,  Dia berterimakasih dengan cara memberikan pahala yang berlipat ganda atas kebaikan tersebut.
Satu kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya diumpamakan seperti sebutir padi, lalu padi itu ditanam. Satu pohon padi bercabang tujuh, masing-masing cabangnya menghasilkan seratus biji. Sungguh luar biasa, satu kebaikan diganjar dengan tujuh ratus pahala. Siapa yang bisa melipatgandakan kebaikan hingga 700 kali?
Tak cukup hanya dengan pahala, ternyata terimakasih Allah diwujudkan dalam bentuk lain, berupa pujian yang berulang-ulang. Allah memuji manusia yang berbuat baik sesuai dengan ketentuan-Nya dengan menyebut-nyebut namanya, menyebut kebaikannya, dan mengumumkannya pada seluruh penduduk bumi dan penghuni langit. Allah berseru pada seluruh malaikat, catatlah si Fulan telah melakukan satu kebaikan dan Aku mencintainya. Jika Allah telah mencintai seorang hamba, maka seluruh malaikatpun mencintainya.
Siapa yang menyebarkan nama baik kita? Siapa yang mengharumkan nama kita? Sungguh jika diukur dengan sungguh-sungguh antara kebaikan yang telah kita perbuat dengan pujian yang kita terima seringkali tidak seimbang. Apalagi jika dibandingkan degan berbagai kesalahan yang pernah kita perbuat sebelumnya. Kalau bukan karena terimakasih Allah, sungguh kita adalah makhluk Allah yang hina, yang tak pantas menerima pujian sedikitpun juga.
Bentuk lain dari terima kasih Allah atas kebaikan manusia adalah dengan mengangkat derajatnya. Betapa banyaknya manusia yang berbekal sedikit kebaikan, tapi Allah mengangkat derajatnya sehingga secara otomatis mereka mendapatkan posisi yang baik, kedudukan yang terhormat, dan status sosial yang tinggi. Jika dihitung-hitung, sungguh kebaikan yang sedikit itu tidak ada artinya sama sekali.  “Dan sebutan namamu Aku populerkan.” (QS. Al-Insyirah: 4)
Jika Allah telah memberi teladan kepada kita tentang syukur, bagaimana dengan kita? Pertama, kita harus bersyukur kepada Allah dengan memuji nama-Nya: Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Segala pujian sesungguhnya tak cukup kita berikan kepada Allah, sebab kebaikan Allah melampaui segala bentuk pujian kita. Yang bisa memuji Allah dengan sebenar-benar pujian adalah Allah sendiri, sedang pujian kita hanya sekadar yang diajarkan-Nya kepada kita.
Tentu saja pujian saja tak cukup untuk mengungkapkan rasa terimakasih, tanpa dibarengi ketaatan pada perintah dan larangan-Nya. Segala nikmat, karunia, rizki, keutamaan, fasilitas, dan semua pemberian Allah haruslah kita gunakan untuk amal kebaikan. Ketaatan adalah bukti yang paling nyata dari rasa syukur kita kepada Allah swt. Seribu atau sejuta pujian belum bisa menggambarkan kesyukuran tanpa adanya ketaatan.
Kedua, selain bersyukur kepada Allah kita harus berterimakasih kepada manusia. Jika kita mendapatkan kebaikan dari orang lain, sekecil apapun kebaikan itu, maka wajib bagi kita untuk mengucapkan terimakasih kepadanya. Tak cukup hanya dengan ucapan terimakasih, kebaikan mereka hendaknya kita balas dengan kebaikan yang lebih banyak, atau minimal setara. Jika kita diberi hadiah sesuatu, maka wajib bagi kita membalas hadiah tersebut dengan lebih banyak, atau mnimal sama nilainya.
Begitulah cara kita bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada manusia.
