Kumpulan E-Book ada di sini

E-Book berbagai disiplin ilmu ada di sini. Cari pada label sesuai dengan keinginan anda. Dapat di download secara gratis.

Berita Seputar Dunia Pendidikan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kumpulan Artikel, Makalah, Opini, Cerpen, Resensi, dll

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Komaruddin Hidayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komaruddin Hidayat. Tampilkan semua postingan

Menggali Kekuatan Anak


Pelajaran apa yang bisa kita petik dari tubuh ringkih Syaikh Ahmad Yassin? Jalan tak kuat, mata tak bisa melihat, suaranya lirih, tetapi ia mampu menggerakkan ribuan manusia. Kata-katanya berpengaruh, ucapannya didengar dan nasehatnya dihormati meski jasadnya sudah tidak ada lagi, akibat bom besar yang sengaja diledakkan oleh Israel. Kematiannya juga mengajarkan kepada kita bahwa tubuh ringkih itu lebih besar pengaruhnya daripada anak-anak muda yang tegap jalannya, sehingga untuk membunuhnya, Israel perlu menyiapkan bom-bom ukuran besar.
Apa yang bisa kita pelajari dari Jenderal Sudirman? Paru-parunya tinggal satu, melangkah dengan tegap ia tak mampu, tetapi acungan telunjuknya diikuti dengan patuh. Tubuhnya lemah, tetapi ke-pemimpinannya sangat kuat. Ia tak mampu melakukan orasi yang memukau, tetapi integritas priba¬dinya menjadi kekuatan yang menggentarkan lawan dan menggetarkan kawan. Ia adalah seorang pemimpin yang sangat berpengaruh.
Apa yang mengantarkan Habibie Afsyah sukses menjadi pebisnis on line? Jari-jarinya cuma satu yang bisa dipakai mengetik, kakinya lumpuh, dan fisiknya lemah. Tetapi ia mampu menarik minat banyak orang untuk berbelanja on line melalui situs-situsnya. Ia bukan orang jenius, tetapi ia mampu mengem¬bangkan potensinya secara jenial.
Kisah orang-orang besar ini mengajarkan kepada kita betapa keliru dan sesatnya peribahasa yang me¬ngatakan, “Men sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.” Justru se¬baliknya, jiwa kitalah yang lebih menentukan. Jika jiwa kita sakit, maka tubuh yang kuat sekali pun tak dapat memberikan manfaat bagi hidup kita. Sebaliknya, tubuh yang kuat tidak dengan sendirinya me¬nyebabkan jiwa kita sehat dan kuat. Bukankah banyak penjahat dan penipu yang badannya tegap, su¬aranya mantap dan bicaranya memikat? Tubuh mereka sehat, tetapi jiwa mereka ringkih dan sakit.
Sekali lagi, kita dapat mengambil pelajaran penting dari kisah yang lebih dramatis. Saya mendapat¬kannya dari sebuah buku bertajuk Saat Hidayah Menyapa yang dihadiahkan oleh penulisnya, Ustadz Fariq Gasim Anuz kepada saya. Buku ini bertutur tentang ‘Abdullah bin Umar Bani’mah, seorang ustadz di Jeddah yang tidak mampu menggerakkan anggota badannya dengan baik. Ia lumpuh, lehernya pa¬tah sehingga menggeleng pun luar biasa sulit, suaranya tidak bisa lantang dan duduk di kursi roda pun bukan pekerjaan mudah baginya. Dibanding Syaikh Ahmad Yassin, ‘Abdullah Bani’mah lemah fisiknya. Hanya saja, ‘Abdullah Bani’mah tidak mengalami kebutaan.
Tetapi….
Di balik ringkihnya tubuh ‘Abdullah Bani’mah yang tak berdaya, Allah Ta’ala memberikan kekuatan yang sangat besar dalam menggerakkan manusia. Banyak orang terinspirasi setelah mendengar ceramah¬nya. Bukan karena gaya bicaranya yang memukau. Bukan. Ia bukan seorang orator. Tetapi kata-katanya berpengaruh karena kekuatan jiwa yang menuturkannya. Isinya padat, penyampaiannya lugas, gaya bicaranya datar, dan tidak menggunakan trik-trik komunikasi publik yang memikat. Tetapi Allah Ta’ala jadikan pembicaraannya sebagai wasilah (perantara) turunnya hidayah kepada ribuan jiwa manusia. Allah Ta’ala karuniakan kepadanya kekuatan bicara yang berbobot dan menggetarkan.
Bercermin pada kisah mereka, kita belajar bahwa kecerdasan saja tidak cukup, meskipun ia bernama kejeniusan. Kesempurnaan fisik saja tidak cukup, meskipun ia memiliki kemampuan melihat yang keta-jamannya melebihi orang lain. Keterampilan saja tidak cukup, meskipun ia melakukan pekerjaan yang sangat rumit dalam waktu sekejap secara sempurna. Betapa banyak orang yang memiliki bakat berlim¬pah (jika Anda percaya bakat itu ada) dan kemampuan yang menakjubkan, tetapi mereka gagal menge¬lola dirinya sehingga memberi manfaat terbaik bagi dirinya, orang lain dan terutama agama ini.
Sebaliknya, kita telah belajar dari sejarah masa lalu maupun kisah yang masih berlangsung hingga hari ini, betapa banyak orang yang memiliki setumpuk kekurangan dan bahkan hampir-hampir tak ada ke-lebihannya sama sekali, tetapi mereka mampu mengukir kebaikan di atas lembar sejarah hidupnya karena jelasnya tujuan, kuatnya tekad, dan besarnya daya tahan untuk menghadapi berbagai kesulit¬an. Mereka berhasil melakukan hal-hal besar bukan karena memiliki kemampuan yang sangat besar, tetapi karena besarnya penghargaan mereka terhadap hidup sehingga menjaganya dengan hati-hati agar dapat mempertanggung-jawabkan di hadapan Allah Ta’ala di Hari Akhir nanti. Mereka menjaga nilai hidupnya dengan melakukan hal-hal yang memberi manfaat dan bersungguh-sungguh dalam menjalaninya.
Mari kita tengok sejarah! Apa yang terjadi pada para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in? Lihatlah para bekas budak dan ahlus-suffah yang tak berdaya itu. Mereka datang menghadap raja, berbicara dengan penguasa negeri lain, dengan langkah tegap dan kepala tegak. Mereka memiliki harga diri yang tinggi dan kepercayaan diri yang sangat kuat. Sepeninggal Rasulullah, para bekas budak itu telah menjadi orang-orang terhormat yang kata-katanya didengar dan nasehat¬nya dinanti.
Apa yang telah mengubah mereka? Iman. Perubahan yang menjadikan mereka berdiri sama tegak dan berbicara sama tegas. Bukan karena mereka pongah, tetapi karena mereka memiliki ‘izzah (harga diri) dan ‘iffah (kendali diri) yang kuat.
Keimanan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla telah meng¬ubah cara pandang mereka tentang manusia, sehingga mereka tidak rendah diri karena kekurangan dan tidak pongah karena kelebihannya. Mereka menerima segala kekurangan dan menyadari kelemah¬annya. Mereka menempatkan kelebihannya sebagai bukti kesempurnaan ciptaan-Nya yang harus di¬pertanggung-jawabkan. Bukan untuk bertepuk dada di hadapan manusia. Begitu urusannya dengan Allah Ta’ala, semuanya kecil karena hanya Allah Ta’ala yang Maha Besar. Dan semuanya besar sehingga tak ada yang boleh direndahkan tanpa hak, karena Allah Yang Maha Besar penciptanya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Keyakinan kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan salah satu aspek yang berpengaruh besar terhadap kualitas pribadi seseorang. Perpaduan berbagai kualitas pribadi menjadikan seseorang sebagai sosok yang unik, berbeda dengan orang-orang lain. Inilah yang kemudian dalam psikologi disebut sebagai karakter. Inilah yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang, terutama saat menghadapi situasi-situasi sulit dimana tak ada tempat bagi kepura-puraan. Ketika Anda sedang dalam situasi yang sangat membahayakan, atau menyulitkan, bersifat mendadak sehingga tak ada waktu bagi Anda un¬tuk bersiap-siap, maka Anda tak punya waktu untuk berpura-pura. Anda akan menampilkan jati diri Anda apa adanya. Itulah yang menggambarkan siapa Anda sesungguhnya. Dan itulah karakter!
Jadi, karakter bukanlah serangkaian perilaku dan kebiasaan yang baik. Karakter merupakan serangkaian kualitas pribadi yang menjadikan diri kita sebagai manusia yang unik. Dan inilah kekuatan besar yang harus kita bangun dalam diri anak-anak kita. Kita menemukan apa yang sungguh-sungguh penting, menginspirasikannya dan membangunnya hingga kokoh. Bukan mengajarkannya sebagai pengetahuan.
Nah, insert teks: Keyakinan kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan salah satu aspek yang berpengaruh besar terhadap kualitas pribadi seseorang. Perpaduan berbagai kualitas pribadi menjadikan seseorang sebagai sosok yang unik, berbeda dengan orang-orang lain.

Mohammad Fauzil

Mempersiapkan Anak Mempunyai Adik Baru



Apa yang dialami anak ketika adiknya lahir? Perhatian yang tiba-tiba hilang, keber¬samaan yang tiba-tiba lenyap dan kasih-sayang yang mendadak terenggut dari si¬sinya.

Anak kehilangan itu semua tanpa mengerti sebabnya dengan jelas, dan tanpa ada kesiapan sebelumnya. Tiba-tiba saja ibunya pergi ke tempat bersalin dan selama satu atau dua hari anak kehilangan anugerah berharga yang biasa ia terima dari ibunya, yakni perhatian, kebersamaan, dan kasih sayang. Setelah itu, ibunya kembali ke rumah dengan anggota baru yang bernama adik.

Hari-hari berikutnya, praktis perhatian ibu lebih banyak tercurah kepada adik. Begitu pun orang lain, lebih banyak memberi perhatian kepada adik daripada dirinya. Pada saat yang sama, tak jarang anak dituntut untuk memberi perhatian, seku¬rang-kurangnya “punya pengertian”. Ini merupakan proses perubahan yang tiba-tiba. Tidak ada kesiapan mental sebelumnya.

