Kumpulan E-Book ada di sini

E-Book berbagai disiplin ilmu ada di sini. Cari pada label sesuai dengan keinginan anda. Dapat di download secara gratis.

Berita Seputar Dunia Pendidikan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kumpulan Artikel, Makalah, Opini, Cerpen, Resensi, dll

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Nasarrudin Umar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasarrudin Umar. Tampilkan semua postingan

Jalan Hidup Salikin: Dunia Mimpi



Hilm, Ru’yah, dan Manam
Mimpi yang diungkapkan dengan kata ru'yah umumnya mempunyai makna yang berdampak dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Dalam perspektif ilmu tasawuf, dunia mimpi dikenal dengan beberapa istilah. Istilah itu disesuaikan dengan sifat dan tingkat kualitas mimpi itu.

Istilah-istilah tersebut, antara lain, hilm, ru’yyah, manam, busyra, waqi'ah, dan mukasyafah. Dalam Alquran dan hadis pun sering digunakan istilah-istilah tersebut secara bergantian.

Kalangan ulama tasawuf membedakannya dalam tiga kategori. Pertama hilm, ru'yah, dan manam. Kedua, waqi'ah. Ketiga, mukasyafah.

Hilm, ru'yah, dan manam,  ketiganya berarti mimpi dan sering digunakan secara bergantian dalam Alquran. Hilm lebih sering digunakan dalam konteks mimpi yang dihubungkan dengan persoalan biologis. Kata hilm secara literal berarti mengisi, bermimpi, mencapai usia dewasa. Kata hilm ini lebih populer di kitab-kitab fikih.

Ini karena di sana hilm diartikan sebagai anak laki-laki yang sudah mencapai usia akil balig yang ditandai dengan pengalaman “mimpi basah”, yakni bermimpi dengan sesuatu yang menyebabkan keluarnya sperma.

Mimpi seperti ini menjadi kriteria seorang anak laki-laki disebut mukalaf, orang yang sudah memenuhi syarat dan dipandang cakap dan cerdas menjalankan perbuatan hukum. Baik hukum ibadah mahdlah maupun hukum-hukum keperdataan (muamalat), seperti bertransaksi dan menjadi saksi. Bagi anak perempuan, indikasinya ialah menstruasi (haid).

Contoh penggunaan kata hilm dalam arti ini, "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum sampai usia balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari, dan sesudah shalat Isya.”

“ (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan, Allah Mahamengetahui lagi Mahanijaksana.” (QS an-Nuur [4]: 58).


Ru'yah
Ru’yah berasal dari kata ra`a berarti melihat, bermimpi, mengerti. Dari akar kata ini lahir kata ru'yah atau ru'yayah berarti mimpi.

Mimpi yang diungkapkan dengan kata ru'yah umumnya mempunyai makna yang berdampak dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Berbeda dengan kata hilm yang lebih berdampak pada pribadi.

Kata ara atau ru'yah dalam arti mimpi diungkapkan Alquran beberapa kali. Seperti dalam ayat, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!'

Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." (QS as-Shaffaat [37]: 102).

Dalam ayat lain juga disebutkan, “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat 11 bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.'

Ayahnya berkata, 'Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia'." (QS Yusuf [12]: 4-5).

Kata inni ara fi al-manam (aku melihat dalam mimpi) dalam kedua ayat tersebut di atas ialah mimpi yang sering dialami oleh para nabi atau pembesar yang memiliki dampak lebih luas di dalam masyarakat.

 “Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), 'Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.”


“Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang takbir mimpiku itu jika kamu dapat menakbirkan mimpi.”

“Mereka menjawab, ‘(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menakbirkan mimpi itu. Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya,

'Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakbirkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)'. (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru),

“Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

“Yusuf berkata, ‘Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan’.” (QS Yusuf: 43-48).

Kisah Nabi Yusuf di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa ada kualitas mimpi yang mampu memberikan solusi terhadap problem sosial kemasyarakatan.

Seorang yang dekat dengan Tuhan akan mendapatkan petunjuk tidak hanya ketika ia sedang terjaga, tetapi juga ketika sedang tidur. Termasuk juga ia mampu menafsirkan mimpi orang lain yang berdampak pada kemaslahatan umat manusia.



Mimpi yang terungkap dalam diri seorang nabi diyakini mutlak kebenarannya dan mimpi itu dapat disebut bentuk lain dari wahyu.

Dalam perspektif ilmu tasawuf, dunia mimpi dikenal dengan beberapa istilah. Istilah itu disesuaikan dengan sifat dan tingkat kualitas mimpi.

Istilah-istilah tersebut, antara lain, hilm, ruy’yah, manam, busyra, waqi’ah, dan mukasyafah.

Dalam Alquran dan hadis pun sering digunakan istilah-istilah ini secara bergantian. Kalangan ulama tasawuf membedakannya menjadi tiga kategori. Pertama, hilm, ruy’yah, dan manam. Kedua,  waqi’ah dan ketiga mukasyafah.

Pada edisi sebelumnya, telah dikupas pengertian hilm dan ruy’yah. Sedangkan, manamat merupakan bentuk jamak dari manam, berasal dari akar kata nama-yanam, berarti tidur atau mengantuk, kemudian membentuk kata manam berarti mimpi.

Kata manam dan ruy’yah dapat disamakan pengertiannya. Dan, Alquran juga secara bergantian menggunakan istilah ruy’yah dan manam.

Bahkan, terkadang keduanya disandingkan untuk mengungkapkan pengalaman spiritual dalam bentuk mimpi sebagai sumber petunjuk.

Seperti, di dalam ayat, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’

“Ia menjawab, ‘Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS ash-Shaffat [37]:102).

Kata ara fi al-manam (aku melihat dalam mimpi) boleh jadi saling memperkuat satu sama lain (muqayyad) untuk meyakinkan bahwa apa yang dilihat dalam mimpi itu benar-benar adanya.

Hal ini wajar digunakan Tuhan karena terkait dengan nyawa seseorang, yaitu nyawa bagi anak semata wayang (Ismail) yang sudah lama didambakan nabi Ibrahim.

Ayat ini kemudian menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban setiap tahun bagi mereka yang memiliki kemampuan.

Sedangkan, busyra berasal dari akar kata basyara-yabsyuru berarti mengupas, memotong, memperhatikan. Dari akar kata ini lahir kata busyra yang dijelaskan Rasulullah SAW sebagai mimpi.

Sebagaimana dalam suatu riwayat yang berkenaan dengan ayat, “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS Yunus [10]: 64).

Selain itu, Abu Darda bertanya kepada Nabi tentang arti ayat ini. Lalu, dijawab oleh Nabi, “Belum pernah ada yang menanyakan kepadaku tentang ayat itu sebelum dirimu. Yang dimaksud ayat ini ialah mimpi baik yang dilihat oleh orang yang diperlihatkan kepadanya.”

Mimpi yang terungkap dalam diri seorang nabi diyakini mutlak kebenarannya dan mimpi itu dapat disebut bentuk lain dari wahyu.