Hamim Thohari



Al-Ghafur, Yang Maha Pengampun



"Kabarkan olehmu (Wahai Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hijr: 49)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw melewati para sahabat yang sedang larut dalam tawa dan canda, lalu beliau menyalami mereka, kemudian bersabda: "Apakah kalian tertawa sedang neraka di hadapan kalian?" Atas nasihat tersebut, para sahabat menyesal atas perbuatannya dan mereka merasa sangat tertekan.
Tak lama kemudian Rasulullah saw kembali kepada mereka dan berkata, "Jibril baru saja mendatangi saya dan menyampaikan bahwa Allah bertanya, mengapa saya menjadikan sebagian hamba-Nya putus asa dari rahmat-Nya?" Setelah itu beliau membaca ayat di atas.
Kata “Al-Ghafur” berasal dari kata dasar gha-fa-ra, sama dengan “Al-Ghaffar” yang sama-sama merupakan nama sekaligus sifat Allah. Sebagian Ulama memberi arti yang sama terhadap keduanya, sebagian lagi menyatakan bahwa cakupan Al-Ghaffar lebih luas dan dalam dibanding Al-Ghafur, dan sebagian lagi sebagaimana pendapatnya Imam Al-Ghazali bahwa Al-Ghafur lebih sempurna dan menyeluruh pengampunannya.
Lepas dari perbedaan tersebut, al-Qur’an tak kurang dari 91 kali menyebut kata Al-Ghafur. Sebagian besar dirangkai dengan nama dan sifat Allah yang lain, sebagian sisanya berdiri sendiri. Dari sekian banyak ayat, kata Al-Ghafuur lebih banyak disandingkan dengan kata Ar-Rahim (tak kurang dari 70 kali). Hal itu memberi kesan bahwa sifat ghafur-Nya lebih merupakan derivasi dari sifat kasih dan sayang-Nya.
Betapa tidak! Allah memberi ampunan kepada setiap mukmin yang bertobat dan bersungguh-sungguh meminta ampunan-Nya. Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shaleh, kemudian ia tetap mengikuti jalan (petunjuk) yang benar." (QS. Thaaha: 82)
Bahkan kepada mereka yang telah melampaui batas dan tidak serta merta meminta ampunan sekalipun, Dia tetap berlapang untuk mengampuninya.
"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
Tentu saja tetap ada batasnya, yaitu syirk. Untuk jenis dosa yang satu itu Allah tak akan memberi ampunan sampai yang bersangkutan bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirk) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisaa: 48)
Sebagai hamba-Nya Al-Ghafur, patut kita meneladani sifat tersebut dengan senantiasa berlapang dada, memberi maaf kepada mereka yang dengan sengaja maupun tidak sengaja telah melakukan kesalahan kepada kita. Kita tetap memberi maaf kepada mereka yang meminta maaf ataupun yang tidak, yang mengakui kesalahannya maupun yang tidak.
Dalam masalah yang satu ini Abu Bakar Ash-Shidiq patut diteladani. Bayangkan, ia tetap berlapang dada dan memberi maaf kepada orang yang telah memfitnah dan merusak nama baik keluarganya, padahal orang tersebut selama ini ditanggung segala kebutuhan hidupnya, termasuk sandang, papan, dan pangannya.
Pada awalnya ia marah, tersinggung, bahkan terlontar suatu sumpah untuk tidak lagi menafkahi orang tersebut, tapi ia segera membatalkannya. Atas sikapnya itu Allah menurunkan firman-Nya:
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nuur: 22).
Hamim Thohari

Al-Adhim, Yang Maha Agung



"Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi." (QS. Al-Jatsiyah: 37)
Ruku’ adalah salah satu gerakan shalat yang harus dilakukan kaum muslimin. Posisi ruku' merupakan posisi tertunduk, di mana seseorang menundukkan separuh badannya dalam keadaan setengah berdiri. Pada saat posisi ketertundukan seperti itulah kita dianjurkan membaca: “Subahaana Rabbiyal Adhiim”, Maha Suci Allah, Yang Maha Agung. Kita ulangi bacaan itu minimal tiga kali. Dengan cara seperti itu, diharapkan tidak saja posisi fisik yang tertunduk, tapi hati mushalli (orang yang solhat) juga ikut merunduk.