Ada beberapa reaksi psikis yang bisa terjadi pada anak. Pertama, anak mengalami kecemasan berpisah dengan ibunya (separation anxiety) sehingga kehadiran adik membuat¬nya merasa tidak nyaman, terancam, dan menakutkan.

Ia cemas bakal kehilangan ibunya. Bentuknya bisa berupa kuatnya possessiveness, yakni rasa memiliki yang disertai keingi¬nan menguasai. Awalnya anak mendekat kepada ibunya. Selanjutnya sangat bergantung kepada bagaimana ibu menghadapi anak.

Bentuk lain adalah withdrawal, yakni anak me¬narik diri. Anak menunjukkan sikap murung, berubah menjadi pendiam atau menunjuk-kan sikap cengeng. Ia mudah menangis oleh sebab-sebab sepele.

Kedua, anak merasa cemburu kepada adiknya. Ia melihat adik sebagai penyebab hilangnya perhatian dan kasih-sayang orangtua. Bentuk kecemburuan itu bisa ditunjuk¬kan secara terbuka, bisa juga tidak. Kecemburuan yang ditunjukkan secara terbuka antara lain berupa sikap menyerang secara lisan maupun fisik. Bisa kepada adik, kepada ibu, juga kepada keduanya. Terkadang anak juga menunjukkan sikap menghalangi orangtua menggendong atau memandikan adik secara terang-terangan, dan meminta orangtua –dalam hal biasanya ibu—agar melakukan hal tersebut untuk dirinya.

Apa yang seharusnya dilakukan ibu saat mengha¬dapi anak bersikap seperti ini? Bersyukurlah. Ini merupakan saat yang tepat untuk memberi perhatian secara efektif. Caranya, ajaklah ia bi¬cara. Biarkan anak mengungkapkan isi hatinya, baik yang mengenakkan untuk didengar atau pun tidak. Jika ia tam¬paknya sudah mengungkapkan semua –saya sering menye¬but “gelasnya sudah kosong”—barulah kita mengisinya. Kita beri pengertian kepadanya yang membuat ia bisa memahami sekaligus merasa dirinya diterima, diperhatikan dan tidak disisihkan.

Katakan, misalnya, “Anin kangen sama ibu, ya…. Iya, Nak. Ibu juga kangen sa¬ma Anin. Dari tadi ibu meneteki adik. Ibu ingin ketemu Anin, memeluk Anin dan memang¬ku Anin. Adik juga sayang sama Anin. Adiknya nyari, Mas Anin mana, ya?”
Komunikasi yang hangat, terbuka dan dilakukan dengan kesediaan ibu mende¬ngar isi hati anak, insya Allah akan cepat meredakan rasa cemburu maupun kemarahan anak. Masalah justru akan memuncak bila kita menunjukkan reaksi marah terhadap sikap anak. Ini akhirnya menciptakan medan perseteruan dengan anak.

Selain menunjukkan kecemburuannya secara terbuka, sebagian anak menunjuk¬kannya secara “tersembunyi”. Ia cenderung mengalihkan rasa cemburu itu atau biasa dikenal dengan istilah anger instead (pengalihan kemarahan). Ada beberapa bentuk anger instead yang biasa muncul, antara lain: sabotase, sakit fisik, monologuing, agresi pasif, dan displacement.

Sabotase bisa berupa menyembunyikan popok adik, sakit fisik bisa berupa badannya memang benar-benar sakit –biasanya demam—bisa juga berpura-pura sakit untuk memperoleh simpati. Monologuing adalah perilaku ngomel sendiri. Sementara agresi pasif merupakan kemarahan yang tidak diekspresikan secara langsung kepada adik ma-upun ibunya. Ngambek, misalnya. Bentuk lain adalah displacement. Anak mengalihkan rasa cemburu atau kemarahan itu kepada benda-benda. Ia jadi suka banting sendok, gelas maupun pintu.

Selain dua hal tersebut beserta bentuk-bentuk perilaku yang bisa kita amati, anak juga bisa menunjukkan reaksi psikis berupa munculnya regressive behavior (perilaku regresif). Anak ingin diperlakukan kembali seperti bayi karena ia meli¬hat bahwa bayi lebih disayangi. Salah satu pemicunya adalah komentar kita sendiri se¬bagai orangtua, “Adikmu kan masih bayi. Jadi harus disuapin, dimandiin. Belum bisa sen¬diri.”

Apa pun yang dilakukan anak, semuanya merupakan bekal yang sangat berhar¬ga bagi orangtua agar bisa memberi perlakuan yang tepat. Menyikapinya dengan positif, akan menuntun kita untuk menemukan jalan pemecahan yang terbaik.

Agar Anak Menerima Adiknya
Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar lahirnya adik, menjadi kabar gembira bagi semua, terutama kakaknya. Beberapa catatan berikut insya Allah dapat kita pertimbangkan:

Sebelum Adik Lahir
§ Kondisikan
Sejak ibu positif hamil, komunikasi sudah harus dimulai. Kabarkan kepada anak bah¬wa kelak, insya Allah ia akan punya adik. Saat ini juga, kondisikan anak untuk mulai menerima kehadiran anggota keluarga yang baru. Perlahan-lahan siapkan anak untuk lebih mandiri, sekaligus beri pujian bahwa ia sudah besar.

§ Asyiknya Punya Adik
Saat bayi dalam kandungan sudah bisa menendang-nendang perut ibu misalnya, pegangkan tangan anak ke perut ibu. Tunjukkan “yang lucu” padanya. Katakan bahwa adiknya ingin mengajak kakaknya main-main. Dari sini, sampaikan betapa asyiknya nanti kalau sudah punya adik, bisa bermain-main bersama. Dengan demi¬kian, anak sudah mulai menunggu kelahiran adik. Anak mulai tumbuh rasa sayang¬nya sebelum adiknya lahir.

§ Tumbuhkan Tanggung-jawab dan Kepercayaan
Usahakan untuk memiliki saat-saat berdua yang akrab dengan anak. Ajaklah bicara dari hati ke hati. Besarkan hatinya dan tunjukkan bahwa ia sudah besar. Tumbuhkan pula kepercayaan pada anak. Sampaikan bahwa anak bisa menunggui adiknya, bisa membantu mengambilkan popok, dan se¬terusnya.

Sampaikanlah apa yang menjadi tanggung-jawabnya sebagai bentuk kepercayaan kita kepadanya. Bukan sebagai tuntutan yang membebani.

Menjelang Adik Lahir
§ Beri Gambaran Sebelumnya
Sampaikan kepada anak beberapa minggu sebelum hari perkiraan lahir tentang akan lahirnya adik. Beri gambaran kepadanya bahwa ibu akan berada di rumah sakit untuk beberapa saat. Kalau sudah bersalin nanti, ibu ingin ia menengok dan menema¬ni ibu beserta adik agar adiknya bisa segera bertemu kakaknya. Beri gambaran tentang situasi yang dihadapi di awal-awal.

§ Dekatkan Hatinya
Semakin mendekati kelahiran, Anda semakin perlu menunjukkan betapa asyiknya punya adik dan betapa adik sayang padanya. Tunjukkan bahwa adik nanti ingin ber¬main-main bersama kakaknya. Tetapi ceritakan juga bahwa awal-awal lahir adiknya belum bisa melihat dan belum bisa bicara. Ini bahkan perlu kita sampaikan sedari awal.

Setelah Adik Lahir
§ Adik Sayang Padanya
Saat-saat awal lahir, yang sangat penting untuk Anda tunjukkan adalah bahwa yang baru lahir itu adalah adiknya. Tunjukkan wajah gembira Anda ketika ia pertama kali muncul. “Itu kakak. Ini adiknya sudah nunggu. Adik kangen sekali dengan kakak. Adik ingin ketemu.” Sampaikan bahwa adik sayang sekali padanya, sehingga ia juga akan menyayangi adiknya. Bukan sebaliknya, menyuruh agar ia sayang pada adik¬nya. Boleh saja kita menyampaikan pesan seperti itu, tetapi setelah menunjukkan bah¬wa adik sayang padanya.

§ Tunjukkan Perhatian dan Kerinduan
Setiap kali ada kesempatan yang leluasa, beri perhatian yang hangat kepada anak. Tunjukkan kerinduan Anda dan kerinduan adiknya kepadanya. Sehabis dimandikan, ketika bayi merasa tenang, Anda bisa panggil ia untuk berbaring di dekat bayi se¬hingga ia merasa dekat.

Mohammad Fauzil

Yuk Ngobrolin Makanan!



BERBICARA tentang makanan biasanya akan membawa kita pada imajinasi tentang sesuatu untuk dikonsumsi agar dapat memenuhi hajat akan energi untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.