Mimpi yang muncul dari orang yang bukan nabi atau rasul, sungguh pun itu dari seorang wali, tidak bisa dijadikan sebagai hujjah atau dasar hukum yang dapat dipedomani secara kolektif.

Namun, mimpi yang lahir dari para wali atau salik, inilah nanti yang kita sebut sebagai waqiah dan atau mukasyafah, yang akan diuraikan dalam artikel mendatang.

Mimpi dalam arti al-hilm lebih merupakan fenomena psikobiologis.

Pemandangan yang dilihat seseorang dalam tidurnya lebih merupakan endapan memori yang berkelanjutan di dalam diri seseorang sehingga di dalam tidur pun tetap berproses.

Mungkin, masa pubertas yang dialami seorang anak yang berada dalam tahap menjelang remaja (talent stage), yakni seorang anak mulai merasakan adanya misteri yang berhubungan dengan alat kelaminnya sehingga dibawa dalam mimpi.

Dia merasakan sesuatu yang amat khas di dalam dirinya dan  menyebabkan spermanya keluar. Sesungguhnya anak yang seperti ini berada pada awal kematangan seksual secara biologis.
Mungkin, ini sebabnya mengapa Rasulullah SAW menjadikan momentum “mimpi basah” ini sebagai faktor pembeda antara anak yang belum balig dan yang sudah balig bagi anak laki-laki. Dan, momentum menstruasi awal bagi perempuan.

Mimpi basah dan menstruasi menjadikan anak laki-laki dan anak perempuan sebagai mukallaf, yaitu orang yang sudah dianggap mampu mengembangkan tugas-tugas syariat. Karena itu, berdosa bagi mereka kalau meninggalkan kewajiban dan ketentuan syariat lainnya.

Mimpi, seperti yang digambarkan di atas, lebih merupakan fenomena biologis. Sedangkan, yang berkaitan dengan ketajaman mata spiritual ialah mimpi yang lebih merupakan reaksi dari fenomena keadaan spiritual seseorang.

Mimpi biasa tidak perlu latihan (exercise), tetapi penajaman mata batin. Di antaranya, melahirkan mimpi sebagai salah satu media bashirah. Inilah yang memerlukan upaya dan latihan, sebagaimana akan diuraikan dalam artikel mendatang.

Nassarudin Umar

Memahami Makna Al-Qur’an Lailatul Qadar



Ada isyarat dalam Alquran yang menekankan Jibril menyampaikan Alquran dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.  (QS al-Qadr [97]:1-5).

Redaksi yang digunakan surah al-Qadr ini menarik untuk dikaji. Pertama, yang perlu diperhatikan, mengapa menggunakan kata ganti (dhamir) “hu” yang kemudian para ulama tafsir memaknainya dengan Alquran dan ada juga dengan Jibril.

Lalu, mengapa menekankan al-qadr, bukan lailat al-qadha’? Mengapa penekanan pada malam (lailat al-qadr), bukan nahar al-qadr, bukankah justru di siang hari kita menunaikan puasa, salah satu rukun Islam? Apa sesungguhnya makna lailat menurut bahasa, jumhur ulama, dan kalangan sufi?
  
Kalangan ulama tafsir mengatakan bahwa yang turun pada malam Lailatul Qadar (LQ) ialah turunnya Alquran ke langit bumi secara sekaligus (al-inzal), kemudian turun berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan jibril.

Ketika wahyu Alquran masih menjadi Kalam an-Nafs atau  Kalam adz-Dzati, belum disebut Alquran. Nanti disebut Alquran ketika sudah ditransformasikan menjadi Kalam al-Lafdz, ketika sudah menggunakan huruf-huruf dan tanda baca yang berbahasa Arab. Saat masih dalam bentuk Kalam Nafs, tak seorang pun tahu wujudnya seperti apa dan menggunakan bahasa apa.

Dari Kalam an-Nafs ada yang pernah ditransformasi menjadi Taurat dengan menggunakan bahasa Hebrew (Ibrani) karena dialamatkan kepada Nabi Musa yang sehari-harinya menggunakan bahasa Hebrew.

Ada juga ditransformasikan ke bentuk Injil dengan menggunakan bahasa Suryani karena dialamatkan kepada Nabi Isa yang sehari-harinya menggunakan bahasa Suryani. Ketika ditransformasikan menjadi Alquran yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad, otomatis menggunakan bahasa Arab karena bahasa sehari-hari Nabi Muhammad adalah bahasa Arab.

Pertanyaanlebih lanjut, siapa yang “menghewbrewkan” Taurat atau “menyuryanikan” Injil dan “mengarabkan”Alquran? Apakah kitab-kitab tersebut sejak dari dulu menggunakan deretan bahasa itu atau Jibril yang berperan mengartikulasikannya kepada nabi-nabi tersebut sesuai dengan bahasanya masing-masing. Atau, Nabi yang menerima wahyu itu yang mengartikulasikannya ke dalam bahasa kaumnya. Kita belum mendapatkan informasi yang jelas tentang hal ini.

Ada isyarat dalam Alquran yang menekankan Jibril menyampaikan Alquran dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas.

“Dan sesungguhnya Alquran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS asy-Syura [26]:192-195).
  
Sedangkan, ayat lain mengisyaratkan Alquran sejak zaman azalinya sudah menggunakan bahasa Arab, sebagaimana dipahami di ayat berikut. “Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat kitab (Alquran) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS Yusuf [12]:1-2).
  
Dalam ayat lain Allah SWT mengisyaratkan Alquran turun dengan menggunakan cita-rasa Arab (lisanan ‘arabiyyan). “Dan sebelum Alquran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Alquran) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang lalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Ahqaf [46]:12).

Antara kata “qur’anan ‘arabiyyan” (Alquran  yang berbahasa Arab) dan “lisanan ‘arabiyyan” (Alquran  yang bercita rasa Arab) aksentuasinya berbeda. Yang pertama lebih menekankan Alquran menggunakan bahasa Arab secara ketat dan yang kedua menekankan Alquran menggunakan cita rasa Arab.

Namun, ada satu hadis dari Aisyah menerangkan bahwa wahyu yang paling berat diterima Nabi Muhammad ialah yang turun dalam bentuk bunyi lonceng. Kadang-kadang Nabi berkeringat di musim dingin. Begitu beratnya menerjemahkan suara bunyi lonceng itu ke dalam bahasa Alquran sebagaimana adanya sekarang. Hadis ini bisa dipahami seolah-olah yang membahasaarabkan Alquran ialah Nabi Muhammad Saw. Allahu a’lam.(bersambung)


Nassarudin Umar

Tentang Kasyaf



Kasyaf tidak hanya terjadi pada diri seorang nabi atau rasul yang dibekali dengan mukjizat, tetapi manusia biasa yang mencapai maqam spiritual tertentu juga bisa menyaksikannya.

Pada suatu hari yang amat panas, Rasulullah SAW berjalan menuju kompleks makam Baqi’ Al-Garqad.