Ketika shalat usai dilaksanakan, saatnya bagi kaum muslimin meminta ampunan atau maghfirah. Saat itu, bacaan yang dianjurkan adalah: Astaghfirullahal Adhiim, Aku minta ampuanan Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Lagi-lagi, kita minta Allah Yang Maha Agung, yang dengan keagungan-Nya bisa mengampuni dosa dan kesalahan kita, hamba-Nya yang hina.
Satu lagi yang telah mentradisi, setiap kali usia membaca Al-Qur’an, seorang Qaari menutup bacaannya dengan mengucapkan “Shadaqallahul-Adhiim”, yang artinya: “Maha Benar Allah, Yang Maha Agung. Al-Qur’an adalah bacaan agung, yang merupakan firman Allah Yang Maha Agung.
Kata “Adhim” pada dasarnya terambil dari kata a-dha-ma, yang berarti agung atau besar. Secara fisik, agung itu berarti besar, panjang, lebar, tinggi, sekaligus dalam. Ada yang bisa dijangkau dengan kasat mata, ada yang tidak. Gunung yang besar dan tinggi disebut agung karena kebesaran dan ketinggiannya, sekalipun masih dapat dijangkau oleh pandangan mata. Demikian juga binatang gajah disebut agung dibanding binatang lainnya karena fisiknya yang besar dan berat.
Di samping keagungan yang bersifat fisik atau materiel, ada juga keagungan yang bersifat immateriel, seperti keagungan perilaku atau akhlaq. Rasuullah saw dipuji oleh Allah karena akhlaqnya yang agung. Dia berfirman:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah orang yang berakhlaq agung (mulia).” (Al-Qalam: 4)
Semua keagungan makhluq Allah tetap terbatas, yang berarti terjangkau oleh akal. Hanya ada satu keagungan yang berada di atas semua jenis keagungan. Dialah Yang Maha Agung, Allah swt. Mata manusia tidak mampu memandang-Nya, dan akal manusia tidak dapat menjangkau hakekat wujud-Nya.
Allah Maha Agung karena keagungannya berada di atas segala yang agung, bahkan keagungan segala yang agung di dunia itu merupakan anugerah, kasih dan sayang-Nya. Allah Maha Agung, karena keagungan-Nya tak bertepi serta tidak dapat diukur dengan apa pun.
Allah Maha Agung karena akal manusia berlutut di hadapan-Nya. Jiwa manusia gemetar dan larut dalam cinta-Nya. Di hadapan-Nya semua wujud menjadi kecil dan tak berarti apa-apa. Semua makhluq membutuhkan pertolongan-Nya. Tiada suatu apa pun yang dapat menolak ketetapan-Nya.
Terhadap hal ini, Allah menegaskan melalaui firman-Nya dalam hadits Qudsyi: “Kebesaran adalah selendag-Ku, sedang Keagungan adalah pakian-Ku. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lempar dia ke neraka jahannam.” (HR. Abu Dawud).
Hadits di atas menegaskan dua hal. Pertama, kita harus senantiasa menyucikan nama-Nya dengan cara mengagungkan-Nya. Artinya, kita harus tetap meyakini bahwa tiada sedikit pun cela, kekurangan, dan sifat negatif pada Allah swt. Jika terbesit dalam hati kita keraguan tentang kesempurnaan Allah, maka kita harus segera beristighfar dan meminta ampunan-Nya.
Kedua, kebesaran dan keagungan itu hanya milik Allah. Dia-lah yang paling berhak menyandangnya. Sedangkan kita adalah makhluk-Nya yang hanya bisa menjadi agung dan mulia karena memuliakan-Nya, menjalankan syari’at-Nya, dan mengagungkan syia’ar-syi’ar-Nya. “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (QS. Al-hajj: 32).
Hamim Thohari