Makanan dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan fisik meskipun ada pula yang memberi konotasi sebagai nutrisi untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bersifat fisik, tapi spiritual atau jiwa. Biasanya makna kedua ini merujuk pada kebutuhan terhadap siraman jiwa yang berupa ajaran agama, nasihat tentang kearifan ataupun ekspresi cinta, kasih sayang atau perhatian. Kedua pengertian tersebut sama-sama mengasumsikan perlunya asupan yang baik dan sehat seperti yang juga diperintahkan Alquran surah Al-Baqarah ayat 57 “kuluu min thayyibat ma razaqnakum” yang artinya makanlah yang baik-baik yang telah kami berikan kepadamu.
Ayat di atas mengindikasikan apa yang kita makan itu penting untuk mendapat perhatian. Artinya, makanan bukan sekadar untuk mengenyangkan, melainkan memiliki makna lebih dalam dari itu. Ada pepatah mengatakan, you are is what you eat, artinya siapa dirimu tercermin dari apa yang kamu makan. Ini menunjukkan, makanan apa yang kita konsumsi sedikit atau banyak merepresentasikan siapa kita, bagaimana cara pandang kita tentang banyak hal. Orang yang mengikuti gaya hidup vegetarian, yaitu menghindari makanan yang berasal dari hewan misalnya, berpandangan bahwa sebagai sesama makhluk hidup, hewan tidak berhak untuk menderita karena penyembelihan oleh manusia.
Karenanya hewan tidak menjadi bagian dari menu mereka. Bagi umat Islam dan Yahudi, babi juga dianggap makanan yang tidak boleh dikonsumsi sehingga ada istilah makanan halal bagi kaum muslim atau kosher bagi kaum Yahudi. Bahkan cara pandang seperti itu telah melahirkan institusi yang menangani dan mengawasi kehalalan makanan bagi muslim di Indonesia seperti Majelis Ulama Indonesia. Selain makanan berkorelasi dengan ideologi seperti dicontohkan di atas, dia juga memiliki kaitan erat dengan tingkat adaptability dan keterbukaan ataupun sebaliknya dengan tingkat resistensi dan kekakuan seseorang dalam menerima sesuatu yang baru atau berbeda.
Saya teringat cerita kawan saya yang saat itu baru saja sampai di sebuah kota di Amerika untuk belajar. Sebagai orang yang datang dari kampung, dia bercerita betapa sulitnya ketika pertama kali dia makan burger. Karena dalam bayangannya dan berdasarkan kebiasaan dia di kampung, roti itu mestilah dimakan dengan mentega dan cokelat atau tambahan lain yang rasanya manis. Ketika dia menemukan roti yang dimakan dengan sayuran, daging, dan saus tomat ditambah lagi rasanya pun asin, pikirannya menolak dan itu langsung tergambar dari reaksi fisiknya yang tidak mau menelan makanan tersebut.
Ada semacam perasaan this is not right, ini tidak semestinya begini, ini keliru, ada yang salah dan seterusnya sehingga makanan yang terasa “asing” itu tidak bisa lolos sensor tenggorokannya. Keluar dari comfort zone atau wilayah nyaman memang tidak mudah. Pasti akan menimbulkan kekhawatiran, ketidakpastian, dan ketidaknyamanan atau unheimlich (not feeling at home). Sebagai reaksi terhadap kondisi ini, ada orang yang mau berusaha mencoba memahami sesuatu yang baru tersebut, ada pula yang resisten atau daya tolaknya tinggi dan menganggap apa yang berbeda dari apa yang pernah dia tahu dan alami adalah keliru dan tidak baik.
Inilah yang sering disebut dengan subjektivitas. Subjektivitas sesungguhnya adalah sesuatu yang alamiah. Karena pengalaman seseorang dan pengetahuan yang dia dapat semenjak masa kecil dari keluarga atau pergaulan akan membentuk cara pandang seseorang sehingga pikiran, cara pandang, selera, dan cara berperilakunya pun tidak bisa lepas dari pengaruh pengalaman subjektif tadi. Karenanya, kita akan menyaksikan seseorang memiliki pandangan sama atau berbeda dengan orang lain. Adik-kakak, teman satu negara atau teman satu pesantren sangat mungkin akan memiliki cara pandang yang sama dalam beberapa hal, tetapi juga berbeda dalam hal lain.
Pernah suatu ketika saya mengajak kawan untuk makan sushi, makanan Jepang yang berupa nasi yang digulung dengan berbagai rasa dan diberi garnish atau hiasan sedemikian rupa. Kawan ini bilang, “Ah, lebih enak lemper daripada sushi. Lagian kan sama-sama dari beras, tapi kan rasanya jauh lebih enak lemper.” Bagi saya, komentar ini tidak mengherankan karena bagi seseorang yang dibesarkan di sebuah kota kecil di Yogyakarta, maka fore-structures atau kekayaan informasi, pengalaman, dan imajinasi yang sudah tertanam dalam benaknya semenjak kecil, khususnya tentang apa itu makanan enak dan tidak enak, tentu saja ditentukan oleh pengalaman tersebut.
Dan berdasarkan pengalaman itu pula, dia mendasarkan judgment-nya bahwa A lebih enak dari B atau sebaliknya. Berpendapat subjektif tentang rasa makanan tersebut tidaklah salah, bahkan itu adalah sesuatu yang alamiah saja. Yang hendaknya dihindari adalah mengatakan bahwa subjektivitas yang satu lebih baik atau lebih benar dari subjektivitas yang lain. Karena pada dasarnya, tiap klaim tadi lahir dari sebuah keniscayaan historisitas atau presuposisi yang terdiri atas cara pandang, pengalaman yang berbeda dan unik. Mari kita ambil contoh lagi, bagaimana makanan yang dikonsumsi orang Kongo di Afrika dan orang Jepang.
Bagi orang Kongo, pisang besar merupakan makanan intinya sehingga dalam sebuah jamuan, lauk seperti ayam goreng, ikan goreng akan disajikan dengan pisang tadi. Tak ada bumbu yang heboh seperti di Indonesia. Sepertinya kesederhanaan penyajian ini karena makanan di sana berfungsi primer, yaitu memenuhi kebutuhan energi. Ini berbeda dengan sushi makanan Jepang yang sudah kita sebutkan di atas. Bagi orang Jepang, makanan tidak hanya memiliki fungsi primer,mengenyangkan, tapi juga estetis, indah dipandang mata. Dari sini, sesungguhnya kita bisa belajar, makanan dan apa yang kita makan serta bagaimana makanan itu dikonsumsi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri.
Semuanya itu merupakan miniatur dari pencapaian budaya, peradaban, dan tingkat cara pandang seseorang atau sekelompok orang terhadap banyak hal. Karenanya sangat lumrah bila kita menemukan food culture atau budaya makanan yang beragam, sebanyak ragamnya judgment tentang rasa berbagai jenis makanan tersebut.
Bila ada orang yang belum apa-apa sudah apriori untuk mencoba jenis makanan yang baru ditemuinya, bahkan sudah mendahulukan klaim buruk dan tidak enak didengar, maka besar kemungkinan orang tersebut memiliki kecenderungan untuk berpandangan lebih kaku dalam hal lain. Barangkali ada benarnya kalau kita mengatakan bahwa you are is what you eat, tapi juga you are is how you eat.(*)

Komaruddin Hidayat

Working With Passion



Bekerja dengan cinta. Contoh yang paling mudah dicermati adalah para atlet dan seniman. Mereka mempertemukan dorongan cinta, hobi, skill, dan agenda mencari uang yang kesemuanya menjadi satu paket dan tarikan nafas.

Mereka bekerja dengan gembira dan penuh antusiasme karena dorongan cinta terhadap apa yang mereka lakukan. Coba saja amati suasana kerja dalam lingkungan terdekat, entah kantor, keluarga, pabrik, proyek bangunan, dan seterusnya. Siapa yang melakukannya dengan cinta, energinya takakan habis-habis. Mereka bekerja dengan antusias bahkan sering melebihi waktu yang dijadwalkan.

Waktu terasa berjalan cepat. Perasaan yang sama juga dirasakan mereka yang menjalani hidup dengan gembira,antusias, dan produktif sehingga hari, bulan,dan tahun dirasakan berlangsung cepat dan tahu-tahu jatah umur sudah habis. Di lingkungan perkantoran ataupun pabrik, berbahagialah kalau mayoritas karyawan-karyawatinya memiliki kesesuaian antara minat, bakat, dan jabatan sehingga mereka bekerja dengan cinta. Seorang yang bekerja dengan cinta akan selalu berusaha menghasilkan yang terbaik.

Khususnya mereka yang bekerja sebagai guru, mencintai profesi dan murid-muridnya merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Para siswa akan tahu dan merasakan siapa guru yang mengajar dengan cinta dan siapa yang sekadar bekerja mengejar gaji. Seorang koki profesional misalnya akan bahagia ketika berhasil menyajikan masakan istimewa dan membuat pelanggannya puas.

Begitupun sopir yang mencintai pekerjaannya dan senang mesin pasti akan selalu merawat mobilnya dengan hati.Yang kemudian menjadi pertanyaan, bagaimana menghadapi karyawan-karyawati yang tidak menyenangi tugasnya, namun mereka mesti bekerja demi mendapatkan uang dan memenuhi kewajiban kantor. Dalam lingkungan kantor atau perusahaan selalu ditemukan empat kategori karyawan.

Pertama,yang paling ideal adalah mereka yang memiliki skilldan semangat kerja tinggi. Dalam diri mereka bertemu keahlian, loyalitas, dan semangat berprestasi. Semakin besar kelompok ini akan semakin maju sebuah institusi. Pimpinan mesti sering-sering memberi apresiasi.

Kedua, ada sekelompok karyawan atau pegawai yang sesungguhnya memiliki skill tinggi, tetapi motivasi kerjanya rendah. Terhadap mereka mesti dipelajari dan diajak bicara dari hati ke hati agar ketemu masalahnya dan tumbuh motivasi kerja. Dengan kata lain, mereka perlu diberi konseling.

Ketiga, ada sekelompok pegawai yang semangat kerjanya tinggi, tetapi skill rendah. Cara termudah tentu diberi pelatihan untuk meningkatkan keahlian.

Keempat, kelompok yang membuat perusahaan atau negara rugi adalah mereka yang skill dan motivasinya rendah, namun selalu menuntut fasilitas serta gaji. Kelompok ini yang paling logis diberhentikan atau pensiun dini. Suasana kerja di lingkungan departemen pemerintah umumnya tidak produktif karena sangat bisa jadi kelompok keempat tadi cukup besar.

Kesalahan sudah terjadi sejak awal mula seleksi penerimaan pegawai yang penuh dengan praktik koncoisme dan suap. Akibatnya, anggaran negara habis,namun kinerja pegawai tidak produktif karena memang rendah skill dan motivasinya. Kalau ini terjadi di lingkungan swasta, akan lebih mudah mengatasinya.Tetapi tidak demikian halnya bagi pegawai negeri sipil. Working with heart and passion mestilah ditumbuhkan di mana saja.

Dengan demikian, salah satu tugas jajaran pimpinan adalah memberikan program-program strategis bagaimana menciptakan suasana kerja yang penuh antusiasme dan produktif. Mengenai antusiasme sesungguhnya cukup terlihat di lingkungan LSM atau parpol. Namun, tanpa program yang jelas, dukungan SDM yang terampil, berintegritas, dan visioner, yang kemudian menonjol hanyalah hirukpikuk seminar, kongres, rapat akbar, dan semacamnya.