Pada saat itu, sekelompok orang berjalan mengikutinya. Ketika mendengar suara sandal, Rasulullah sadar (kalau ia sedang dibuntuti). Nabi lalu mempersilakan mereka lebih dahulu.

Ketika mereka berlalu, tiba-tiba ia memerhatikan dua makam baru yang isinya dua laki-laki. Nabi berdiri dan bertanya siapa orang yang berada di dalam makam ini? Mereka menjawab fulan dan fulan. Mereka kembali bertanya kepada Rasulullah, apa gerangan yang terjadi dengan makam baru itu?

Rasulullah menjawab bahwa salah seorang di antara keduanya dulu tidak bersih kalau ia membuang air kecil dan yang satunya selalu berjalan menebar adu domba. Lalu Rasulullah mengambil pelepah daun kurma yang masih basah, sahabat bertanya untuk apa itu dilakukan? Dijawab oleh Nabi, “Agar Allah SWT meringankan siksaan terhadap keduanya.”

Mereka bertanya lagi, “Sampai kapan keduanya diazab?” Dijawab, “Ini hal yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah SWT. Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.” (HR Ahmad).

Dalam riwayat lain dijelaskan, Hanzalah bin Al-Rabi’Al-Usaidi berkata, “Abu Bakar datang kepadaku lalu bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan dirimu?’ Hanzalah menjawab, ‘Aku telah menjadi seorang munafik’.

Abu Bakar berkata, ‘Subhanallah, kamu berkata apa?’ Lalu, aku jawab, ‘Kita berada di samping Nabi saat Beliau menjelaskan kepada kita tentang surga dan neraka. Saat itu seolah-olah kita sedang menyaksikan surga dan neraka dengan mata kepala sendiri. Namun, ketika keluar dari majelis beliau, kita tenggelam dengan urusan anak istri dan hal-hal lain yang sia-sia, kita banyak lupa’.”

Abu Bakar bertanya, “Demi Allah sesungguhnya kami pun mengalami keadaan seperti itu?” Lalu, Abu Bakar berangkat hingga kami masuk ke ruangan Rasulullah, saat itu aku berkata, “Hanzalah menjadi seorang munafik wahai Rasulullah!”

Beliau bertanya, “Apa yang terjadi?” Lalu, aku jawab, “Kami berada di samping engkau saat engkau menjelaskan kepada kami tentang neraka dan surga. Saat itu seolah-olah kami melihat surga dan neraka dengan mata kepala sendiri. Namun, ketika kami keluar dari sisimu, kami tenggelam oleh urusan anak, istri, dan hal-hal yang sia-sia, kami banyak lupa.”

Lalu, Nabi menjawab, “Demi Zat Yang Maha Menguasai jiwaku, seandainya kalian terus-menerus mengalami apa yang kalian alami saat berada di sisiku dan terusmenerus berzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di tempat-tempat pembaringan kalian dan di jalan-jalan yang kalian lalui. Hanya saja wahai hanzalah, itu hanya terjadi sewaktu-waktu.” Beliau mengulang-ulangi perkataan ini tiga kali. (HR Muslim dan Tirmizi).

Dalam riwayat lain juga dijelaskan, sebagaimana diceritakan oleh Imam Bukhari dalam kitab Kitab “Jam’ul Fawaid”. Imam Bukhari meriwayatkan dari Usaid bin Hudhair, ketika ia membaca Surah Al-Baqarah di malam hari, sementara kudanya ditambatkan di sampingnya tiba-tiba kudanya meronta-ronta.

Ia menenangkan kudanya hingga tenang lalu melanjutkan bacaannya lagi, kembali kudanya meronta-ronta kemudian kembali menenangkan lagi. Kejadian ini berulang tiga kali. Ia juga memperingatkan anaknya bernama Yahya agar menjauhi kudanya agar tidak disakiti.

Usaid menengadah langit dan disaksikan ada naungan yang di dalamnya terdapat pelita besar. Ketika pagi tiba, ia melaporkan kejadian ini kepada Nabi. Nabi berkata, ‘Bacalah terus (Alquran itu) wahai Usaid!’ diulangi tiga kali. Aku juga menengok ke langit ternyata aku juga menemukan hal yang sama.

Nabi memberikan komentar, “Itu adalah para malaikat yang mendekati suaramu. Seandainya kamu terus membaca (Alquran) keesokan paginya manusia akan melihat para malaikat yang tidak lagi menyembunyikan wujudnya dari mereka.”

Ketiga hadis shahih di atas mengisyaratkan adanya penyingkapan (kasyaf), yaitu kemampuan seseorang untuk melihat atau menyaksikan sesuatu yang bersifat gaib, seperti melihat, mendengar, atau merasakan adanya suasana gaib. Apa yang disaksikan itu ber ada di luar kemampuan dan jangkauan akal pikiran manusia normal.

Kasyaf tidak hanya terjadi pada diri seorang nabi atau rasul yang dibekali dengan mukjizat, tetapi manusia biasa yang mencapai maqam spiritual tertentu juga bisa menyaksikannya, walaupun sudah barang tentu, kapasitas kasyaf tersebut berbeda dengan penyaksian yang dialami oleh para nabi atau rasul.

Kasyaf dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT. Hal itu ditekankan oleh Yusuf ibn Ismail An-Nabhani dalam karya monumentalnya berjudul “Jami’ Karamat Al-Auliya”.

Dalam kitab yang memuat biografi 695 wali (di luar wali-wali yang muncul di Asia Tenggara) itu, terlihat jelas betapa para wali rata-rata memiliki kemampuan untuk menggapai mukasyafah.

Termasuk di dalamnya Imam Ghazali, Ibnu Arabi, dan Imam Syafi’i. Bentuk kasyafnya bermacam-macam. Sesuai kondisi objektif kehidupan para wali tersebut.

Rasulullah SAW juga pernah menegaskan, “Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak mengajak kalian untuk banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.”

Dalam hadis lain, sebagaimana dinukilkan dari kitab “Ihya Úlum Al-Din”, Rasulullah berkata, ”Seandainya bukan karena setan yang menyelimuti kalbu anak cucu Adam maka niscaya mereka akan dengan mudah menyaksikan para malaikat gentayangan di jagat raya kita.”

Di dalam Alquran juga ada isyarat yang memungkinkan seseorang memperoleh kasyaf. Ada beberapa ayat yang mengisyarakatkan demikian. Di antaranya, ayat 37 Surah Qaaf. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.”

Ini diperkuat pula dengan ayat 69 Surah Al-Ankabut. Allah ber firman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan, sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Namun, Ibnu Athaillah mengingatkan kepada kita, jangan sampai lebih mengutamakan mencari kasyaf. Pernyataannya itu seperti termaktub dalam kitab “Hikam”-nya. Ia berkata, “Melihat aib di dalam batin lebih baik daripada melihat gaib yang tertutup darimu.”

“Boleh jadi Allah memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib kerajaan-Nya dan menutup kemampuanmu untuk meneliti rahasia-rahasia hamba-Nya, namun tidak berakhlak dengan sifat kasih Tuhan, niscaya penglihatannya menjadi fitnah baginya dan menyebabkan terperosok ke dalam bencana.”

Said Hawwa berkomentar dalam bukunya yang berjudul Tarbiyyatuna Al-Ruhiyyah”. Menurut nya, mengedepankan pesan khusus, jangan sampai kasyaf yang diperoleh malah menjadi hijab tebal bagi yang bersangkutan.

Pernyataan Said Hawwa ini sejalan dengan ayat Alquran, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain per kata an-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhan mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS Al-An’am [6]:112).

Dalam ayat lain disempurnakan, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami beri kan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Alkitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orangorang yang sesat.”

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung pada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti an jing jika kamu menghalaunya di ulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).” (QS al-A’raaf [7] : 175-177).

Ayat di atas memungkinkan seseorang yang sudah menggapai kasyaf, namun mendewa-dewakannya dan menceritakan kemana-mana pengalaman batin tersebut. Jika muncul perasaan bangga ketika ia mendapatkan pujian dari orang lain maka kasyaf inilah yang justru akan menjerumuskannya ke bawah.

Sebaliknya, ada pendosa besar jatuh ke bawah tetapi kemudian melenting kembali ke puncak, lantaran bangkitnya kesadarannya untuk melakukan pertobatan besar, sehingga ia berkeyakinan dosa yang baru saja dilakukannya adalah dosa terakhir dari seluruh dosa yang pernah dilakukannya.

Jadi, sebuah contoh yang kontras; seorang terjun ke dunia kehinaan lantaran takabur dalam menerima kasyaf. Sebaliknya, seorang pendosa besar lalu insyaf dan tobat, maka ia memantulkan diri ke atas melampaui tingkatan spiritual sebelumnya.


Menyingkap Misteri Maryam (7-habis)



Dan kedua, saat menceritakan pertemuan antara Maryam dan St Elizabeth, “Dan, Elizabeth telah terpenuhi dengan the Holy Ghost (Roh Kudus), dan dia telah berbicara dengan suara yang keras dan berkata beliau, ‘Telah dimuliakan kamu di kalangan perempuan dan telah dimuliakan buah dari rahim kamu’.” (Luke [1]:41-42).

Dalam tradisi Kristen, Maria sudah dipenuhi dengan berkah Tuhan (“God’s Grace”), tidak ada lagi ruang untuk diisikan dengan dosa.

Maria adalah holiness (kesucian). Maria adalah kemurnian (the purity), kecantikan (the beauty), kebaikan (the goodness), dan kerendahan hati (the humility). Maria adalah substansi kosmis dan sekaligus gambaran mikrokosmis.

Dalam Alquran, pengakuan akan kesucian Maryam juga ditemukan di sejumlah ayat, antara lain, “Maryam berkata, ‘Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!

Jibril berkata, ‘Demikianlah. Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS Maryam [19]: 20-21).

Hanya, dalam tradisi intelektual Islam, Maryam belum banyak dibahas dan dianalisis secara tuntas dan mendalam sebagaimana halnya dalam tradisi intelektual Kristen.

Tetapi, ini tidak berarti keberadaan Maryam tertutup kemungkinan untuk didalami. Banyak ayat dalam beberapa surah dalam Alquran yang berbicara tentang Maryam.

Sekiranya dilakukan metode tematik (maudhu’i) tentang siapa sesungguhnya Maryam, maka tidak tertutup kemungkinan kita akan memperoleh pemahaman mendalam tentang Maryam.

Setidaknya, beberapa kriteria kenabian sudah dimiliki Maryam. Artikel berikutnya kita akan membahas, “Apakah Maryam Seorang Nabiyyah?” Simak uraiannya pada edisi mendatang.



Menyingkap Misteri Maryam (6)



Kajian tematik (maudhu’i) tentang siapa sesungguhnya Maryam akan menguak pemahaman tentang hakikat Maryam. Setidaknya, beberapa kriteria kenabian sudah dimiliki Maryam.

Maria juga dilukiskan sebagai spouse of the Holy Spirit (pasangan Roh Ku dus) dan coredemptress (naik ke surga). Maryam ipso facto diidentifikasikan dengan the divine Sophia.

Ini wajar karena bagaimana mungkin Maria bisa menjadi lokus inkarnasi jika ia sendiri tidak memiliki wisdom yang akan diinkarnasi.

Syekh Isa mengisyaratkan bahwa Maria terlihat sangat Ilahi. Ia mengidentifikasikan beliau dengan uncreated wisdom yang sepertinya telah menghilangkan kemanusiaan beliau.

Kaum Kristiani harus hati-hati di sini karena mengilahikan Maria akan menimbulkan problem konseptual lebih lanjut. Kaum Kristiani tetap menekankan aspek kemanusiaan Maria yang kemudian menjadi lokus untuk inkarnasi Kristus.

Dengan menekankan aspek kemanusiaan Maria maka ia benar-benar meluarbiasakan Kristus. Maria berada pada posisi Sophia atau Logos yang mengikarnasi.

Dengan tetap menjadi manusia biasa, Maria sama sekali tidak bertentangan dengan keilahian (divinity). Malah dengan demikian, Maria bisa mengisyaratkan diri sebagai perempuan yang salehah, kemudian mendapatkan kekhususan dari Tuhan.

Maria seperti sengaja menutup dirinya sendiri yang penuh dengan misteri demi mengemban misi sejati Kristus. Dia tidak perlu dikenal dan populer, lalu mendekonsentrasikan perhatian umat kepadanya, tidak pada Kristus. Inilah divine femininity (feminitas Ilahi) yang ditampilkan Bunda Maria.

Namun, mereka juga seringkali mereferensi kepada St Luke, ada dua isyarat yang sangat penting tentang hakikat Maryam (haqiqat Maryamiyyah).

Pertama, dalam keterangan the Annunciation (pemberitaan): “Dan, malaikat datang kepadanya dan berkata, ‘Ketahuilah, kamu sangat disenangi, Tuhan bersama dengan kamu, kamu telah dimuliakan (atau diberkahi) di kalangan perempuan’.” (Luke [1]: 28).

Menyingkap Misteri Maryam (5)



Ada dua teks yang sangat penting sebagai sumber inspirasi untuk mengenal Maryam. Kedua teks ini sering dinyanyikan saat mengikuti misa khusus untuk mengenang bunda Maria. Teks pertama di dalam Proverbs 8:22-30:

“Tuhan telah memiliki aku pada awal pekerjaan-Nya, sebelum perbuatan-Nya yang dahulu kala. Aku sudah dibangunkan sejak azali, sejak pada permulaan, sebelum adanya bumi.”

“Pada saat tidak ada kedalaman, aku telah ditampilkan, sejak belum adanya pancuran yang berisi air. Sebelum gunung-gunung dibangun, sebelum bukit-bukit, aku telah ditampilkan.”