Ibarat pemain bola yang semangat lari ke sana ke mari mengejar bola, namun tanpa skill dan memahami strategi permainan dalam sebuah tim pasti hanya akan membuang energi dan waktu,namun tidak memberi sumbangan apa-apa pada pertandingan. Mestinya cukup menjadi suporter, bukan pemain.

Dalam jajaran birokrasi pemerintahan, perusahaan, dan perwakilan rakyat, rasanya banyak yang pantasnya cukup sebagai suporter tepuk tangan dan teriak-teriak di pinggir lapangan, tidak usah ikut bermain di lapangan.Tetapi karena sejak proses awal rekrutmen sudah terjadi kesalahan, semakin tidak tercipta apa yang kita maksudkan working with passion, bekerja penuh antusiasme, produktif, dan bermakna.

Padahal di situlah seseorang akan mendapatkan kepuasan batin,harga diri dan posisi yang jelas dalam jejaring kehidupan yang semakin kompleks ini. Lebih dari itu, kerja produktif yang didasari semangat cinta pasti akan menimbulkan vibrasi positif bagi lingkungannya dan bermanfaat bagi siapa pun yang menggunakan hasil karyanya.


Komaruddin Hidayat

Work is Where You Play



JUDUL di atas saya temukan pada sebuah gedung perkantoran baru di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta. Work is Where You Play.

Terjemahan bebasnya, bekerja dan bermain itu mestinya menyatu, di sinilah tempatnya. Tetapi saya ragu,mungkin yang ditawarkan oleh iklan ini sekadar promosi gedung yang dianggap mengasyikkan, bukannya kualitas dan jenis pekerjaan sebagaimana pesan judul di atas. Ciri bermain adalah adanya antusiasme untuk meraih prestasi dengan insentif kepuasan emosional, bukannya material.

Orang yang asyik bermain akan lupa waktu.Perhatikan saja para pemain bola kaki, tenis, atau golf, rasanya waktu masih kurang begitu permainan dinyatakan berakhir.Terlebih pada golf, selalu saja ada nafsu untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang telah diperbuat agar tidak terulang pada hole berikutnya atau permainan di hari lain.Andaikan suasana kerja seantusias bermain,pasti perusahaan dan negara tak akan bangkrut. Tentu saja bermain hanyalah selingan dalam hidup.

Hidup mesti diisi kerja produktif. Salah satu yang membuat semangat dalam bekerja adalah insentif gaji. Tetapi hubungan semangat kerja dan gaji tidak selalu memiliki korelasi positif, terutama di kalangan pegawai negeri sipil tingkat bawah, sehingga populer istilah PGPS, pinter-goblok penghasilan sama. Yakin bahwa jumlah gaji tak bertambah sekalipun kerja meningkat, maka gaji bulanan lama-lama kehilangan daya dorong untuk membuat seseorang bekerja lebih kreatif dan produktif.

Yang menyedihkan, mereka yang memiliki jabatan lalu menciptakan dan mengejar insentif di luar gaji—yang sejak awal kebijakan itu diatur sedemikian rupa sehingga yang terjadi tak lebih sebagai praktik korupsi terselubung. Bekerja dengan cara demikian ibarat permainan, mereka bermain kotor, curang, dan kalaupun menang puasnya semu.Sebuah kemenangan bohong-bohongan.

You Are What You Do
Harga diri seseorang akan terbentuk dan terukur oleh hasil karya. Bekerja adalah dorongan, tuntutan, dan kebutuhan manusia sebagaimana makan, bernafas, ataupun tidur. Kerja adalah kebutuhan eksistensial.
 
Bayangkan bila dalam seminggu hari kerja hanya dua hari, selebihnya menganggur, pasti tidak membuat manusia bahagia. Menganggur, tidak ada aktivitas dan penghasilan, akan menggerogoti harga diri dan kebahagiaan. Kebahagiaan hidup diraih dengan kerja produktif yang bermakna bagi orang lain. Yang paling ideal adalah jika seseorang bisa menyatukan antara hobi dan bekerja yang sekaligus mendatangkan insentif uang dan penghargaan masyarakat.

Kerja semacam itu pasti menggairahkan sebagaimana kita bermain atas dasar hobi, namun mendatangkan uang dan menggembirakan orang lain. Dalam konteks ini adalah para pekerja seni yang mendekati kriteria dimaksud. Bercampur antara bermain, bekerja, dan menghibur orang lain. Karena itu, pemain piano yang sedang manggung dan bermain secara total, misalnya, ketika sudah hanyut dalam permainan bisa lupa apakah permainan itu ditonton orang atau tidak.

Dia tidak peduli. Begitu juga atlet sejati. Tidak lagi ada batas antara bekerja dan bermain serta aktualisasi diri. Bintang sepak bola dunia begitu turun ke lapangan bagaikan penari naik panggung,atau perenang masukkolam, merekalebursecara total ke dalamnya,tak lagi memikirkan insentif uang.

Makanya ada nasihat,kalau Anda sedang bertanding tenis, misalnya, fokus dan leburlah dalam permainan,jangan seringsering melihat papan nilai karena akan merusak permainan. Orangyangfokuspada insentif akan menomorduakan pekerjaan,tetapi jika seorang profesional berkarya secara optimal, insentif akan mengejar dan melayaninya.


Mengubah Makna Kerja
Orang yang bekerja tanpa skill dan hati, akan membuat ruang kerjanya berubah menjadi ruang tahanan sehingga judul di atas berubah menjadi: Work is Where You are Becoming a Prisoner.

Bekerja tanpa skill, spirit pengabdian, dan cinta pada profesi akan terasa sangat melelahkan, bahkan menyiksa. Begitu masuk ruang kerja, Anda tiba-tiba secara psikologis masuk ruang tahanan. Padahal rumus yang ideal: 9 to 5 is a happy hour. Situasi inilah yang mungkin dinikmati oleh para pekerja seni dan atlet profesional.

Mestinya, jenis pekerjaan apa pun bisa diubah atau diciptakan sebagai aktualisasi diri yang mengasyikkan sehingga seseorang bekerja melebihi jatah waktu dan target. Hidup,berkarya,dan bermain dikondisikan agar menjadi satu paket, three in one. Bukankah hidup itu sendiri sebuah anugerah Tuhan yang harus dirayakan dengan kerja kreatif, produktif, dan konstruktif?

Dengan semakin majunya teknologi modern, sekarang ini sangat memungkinkan menciptakan suasana kerja lebih nyaman dan menyenangkan tanpa mengurangi produktivitas. Lebih dari sekadar tempat bekerja,suasana kantor mestinya juga diubah agar menjadi suatu komunitas eksklusif dengan aura kekerabatan dan pertemanan yang semuanya tetap memiliki komitmen menjaga etika profesionalisme.

Orang yang bekerja namun tidak memiliki kebanggaan dan kepuasaan atas hasilnya disebut ”alienated person”, yaitu pribadi yang tercerabut dan tersingkir dari apa yang dia lakukan. Lebih parah lagi kalau seseorang benci pada pekerjaannya, lalu berkembang pada lingkungan sosialnya.Orang itu akan mengalami kepribadian yang terbelah dan lebih jauh lagi bisa disebut sakit mental.

Jika tidak bekerja takut akan bayang-bayang pengangguran, jika tidak bekerja tidak akan memiliki penghasilan tetap, sementara kalau masuk kerja juga merasa tersiksa. Inilah yang dimaksud teralienasi, saat seseorang tidak lagi menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Dengan bekerja manusia menjadi dirinya dan menjaga martabatnya.

Coba renungkan. Tuhan memberikan semua fasilitas yang terhampar dan tersimpan di bumi, lalu manusia dianugerahi organ tubuh yang sangat canggih serta pikiran yang sangat hebat. Untuk apa semua itu jika tidak untuk berkarya memakmurkan bumi dan berbagi kasih sayang serta kebajikan dengan sesamanya? Demikianlah yang selalu diulang-ulang oleh Alquran, bahwa anjuran beriman mesti selalu dikaitkan dengan perintah amal saleh.

Yaitu perbuatan yang benar, baik,dan berguna.Ajaran ini akan dijumpai pada semua agama. Ciri orang yang beriman adalah mereka yang selalu berkarya di jalan yang benar dan baik,untuk tujuan kebenaran dan kebaikan. Tetapi bekerja sekadar benar dan baik belumlah cukup. Mesti ditambah nilai keindahan. Banyak pekerjaan yang benar dan baik, tetapi belum tentu indah. Tanpa keindahan, kehidupan akan terasa kering. Tanpa kerja produktif, seseorang juga akan kehilangan harga diri.

Jangan bayangkan seseorang akan merasa bahagia dengan mengandalkan warisan orangtua tanpa yang bersangkutan memiliki keterampilan kerja. Berulang kali saya bertemu pemuda yang merasa dirinya kaya, secara ekonomi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia karena tidak memiliki keterampilan dan kepandaian yang dibanggakan.Dia hidup bersama keluarganya dengan harta warisan orangtua yang telah meninggal.

Dihatinya dia merasa iri dan malu terhadap teman sebayanya yang bisa bekerja secara profesional dan hasil karyanya mendapat penghargaandari masyarakat. Jadi,kerja,harga diri,dan kebahagiaan saling terkait, isi mengisi. Menjadi persoalan ketika bekerja secara terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Yang demikian ini dialami oleh banyak penduduk Indonesia.

Langkah pertama adalah mengembangkan keterampilan dan mencari pekerjaan yang cocok dan disenangi, entah di lingkungan lama ataupun yang baru.Kedua, jika kondisi eksternal tidak bisa diubah, maka seseorang harus mengubah kondisi internal, yaitu belajar mencintai pekerjaan yang tersedia.

Namun di atas semua itu, seseorang akan merasa bermakna hidup dan aktivitasnya kalau memiliki niat dan pandangan hidup yang mulia bahwa hidup adalah festival yang harus dirayakan dan hidup adalah anugerah yang mesti disyukuri serta dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Kalau kita bekerja semata mengharapkan insentif material-duniawi, bersiaplah untuk kecewa. Kebaikan orang biasanya bersyarat dan terbatas.

Orang cenderung memikirkan dirinya sendiri dan enggan berkorban serta memberi berlebih pada orang lain kecuali ada kalkulasi untung-rugi.Kecuali mereka yang benar-benar menghayati bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu justru terletak dalam mencintai dan memberi, bukannya meminta dan mengambil, sebagai rasa syukur pada Sang Pemberi Hidup.

Jadi, berbahagialah mereka yang berhasil mempertemukan: bekerja, bermain, beramal saleh,bermasyarakat dan mensyukuri hidup.I work, therefore I am; bukannya,I have therefore I am. Eksistensiku ditandai dengan karyaku,bukan karena hartaku.(*)
Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 25 Juli 2008 


Komaruddin Hidayat

Untuk Apa Berdoa



Meski doa artinya menyeru dan memohon, di dalamnya tersimpan kekuatan untuk bangkit dan membuat loncatan hidup jauh ke depan (quantum leap). Ketika berdoa kepada Tuhan, beban seseorang akan menjadi ringan karena telah dibagi dengan Dia Yang Maha Agung yang di tangan-Nya tergenggam semesta ini.
Dengan mengadu dan membuka diri di hadapan- Nya, doa akan mengalirkan energi Ilahi, sehingga seseorang akan memperoleh kekuatan baru dan berlipat ibarat kita recharging baterai yang sudah lemah. Ketika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh, dia tengah melakukan channeling dengan gelombang energi semesta sehingga semesta akan berpihak kepadanya.
Ritual semua agama intinya berdoa. Dalam doa itu seseorang, baik secara individual maupun kolektif,menyampaikan puji syukur kepada Tuhan dan menyampaikan permohonan. Baca saja kidung suci semua agama,di sana terdapat banyak persamaan yang berisi puji-pujian dan permohonan.
Dalam Islam, kidung suci dimaksud yang utama adalah surat Al-Fatihah, yang kandungannya universal dan isinya mudah diterima semua pemeluk agama. Bahkan orang yang enggan berafiliasi dengan sebuah institusi agama, tetap saja berdoa menyeru Tuhan.
Hanya saja ada kecenderungan orang berdoa hanya di kala duka. Ketika sudah sangat terjepit oleh situasi atau keadaan, baru kita datang kepada Tuhan, berdoa, mengajukan pertolongan. Setelah problem berlalu, doa pun berhenti. Padahal, menurut sabda Rasulullah, doa yang disampaikan baik waktu suka maupun duka, akan lebih dikabulkan.
Tanpa disadari, saking semangatnya meminta kita terkesan mengajari atau mendikte Tuhan. Menurut sebuah hadis, Tuhan akan marah pada hamba-Nya yang sombong, tidak pernah berdoa. Namun Tuhan juga marah jika melihat hamba-Nya banyak berdoa saja,tanpa bekerja.Ora et labora.
Ketika berdoa hendaknya tetap tulus,pasrah pada Tuhan, bukan mengajari atau mendikte Tuhan karena Dia Mahatahu dan Mahabijak apa yang terbaik buat hamba-Nya. Makanya di penutup doa kita diajarkan agar tetap memuji dan menyucikan Allah, menyadari bahwa apa yang kita anggap baik belum tentu baik bagi Allah.
Akhirnya kita serahkan kepada-Nya dan kita menunggu keputusan-Nya, sembari tetap berusaha. Rasulullah bersabda, semua permintaan hamba-Nya pasti akan dikabulkan jika seseorang berdoa dengan sungguh- sungguh. Ada empat kemungkinan jawaban Tuhan. Satu, doanya dikabulkan sebagaimana yang diminta dalam waktu dekat.
Dua, dikabulkan namun dalam waktu lama setelah seorang hamba lagi dan lagi datang pada-Nya untuk meminta hal yang sama. Tiga, doanya dikabulkan namun diganti dalam bentuk lain yang lebih cocok bagi kepentingan hamba-Nya.Salah satunya adalah diganti dengan dihindarkan dari malapetaka.
Empat, segala kebaikan yang diminta akan dikabulkan dengan berlipat ganda,tetapi nanti diberikan di akhirat. Doa adalah hak dan kebutuhan yang melekat sejak kita lahir, karena Tuhan telah menciptakan manusia,maka manusia merasa memiliki hak untuk mengajukan berbagai permintaan kepada penciptanya.
Karena itu ada orang yang berdoa yang isinya penuh pujian dan terima kasih, tetapi ada juga yang bernada protes dan keluh kesah atas nasib hidupnya yang tidak beruntung. Karena doa itu universal dan melekat pada setiap orang, maka ungkapan seperti ”Oh, my God” sangat populer di seluruh dunia, sekalipun mereka mengaku tidak beragama.
Saya sendiri pernah mengalami, ketika tahun 1981 jalan-jalan di Moskow ditemani oleh seorang pemandu, ketika hujan turun spontan dia berseru ”Oh, my God...,” padahal dia seorang ateis. Rupanya, sepanjang sejarah, kesadaran akan adanya Zat dan Kekuatan Absolut yang mengatasi semesta ini tetap ada, yang kemudian disebut Tuhan, sehingga manusia sulit untuk tidak memikirkannya dan mencarinya serta menyampaikan doa pada-Nya.
Namun perlu disadari,kehidupanyangsukses tidak selalu karena kekuatan doa,melainkan hasil kerja keras dan cerdas dengan mengikuti hukum alam, yang sesungguhnya hukum alam itu pun merupakan ciptaan Tuhan.Karena itu Tuhan selalu memerintahkan, bekerjalah kamu dengan sungguh-sungguh lalu serahkan semuanya itu kepada Tuhan.
Fenomena mutakhir yang sering kita lihat,ada orang yang masuk penjara karena korupsi lalu berdalih ini semua karena cobaan Tuhan. Maka ketika di dalam penjara dia sangat rajin berdoa dan bersembahyang. Sikap demikian bisa dipahami, sebab dengan mendekatkan diri pada Tuhan semoga bebannya akan berkurang.
Tetapi menurut nalar sehat, apa kepentingan Tuhan memasukkan seseorang ke penjara jika jelasjelas dia seorang koruptor? Bahwa dia lalu bertobat itu bagus dan logis.Tetapi rasanya tidak tepat bahwa berbuat korupsi lalu masuk tahanan itu merupakan takdir dan cobaan Ilahi.
Ketika orang ditimpa musibah, ketika orang lain tidak sanggup membantu, maka Tuhan merupakan sandaran terakhir.Sehingga muncul ungkapan yang mengalir dari lisannya: ”Demi Allah,””Allah yang Mahatahu,” ”Ini semua fitnah. Fitnah. Saya yakin Allah yang Mahatahu dan Mahaadil.” ”Nanti Tuhan yang akan membalasnya.”
”Tuhan yang akan mengungkapkan kebenaran akhir,”dan seterusnya. Ini bisa saja merupakan ekspresi doa atau menghibur diri sambil menutupi kebohongan. Kita melihat dan mendengar para koruptor yang menganggap pengadilan terhadap mereka sebagai cobaan dari Tuhan.
Namun sebelum menjabat, mereka berdoa sepenuh hati agar diberi jabatan, berusaha sekuat-kuatnya,jika perlu dengan menyogok atau melakukan kolusi dan menjual integritas mereka demi mencapai kedudukan atau jabatan. Setelah menjabat, mereka sibuk mengumpulkan kekayaan dan mengekalkan kekuasaan mereka, melakukan korupsi dan melupakan Tuhan.
Ketika korupsi mereka terungkap dan mereka harus menghadapi sidang pengadilan, mereka berucap bahwa Tuhan tengah memberi ujian dan mereka tengah mendapat cobaan dari Tuhan. Ucapan mereka sesungguhnya merupakan pelemparan tanggung jawab dan kesalahan pada Tuhan yang telah mengabulkan doa mereka.
Pernyataan para politisi bahwa dia dizalimi, sementara dia adalah bagian dari rezim yang membuat susah rakyat, juga merupakan pelemparan tanggung jawab dan kesalahan pada Tuhan. Jika kita percaya dan pasrah pada kemampuan Tuhan saat kita berdoa, kita juga selayaknya percaya dan pasrah pada nasib atau hal-hal jelek yang timbul dari di kabulkannya doakita.
Tuhan Maha sempurna dan tidak mungkin melakukan kesalahan, sedangkan manusia adalah makhluk lemah dan serakah yang sangat mungkin melakukan kesalahan. Hati-hati dalam berdoa karena doamu bisa jadi akan dikabulkan Tuhan dan kamu belum tentu siap akan konsekuensi dari hal itu.