“Sebelum Dia membuat bumi atau padangpadangnya atau debu dataran yang pertama. Ketika Dia mempersiapkan langit-langit, aku ada di sana. Ketika Dia menggariskan lingkaran pada muka kedalaman. Ketika Dia menetapkan awan-awan di atas, ketika Dia mengukuhkan pancuran ke dalaman, ketika Dia menentukan batas kepada laut agar tidak akan melanggar titah-Nya, dan ketika Dia menetapkan dasar-dasar bumi.”

”Pada saat itu, aku ada di sebelah- Nya sebagai seorang yang telah dibesarkan bersama dengan-Nya; dan aku adalah kesenangan setiap hari-Nya, senantiasa bergembira di hadapan-Nya.”

Dalam redaksi lain ditemukan di dalam Wisdom of Solomon [7]:22- 30: “Dia adalah embusan kekuatan Tuhan, dan sebuah pengaruh murni yang mengalir dari keagungan Tuhan. Dia adalah terangnya cahaya abadi. Cermin kekuasaan Tuhan yang tidak ternoda, dan image kebaikan-Nya.”

“Dia bisa melakukan apa pun, dan tetap pada dirinya, dia membuat semuanya menjadi baru. Dia lebih cantik dari matahari, dan lebih tinggi dari semua bintang-bintang; ketika dibandingkan dengan cahaya, dia telah ada sebelumnya.”

Kidung-kidung ini sering dinyanyikan di dalam gereja untuk mengenang bunda Maria. Dalam misa yang diadakan di Eropa, banyak lagi kidung yang dilagukan tentang ke utamaan bunda Maria. Maria seolah tidak kalah agungnya dengan Sang Yesus Kristus itu sendiri.

Maryam sering dilukiskan sebagai “the immaculate conception” dan ia dinyatakan sebagai “Ruang Tuhan yang tidak Punya Ruang” (Space of the Spaceless God). Sebuah pernyataan yang mengisyaratkan bahwa “Hanya Sophia yang mengendalikan seluruh sirkuit langit-langit.” (Ecclesiasticus 24:5).




Menyingkap Misteri Maryam (4)



Pengagungan terhadap bunda Maria dalam tradisi Kristen melampaui kekaguman kelompok agama-agama Abrahamik lainnya, seperti Yahudi dan Islam.

Dalam literatur Kristiani, kesucian dan keperawanan Maria (Maryam) sangat ditekankan. Ini dapat dipahami karena dalam anggapan mereka, yakin betul kalau Yesus Kristus adalah anak Bapak (Tuhan).

Kalau dikesankan bunda Maria punya suami atau pernah bersentuhan dengan laki-laki lain, bisa menggugurkan atau paling tidak melemahkan kredibilitas Yesus Kristus.

Ini mengingatkan kita ketika pada abad permulaan Islam sangat di tekankan keummian atau kebutahurufan Nabi Muhammad SAW.

Karena begitu ketahuan Muhammad bisa membaca dan bisa menulis, akan mengurangi kredibilitasnya sebagai Nabi dan kewahyuan Alquran. Sebagai dampaknya, bisa dijadikan pembenaran anggapan orang-orang kafir ketika itu bahwa Alquran itu buatan Muhammad SAW.

Maria harus dipertahankan kesucian dan keperawanannya untuk mempertahankan ketuhanan Yesus Kristus. Serupa, kebutahurufan Nabi Muhammad harus dipertahankan untuk mempertahankan Alquran sebagai wahyu.

Belakangan, asumsi seperti ini mulai ditinggalkan. Tidak perlu mempertahankan kesucian Maria dari laki-laki lain demi mempertahankan ketuhanan Yesus Kristus.

Hal yang sama juga terjadi dalam Islam, tidak perlu mempertahankan kebuta hurufan Nabi Muhammad tanpa menganggapnya buta huruf. Pendekatan hermeneutika bisa digunakan untuk meng-clear-kan persoalan ini.

Pengagungan terhadap bunda Maria dalam tradisi Kristen melampaui kekaguman kelompok agama-agama Abrahamik lainnya, seperti Yahudi dan Islam. Bagir mengutip beberapa sumber yang digambarkan Maria sebagai Mahkota Kearifan (the Throne of Wisdom) atau Sedes Sapientiae yang sunyi dari keserupaan dari makhluk mana pun.




Menyingkap Misteri Maryam (3)



Dalam literatur kekristenan dijelaskan bahwa perempuan yang dimaksudkan di sini adalah Hawa yang telah tergoda dengan ular atau setan tersebut, dan akhirnya telah melanggar perintah Tuhan.

Ayat-ayat dalam Alkitab di atas cenderung memojokkan agama Kristen di mata kaum feminis, namun kaum feminis juga paham bahwa agama dan produk nilai-nilai kepercayaan luhur tidak selamanya saling menguntungkan dengan tidak mengindahkan sertifikat.

Wacana Hawa-Maryam seperti ini mengingatkan kita pada konsep Maya dalam perspektif agama Hindu yang dilukiskan sebagai “Divine Principle” yang berakar dari ketidakterbatasan Tuhan. Ia adalah “penyebab” Esensi Ilahiyah memancar keluar dari Diri-Nya ke dalam manifestasi. Maya adalah Hawa dan juga sekaligus Maryam.

Ia merupakan simbol perempuan penggoda (seductive) tetapi sekaligus dan perempuan membebaskan (pneumatic). Ia ”descendent” (an-nuzuli) tetapi sekaligus “ascendant” (al-su’udi). Ia mengasingkan (al-fariq) tetapi sekaligus menyatukan kembali (al-jam’).

Ia menghijab agar bisa berjuang memanifestasikan segala potensialitas Kebaikan Agung (the Supreme Good), tetapi juga menyingkapkan-Nya, agar ia memanifestasikan kebaikan yang lebih baik.

Berbagai akibat yang lahir dan muncul dari dosa Hawa, akan tetapi kesucian dan kemuliaan Maryam secara total akan menghapuskan dosa Hawa. Hawa dalam sudut pandang seperti ini, eksistensi dan puncak keilahian, tidak akan ada ambiguitas lagi, dan kejahatan (evil) akan menjadi terhapus“.

Pada puncaknya, apa pun selain dari al-Asl al-Ilahi (the Divine Principle) hanyalah “penampilan”; hanya Al-Haq yang benar-benar riil, dan maka itu Hawa secara tak terbatas telah dimaafkan dan mendapat kemenangan dalam Maryam.

Hubungan antara dua aspek feminin ini tidak hanya sebuah hubungan resiprokal di mana dosa Hawa dalam konteks proyeksi kosmogonis untuk bergerak ke arah ketiadaan yang menyebabkan Maya terlihat ambigu, tetapi ambiguitas ini adalah relatif. Ia sama sekali jauh dari kesimetrisan, keadaan ini tidak akan mengotori Maryam. Bahkan, Maryam akan secara total menghapuskan dosa Hawa.

Dalam Islam tidak dirinci secara eksplisit fungsi dan peran Hawa dan Maryam. Kita hanya menemukan dalam Alquran bahwa Hawa adalah figur personal yang lahir dari badan Adam tanpa ibu.