Komaruddin Hidayat

Ulama dan Pemberantasan Korupsi



YANG namanya ulama pasti antikorupsi. Namun ulama tetap juga manusia yang tidak imun dari salah dan dosa. Mengapa di Indonesia, yang meriah dengan forum-forum pengajian, korupsi masih saja subur?
Mampukah ulama memberantas korupsi? Pertanyaan ini saya angkat karena sering saya mendapatkan keluhan dan kritik, mengapa di Indonesia banyak ulama, ustaz, mimbar agama, bahkan ada Kementerian Agama, tapi korupsi tetap saja subur. Diperkirakan mimbar agama di televisi Indonesia menduduki posisi teratas dalam hal jumlah jam siaran serta variasi acaranya, terlebih lagi di bulan Ramadan.
Lagi-lagi, pertanyaannya, mengapa korelasi antara mimbar agama dan perilaku sosial tampak kurang signifikan? Korupsi selama ini terjadi di wilayah birokrasi pemerintahan. Aktornya pun para pejabat negara. Mereka itu yang mendapat tugas dan memiliki legalitas mengatur administrasi pemerintahan serta keuangan negara. Jadi, karena wilayah serta aktor serta regulasinya dalam tubuh birokrasi pemerintah, maka peran ulama berada di luar.
Tidak memiliki legalitas untuk mencampuri administrasi negara. Paling banter hanya menyampaikan kritik, khotbah dan teguran moral, tetapi mereka bukan eksekutor bidang hukum dan administrasi pemerintahan. Penjelasan di atas tidak berarti saya mengecilkan peran ulama,tetapi justru ingin melakukan pembelaan.
Adalah berlebihan mengharapkan ulama dan intelektual untuk memberantas korupsi karena yang paling berwenang dan strategis adalah aparat dan lembaga penegak hukum, terutama jajaran polisi, hakim, jaksa, dan sekarang ditambah lagi dengan KPK dan beberapa komisioner terkait. Kalau untuk menggerakkan demonstrasi jalanan mungkin sekali peran ulama dan intelektual cukup efektif.
Tetapi itu tak ubahnya seperti tukang ronda kampung berkeliling desa: memukul kentungan di malam hari, tidak jelas target malingnya, Pesan moral agama tanpa diterjemahkan dan didukung oleh hukum positif dan instrumen lembaga negara tak akan mampu memberantas korupsi. Begitu pun lembaga- lembaga keagamaan yang ada, tugas mereka bukan memberantas korupsi, tetapi menyampaikan pesan moral dan pendidikan masyarakat agar memilih jalan kebenaran dan kebaikan.
Kalau masyarakat tidak mau menerima ajakannya, lembaga keagamaan tidak memiliki hak paksa. Kalau masyarakat melakukan pelanggaran hukum, lembaga dan ormas keagamaan juga tidak dibenarkan berperan sebagai polisi atau hakim. Di Indonesia sering terjadi kerancuan berpikir, ketika terjadi wabah korupsi yang jadi sasaran kekecewaan adalah tokoh-tokoh agama.
Agama dan tokoh-tokohnya diharapkan sebagai agen “tukang cuci piring” setelah koruptor berpesta. Padahal, belajar dari beberapa negara tetangga, misalnya saja Singapura dan RRC, pemberantasan korupsi di sana tidak melibatkan tokoh dan lembaga agama, melainkan ketegasan penegak hukum. Di berbagai negara maju yang berjasa menekan korupsi itu bukan pendeta,pastur atau ulama, tetapi aparat resmi pemerintah yang memang diberi tugas dan wewenang untuk itu.
Bisa dimaklumi mengapa orang berharap semuanya pada agama, karena berbagai khotbah agama selalu menekankan bahwa agama itu mengatur segala-galanya. Mereka memandang agama itu di atas negara dan di atas semuanya, maka agama mesti bisa mengatur dan menyelesaikan semua persoalan hidup.
Benarkah demikian? Kalau memang betul,mengapa negara-negara sekuler tingkat korupsinya rendah, sedangkan Indonesia yang memiliki organisasi keagamaan, majelis taklim, dan partai politik yang berciri agama dalam jumlah banyak justru tingkat korupsinya tinggi? Saya kira di sini ada salah persepsi, harapan, pembagian peran, dan penempatan relasional antara agama, negara dan masyarakat. Ketika negara lemah dalam menegakkan aturan hukum, ormas keagamaan lalu ingin menggantikannya.
Tentu keduanya salah. Kalau ada pelanggaran hukum dan tidak segera diselesaikan, demonstrasi sebaiknya dialamatkan ke lembaga kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman, agar mereka segera bertindak tegas. Jangan ormas keagamaan ataupun ulama lalu seenaknya mengadili sesama warga. Itu sama saja pelanggaran hukum hendak diselesaikan dengan pelanggaran hukum. Jika begitu, yang terjadi malah menambah pelanggaran.
Lain halnya kalau Indonesia itu negara teokrasi, yang dikuasai dan dipimpin oleh lembaga agama. Saya sendiri tidak bisa menjawab dengan pasti, adakah pemerintahan teokrasi setelah wafatnya Rasulullah Muhammad? Terlepas dari perdebatan teori kenegaraan, yang namanya korupsi tetap merupakan penyakit dan musuh peradaban. Bahkan negara-negara yang mengaku sekuler, tidak peduli agama, justru lebih serius memberantas korupsi.
Ini suatu tantangan dan tamparan bagi sebuah bangsa dan negara yang begitu tinggi kepeduliannya pada agama seperti Indonesia. Rasanya memang ada yang salah dalam pendidikan agama dan dalam membangun relasi antara agama dan negara di Indonesia. Tokoh agama dan organisasi keagamaan sangat rawan terkena korupsi karena penguasa selalu ingin merangkul dan membeli mereka sebagai penyangga kekuasaan politik.
Sebaliknya, tokoh-tokoh agama juga banyak yang berminat? Yang repot kalau ormas atau tokoh yang menyandang label keagamaan terkena korupsi, maka yang ikut merasa terluka adalah masyarakat. Mereka akan kehilangan kepercayaan kepada aparat pemerintah maupun pemimpin masyarakat. Dalam berbagai kasus sulit dipisahkan antara tokoh agama dan aparat pemerintah ketika seorang bupati, misalnya, adalah juga berasal dari ormas keagamaan.(*)

Komaruddin Hidayat

Tumbuh Kuat Bersama Bencana



Negara mana yang paling maju membangun konstruksi bangunan yang aman dari gempa? Tak lain adalah negara Jepang.
Karena langganan dihajar gempa bumi, insinyur sipil Jepang sangat maju dan canggih membangun gedung-gedung yang tidak mudah roboh ketika terjadi gempa. Ada teknologi tertentu yang mereka temukan sehingga ketika bumi bergoyang, bangunan di Jepang ikut bergoyang. Tentu saja akan berbeda kasusnya kalau gempa bumi itu mencapai 9 SR dan disertai tsunami seperti yang terjadi dua minggu lalu. Yang juga menarik kita pelajari dari Jepang bukan saja teknologinya ,melainkan pribadinya yang ulet, pantang menyerah, dan mengubah bencana menjadi tantangan dan pembelajaran untuk melangkah ke depan.
Ketika Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak oleh bom sekutu, warga Jepang menjadikannya monumen dan tantangan untuk melakukan pembalasan terhadap sekutu. Hasilnya fantastik. Jepang bukan membalas dengan bom atom, melainkan dengan ledakan produk automotif yang membanjiri negara-negara Barat. Mereka sangat terpukul dan tersadar ketika Nagasaki dan Hiroshima hancur. Kebanggaan dan mitos sebagai bangsa keturunan Dewa Matahari ternyata tidak berdaya melawan bangsa cowboy tanpa dukungan iptek canggih. Sehebat apa pun memainkan pedang, pendekar Jepang akan kalah ditembak dari jauh dengan pistol oleh cowboy AS.
Sejak itu bangsa Jepang memacu diri untuk mencerdaskan rakyatnya. Mereka optimalkan lahan tanah yang sempit dan langganan gempa itu untuk menjadi pusat teknologi modern, khususnya bidang automotif. Sampai-sampai ada ungkapan, AS yang menemukan, Jepang yang memodifikasi dan mengembangkan menjadi lebih bagus, murah,dan nyaman. Kini keuletan dan soliditas bangsa Jepang terlihat kembali ketika bangsa ini dihajar gempa, tsunami,dan ancaman kebocoran nuklir. Mereka tidak cengeng, bahkan saling menolong dan memperkuat yang lain. Berbagai supermarket memberikan harga diskon. Yang juga menarik perhatian dunia, meski dalam keadaan kacau dan sulit akibat bencana dan listrik padam, tak terjadi penjarahan sebagaimana terjadi di negara lain. Mereka tetap memelihara tradisi antre dan menerima musibah dengan teguh.
Orang pun bertanya, pendidikan macam apa yang diberikan kepada anak-anak Jepang, sehingga mereka lebih setia berpegang pada etika, bukan takut pada polisi dan hukum. Ketika polisi tak ada, mereka tetap berperilaku santun, saling menghormati, dan merasa aib kalau sampai mengambil harta yang bukan haknya. Ketika gagal melakukan tugas atau terbukti korupsi, tidak segan-segan mundur dari jabatannya bahkan harakiri. Cerita singkat ini menarik diterapkan di Indonesia. Karena Indonesia merupakan negara majemuk, baik etnis maupun agama, dunia mestinya akan belajar membangun masyarakat multikultural ke Indonesia.
Ketika berbicarasoal pluralisme dan multikulturalisme, para ilmuwan mestinya akan berguru pada bangsa Indonesia. Belajar pada falsafah dan praktik Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi sangat disayangkan, sampai hari ini keragaman agama dan budaya belum teranyam dan tersusun menjadi bangunan budaya yang indah. Bahkan muncul gejala menguatnya kelompok-kelompok sosial yang menggunakan sentimen agama dan etnis untuk merusak keragaman hidup berbangsa dan bernegara. Kesatuan, persaudaraan, dan keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara dipecahpecah dengan isu dan simbol keagamaan.
Agama diseret-seret menjadi kekuatan pemisah, bukan pemersatu dan pemberi pencerahan, kesejukan, dan sumber peradaban. Ketika terjadi musibah, berita penjarahan dan korupsi dana bantuan masih saja terjadi. Seorang teman sampai-sampai bertanya, “Mengapa bangsa Jepang yang tidak religius lebih civilized dalam menghadapi bencana alam dibanding Indonesia yang religius?”Lalu teman tadi mengutip ucapan Tokugawa Ieyasu (1542-1616): Religion evidently is good as a solace for the worker and for those not advanced enough to practice ethics for its own sake.
Agama itu bagus sebagai penghibur bagi para pekerja yang hidupnya miskin dan untuk mereka yang belum mampu menerapkan prinsip etika secara konsekuen. Jadi, sebaiknya berbagai problem dan tantangan yang kita hadapi saat ini kita jadikan pemicu untuk belajar dan tumbuh kuat serta semakin bijak dalam menjalani hidup.

Komaruddin Hidayat

Tuhan Tempat Pelarian?