Sedangkan Maryam adalah figur personal yang lahir dari pasangan lengkap ayah dan ibu lalu ia melahirkan seorang putra (Nabi Isa AS) yang hanya punya ibu tanpa bapak. Contoh-contoh ini tentu ada hikmahnya dalam dunia kemanusiaan.

Menyingkap Misteri Maryam (2)



Akibat kekeliruan dilakukan Hawa/Maria maka kaum perempuan dinyatakan menanggung 10 macam kutukan, yaitu:

    Perempuan mengalami siklus menstruasi, yang sebelumnya Hawa tidak pernah mengalaminya di surga.
    Perempuan yang pertama kali melakukan persetubuhan mengalami rasa sakit.
    Perempuan mengalami penderitaan dalam mengasuh dan memelihara anak-anaknya. Anak-anak membutuhkan perawatan, pakaian, kebersihan, dan pengasuhan sampai dewasa. Ibu merasa risi manakala pertumbuhan anak-anaknya tidak seperti yang diharapkan.
    Perempuan merasa malu terhadap tubuhnya sendiri.
    Perempuan merasa tidak leluasa bergerak ketika kandungannya berumur tua.
    Perempuan merasa sakit pada waktu melahirkan.
    Perempuan tidak boleh mengawini lebih dari satu laki-laki.
    Perempuan masih ingin merasakan hubungan seks lebih lama sementara suaminya sudah tidak kuat lagi.
    Perempuan sangat berhasrat melakukan hubungan seks terhadap suaminya, tetapi amat berat menyampaikan hasrat itu kepadanya.
    Perempuan lebih suka tinggal di rumah.

Bandingkan juga dengan Kitab Kejadian [3]: 15 yang sering dianggap sebagai the protoevangelium:

“Dan Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu (benihmu) dan keturunannya (benihnya); keturunannya (benihnya) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Kalangan teolog Kristen sering mempertentangkan atau memperhadap-hadapkan antara figur Hawa dan Maryam, namun ada juga yang menganggap Hawa dan Maryam adalah sepasang perawan yang saling melengkapi.

Jika Hawa yang muncul dari Adam menjadi simbol kejatuhan manusia, maka Maria perawan suci yang melahirkan Nabi Isa adalah simbol kemenangan dan keterangkatan manusia ke langit atas.

Melalui simbol kesucian dan kasih sayang Maryam, maka manusia akan menguasai dosa yang diwariskan oleh simbol Hawa, sang pembawa bencana dengan kekuatannya sebagai penggoda (tempter).

Menyingkap Misteri Maryam (1)


Dalam literatur Islam, baik klasik maupun kontemporer, misteri Maryam masih sangat langka dibahas. Kitab-kitab Tafsir pun jarang menyingkap lebih jauh siapa sesungguhnya Maryam.

Padahal, di dalam Alquran, Maryam dijadikan sebagai sebuah nama surah dengan 98 ayat. Maryam lebih banyak dijelaskan sebagai ibunda Nabi Isa AS—nabi yang lahir tanpa bapak.

Peristiwa hamilnya Maryam tanpa pernah disentuh laki-laki cenderung diselesaikan dengan menyerahkan kepada kemahakuasaan Allah SWT, padahal ada sejumlah ayat menyatakan proses dan peran malaikat Jibril, seperti:

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Mahapemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam: 17-19).

Dalam tulisan ini tidak akan dikaji sudut pandang biologis Maryam dengan proses dan peran Jibril yang kemudian melahirkan Nabi Isa, akan tetapi tulisan ini akan mengkaji sudut pandangan esoteris kehadiran Maryam yang kemudian melahirkan Nabi Isa As.

Dalam pandangan esoteris, Maryam merupakan simbol orisinalitas kesucian (the original holiness) kebalikannya Hawa yang merupakan simbol orisinalitas dosa (the original sin). Maryam dan Hawa simbol dari sepasang karakter feminin.

Hawa menjadi simbol kejatuhan anak manusia ke bumi kehinaan dan Maryam menjadi simbol kenaikan anak manusia ke langit kesucian. Karena Hawa menggoda suaminya, Adam, maka anak manusia jatuh ke lembah kehinaan dan karena sang perawan suci Maryam melahirkan Nabi Isa, maka manusia diangkat kembali ke langit, kampung halaman pertama manusia.

Di dalam tradisi Talmud Babilonia, semacam kitab tafsir Taurat (Perjanjian Lama), Hawa dinyatakan sebagai penyebab dari segala sumber kehinaan dan malapetaka kemanusiaan sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Eruvin pasal 100 b.

Benarkah Maryam Seorang Nabiyyah? (6-habis)


Penampakan
Ibnu Arabi (638H/1240) mempunyai pengalaman rohani yang memandang perempuan lebih berpotensi untuk melakukan penampakan (tajalli/experience of teophany).

Hal ini bisa kita lihat di dalam artikel-artikel terdahulu tentang pendapat Ibnu Arabi soal potensi khusus yang dimiliki kaum perempuan.

Sebagaimana para sufi lainnya, Ibnu Arabi memberikan penilaian khusus untuk perempuan sebagai pemilik jenis kelamin utama. Ia pernah berkata di depan para muridnya yang mayoritas laki-laki.

“Jika kalian ingin memperoleh kedekatan khusus kepada Allah SWT, kalian terlebih dahulu harus menjadi perempuan.” Kepasrahan total dan kesabaran paripurna yang dimiliki perempuan membuatnya mulia di mata-Nya.

Para filsuf, termasuk Fakhr Ad-Din Ar-Razi (606 H/ 1209 M), menganggap perempuan tidak akan pernah menjadi nabi. Meskipun ada teks yang secara tegas menyatakan adanya pewahyuan terhadap perempuan.

Apa yang terjadi terhadap istri Nabi Musa, hal yang sama juga terjadi terhadap lebah madu, yang secara eksplisit juga menerima wahyu, wa auha Rabbuka ila an-nahl (QS An-Nahl [16]: 68).

Menurut Ibnu Hazm, yang dimaksud dengan kedua ayat tersebut ialah kerasulan laki-laki, tidak bisa dihubungkan dengan kenabian perempuan. Bagi Ibnu Hazm, lain nabi lain rasul.

Ibnu Hazm mengakui tidak ada rasul perempuan, tetapi ia juga mengakui adanya nabi perempuan. Ibnu Hazm menganggap Maryam sebagai nabiyyah meskipun ia bukan sebagai Rasul.

Bagi kita, apakah Maryam itu Nabiyyah atau bukan tidaklah menjadi persoalan penting. Yang paling penting buat kita ialah Maryam telah menjalankan misi spiritualnya yang teramat penting.

Ia telah mengandung dan melahirkan anak yang terkenal dengan Nabi Isa atau Yesus Kristus menurut agama Kristen. Misi utama Maryam-Nabi Isa telah berupaya untuk melangitkan manusia setelah dibumikan Hawa-Adam.

Ke halaman awal

Nasarrudin Umar


Benarkah Maryam Seorang Nabiyyah? (5)



Namun, opsi pandangan ini bisa disanggah. Kata al-rijal di dalam Alquran tidak selamanya berarti laki-laki secara biologis.