TIDAK salah jika seseorang mendekat kepada Tuhan di kala duka, ketika tertimpa musibah berat.
Bukankah Tuhan Maha Pengasih, Maha Penggembira, dan Maha Penolong? Namun pantaskah seseorang ingat dan mengiba kepada Tuhan hanya di kala duka, sementara di waktu senang tidak pernah mengingat, memuji, danberterimakasih? Cobasaja bayangkan dan analogikan dengan kehidupan sehari-hari.Seorang ibu yang penuh kasih tentu selalu berlapang dada menerima anak-anaknya yang dirundung masalah. Namun sungguh anak itu tidak bermoral dan akan dinilai durhaka ketika hidupnya senang lalu melupakan cinta dan hormatnya kepada ibu.
Demikianlah, dalam kehidupan beragama banyak terjadi perilaku serupa.Mereka rajin berdoa, bersembahyang, berumrah, dan bersedekah ketika dirundung masalah. Padahal,menurut sabda Rasulullah, doa yang didengar dan dikabulkan Tuhan itu adalah doa yang selalu dipanjatkan baik di kala suka maupun duka.Jadi,jangan keburu mengeluh Tuhan tidak peduli terhadap doa seseorang jika dia berdoa hanya di waktu duka. Di situlah salah satu rahasia kekuatan doa dan sembahyang yang dianjurkan agar dilakukan setiap hari.Bahkan perintah ingat kepada Tuhan adalah agar dilakukan kapan saja, di mana saja.Tuhan tidak mengenal birokrasi, baik yang menyangkut ruang maupun waktu,sehingga siapa pun dan dalam situasi apa pun bisa menjumpai Tuhan untuk mengadukan segala persoalan hidupnya.
Siapa pun bebas menjumpai Tuhan sebagaimana mereka juga bebas untuk berpaling dari Tuhan,bahkan mengingkari Tuhan. Di sinilah keunikan beragama dan di sini pula keluhuran serta kesucian kualitas manusia akan teruji. Dalam menghayati iman dan cinta kepada Tuhan,sesungguhnya seseorang tengah mengaktualisasikan kemerdekaannya yang paling tinggi dan tengah membebaskan diri dari dominasi egonya agar diganti dengan sifat-sifat Ilahi. Proses internalisasi sifat Tuhan inilah barangkali yang tersirat dalam doa: “Datanglah Kerajaan-Mu di hati ini dan berlakulah kerajaan- Mu di muka bumi.” Mengapa menghayati iman merupakan pembebasan diri? Sebab, pilihan untuk mencinta serta pasrah kepada Tuhan sebagai sumber segala kebaikan merupakan pilihan bebas, hasil sebuah pergulatan spiritual dan akal budi yang tak seorang pun bisa memaksa ataupun melarang.
Oleh karenanya saat dialog dengan Tuhan,sesungguhnya pada waktu yang sama seseorang juga melakukan dialog dengan diri sendiri. Adakah dialog itu dijiwai rasa syukur, rasa penyesalan, penuh permintaan ataukah datar-datar saja,semuanya itu akan berpulang pada kesadaran dan situasi batin seseorang. Dengan demikian,ketika seseorang berdoa atau tengah melakukan pengakuan dosa, semestinya juga disertai keinginan kuat untuk melakukan perbaikan diri karena kehendak dan karya Tuhan hanya berlaku pada mereka yang membuka dirinya bagi kehadiran Tuhan. Maka ketika makna dan fungsi agama dipahami dan dihayati tak lebih sebagai himpunan dogma tentang surga-neraka atau ketika ritual agama diyakini hanya sebagai ritus pemutihan dosa, bisa dipastikan agama akan kehilangan etos dan spiritnya bagi pembinaan pribadi dan perilaku sosial yang mendukung bagi terwujudnya peradaban unggul.
Doa-doa lalu berubah bagaikan mantra-mantra untuk mengobati frustrasi ataupun untuk mengejar pangkat dan mengawetkan jabatan.Tuhan lalu diposisikan sebagai pesuruh manusia, bukan ekspresi cinta dan kepasrahan. Dalam kaitan ini, tidak mengherankan jika para pejabat tinggi negara senang berkonsultasi kepada dukun ketimbang kepada psikiater karena ingin cepat naik pangkat dan tanpa kerja keras.Cukup dengan mantra-mantra. Dalam bentuknya yang lain, mantramantra itu berubah menjadi suap. Sebab,dengan keberagamaan kita yang seperti itu, nilai agama tidak banyak berpengaruh bagi pembentukan karakter bangsa.(*)

Komaruddin Hidayat

Tuhan Itu Pemalu



DIRIWAYATKAN oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Rasulullah pernah bersabda, sesungguhnya Allah itu pemalu dan pemurah.
Bila ada seorang hamba yang mengangkat tangannya bermohon kepada-Nya dengan sungguh sungguh, Dia malu untuk menolaknya dan melihat hamba-Nya kembali dengan tangan kosong. Salah satu sifat yang dimiliki oleh semua Rasul Tuhan adalah sifat malu melakukan tindakan tercela, baik di hadapan manusia maupun Tuhan.
Jika manusia tidak lagi memiliki rasa malu, tak ubahnya dia dengan hewan. Orang yang berbudi luhur tidak saja malu melakukan perbuatan tercela, bahkan melihat orang lain berbuat asusila saja sudah malu rasanya. Contohnya sangat mudah dan sederhana. Kita semua pasti akan malu sendiri melihat orang lain berjalan telanjang di tempat keramaian. Kita malu membaca berita sekian banyak wakil rakyat korupsi. Kita malu menyaksikan sikap dan omongan politisi tidak bermutu, padahal tingkat pendidikannya tinggi dan selalu mengatasnamakan rakyat.
Rasulullah bersabda, rasa malu dan iman itu dijadikan pasangan, jika hilang salah satu,maka hilanglah yang lain. Jadi, salah satu indikator apakah seseorang atau masyarakat itu masih memelihara iman atau tidak, perhatikan saja tingkat kesetiaannya dalam menjaga kehormatan diri berupa rasa malu berbuat yang tidak baik. Salah satunya adalah korupsi, berbohong, tidak menepati janji, dan sekian banyak perbuatan tercela lainnya.
Betapa rasa malu itu sangat vital, mudah diamati pada keluarga yang terkena musibah. Misalnya saja ada seorang ayah atau kepala keluarga yang memiliki status sosial tinggi dan terhormat, pasti anggota keluarganya akan bangga padanya. Namun, ketika yang bersangkutan tiba-tiba diberitakan media massa sebagai penjahat negara dan kemudian masuk tahanan, peristiwa itu bagaikan bencana tsunami yang menghancurkan kehormatan dan kebanggaan keluarga. Semua anggota keluarganya merasa berat menanggung malu.
Mungkin saja ada segelintir orang yang tidak lagi memiliki rasa malu, sehingga masuk kategori hewan dan telah hilang imannya. Rasulullah bersabda, ”Perbuatan keji itu kotoran, sedangkan rasa malu itu hiasan.” Ungkapan ini singkat, padat,dan memiliki kebenaran universal. Di manapun kita bepergian, entah di dalam ataupun di luar negeri, sebuah masyarakat dianggap tinggi peradabannya ketika masih memiliki rasa malu. Meski tingkat ekonomi dan teknologi sebuah negara tergolong maju, tetapi ketika tak lagi menjaga rasa malu, maka hancurlah bangsa itu.
Di antara bangsa yang masih menjaga kehormatan dirinya dengan memelihara rasa malu adalah Jepang. Seorang menteri akan rela mundur dari jabatannya, bahkan melakukan harakiri, kalau gagal melaksanakan tugas yang diamanatkan kepadanya. Belum lama berselang bahkan mantan presiden Korea Selatan melakukan bunuh diri karena dituduh korupsi. Daripada membuat malu bangsanya dan menjadi beban pemerintah, lebih baik mengakhiri hidup dengan cara saya sendiri, katanya. Secara pribadi saya tidak setuju tindakan bunuh diri.
Tetapi yang patut direnungkan dan diteladani adalah kuatnya rasa malu ketika gagal mengemban amanat. Rasa malu ketika menyusahkan orang lain. Rasa malu ketika melakukan tindakan tercela dan merugikan masyarakat. Sifat dan sikap seperti ini tampaknya semakin menipis dan hilang dari dunia politik dan birokrasi di Indonesia. Sering kali ditemukan, petugas polisi lalu lintas tidak malu menerima uang sogokan dari pengendara yang distop karena salah jalan. Petugas birokrasi yang kewajibannya melayani rakyat, tidak malu meminta uang pada tamu yang datang meminta hak haknya untuk dilayani.
Banyak politisi tidak malu mengejar dan meminta-minta jabatan, meski dirinya tidak memiliki kompetensi. Demikianlah, setiap hari kita melihat perilaku sosial di sekeliling kita yang menunjukkan sifat malu semakin menipis di negeri yang katanya religius ini. Padahal, menurut sabda Rasul, iman dan malu itu pasangan yang tidak terpisahkan, jika hilang yang satu maka hilanglah yang lain. Ada masyarakat yang memiliki rasa malu namun tanpa iman, ada lagi yang mengaku memiliki iman tapi kehilangan rasa malu.
Jika untuk urusan dunia, mereka yang menjaga rasa malu tampak lebih baik, meski tidak beriman. Tinggal ditambahi saja iman. Sebaliknya, meski mengaku beriman, tetapi jika tidak disertai sikap malu, imannya pun tidak membuahkan akhlak mulia dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Padahal akhlak mulia atau ihsan merupakan buah yang diharapkan keluar dari iman.
Allah sendiri memiliki sifat malu. Ini suatu kabar gembira bagi mereka yang tengah dalam kesulitan agar jangan segan-segan selalu berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, mengadu dan mohon pertolongan agar diringankan semua beban hidupnya. Lebih diutamakan lagi datang dan memohon pada Tuhan di tengah malam, di saat orang lain umumnya tidur lelap. Tuhan malu pada hamba-Nya yang bangun di malam hari khusus untuk beraudiensi dengan-Nya, memohon ampunan, rezeki, dan apa saja yang sangat dihajatkan.

Tuhan malu jika hamba tadi pulang dengan tangan kosong. Jangankan Tuhan Yang Maha Pemurah, kita sebagai manusia saja pasti malu dan tidak tega jika ada pengemis, teman, atau saudara yang datang dari jauh minta pertolongan. Pasti hati kita tergerak untuk membantunya. Kekuatan doa ini banyak diceritakan dan diyakini, terutama oleh para orangtua kita. Banyak keajaiban hidup dan cerita sukses yang sulit dicerna oleh nalar, namun mereka yakin sekali semua itu merupakan buah dari doa yang selalu dipanjatkan kepada Tuhan.
Doa yang paling sering dipanjatkan orang tua adalah memohon pada Tuhan untuk kebaikan dan kesuksesan anak-anaknya. Saya yakin, banyak cerita sukses anak muda yang sebagian besar kesuksesannya adalah berkat doa orang tuanya. Bahkan ada orang tua yang tidak saja rutin bangun salat malam, khusus berdoa untuk anak-anaknya, bahkan ada yang disertai puasa Senin-Kamis. Mereka berpandangan, ibadah itu semata untuk Tuhan. Tak ada konsep kirim pahala.
Namun mereka juga yakin, doa orang berpuasa dan bangun tengah malam akan lebih diperhatikan Tuhan, mengingat Tuhan malu dan maha pemurah, sehingga pasti akan mendengarkan dan mengabulkan doa hamba-Nya yang disampaikan dengan sungguh-sungguh. Dalam sabda yang lain Rasulullah memberitahukan, doa yang dikabulkan Tuhan adalah yang senantiasa dipanjatkan, baik waktu senang maupun waktu susah.
Artinya, seseorang itu memang sungguh sungguh mengingat Tuhan tidak saja waktu mendapat musibah, tetapi juga ketika menerima kemudahan dan kesenangan. ”Kalau engkau tidak memiliki rasa malu, berbuatlah apa saja layaknya hewan, karena yang membedakan manusia dan hewan adalah adanya rasa malu,” Rasulullah mengingatkan.(*)
Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 29 Mei 2009

Komaruddin Hidayat

Tubuh Itu Merekam



DALAM Alquran (Yasin: 65) dinyatakan, di akhirat kelak anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian atas apa yang diperbuatnya selama di dunia.
Tangan, kaki, dan anggota badan lain akan berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan berbohong. Pendeknya dalam pengadilan di akhirat kelak kita tak akan mampu membohongi diri sendiri dan malaikat karena anggota tubuh akan menjadi saksi yang bisa memberatkan atau meringankan, tergantung pada perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Hakim yang kita hadapi di akhirat kelak bukanlah hakim yang dapat disuap dengan uang sebagaimana yang terjadi di dunia.
Tak akan ada yang mampu menolong diri kita kecuali rekaman iman dan amal kebajikan kita sendiri. Apa yang disampaikan Alquran di atas secara ilmiah sangat mudah untuk dibuktikan bahwa tubuh itu merekam apa yang biasa kita lakukan dan pikirkan. Contoh yang paling sederhana adalah rekaman pengalaman naik sepeda. Mungkin ada di antara kita sudah puluhan tahun tidak pernah naik sepeda.Tetapi karena dahulunya pernah dan biasa naik sepeda, andaikan disodori sepeda pasti bisa mengendarainya.
Mengapa? Karena tubuh kita, terutama kaki dan tangan,memiliki rekaman bagaimana mengendarai sepeda,sehingga rekaman tadi muncul lagi ketika disuruh naik sepeda. Namun, mereka yang dahulunya tidak pernah,yang berarti tidak memiliki rekaman pengalaman, pasti perlu waktu lama dan mulai dari nol untuk belajar naik sepeda. Contoh ini dapat diperbanyak lagi, misalnya apa yang direkam oleh lidah tentang rasa makanan.
Tanpa diberi tahu apa namanya, begitu melihat, mencium baunya, dan merasakan rasa makanan yang dahulu suka kita makan waktu kecil sudah langsung tahu apa nama makanan itu dan bagaimana rasanya. Bahkan andaikan makanan itu disajikan dalam keadaan gelap, kita akan bisa mengenalinya. Bagaimana bisa? Karena lidah kita memiliki rekaman akan berbagai rasa makanan.
Dalam sebuah penelitian kajian neurologi dibuktikan bahwa selsel otak ternyata menyimpan berbagai informasi dan pengalaman yang terekam sejak kecil yang umumnya sudah kita lupakan. Ketika dilakukan eksperimen dengan pembedahan otak, tetapi yang bersangkutan tetap sadar, ternyata ketika dirangsang sel-sel saraf tertentu mampu menceritakan berbagai pengalaman sewaktu kecil. Eksperimen ini memperkuat teori bahwa semua yang pernah kita ketahui dan pikirkan terekam dalam jaringan saraf otak. Jadi, apa yang dikatakan Alquran tadi semakin diperkuat oleh eksperimen ilmiah.
Teori bahwa tubuh merekam saya amati dan buktikan sendiri ketika ayah saya sakit, dirawat di rumah sakit di Magelang selama satu minggu. Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa ini. Betapa tidak? Bayangkan, ketika dia sembuh dan telah kembali ke rumah, saya bertanya kepadanya, “Bagaimana pengalaman Bapak ketika di rumah sakit?”Dia jawab, “Saya lupa.” Sungguh ini hal yang aneh. Dia bilang sudah lupa dengan apa yang terjadi di rumah sakit. Jadi, secara fisik sebenarnya dia memang sakit, tetapi secara mental dia sama sekali tidak merasa dirinya sakit.
Yang sangat mengesankan saya, saat dirawat di rumah sakit, setiap kali datang waktu salat, dia selalu minta air untuk wudu atau minta diberi kesempatan untuk tayamum karena mau salat. Rupanya tubuh dan mentalnya merekam ritme jadwal salat sehingga setiap datang waktu salat, jam badannya (biological clock) memberi isyarat secara refleks dan otomatis bergegas untuk mendirikan salat karena ayah saya ketika sehat selalu salat tepat waktu lima kali sehari.
Jadi, ketika sakit, jam badan itu bekerja layaknya weaker yang memberi isyarat karena di dalamnya memiliki rekaman habit. Contoh lain yang dengan mudah kita saksikan dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari adalah pengalaman sopir bus malam lintas kota. Dulu, waktu tol Cipularang belum dibuat, sebagian besar orang menggunakan jalur Puncak untuk pergi dari Jakarta ke Bandung. Pernahkah kita membayangkan bagaimana hebatnya para sopir bus jurusan Jakarta–Bandung itu ketika melawati Ciawi, Megamendung, Cisarua, Puncak Pass, Cipanas, Cianjur, dan Bandung?
Sopir-sopir bus itu dengan mudahnya menyusuri jalan berkelok yang naik-turun. Mereka sangat lihai. Mereka hafal betul kapan dan di mana harus berbelok.Mereka tahu kapan dan di mana akan ada tanjakan dan tikungan, bahkan mereka tahu di mana akan ada banyak kerumunan orang di jalan. Mengapa mereka bisa sehebat itu? Mengapa sopir itu bisa secara refleks mengendarai dan hafal situasi jalur Jakarta–Bandung? Jawabannya kita pasti tahu: itu karena kebiasaan.
Mereka telah terbiasa setiap hari melewati rute itu sehingga anggota tubuhnya merekam situasi dan keadaan yang dilaluinya. Begitu juga orang yang dulu pernah mahir bermain ping-pong atau bermain badminton, ketika dia sudah tua,meskipun sudah meninggalkan kebiasaan itu selama puluhan tahun, pasti dia akan sanggup memainkannya kembali. Mungkin gerakan dan tingkat kelihaiannya berbeda dengan masa mudanya, tetapi kemampuan dan teknik dasar bermainnya tentu akan terlihat. Jadi, kebiasaan masa lalu tak akan mudah terlupakan karena tubuh ini merekam secara kuat apa yang pernah menjadi kebiasaan dan kesukaan atau hobi.
Cerita di atas menyimpan pesan yang sangat dalam. Bahwa hendaknya kita membiasakan berpikir, berbicara, dan berbuat yang baik-baik, agar ketika sakit atau menjelang ajal nanti, rekaman kebaikan itu yang akan menemani dan mengawal kita menempuh perjalanan lebih lanjut. Coba renungkan, ada kejadian pada orangtua yang menjelang ajal, tetapi sangat-sangat sulit untuk mengucapkan zikir seperti tahlil, tahmid, takbir. Hal ini disebabkan di masa hidupnya bacaan-bacaan zikir itu sangat asing,hati dan lidahnya tidak memiliki rekaman zikir.
Dia tidak mempunyai memori yang dapat membangkitkan kesadarannya untuk mengucapkan kalimah tayyibah itu menjelang ajalnya. Sebaliknya, sering kali saya menyaksikan bagaimana mudahnya seseorang mengucapkan zikir atau membaca asmaul husna pada saat menjelang kematiannya.Ini lantaran dia telah terbiasa untuk mengucapkan kalimat itu di masa hidupnya. Dia telah membiasakan diri untuk membasahi lidahnya dengan kalimat zikir.
Siang malam dia berzikir. Sebelum dan sesudah salat dia berzikir. Ketika tersandung batu dia beristigfar. Ketika mendengar petir dia bertasbih. Praktis, kalimat zikir telah menjadi bagian dari kebiasaannya sehari-hari sehingga ketika ajal datang menjemput dia dengan mudah mengucapkan kalimat zikir untuk menutup usianya. Karena itu, bagi orang yang mempunyai kebiasaan buruk yang selalu mengucapkan kata-kata kotor di masa hidupnya, bisa jadi menjelang sakaratul maut yang akan diingatnya hanya kata-kata kotor.
Orang yang biasa mengejek, mengomel, atau mencemooh orang lain akan tertutup hatinya untuk mengucapkan kata-kata yang baik, sebab rekaman atau memori hidupnya selalu dipenuhi dengan kebiasaan buruk itu. Saya sering kali mendapatkan kisah-kisah nyata yang menceritakan hal itu. Semoga kisah-kisah di atas dapat menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi kematian sehingga kita menjumpai Izrail dengan senyum persahabatan.

Mari kita membiasakan diri untuk melafalkan kata-kata yang baik,selalu berzikir dan mengingat Allah SWT, membiasakan diri mengerjakan salat, berpuasa dan bersedekah,serta berbuat baik kepada sesama,sebab semua itu akan terekam dalam memori kita sepanjang hayat, baik saat hidup di dunia, menjelang sakaratul maut, atau setelah kematian kita. Husnul khatimah (pengujung yang baik) di masa kematian kita itu tidak bisa diraih dengan tibatiba.
Ia tak bisa dipaksa dan dibimbing oleh orang lain dengan mudah karena diri kitalah yang menentukan apakah kita sanggup mendapatkan akhir yang baik atau tidak. Husnul khatimah merupakan akumulasi dari perjalanan panjang seseorang di masa hidupnya. Rekam jejak kehidupan seseorang menentukan hasil akhir dari perjalanan hidupnya di dunia.(*)

Komaruddin Hidayah