Kata al-rijal bisa juga berarti gender maskulin (QS Al-Baqarah [2]: 282), orang tanpa membedakan laki-laki atau perempuan (QS Al-A’raf [7]: 46), nabi atau rasul (QS Al-Anbiya’ [21]: 7), tokoh yang memiliki sejumlah kapasitas (QS Yaasin [36]: 20), dan budak (QS Az-Zumar [39]: 29).

Opsi kedua menganggap adanya kemungkinan nabi perempuan. Pendapat inilah yang didukung Ibnu Hazm, dengan penjelasan bahwa nubuwwah berasal dari kata inba’, berarti ‘berita atau informasi’.

Nabi adalah orang yang memperoleh informasi dari Tuhan. Informasi ini dibedakan ke dalam beberapa tingkatan, antara lain informasi berupa wahyu kepada para nabi, ilham kepada para wali, taklim kepada para awam, dan thabi’ah berupa informasi kepada segenap makhluk, termasuk binatang, sebagaimana halnya lebah (QS aA-Nahl [16]: 68).

Ibnu Hazm membedakan antara kenabian (nubuwwah/prophecy), keraguan (dzann), ilusi (tawaahum/illution), (kahana/divination), dan astrologi.

Wahyu yang turun kepada seseorang biasanya mempunyai cara atau proses. Pertama, wahyu melalui perantara malaikat Jibril dan yang kedua wahyu yang turun langsung kepada seseorang tanpa wasilah.

Wahyu yang turun kepada perempuan menurut Ibnu Hazm, antara lain Maryam diberi tahu akan lahirnya seorang bernama Isa dari rahimnya (QS Maryam [19]: 17- 19, Al-Maaidah [5]: 75, dan Yusuf [12]: 46).

Selain Maryam, putra Imran juga dikemukakan ibunda Isa, serta Asiah, putri Muzahim yang juga menjadi istri Firaun diindikasikan pula sebagai nabi, mengingat intensifnya pemberitaan Alquran tentang figur ideal perempuan tersebut.

Istri Nabi Ibrahim diberi tahu melalui Jibril bahwa dirinya akan memperoleh anak (QS Hud [11]: 71-73). Ibu Nabi Musa yang diperintahkan oleh Allah agar meletakkan anaknya di sungai dan diberi tahu bahwa anaknya nantinya akan menjadi nabi (QS Al-Qashash [28]: 7 dan QS Thaha [20]: 38).
Nasarrudin Umar

Benarkah Maryam Seorang Nabiyyah? (4)


Paruh kedua abad 4 H/10 M, Abu Bakar Muhammad bin Mawhab Al-Tujibi Al-Qabri (406 H/1015 M) seorang ulama besar di Andalusia, Spanyol, pernah mengeluarkan pernyataan kontroversial: perempuan boleh menjadi seorang nabi. Bahkan, tak segan ia menunjuk sejumlah perempuan sebagai nabiyyah.

Adalah Maryam, satu dari sekian nabiyyah yang ia sebutkan. Pendapat Al-Tujibi ini mendapat respons ulama kala itu. Reaksi keras muncul dari Abu Muhammad Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Ja’far Al-Ashili (392 H/1001 M).

Menurut dia, Maryam bukanlah seorang nabi, melainkan hanya sebagai shiddiqah, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Maidah [5]: 75.

Kontroversi ini berkembang luas di Kordoba. Akhirnya, diredam oleh Al-Mansur bin Abi Amir yang secara de facto adalah penguasa Andalusia di bawah kendali Bani Umayyah. Namun, ia tetap membiarkan adanya kalangan yang mendukung kenabian Maryam.

Tidak lama kemudian, muncul seorang pemuda cerdas, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Hazm Al-Andalusy (456 H/ 1064 M), yang juga mengakui adanya nabi perempuan, sebagaimana bisa dilihat di dalam karya besarnya, “al-Fahslu fi al-Milal wa al-Ahwai wa an-Nihal”, Juz V dalam sebuah topik khusus, ‘Kenabian Perempuan’ (Nubuwwah al-Mar’ah).

Kontroversi tentang kenabian perempuan di kalangan ulama dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian. Pertama, kelompok ulama yang menolak kemungkinan adanya nabi perempuan. Pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama.

Argumentasi mereka, yaitu Surah Yusuf [12]: 109 dan dengan redaksi yang mirip di dalam An-Nahl [16]: 43. Dinyatakan, “Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.”

Halaman Selanjutnya

Nasirrudin Umar

Benarkah Maryam Seorang Nabiyyah? (3)



Maryam juga berjumpa dengan Jibril. Bahkan, bukan hanya mengisyaratkan kepadanya wahyu, tetapi meniupkan roh yang kemudian menjelma menjadi Nabi Isa, kemudian Nabi Isa menjadi kalimat Allah (al-Kalimah), sebagaimana dalam firman-Nya:

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. (QS Ali Imran [3]: 45).

Kata kalimah dalam ayat ini memiliki banyak sekali interpretasi para ulama dan teolog, sebagaimana yang pernah dibahas dalam artikel terdahulu, terutama dalam: “Apa Makna Ayat menurut Para Sufi”.

Dalam ayat lain lebih tegas lagi menyebut Maryam “ayat”: “Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)-nya roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya’ [21]:91).

“Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (QS al-Mu’minun [23]: 50).

Setelah kita melihat berbagai keutamaan yang dimiliki Maryam, maka pertanyaan yang mengusik ialah mengapa Maryam tidak disebut nabiyyah menurut mayoritas ulama? Bukankah semua kriteria kenabian telah dimilikinya?

Pertanyaan yang sama juga muncul kepada sejumlah perempuan utama lainnya seperti Ummi Musa, yang secara eksplisit disebutkan ia menerima wahyu dari Allah (wa auhaina ila Ummi Musa, QS al-Qashash [28]:7).

Apakah memang perempuan tidak bisa menjadi nabiyyah? Siapa yang mencekal perempuan menjadi nabiyyah, apakah ada dalil tekstual atau logika, atau budaya misoginis yang sangat kental di dalam tradisi Semit?
Nasirrudin Umar

Benarkah Maryam Seorang Nabiyyah? (2)



Seorang Nabi atau Rasul biasanya disertakan kepadanya mukjizat. Mukjizat ialah suatu perbuatan luar biasa (amrun khariqun lil ‘adah) yang diberikan kepada para nabi untuk meyakinkan dirinya sebagai nabi.

Seperti perahu Nabi Nuh menantang tsunami, Ibrahim tidak terbakar oleh api, Sulaiman memerintah jin, angin, dan binatang buas, Musa diberikan tongkat ajaib yang bisa membelah lautan, dan Isa menghidupkan orang mati.

Mungkinkah perempuan menjadi nabiyyah?
Dalam beberapa artikel terdahulu dibahas misteri Maryam. Kali ini kita akan mengukur kapasitas yang dimiliki Maryam, apakah dia memenuhi unsur sebagai seorang ‘nabi perempuan’ (nabiyyah) atau tidak?.

Maryam memiliki berbagai kekhususan. Di antaranya Alquran sendiri memberikan pengakuan bahwa Maryam seorang yang shiddiqah yang diterjemahkan oleh Alquran terjemahan versi Kementerian Agama dengan “seorang yang sangat benar”:

“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar (shiddiqah), kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS al-Ma’idah [5]: 75).

Maryam juga memiliki keluarbiasaan, yaitu bisa mengandung dan melahirkan Nabi Isa dalam keadaan perawan suci tanpa pernah bersentuhan dengan laki-laki, seperti dilukiskan Alquran:

”Maryam berkata, ‘Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!’. Jibril berkata, “Demikianlah. Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.’ Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” (QS Maryam [19]: 20-22).

Nasarrudin Umar

Benarkah Maryam Seorang Nabiyyah? (1)



Kata nabi berasal dari bahasa Arab. Akar katanya naba’a berarti memberitakan atau memberitahukan, kemudian membentuk kata al-nabiy berarti orang yang mendapat berita dari Allah (man anba’a ‘anillah), nabi atau pembawa berita.

Kriteria seorang nabi dalam literatur Islam, antara lain, diturunkan kepadanya wahyu melalui perantara malaikat dan memiliki perbuatan luar biasa (mukjizat) yang bisa meyakinkan masyarakatnya.


Perbedaan antara nabi dan rasul ialah, nabi orang yang memperoleh wahyu dari Allah SWT hanya untuk dirinya sendiri, tidak wajib disampaikan kepada umat atau masyarakat.

Sedangkan rasul ialah seorang nabi yang memperoleh wahyu dari Allah dan wahyu itu wajib disampaikan kepada umat dan masyarakat. Dalam hadis sebagaimana diriwayatkan oleh Hakim dari Abu Dzar berkata, “Berapa nabi secara keseluruhan? Dijawab, “100.000 nabi”. Sedangkan rasul hanya diperkenalkan 25 orang dalam Alquran.

Istilah yang digunakan Alquran untuk mengidentifikasi seorang nabi atau rasul, antara lain, bisa dipahami secara eksplisit yaitu Allah menyampaikan wahyu kepada mereka, seperti kata wa auha … (saya wahyukan):

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS An-Nisaa’ [4]:163).

Biasa juga digunakan istilah “al-shiddiq” (orang yang amat dipercaya), seperti: ”(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru), “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya’ (al-shiddiq), terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” (QS Yusuf [12] :46).

Halaman Selanjutnya

Nasarrudin Umar

Kreativitas Ramadhan



The power of Ramadhan betul-betul faktual bagi umat Islam. Dilihat dari sudut pandang dan dimensi kehidupan apa pun, Ramadhan memberikan arti penting bagi umat Islam. Puncak-puncak prestasi peradaban dan kebudayaan dunia Islam hampir semua terjadi di dalam bulan suci ini.

Bulan Ramadhan bagaikan memiliki kreativitas secara khusus bagi umat Islam. Pantas kalau seluruh umat Islam selalu mendambakan kehadiran Ramadhan di dalam menjalani perjalan hidupnya.

Nabi SAW pun mengajarkan doa, Allahumma balligh wa barik lana Ramadhan (Ya Allah sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan dan berkahilah kami di dalamnya).

Bulan Ramadhan menjadi penting bukan hanya karena di dalamnya ada rukun Islam berupa puasa dan zakat atau banyaknya ibadah-ibadah sunah yang amat istimewa yang hanya ada di dalamnya.

Tetapi juga, fenomena Ramadhan juga terasa di dalam dunia ekonomi seperti geliat dinamika perkembangan pasar, mobilitas vertikal masyarakat dengan segala dampaknya, seperti kemacetan di jalan raya, kepesatan di bandara dan pelabuhan.

Bulan Ramadhan betul-betul berjumpa antara kesemarakan (scope) dan pendalaman (force) agama. Aspek kesemarakan dapat disaksikan bagaimana misalnya media massa secara spektakuler mengoptimalkan acara-acaranya selama 24 jam. Seolah-olah tidak ada selebriti yang menganggur pada bulan Ramadhan.

Konon, media-media publik meraup keuntungan berlipat ganda melalui iklan di dalam bulan Ramadhan. Hotel-hotel dan mal-mal didekorasi secara islami.

Aspek pendalaman dapat disaksikan dengan maraknya iktikaf di berbagai mesjid, kajian-kajian intensif untuk mendalami ajaran Islam semakin tumbuh dan berkembang, bukan hanya di dalam kampus, masjid/mushala dengan pesantren kilatnya, tetapi juga kantor-kantor dan acara buka puasa yang diisi dengan pendalaman agama.

Ternyata peristiwa-peristiwa paling monumental dalam dunia Islam banyak sekali terjadi di dalam bulan suci Ramadhan. Di antara peristiwa-peristiwa tersebut ialah pertama kali turunnya ayat suci Alquran sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai Nabi.

Kemenangan besar pasukan Rasulullah di dalam Perang Badr yang bersejarah itu, bertepatan pada 17 Maret 624 M atau 17 Ramadhan tahun ke-7 H.

Perebutan kembali kota Makkah (Fathu Makkah) juga berlangsung pada bulan Ramadhan 8 H, dan setahun kemudian berlangsung Perjanjian Tsaqif yang monumental itu. Peristiwa lainnya adalah Diplomasi Qadasiayah yang membawa keuntungan besar bagi umat Islam yang terjadi dalam Ramadhan 15 H.

Penaklukan Rodesia berlangung pada Ramadhan 53 H, Perang Andalusia Spanyol (Ramadhan 91 H), penaklukan kota Spanyol (Ramadhan 92 H), serta runtuhnya Daulat Bani Umayyah yang dinilai sudah banyak korup digantikan rezim baru Bani Abbasiyah (Ramadhan 132 H).

Kejadian lainnya adalah Pemisahan diri Mesir dari Dinasti Abbasiyah (Ramadhan 253 H), pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir, Universitas tertua di dunia (Ramadhan 361 H) oleh Dinasti Fatimiyah (Syi'ah).

Salahuddin al-Ayyubi juga menghalau pasukan Salib dan merebut Kota Surya pada Ramadhan 584 H, Pasukan Salib dikalahkan di Baibars (Ramadhan 675 H), dan beberapa negara Islam memperoleh kemerdekaan dari penjajah dalam bulan Ramadhan, termasuk Negara Republik Indonesia.

Sejumlah pusat kerajaan lokal di kepulauan nusantara menyerah kepada sistem pemerintahan yang bercorak Islam (Sulthan), termasuk di antaranya Kerajaan Bone Sulawesi Selatan, kerajaan terakhir di kawasan Timur Indonesia menyerah ke pemerintahan baru bercorak yang Islam juga pada Ramadhan.

Peristiwa demi peristiwa yang menakjubkan di atas tentu bukan hanya terjadi pada masa lampau tetapi juga akan terjadi pada diri kita. Semoga kreativitas dan kualitas Ramadhan kita kali ini jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Nasarrudin Umar